Before I Found You

Before I Found You
BIFY 28



“Hosh...hosh, kenapa sih tu ular ngejer-ngejer gue,” ucap Rani berhenti sejenak untuk mengatur nafasnya.


Ular dengan warna biru tua itu kembali mengejar Rani dari arah semak-semak hutan itu. Rani pun kembali berlari dan melihat pohon asam di depannya, tanpa pikir panjang ia pun segera memanjat pohon dan mematahkan ranting yang melekat di pohon tersebut.


Ia menggunakan ranting tersebut untuk mengusir ular yang terus berusaha memanjat pohon untuk mengejarnya.


“Sono lu!!! Apa sih yang diincer dari gue,” omel Rani sambil terus memukul ular tersebut dengan ranting kayu, agar ular tersebut tidak bisa memanjat pohon.


Rani terus memukul dan melafazkan doa serta segala surah yang ia hafal agar ular itu pergi.


“Kamu akan jadi milikku,” ucap sang ular.


Degg. “Lah kok lo bisa ngomong? Makin aneh nih dunia,” keluh Rani yang terus memukul ular tersebut yang masih kekeh ingin memanjat pohon.


“Mampus lo! Sono jauh-jauh, ihhh. Apa sih yang diincer dari gue,” keluh Rani yang memberanikan diri memukul keras kepala ular tersebut, dan akhirnya sang ular dapat dikalahkan.


Melihat sang ular yang entah mati atau pingsan akibat pukulannya pun, Rani turun dari pohon dang sedikit menendang-nendang kepala sang ular. “haha, KO lo kan,” Rani pun meninggalkan tempat tersebut.


Rani yang bingung ia berada di mana. Akhirnya menangis tersedu-sedu.


“Huaa...mama Rani nggak tau ini di mana” tangisan Rani sangat besar.


Lama ia memangis, ia sangat ketakutan berada di hutan seperti saat ini. Walaupun banyak bunga indah di sana.


“Ngapin nangis? Sini saya tunjukin jalan,” suara itu menghentikan tangisan Rani.


Ternyata ular tadi kembali datang menghampiri Rani. Rani pun kaget dan bergeser dari tempatnya.


“Huaa...Kok lo masih idup sihh,” ucap Rani yang kembali mengambil ancang-ancang untuk lari.


“Udah nggak usah lari lagi! Pulanglah lewat sana,” ucap sang ular.


"Nggak, gue nggak percaya!" tutur Rani mencari sekeliling apa yang bisa ia jadikan senjata.


"Yaudah kalau kamu nggak mau," jawab si ular.


Rani pun ragu, karena ia benar-benar ingin pulang “Benar yah? Awas lo nyesatin gue,” ujar Rani.


“Saya menunjukkan kamu jalan yang benar Rani,” ucap sang ular kembali.


“Cehh, awas lo bohongin gue,” Rani mendilikkan matanya kepada sang ular.


“Saya nggak akan bohongin kamu, pulanglah!” ucap sang ular kembali.


Rani pun berjalan ke arah yang ditunjukkan oleh ular tadi. Rani kembali menoleh ke belakang menatap ular yang bisa bicara itu


Mata indah yang terpejam itu akhirnya terbuka. Menatap langit-langit yang ternyata Rani berada di kamarnya. “Astagfirullah, untung cuman mimpi,” ujar Rani mengusap keras wajahnya dan mendudukkan badannya.


Setelah mengumpulkan nyawanya yang hilang atau mungkin kelelahan setelah berlarian di alam mimpinya, ia pun beranjak ke kamar mandi untuk berwudhu. Kemudian, Rani melaksanakan ibadah malamnya.


Rani pun melipat peralatan shalatnya, ia kembali teringat akan mimpi anehnya. “Hahh, aneh-aneh aja cara si setan gangguin gue tidur,” ucap Rani. Melihat jam yang masih menunjukkan pukul 02.30 WIB. Rani pun kembali menggulung badannya dengan selimut dan tidak lupa untuk membaca doa sebelum tidur.


***


Saat sahur, tidak seperti biasanya Rani bangun sendiri dan menyiapkan makanan untuk keluarganya.


“Tumbenan kamu nggak molor?” tanya Rita pada putrinya itu.


“Huhh, si mama. Aku bangun telat salah, bangun cepat salah,” dengus Rani yang membuat sang mama tersenyum.


Mereka asik dengan menata lauk di atas tikar, “Mah, tadi Rani mimpi aneh banget,” ujar Rani kepada sang mama yang masih membuatkan teh untuk sang papa.


“Mimpi apa memangnya?” tanya sang mama santai.


“Mimpi tersesat di hutan, teru di kejar-kejar sama ular. Ularnya bisa ngomong pula,” ucap Rani.


“Makanya kalau tidur itu baca doa, jangan langsung tepar aja,” ucap Rita menasehati anaknya itu.


“Hehe, iya mah. Semalam abis dengerin si Keke. Si Dayat bikin ulah lagi,” ucap Rani.


Ibu dan anak ini memang layaknya sahabat yang akan berbagi cerita. Sahabat-sahabat Rani pun nyaman apabila curhat dengan Rita. Karena, bawaan Rita yang ingin agar anak-anaknya terbuka padanya, bukan kepada orang lain yang mungkin saja memiliki niat lain atas kebaikan yang dilakukan.


“Ngapain lagi sih anak temen mama itu? Tak aduin ke mamahnya nanti,” tuka Rita yang juga kesal dengan sifat anak lelaki itu kepada sahabat putrinya yang sudah ia anggap seperti anaknya sendiri.


“Selingkuh lagi mah, biasa amphibi nggak bakal bisa tinggal di satu tempat,” jawab Rani santai.


“Hussh, jangan ngomong kek gitu toh nduk,” ucap Rita sedikit membesarkan matanya pada Rani, membuat sang anak nyengir.


“Dah kelar ini, sana bangunin pasukan,” ucap sang mama.


Rani pun membangunkan pasukan di rumahnya dan tentu sang jendral siapa lagi kalau bukan papa Rani. Keluarga Nugraha pun menikmati sahur mereka.


Paginya saat akan ke sekolah, Rani seperti biasanya akan berjalan menunggu angkutan umum atau ojol untuk berangkat sekolah. Lama menunggu Rani pun mendapatkan pengemudi. Sepanjang jalan ia hanya mengingat mimpinya.


“Udahlah *****, anggap aja bunga tidur,” ujar Rani menggelengkan kepalanya.


Rani tidak menyadari jika sedari tadi ada motor yang mengikutinya. “Sungguh kamu lucu gadis kecil, “ ucap lelaki itu dengan mengukir senyumnya.


Setelah memastikan Rani masuk ke dalam gerbang sekolahnya, sang lelaki yang mengikutinya pun meninggalkan sekolah Rani menuju sekolahnya.