
Hari ini adalah hari penentuan. Dimana saat ini para siswa yang sudah menghabiskan waktunya di masa putih dongker hampir tiga tahun tersebut menghadapi ujian terakhir. Apakah yang mereka pelajari selama ini bisa membantunya kelak, atau mereka tak membawa apa-apa saat ujian akhir nasional tersebut.
"Ran...Kita mecah semua. Ngga ada yang sekelas ujiannya," rengek Keke.
"Kan dari kemarin juga udah pada tau. Mau ngga mau ya mesti dijalani Ke!" ujar Rani yang masih membaca bukunya. Ia tidak ingin membuyarkan ingatannya yang sudah ia recall semalaman hanya karena meladeni sahabatnya ini.
"Kalau ngga sekelas. Nanti gue nyonteknya sama siapa?" ceplos Keke.
"Ceh!!! Punya sahabat otak pinter tapi doyan nyontek!" ujar Zia melirik Keke.
"Gue kan cuman butuh kepastian. Sirik aja lo!" tukas Keke memukul lengan Zia dengan buku Bahasa Indonesia yang tebalnya bisa dijadikan bantal.
"Sakit Keke!!!" ujar Zia meringis.
"Heh!!! Lo berdua kalau mau adu mulut jangan disini! Nanti yang ada ingatan gue buyar semua!" ujar Rani memelototi kedua sahabatnya.
"Maaf Ran. Zia yang mulai!" delik Keke.
"Kok gue? Lo yang duluan!" ujar Zia tak terima.
"Lo!" jawab Keke.
"Lo!" delik Zia.
"Lo!" ujar Keke yang semakin mendekatkan wajah seramnya pada Zia.
"Stoppppp!!! Hentikan keributan aneh ini. Lo juga Ke! Kita harus percaya diri sama jawaban sendiri! Jangan ngikut teman, lagian belum tentu tuh orang benar semua!" ujar Rani membuat Keke menunduk.
"Tuh dengerin kata Rani!" ujar Zia menepuk bahu Keke.
"Lo juga Zi. Sahabat lagi panik, masih aja ngomporin!" delik Rani.
"Haha. Mampus lo! Kena juga kan," ujar Keke tertawa.
"Jangan mulai lagi!" tegas Rani.
"Siap bos!" ujar keduanya.
Mereka pun membicarakan tentang pelajaran sampai tak terasa bel tanda ujian pertama akan dimulai memutuskan obrolan tersebut.
"Baca doa! Semoga kita semua bisa jawab dengan benar, aamiin...." ujar Rani.
"Aamiin..." ujar keduanya dan mereka menuju kelas ujian masing-masing.
***
Di sisi lain. Saat anak putih dongker melaksanakan ujian nasional, para siswa putih abu-abu harus dihadapkan dengan serangkaian kegiatan pendaftaran universitas.
"Lo milih apa El?" tanya Alan.
"Geofisika UGM. Lo dimana?" tanya El.
"Gue mau milih UNPAD, tapi nggak tau bakal lulus atau enggak." cengir Alan.
"Lo Vin?" tanya Alan.
"Kampusnya sama dengan El. Kalau jurusan gue belum pasti," ujar Kevin yang masih membolak-balik kertas daftar jurusan yang ada di kampus tersohor tersebut.
Ketiga lelaki itu asik dengan di depan komputer sekolah tersebut. Begitupun dengan beberapa teman sekelasnya.
"Hoah.... Jantung gue rasanya mau copot sebelum nanti hasilnya keluar!" ujar Kevin menarik nafas dalam.
"Gue duluan!" ujar El tanpa melirik kedua sahabatnya.
Lelaki itu dengan tebaran pesonanya melangkahkan kaki menuju parkiran motor. Ia melirik arloji yang sudah menujukkan pukul 11.00 WIB. Artinya sang gadis kecil pujaan hatinya sudah menyelesaikan ujian nasional pertamanya hari ini.
El melajukan motornya menuju sekolah Rani. Wajah datarnya menatap tegas jalanan yang ia lalui.
***
"Ya Allah....Berikanlah hasil terbaik untuk kami, aamiin..." ujar Zia yang sudah bersama Rani dan Keke di depan gerbang sekolah.
"Ran...Babang lo dah jemput itu," tunjuk Keke pada El yang saat ini berada tak jauh dari mereka.
Senyuman hangat Rani dapatkan dari lelaki yang biasanya mengeluarkan aura dingin tersebut.
"Gimana ujiannya?" ujar El sembari memasangkan helm kepada kepala Rani.
"Insyaallah dapat. Kok lo repot-repot jemput gue?" ujar Rani.
"Apa salahnya menjemput pujaan hati yang telah berjuang seharian demi masa depan!" ujar El tersenyum lebar.
"Ceh! Sempat aja ngerayu pakai segala bahasa." desis Rani pelan akan tetapi masih terdengar oleh El.
"Buruan naik. Kita makan dulu ya?" ujar El.
Rani pun mengangguk dan menaiki motor dengan warna merah menyala tersebut.
El pun melajukan motornya menuju salah satu cafe yang ada di dekat sekolah Rani. Lelaki ini ingin membawa gadis kecilnya makan enak hari ini. Agar tenaga gadis itu full untuk peperangan besok hari.
"Kok makan disini?" tanya Rani.
"Apa salahnya?" tanya El.
"Gue nggak mau. Mehong semua!" rengek Rani.
Mendengar ucapan hadis kecilnya membuat El tertawa. Ia menarik lengan baju Rani memasuki cafe tersebut. El pun mendudukkan Rani di meja yang jendelanya menghadap ke jalan raya.
"Gue yang traktir. Pesan aja yang lo mau!" ujar El.
Lelaki itu menyerahkan daftar menu pada Rani. Akan tetapi, ia melihat kernyitan di dahi gadis kecilnya tersebut.
"Kenapa?" tanya El.
"Ini makanan apa sih bang?" tanya Rani polos.
"Ini menu ramen. Lo bisa pilih tambahan dan toppingnya!" ujar El.
"Ramen kan mie? Terus kenapa gambarnya ada udang dan lain-lain?" tanya Rani.
"Itu toppingnya sayang... Tunjuk aja lo mau yang mana?" ujar El menatap Rani.
"Terserah lo aja deh bang. Asalkan bisa di makan," ujar Rani menyandarkan badannya ke kursi cafe tersebut.
El pun mengangguk dan memesan makanan untuk dirinya dan Rani. Selang beberapa lama menunggu, akhirnya makanan yang mereka pesan telah datang dan memenuhi meja mereka saat ini.
"Gila. Banyak banget! Siapa yang bakal makan sebanyak ini?" ujar Rani melongo.
"Lo lah! Lo butuh energi untuk ujian besok!" ujar El dan memasukkan bumbu pada ramen Rani. Lelaki itu juga menambahkan udang crispy dan potongan ikan pada mangkok Rani.
"Gue besok itu ujian bang! Bukan mau ngerodi!" tukas Rani.
"Udah diem! Makan yang bener!" ujar El menyuapi Rani.
Rani membulatkan matanya karena tindakan El tersebut. Gadis ini menatap sekeliling, ia cemas akan pandangan orang lain terhadap dirinya. Bagaimanapun saat ini mereka sedang menggunakan baju sekolah yang beda tingkatan.
"Aduh.. Akurnya jadi adek kakak," ujar salah satu ibu-ibu pengunjung di sana.
Mendengar hal itu, Rani menarik nafas lega. Karena pandangan positif yang diberikan oleh orang-orang di sana.
"Untung di bilang adek kakak," ujar Rani pelan dan melanjutkan makannya.
"Iya adek kakak, dapetnya pas udah gede!" ujar El tersenyum dan membuat Rani tersedak.
Delikan tajam ia berikan pada lelaki di hadapannya saat ini. Bagaimana bisa dengan tanpa rasa malu El mengungkapkan hal seperti itu di hadapan umum tanpa takut dengan pandangan orang lain.
"What?" ujar El mengernyitkan alisnya karena mendapatkan tatapan tajam dari Rani.
"Lo memang nggak ada takut-takutnya yah bang! Atau memang urat malu lo udah putus!" ujar Rani pelan.
"Kenapa mesti malu? Toh gue nggak ngapa-ngapain kan?" tanya El dengan senyum penuh makna.
"Oh tuhan... Ada apa dengan kepala hambaMu yang satu ini???!" ujar Rani kesal dan memasukkan makanan ke mulutnya dengan kasar.