
"Abang kenapa bisa nyasar kesini malem-malem? Abang mau ngintip cewek-cewek tidur ya?" ujar Rani menyipitkan matanya seperti orang yang sedang curiga tingkat dewa.
"Masyaallah, itu mulut pedas banget kek cobekan sambel!!! Suuzon aja. Nggak mungkinlah kalau cuman mau ngintip cewek-cewek labil tidur." elak El tak kalah ketus atas tuduhan Rani.
"Ya terus ngapain kesini?" ujar Rani nyolot dan melotot.
"Abang itu mau kesini, tadinya mau ngajakin lihat bintang-bintang di ujung sana. Soalnya cantik dan abang yakin kamu suka. Ayok sekarang kita kesana!" ujar El menarik ujung kerah baju Rani, seperti menarik anak kucing.
"Eh eh eh. Woi bang lepasin, ini anak orang bukan anak kucing!!!" ujar Rani meronta.
Akan tetapi, El tidak menghiraukan rontaan Rani dan masih menyeret gadis munyilnya itu ke tempat yang ia maksud. Keduanya sampai di dekat ujung tebing dengan pemandangan indah bintang-bintang dan cahaya lampu kota dibawah tebing.
El melepaskan cekalannya dan menyuruh Rani duduk di batu besar disana. Seperti di film-film drakor, ea. Kedua sejoli itu duduk agak berjauhan namun hati terasa dekat.
"Masyaallah, cantiknya...." Ujar Rani terkagum-kagum sembari bertepuk tangan.
"Masih cantikan bintang yang di depan abang," ujar El tersenyum sembari menatap Rani.
"Heleh heleh gembel nggak ketulungan." ujar Rani sok sok an tidak mendengar gombalan El tadi.
"Ckk!!! Dicuekin salah, digombalin salah. Emang cowok itu selalu salah di mata cewek," dengus El.
"Jangan ngambek atuh Abang...Nyanyi dong!Biar kita nggak bosen," cengir Rani memasang wajah tak bersalah.
"Nyanyi apa? Suara abang jelek." ujar El sok merendah untuk meroket.
" Ihhhh tadi aja di depan ciwi-ciwi nyanyi. Giliran didepan aku nggak mau! Memanglah lelaki suka tepe-tepe (tebar pesona)." ujar Rani melipat kedua tangannya merajuk.
"Abang nyanyi buat kamu yaa...Bukan buat mereka!!! Nah dengerin ini," ujar El mengetes suaranya.
~ Kahitna : Cantik
Cantik
Ingin rasa hati berbisik
Untuk melepas keresahan dirimu
Ooh cantik
Bukan kuiingin mengganggumu
Tapi, apa merindu selalu
Walau mentari terbit di utara
Hatiku hanya untukmu
Ada hati yang termanis dan penuh cinta
Tentu saja kan kubalas seisi jiwa
Tiada lagi
Tiada lagi yang ganggu kita
Ini kesungguhan
Sungguh aku sayang kamu
Cantik
Bukan kuingin mengganggumu
Tapi apa arti merindu selalu
Walau mentari terbit di utara
Hatiku hanya untukmu
Ada hati yang termanis dan penuh cinta
Tentu saja kan kubalas seisi jiwa
Tiada lagi
Tiada lagi yang ganggu kita
Ini kesungguhan
Sungguh aku sayang kamu
Ingin ku berjalan menyusuri cinta
Hei heya ya ya heya ya ya heya
Ada hati yang termanis dan penuh cinta
Tentu saja kan kubalas seisi jiwa
Tiada lagi
Tiada lagi yang ganggu kita
Ini kesungguhan
Sungguh aku sayang kamu
Ada hati yang termanis dan penuh cinta
Tentu saja kan kubalas seisi jiwa
Tiada lagi
Tiada lagi yang ganggu kita
Ini kesungguhan
Sungguh aku sayang kamu
Hei heya ya ya heya ya
Ini kesungguhan
Sungguh aku sayang kamu
Oh God. hehe, maafkan hambamu ini yang sering khilaf karena terlalu mencintai makhlukmu yang satu ini. batin Rani. Jantung gadis itu berdetak lebih cepat seperti ia setelah mengambil nilai olahraga lari memutar lapangan ukuran 100 meter persegi dalam kurun waktu 15 menit.
"Heemmm..." ujar El, ia juga mensalting karena Rani menatapnya tanpa berkedip.
"Eh, hehehe... Hahahaha, to tweet amatt cihh...Pacar siapa ini?" ujar Rani ingin mencubit pipi El, akan tetapi gadis itu sadar seketika. Ia pun memindahkan tangannya untuk menggaruk kepalanya yang tak gatal.
Malu bund, ini tangan kadang suka bawa kejalan sesat. mau toel-toel anak orang sembarangan. Rani kembali membatin dan merutuki kebodohannya.
"Maharanisya, abang tu betulan sayang betulan Cinta, betulan terlope-lope sama kamu. Ayok kita nikah aja besok," Ujar El sok imut sembari menaik turunkan alis tebalnya. Beginilah kalau jiwa somplaknya kumat.
"Sembarangan!!! Aku belum tamat sekolah udah diajak nikah. Masak bocil nikah? Apa kata dunia?" ujar Rani hanya mendengus sebal.
Padahal dalam hati gadis kecil itu, abang El emang gila kayaknya. Lelaki itu yang berbicara, tapi jantung Rani yang berdetak berdemtum. Hei what's wrong with my heart?
El pun tertawa lepas karena melihat wajah Rani yang sebal entah karena benar-benar malu atau marah karena ucapannya yang bisa membuat detakan jantung Rani menjadi lebih cepat atau keluar dari servernya.
"Udah ah. Udah malem, bocil nggak boleh pulang larut. Nantik dilariin sama om-om," ujar El kembali bergurau.
"Lah kan uda dilariin ini sama om-om, welk!" ujar Rani memeletkan lidahnya dan kemudian berlari meninggalkan El.
El pun melotot karena dibilang om-om, ia pun mengejar gadis kecilnya itu. El mungkin benar-benar gila karena jatuh cinta, euforia yang ia rasakan seperti rasa permen nano-nano.
Rani sudah sampai diujung tendanya dan melambaikan tangan pada lelaki pujaan hatinya.
"Selamat malam calon suami," ujar Rani dengan gerakan bibir tanpa suara. Gadis kecil itupun tertawa melihat ekspresi El yang seperti cowok yang mendapatkan jackpot.
Rani pun membuka tendanya dan membaringkan tubuhnya, ia memegang dadanya yang mengeluarkan suara detakan jantung lebih cepat dari biasanya. Ia pun menepuk pipinya karena ucapannya tadi bisajadi malapetaka besok pagi untuknya.
Rani pun menghentak hentakkan kedua kakinya karena gereget dengan kelakuan gilanya.
"Ran, lu kenapa?" ujar Abil yang terbangun karena ulah Rani yang sedang mereog.
"Gue cuman ngigagu Bil. Dah sana, lu tidur lagi!!!" ujar Rani yang malu karena telah mengganggu tidur sahabatnya itu.
"Tadi lu kemana Ran?" tanya Abil yang baru sadar kalau tadi temannya ini tidak segera menuju tenda setelah kejadian horor yang mereka alami.
"Dilariin sama kakek gayung gue Bil." cengir Rani tertawa, ia senang sekali melihat ekspresi takut temannya itu.
Abil terkejut mendengar ucapan sahabatnya, dan melihat bahwa Rani melipat bibirnya karena menahan tawa. Ia pun menepuk pelan bibir sahabatnya itu.
"Apa? Gile lu. Mana mungkin lo bisa balik kesini kalau betulan digondol setan!" ujar Abil yang baru sadar kalau telah dibohongi oleh Rani.
"Hahaha, nah itu lo tau. Tadi gue di ajak bang El ke dekat tebing depan, lihat-lihat pemandangan malam." ujar Rani menjelaskan
"Oh," ujar Abil ber O riah mendengar klarifikasi Rani.
"Udah malem. Ayok kita tidur, nanti kalau masih begadang. Takutnya betulan digondol kakek gayung kita berdua," ujar Rani memeluk Abil seperti guling. Abil hanya diam membiarkan sahabatnya itu, keduanya pun terlelap.