
"Bukan begitu Maharanisya..." ujar El dengan nada lembut.
"Baiklah katakan dengan jelas maksud berubah yang gimana?" ujar Rani menatap El dengan tajam.
"Lo harus lebih bisa nutup diri, nggak terlalu dekat dengan lelaki, jadi cewek tulenlah pokoknya," ujar El dan balik menatap Rani.
"Huffhh...Emangnya lo bukan laki?" ujar Rani menghembuskan nafasnya.
"Maksudnya lelaki lain Ran," ujar El serius.
"Yee... Itumah enakan di lo bang! Lo tau gue memang modelannya begini," ujar Rani sembari menggelengkan kepalanya.
"Ya kan memang harus jaga jarak dari yang bukan muhrim!" ujar El cepat.
"Hei hei hei...Memangnya kita muhriman?" tanya Rani dengan kerlingan matanya.
Skak!
Kalah telak lo debat sama Rani El... batin El.
Ckk, Rani di lawan, mana bisa. Dasar cowok aneh. Baru juga diterima jiwa posesifnya kumat! batin Rani dan tersenyum.
"Tapi gue kan bakal pergi jauh Ran..." ujar El merengek.
"Hah?! Kesambet apaan lo bang?" tanya Rani kaget mendengar El merengek seperti anak kecil.
"Pokoknya lo harus jaga jarak dari cowok lain mulai sekarang!" ujar El dengan tangan bersedekap di dadanya.
"Nggak mau, wlek!" ujar Ranu dan berlari meninggalkan El.
"Harus pokoknya harus. Kalau lo nggak mau, gue bakal ikat lo di pohon asem." ancam El.
"Yahaha... Ancamannya nggak waw bang. Dedek nggak takut tuh!" ujar Rani menatap El.
"Ayolah Ran... Apa susahnya nurutin keinginan gue? Ini kan demi kebaikan lo juga." bujuk El dan berjalan mendekati Rani.
"You know me! Before I found you, I did what I like," ujar Rani sembari berteriak kencang.
"Gue cuman minta satu permintaan. Berubahlah lebih baik!" ujar El yang saat ini sudah berdiri tepat di depan.
"Gue nggak bisa janji." ujar Rani.
"Setidaknya lo mencoba, okey?" tanya El.
"Percuma juga nolak. Pasti tetap dipaksa!" ujar Rani memutar bola matanya.
"Terima kasih," ujar El dengan senyum lebarnya.
"Hemmm..." ujar Rani mengerucutkan bibirnya.
"Lakukan dengan ikhlas!" ujar El mencubit hidung Rani.
"Ceh... Dont touch me!" amuk Rani dan memukul-mukul bahu El.
"You touch me too!" ujar El dengan tampang terzolimi.
"Arghh... Kenapa gue bisa suka sama manusia kayak lo!" delik Rani kesal dan ingin memukul El tapi tidak mengenai lelaki itu.
"Pertanyaan itu juga yang selalu menghantui pikiran gue," ujar El dan duduk di pematangan sawah tersebut.
"Jadi lo nyesel suka sama gue?" tanya Rani dengan nada melengking.
"Allah... Bukan begitu Maharanisya! Tapi..." ucapan El terpotong.
"Ah udahlah. Lagian gue juga sama nyesel suka sama lo!" ujar Rani menunduk.
"Apa? Lo bilang nyesel???" tanya El memastikan pendengarannya.
"Tapi boong!!! Ehehe," cengir Rani.
"Dasar gadis kecil. Hobi banget buat gue senam jantung!" ujar El dengan suara pelan, akan tetapi masih terdengar oleh Rani.
"Gue nggak masang musik. Kenapa jantung lo senam?" ujar Rani polos.
"Rasakan ini! Lo tau?" ujar El yang mengarahkan tangan Rani ke dada kirinya.
Rani menggeleng karena ia kaget dengan detakan jantung El yang seperti habis berlari. Apakah lelaki di hadapannya saat ini memiliki riwayat penyakit jantung?
"Detakan jantung ini semakin cepat saat berada di dekat lo Ran. Aih, susah deh ngejelasin sama anak kecil! Makanya gue mau, lo jaga jarak dari lelaki lain," ujar El melepas tangan Rani.
"No! Tapi senyuman lo itu, tingkah selengehan lo, dan wajah cantik lo. Semuanya bakal buat cowok lain itu jatuh hati!" ujar El tak kalah serius.
"Ceh lagi-lagi gue yang salah. Nggak mungkin gue jadi wajah datar kek lo kan?" desis Rani.
"Pokoknya cuman di depan gue lo bokeh mengeluarkan rengekan, sifat manja, dan tingkah-tingkah aneh lo lainnya." ujar El dengan penuh penekanan.
"Iya-iya. Bawel amat sii... Si bawel aja pasrah di penggorengan!" ujar Rani.
"Itumah ikan bawal!" delik El kesal.
"Hehe....Itu lo tau maksud gue," cengir Rani.
"Gue nambah satu permintaan lagi boleh Ran?" tanya El.
"Dih udah kek jin botol aja gue ngabulin permintaan orang!" tukas Rani dengan menyipitkan matanya pada El.
"Jangan panggil lo gue lai... Tapi pakai aku kamu," ujar El pelan.
"Dih semakin aja permintaan lo bang!" ujar Rani.
"Kamu!" ujar El.
"Gue..." belum jadi Rani berucap mulutnya sudah di sumpal oleh El dengan daun padi yang ada di sana.
"Sekali lagi lo gue. Bukan padi lagi yang nyosor tuh mulut!" ujar El menatap Rani.
"Pffftt....Fiuhh, asem banget sih bang! Belum juga apa-apa udah KDRT aja!" delik Rani membersihkan daun padi yang mengotori mulutnya.
"Makanya panggil aku kamu!" delik El.
"Huhhh... Iya deh, sekarang kita pulang ya abang es batu. Hari udah terlalu sore untuk anak gadis seperti aku," ujar Rani dengan nada imut.
Kok jijik sendiri jadinya denger suara gue! Batin Rani.
"Ya udah ayo aku antar pulang!" ujar El dan berjalan menuju motornya.
Rani hanya mengikuti lelaki itu dari belakang. Keduanya pun menuju rumah Rani. Sepanjang perjalanan hanya ada keheningan ada keduanya. Tak ada yang memulai percakapan, hanya suara angin sawah yang menjadi pengisi suara di kala sore itu.
***
Saat sampai di rumah Rani. Rani harus menahan pegal di kakinya karena harus mendengarkan ocehan demi ocehan yang disampaikan oleh El. Lelaki itu mengulang semua permintaannya saat berada di texas versi Kota Batus itu.
"Iya bang iya... Kaki gue pegel nih!" rajuk Rani. Namun, sesaat kemudian gadis itu menutup mulutnya. Karena ia sadar telah mengeluarkan kata-kata larangan dari lelaki es di hadapannya saat ini.
"Susah amat yah Ran!!!" delik El kesal. Seketika tatapan lelaki itu membuat tengkuk leher Rani merinding.
"Sedang dalam proses adaptasi bang. Bye... hati-hati di jalan. Jangan nambrak tiang!" ujar Rani dan mengambil langkah seribu ke dalam rumahnya.
"Dasar gadis kecil!" ujar El menggelengkan kepalanya. Mungkin memang benar yang di ucapkan oleh Rani bahwa saat ini mereka harus berada dalam tahap adaptasi dahulu.
Lelaki itu pun menghidupkan motornya meninggalkan rumah Rani. Akan tetapi, baru saja saat keluar gang dirinya memutuskan untuk kembali ke rumah Rani.
Tok
tok
tok
"Iyaa sebentar... " ujar Rani berteriak dan membukakan pintu dan kaget saat melihat wajah yang ada dibalik pintu itu.
"Bagus yah...Baru aja di ajak berubah, sekarang udah pakai baju bola lagi!" tukas El dengan nada misterius.
"Ehehe... Gue kan mau tidur. Kenapa lo eh maksudnya kenapa balik lagi bang?" ujar Rani meralat perkataannya.
"Besok kita jogging pagi. Kamu udah libur, jadi nggak boleh malas-malasan!" ujar El.
"Baru juga gue mikir mau hibernasi seharian," ujar Rani pelan.
"Kamu ngomong apa barusan?" tanya El.
"Nggak...Nggak ada. Lihat besok pagi aja yah bang, kalau jadi nanti aku kabarin." ujar Rani dan bergegas menutup pintu rumahnya.
"Maharanisya! Omongannya belum selesai!" ujar El kesal. Untung saja hidung mancungnya tidak dicium oleh pintu dari kayu jati tersebut.
"Nggak baik berduaan lama-lama. kasihan setannya nggak bisa libur karena harus kerja lembur!" teriak Rani dari dalam rumah.
El pun mengangguk. Benar yang dikatakan oleh gadis kecilnya bahwa tidak baik berduaan terlalu lama. Lelaki itu pun pergi meninggalkan rumah Rani.