Before I Found You

Before I Found You
BIFY 13



Rani menghempaskan tubuhnya ke kasur, ia teringat wajah murung Miko karena ucapannya tadi, apakah dirinya terlalu kasar? Ah sudahlah. Ia tidak mau ambil pusing dan lebih memilih untuk mandi. Kemudian, menghampiri mamanya di dapur.


“Mamaku sayang, kita makan apa malam ini?” tanya Rani merangkul mamanya dari belakang.


“Masak sayur lodeh sama ikan asin,” jawab mama Rita pada anak gadisnya ini.


“Gimana latihanmu Ran? Trus gimana persiapan festivalnya nanti? Mama harus nyisihin uang dong untuk biaya nyewa baju festivalmu?” Mama Rita bertanya beruntun padanya.


“Uhh, nanyanya satu-satu dong ma,” Rani mencubit pelan pipi mulus mamanya ini. “Latihannya lancar ma, cuman lebih ekstra aja soalnya kan mau tampil bentar lagi. Kalau untuk festivalnya mama tenang aja semua biaya ditanggung sekolah kok, termasuk biaya nyewa baju. Jadi, mamaku yang cantik ini nggak usah khawatir atau nyisihin uang buat Rani,” Rani menata masakan mamanya di atas meja makan.


“Alhamdulillah kalau gitu, anak gadis mama memang yang terbaik,” Rita mencium pipi anak gadisnya ini.


“Iya dong ma, mamanya kan juga mama terbaik,” Rani kembali mencium mamanya.


“Ada apa ini? Kok kayaknya dua bidadari di rumah ini lagi bahagia,” tanya Habil melihat mama dan kakaknya masih rangkul-rangkulan.


“Sirik aja lo dek,” Rani memeletkan lidahnya pada adik lelakinya itu.


“Udah jangan ribut, Habil panggil papa dan Ihsyan!” titah Ratu pada anak lelakinya ini. Kemudian mereka makan bersama dengan tenang.


“Nggak kerasa ya, bentar lagi udah bulan puasa aja,” Rita mengingat tanggal yang sebentar lagi akan menyambut bulan Ramadhan.


“He em ma, nggak sabar main sambalakon malam-malam” saut Ihsyan.


“Main aja isi kepala lo dek,” Habil geleng kepala mendengar penuturan adiknya.


“Kalian berdua itu memang otaknya permainan semua,” Kekeh Rani mentertawakan kedua adiknya. Orang tua mereka hanya tersenyum melihat tingkah anak-anaknya tersebut.


***


Senyum hangat mentari pagi membangunkan gadis yang sedang terlelap ini. Rani pun sadar bahwa dirinya sudah terlambat, ia hanya mandi ayam dan langsung ke dapur mengambil sepotong roti lapis. Dirinya tidak memnemukan mamanya disana.


“Makanya tidur jangan ngebo lo kak!” ucap si kecil Ihsyan pada kakaknya ini.


“Mama dari subuh udah kepasar ditemenin papa, makanya nggak ada yang bisa jadi alarm lo buat bangun,” saut Habil yang melihat kakaknya sedang mencari seseorang.


“Oh, yaudah kalian hati-hati ya ke sekolahnya, kakak kalian yang cantik ini berangkat duluan soalnya jadwal piket pagi,” Rani langsung kacir keluar rumah dan memasang sepatunya sambil berdiri.


“Semoga aja nggak telat, semoga nggak telat,” Rani segera menyetop tukang ojek di jalan tersebut, kemudian meminta diantarkan ke sekolahnya.


Saat Rani sedang melihat ke sisi kanan jalan ia melihat lelaki baru di geng abang-abangnya saat jumatan waktu itu. Lelaki ini mengendarai motor CBR merahnya dan memakai memakai jaket putih.


“Wow, keren!” ceplos pelan Rani.


“Apa dek?” tanya tukang ojek tersebut ke Rani.


Si pengendara motor besar itu adalah El yang tanpa sengaja melihat Rani sedang menunggu ojek di jalan tadi, ia hanya memperhatikan dari jauh gadis yang mengenakan seragam pramuka ini. El penasaran dimanakah gadis kecilnya ini bersekolah. Karena melihat arah ojek tersebut akan membawa Rani ke SMPN 1 Batus, ia pun segera menancap gas motornya.


“Setidaknya sekarang aku tau sekolah mu gadis kecil,” ucap El dengan sedikit garis lengkung di bibirnya.


***


Di kelas Rani mulai menggeser semua meja dan menyapu lantai kelas tersebut, hanya ada sedikit sampah di kelasnya tapi ia akan lebih senang kalau kelas itu kinclong, karena ia senang dan nyaman melihat lingkungannya bersih. Ketika akan membersihkan pinggiran jendela dengan kemoceng, Rani mulai bersin-bersin. Alerginya akan debu akan membuatnya menjadi seperti ini, hidungnya akan gatal dan bersin terus sampai debu tersebut berkurang di udara yang ia hirup.


“Hahah, gue denger kucing bersin-bersin trus hidung merah kayak tomat. Mungkin karma, gara-gara ngambil kerjaan gue.”Asrul mentertawakan temannya yang bersin tanpa jeda. Biasanya, kalau bagian membersihkan debu-debu di jendela menjadi tugas Asrul, ntah kenapa pagi ini ia melihat gadis itu nekat melakukannya padahal ia tau dirinya alergi.


“Hachcim, hachcim, ha...ha...hachim,” Rani memencet hidungnya yang masih gatal.


“Sono keluar, udah tau nggak kuat debu!!! Pakai sok-sok an bersihin pula,” Asrul mendorong bahu Rani agar keluar dari kelas. Kemudian, ia melanjutkan sisa pekerjaan Rani tadi, karena ia juga piket pagi hari ini.


Setelah menghirup udara pagi di luar kelas, Rani yang masih memencet hidungnya, menghampiri Asrul ke dalam kelas, ia melihat kelasnya yang sudah tertata rapi,”Rul, sampah depan belum di buang,”


“Iyah, sabar dong neng, ini belum kelar juga,” Asrul merapikan meja terakhirnya, dan berlalalu membuang sampah di tong sampah samping pintu kelas mereka.


Selang beberapa menit pun, teman-teman Rani sudah masuk ke dalam kelas, mereka menanti guru bahasa inggris datang. Kemudian melanjutkan proses belajar mengajar dengan tenang. Hanya sampai suara Zia yang penasaran bertanya pada Rani karena melihat hidung teman sebangkunya ini memerah.


“Hidung lo kenapa Ran?” tanya Zia.


“Habis piket tadi alergi gue kumat, gegara debu di jendela sudut noh tebel banget,” saut Rani yang masih sesekali menguyel hidungnya yang masih sedikit gatal.


“Kenapa lo yang bersihin? Udah tau alergi, kan biasanya Asrul yang ngerjain itu.” Tambah Zia menyipitkan matanya kepada Rani.


“Yah mau nyoba aja tadi, sapa tau udah nggak alergi lagi. Kalau tau bakal gini gue juga nggak mau coba-coba Zi,” lirih Rani.


“Lo sih, suka banget nyoba-nyoba. Kayak nggak pernah tau aja tiap kali lo nyoba-nyoba pasti ujung-ujungnya lo bakal apes. Apalagi hal yang berbau makanan pasti efeknya bakal buruk ntah itu ke perut lo atau ke kepala lo,” Zia sedikit memarahi temannya ini yang tidak pernah jera untuk mencoba-coba dalam melakukan suatu hal.


“Yah, maap Zi,” Rani memelas karena hidungnya gatal dan tau ini dampak dari kebiasaannya.


“Ehem, tolong perhatikan saya yang mengajar di depan!” ucap guru bahasa inggris di depan kelas.


“Lo sih Zi, ngajak gue ngobrol,” Rani menundukkan kepalanya dan menyikut Zia.


“Kalau lo nggak bandel gue juga ogah marah-maah,” Zia tidak terima disalahkan oleh temannya yang bandel ini.


“Sekali lagi saya dengar suara, saya akan meninggalkan kelas!” Suara guru itu kembali menatap tajam ke Rani dan Zia, semua teman kelasnya juga melihat ke arah dua gadis ini.


Orang yang menjadi pusat perhatian hanya menunduk dan tidak melanjutkan pembicaraan mereka. Mereka pasrah dengan tatapan mengerikan dari guru bahasa inggrisnya dan seluruh teman kelasnya.