Before I Found You

Before I Found You
BIFY 94



"Ya Allah... Raniii..... Hp lo bunyi terus ituh!" rengek Keke menutup telinganya menggunakan bantal.


"Siapa sih Ran? Angkat gih," racau Zia.


"Hufhhhh.... iya-iya," tukas Rani.


"Halo. Mohon maaf nomor yang anda tuju sedang tidur! Silahkan hubungi nanti pagi!" ujar Rani dan ingin mematikan sambungan telepon tersebut.


"Maharanisya! Buruan bangun!" teriak El dengan nada tinggi.


Mendengar suara lelakinya. Ehm, maksudnya lelaki esnya, sontak membuat mata Rani terbuka sempurna. Rani melihat ulang nama penelpon yang tertera di handphone tersebut.


Rani pun berancang-ancang untuk meneriaki si penelepon yang sudah membuat hidupnya tidak tentram beberapa hari ke belakang.


"Ngapain lo nelfon? Masih inget sama gue? Ceh. Belum jadi aja pergi jauh, udah berani nggak berkabar!" delik Rani kesal dan dengan nada tinggi.


Suara cempreng Rani berhasil membuat kedua temannya terbangun. Mereka melihat jam di dinding yang masih menunjukkan pukul 04.00 WIB. Rasa kantuk mereka tak bisa untuk di ajak berkompromi, akhirnya Zia dan Keke pergi ke ruang tamu untuk melanjutkan tidur mereka di sofa yang ada di sana. Mereka tidak ingin menjadi penguping permasalahan rumah tangga sahabatnya. Kedua gadis itu pun membawa bantal dan selimut, kemudian melanjutkan tidurnya di atas sofa mahal itu.


Sementara El yang awalnya mengenakan headset segera melepas benda yang menempel di lubang telinganya itu. El juga menggoyangkan kepalanya yang seperti terguncang akibat teriakan Rani.


"Kenapa mereka pada ngungsi?" ujar Rani pelan.


"Gimana mereka nggak pergi karena suara melengking kamu Ran!" ujar El spontan.


"Kamu bilang apa bang?" tukas Rani.


"Eng.. nggak ada. Maaf ya kemarin nggak bisa kasih kabar karena sibuk ngurus berkas. Aku alhamdulillah lulus Ran," ujar El.


"Wah... Bagus dong bang! Selamat yaa..." girang Rani.


"Iya... Kamu minggu ini sibuk?" tanya El.


"Zia mau pergi, jadi kami bakal menghabiskan waktu bersama." jawab Rani.


"Kapan berangkatnya?" tanya El.


"Sabtu besok." ujar Rani.


Keheningan pun melanda keduanya. El ingin bertanya apakah gadis kecilnya merindukan dia? Akan tetapi gengsinya masih berada di barisan paling depan. Namun, karena tidak tahan dengan keheningan. Lelaki itu pun membuka suaranya.


"Ran, kamu nggak kangen sama aku?" ujar El.


"Ya," jawab Rani singkat.


"Kalau iya. Kita ketemuan sebentar yuk? Nanti aku samperin ke rumah Zia." ujar El bahagia.


"Ya," jawab Rani.


"Ran? Kamu tidur lagi?" tanya El. Lelaki itu merasa aneh karena suara Rani yang pelan dan hembusan nafas teratur.


"Ayam gorengnya enak bang. Beli seporsi lagi," racau Rani.


"Masyaallah...Di mimpi pun inget makanan?" ujar El menggelengkan kepalanya.


"Ya..." jawab Rani lagi.


"Hei nona! Jangan sampai kejadian ini di alami oleh lelaki lain!" ujar El dengan nada tinggi.


"Hah? Lo bilang apa bang?" ujar Rani tersadar dari tidurnya.


"Nggak ada apa-apa. Lanjut aja tidurnya gadis kecilku..." ujar El tersenyum.


"Maaf....Tapi aku memang sangat mengantuk," rengek Rani.


"Ya nggak masalah. Sana tidur lagi!" ujar El.


"Oke bang. Assalammualaikum," ujar Rani.


Sambungan telepon itu pun terputus. Rani melihat ke sekelilingnya yang merasa aneh karena harus tidur sendirian di kamar sebesar ini. Gadis itu pun berlari ke tempat para sahabatnya.


"Geser dikit Zi!" ujar Rani merebahkan badannya di samping Zia.


Ucapan Rani membuat Zia terbangun dan memandang tajam pada Rani.


"Ya Allah Ran... Sofa secuil gini lo jadiin tempat tidur kita berdua!" delik Zia.


"Badan kita sama-sama kecil. Lapangkan hatimu sodara seperti lapangan bola Agus Salim," cengir Rani.


"Huhhh..." keluh Zia dan memejamkan matanya lagi.


"Hehe, baca doa jangan lupa!" ujar Rani.


Ketiga gadis itu pun kembali menuju alam mimpi. Mereka benar-benar tertidur pulas.


***


Pagi harinya ketiga gadis itu sudah bersiap-siap untuk berangkat. Mereka akan berangkat dengan supir Zia.


"Kemana tujuan kita hari ini?" tanya Zia.


"Tanyakan peta! Hahaha," ujar Keke.


Mereka bertiga pun tertawa. Karena memang benar, mereka menanyakan tempat wisata terdekat pada peta di google itu.


"Kesini aja kek nya seru!" ujar Rani menunjukkan salah satu destinasi wisata yang sedang hits di daerah tetangga Kota Batus.


"Boleh tuh. Let's go to the jungle!" ujar Keke.


Mereka memilih destinasi wisata air terjun 7 tingkat yang ada di daerah tetangga tersebut. Jarak yang harus mereka tempuh kira-kira 2 jam dari pusat Kota.


"Gue lanjut tidur yah. Perut gue eneg!" tukas Rani dan memejamkan matanya.


"Baru juga jalan. Lo udah tutup mata aja Ran!" tukas Zia menggoyangkan badan Rani.


"Lo berdua mau gue mabuk?" ujar Rani mendelik kedua sahabatnya.


"Oke-oke. Silahkan tidur Putri..." ujar Keke.


Rani pun memejamkan matanya. Memang benar, dia sering mabuk darat apabila sebelum pergi perutnya tidak diisi dengan amunisi dari nasi. Tadi pagi mereka bertiga hanya makan lontong gulai kambing yang dibelikan oleh mama Zia. Alhasil, Rani harus memejamkan matanya sepanjang perjalanan agar isi perutnya tidak mengotori mobil mewah milik Zia.


Lama di perjalanan membuat ketiga gadis itu kembali hanyut dalam mimpi. Sang supir hanya menggelengkan kepala karena tingkah ketiga remaja ini. Ia ingin menanyakan apakah para gadis kecil ini tidak ingin makan dahulu di salah satu tempat kuliner di pinggiran jalan yang sangat terkenal di kota itu. Akan tetapi, niatnya ia urungkan dan melanjutkan perjalanan yang sedikit lagi sampai.


"Neng, bangun neng! Udah nyampe atuh," ujar sang supir pada Zia yang duduk di sebelahnya.


"Ehmm... Iya mang, makasih yaa..." ujar Zia.


Gadis itu pun keluar dari mobilnya dan membuka pintu belakang. Zia pun menarik hidup kedua sahabatnya yang masih terlelap itu.


"Ya Allah Zi... Lo jahilnya bener-bener yah!" ujar Rani.


Sementara Keke masih mengatur pencahayaan di matanya. Ia mengucek mata dan membulatkan matanya melihat papan yang tertera di gerbang indah itu.


"Widihhh...Cakep abis..." ujarnya Riang dan segera turun dari mobil.


"Kita ganti sendal jepit aja kali yah?" tanya Rani pada kedua sahabatnya karena melihat jalanan itu becek.


"Iyadeh Ran... Daripada sepatu putih berkilau gue penuh lumpur!" ujar Keke.


"Ya udah kalian tunggu disini bentar. Gue mau beli sendal jepit di sana!" ujar Zia dan berjalan perlahan menuju warung yang ada di samping gerbang wisata itu.


"Hei Zi," ujar seorang lelaki dan membuat Zia nyengir.


Kenapa mesti ketemu guru killer ini di saat kami nggak makai hijab? Aihh.. bodolah bentar lagi juga bakal jadi mantan guru. Tapi bagaimana dengan nasibku? batin Zia karena melihat orang yang berdiri di samping Afan.