
Siang yang digantikan dengan malam, pertanda bagi umat muslim untuk segera menuju mesjid, melaksanakan kewajiban yang hanya ada saat bulan suci Ramadhan. Setelah melaksanakan shalat tarawih Rani pun kembali pulang. Ia memilih untuk tidak mengikuti rapat panitia malam ini, dikarenakan teman-temannya tidak ke mesjid.
Sebuah panggilan masuk ke dalam handphone Rani.
“Halo, assalammualaikum” ujar Rani
“Huaaa.... Raniiiiiii. Gue putus,” raungan dan isakan gadis terdengar dari balik telfon itu.
“Gue punya temen geblek memang. Seharusnya lu jawab salam dulu! Bukan lu nyiram telinga gue pakai teriakan lo!!!” ketus Rani.
“Itumah udah mendingan Ran, dibandingin gue tadi,” jawab seseorang yang juga berada di panggilan yang sama.
“Kok kalian gitu sihh, yah maap Ran” rengekan gadis tadi masih membahana.
“Ya, sukurin dong!!! Putus dari cowok playboy kampung ituh,” tukas Zia yang jengah mendengar rengekan sahabatnya itu.
“Yah, kenapa sih kalian nggak pernah dukung hubungan gue,” rengekan Keke membuat kedua temannya menjauhkan handphone dari telinga.
“Ya tuhan Keke!!! Dah ah, besok aja sekolah. Gue ngantuk,” tukas Rani.
“Hiks, dengerin duluu...Si, si Dayat dia deket sama si Abel,” ucap Keke sedikit terisak.
“Cup-cup sini gua kelonin,” ucap Zia menghibur temannya.
“Yaudah, keluarin dah apa yang lo rasa,” ucap Rani.
Ketiga gadis itu pun larut dalam dongeng pangeranku direbut oleh pelakor yang disampaikan oleh salah satu dari mereka. Setelah mengeluarkan seluruh yang dirasakan sang gadis pun berhenti,
“Terus gue sekarang harus apa? Gue sayang banget sama dia,” ucap Keke dengan suara parau karena menangis.
“Ya Allah Keke.....Udah berapa kali gue bilang. Jangan jadi cewek yang geblek!” ucap Rani dengan meninggikan suaranya.
Permasalahan Keke dengan para lelaki adalah salah satu makanan sehari-hari bagi Rani dan Zia. Entah kenapa temannya ini sangat suka yang namanya “pacaran”. Keke adalah wanita yang sangat mudah meletakkan hatinya pada lelaki-lelaki tampan disekolahnya.
Mulai dari kakak kelas yang merupakan anak konglomerat, anak guru, boy band, hingga ke para brondong yang baru saja masuk ke sekolah mereka pun ia embat. Jika ditanya kenapa anak yang satu ini suka begitu? It’s simple. Para lelaki itu akan dijadikan supir dan atm berjalan ketika jalan dengan Keke. Hehe, ngejulid dikit nggak apa-apa yah. Tapi ini fakta di novel ini kok.
“Ya, Lo nya sih Ke. Gue kan juga udah bilangin jangan sama dia. Si Tomi aja udah ngelarang, jangan biarin di Dayat jadian sama lo,” tambah Zia.
“Ya gue kan nggak bisa nahan diri kalau ketemu cowok cakep. Apalagi dia keturunan Cina, mana bisa gue nolak kalau dia nembak.” Keke masih membela dirinya.
“Lo masih aja ngeyel. Udah putusin aja, sama sahabat Tomi aja,” jawab Zia.
“Ogahh! Nggak mau gue sama sahabatnya Tomi. Nanti nasib gue kayak lo, dia yang ngajak jalan tapi kita yang bayar,” cibir Keke.
“Kan nantik bakal sama gue lagi,” ucap Keke yang memang sudah beberapa kali dikhianati oleh pacarnya itu. Akan tetapi, mereka akan rujuk kembali apabila si lelaki menyogok Keke dengan tiket nonton atau hadiah lainnya.
“Dasar matre!!” ucap Zia.
Sebelum pertengkaran itu berlanjut si pendengar diantara ketiganya pun mulai bicara. “Stopppp!!!! Kalian berdua itu jangan saling memaki deh! Nih ya, gue bilangin. Kalian itu sahabat gue yang paling dan paling gue sayang sama-sama geblek.” Tukas Rani dengan sedikit berteriak.
Kata-kata Rani membuat keduanya mendesis dan mengusap kupingnya yang panas. “Kok lo gitu sih Ran?” ucap Keke melemah.
“Heem, kan gini-gini temen lo juga,” ucap Zia.
“Okey, lo berdua mau dengerin khutbah gue malam ini sampe pagi? Atau besok aja di sekolah?” tanya Rani dengan menekankan setiap nada bicaranya.
“Yah, emak kita marah nih Ke. Gara-gara lu sih pake nyolot!” omel Zia.
“Lo juga nyolot yah Juleha, kalau lupa,” jawab Keke.
“Diam! Sekarang dengerin khutbah gue! Udah gue bilangin, nggak usah terlalu menaruh hati kalian ke cowok kalian itu. Entah itu si Tomi kek, si dayat kek. Sama aja tuh laki, sama-sama nggak tau diri. Jadi nggak pantes dapetin hati sahabat-sahabat gue ini,” ucap Rani menghela nafas dalam.
“Iyah Ran,” ucap Keke menunduk. Seakan Rani berada di depannya.
“Nah, masih dengerin gue kan? Awas pada tinggalin gue tidur!” ucap Rani mengancam kedua sahabatnya.
“Enggak Ran,” ucap Zia yang juga mendengarkan ceramah dari sahabatnya ini.
.
.
.
.
.
Hai hai rihaiiii....
Para readersku... ayok dong muncul ke permukaan... senang yah author ngambek nggak nulis2 lagi 😭😭😭
Jujur, author butuh semangat dari kalian, komentar ttg ceritanya bagus atau enggak..
Muncullah para readerku, berikan penilaian kalian, vote kalian, dan jempol like dari kalian semua...☹️☹️☹️☹️