
“Ran lo bawak baju untuk latihan kan?” tanya Keke.
“Bawaklah, hari ini adalah hari yang gue tunggu-tunggu,” jawab Rani. Kemudian mereka melanjutkan kembali belajarnya.
***
Semua murid yang lulus seleksi telah berkumpul di pekarangan sekolah dengan baju latihan mereka, yah hanya baju kaus dan training. Mereka semua terdiri dari 12 orang lelaki dan 12 orang perempuan.
“Baiklah sesuai yang tertera di mading sabtu kemarin, silahkan mencari pasangan kalian dan buat baris dua berbanjar! laki-laki sebelah kiri, wanita sebelah kanan.” Perintah pelatih tersebut.
“Loh, gue kan nggak tau sama siapa,” keluh Zia dan diangguki oleh Keke. Mereka memang tidak melihat nama pasangan latihannya di mading. Rani pun tidak menemukan Miko disana.
“Hy ladies, maaf kita telat. Ayok Ran, oh iya lupa. Keke sama temen gue namanya Ari, trus lo Zi bareng si Adit.” Miko menjelaskan kepada tiga gadis dihadapannya ini. Ia dan teman-temannya sangat senang saat melihat nama pasangannya di papan pengumuman waktu itu.
“Ayo percepat gerakan kalian! Agar kita bisa cepat,” Saut pelatih dengan nada tegasnya. Mereka semua pun melakukan pemanasan terlebih dahulu.
Latihan awal yang mereka pelajari adalah memasang kuda-kuda. Kata pelatih, kuda-kuda yang tegap akan membuat kita bisa bertahan lebih lama akan serangan musuh. Banyak diantara mereka yang kesulitan menirukan kuda-kuda yang dipasang oleh pelatihnya, ada yang terjatuh karena tidak kuat menahan kakinya, ada yang aneh karena gayanya salah.
“Aduh, gimana sih kakinya,” Keluh Zia, ia tidak bisa menekukkan kakinya dengan benar.
“Hmm, ujung kakimu diarahkan ke luar kayak gini,” terang Adit kepada Zia.
Mereka disuruh untuk menahan kakinya sampai 15 menitan. Ada yang tumbang karena tidak sanggup lagi. Pelatih pun mengatakan dasar-dasarnya memang sulit dan membutuhkan ketahanan diri, ia juga melihat mana muridnya yang bersungguh-sungguh dan fokus. Yah, namanya juga bela diri tentu butuh usaha keras untuk melakukannya.
“Huhh capeknya, pegel semua otot gue,” Keke memukul-mukul pahanya yang terasa keram.
Ketiga gadis ini duduk selonjoran di tepi pekarangan sekolah tersebut karena kelelahan. Bagaimana tidak lelah, hari ini mereka full hanya diajarkan kuda-kuda saja. Rani yang kasihan melihat kedua sahabatnya ini memijit kecil lengan Zia dan Keke bergantian. Yah, dia tau kedua sahabatnya ini memang tidak pernah berlatih keras. Keke pun yang ikut tari, tidak pernah memaksakan dirinya.
Terdengar langkah kaki mendekat pada mereka, gadis-gadis ini pun memperhatikan siapa yang menghampiri mereka.
“Seru kan latihannya,” Miko memulai pembicaraan.
“Seru dari mana Koo, 1 jam penuh kita bejemur masang kuda-kuda. Remuk sudah tulang kaki gue,” omel Zia.
“Hahaha, kamu salah mulu sih Zi,” Adit mentertawakan Zia, karena sedari tadi Zia tidak berhenti mengomel karena sering mendapat teguran dari pelatih karena posisi kakinya tidak tepat.
“Iya, kamu yang paling pinter Dit,” Zia memutar bola matanya karena lelaki ini berani mentertawakannya.
“Latihan bela diri memang gini Ke, ini baru tahap awal belum puncaknya. Kita harus tetap semangat!” ucap Miko dengan sungguh-sungguh. “Oh ya, kemarin kan kalian belum kenalan sama teman-teman gue. Sekarang kenalan dengan benar gih,” titah Miko menyikut kedua lengan temannya.
“Ehmm, kenalin nama gue Ari, gue sekalas sama Miko, Gue ngikut Miko pindah kesini karena kita nggak bisa dipisahin.” Ari mengenalkan dirinya pada Rani. Seperti kejadian berulang, uluran tangan tersebut tidak disambut oleh Rani. Miko yang melihat hal itu, segera menarik tangan temannya.
“Hehe, maaf Ran, gue lupa ngasih tau Ari,” Miko cengegesan.
“Kenapa dia bilang ngikutin lo pindah?” kekepoan Keke bangkit lagi.
“Hahah, nggak ada itu cuman kalse mereka aja. Bapak-bapak kita memang mendapatkan tugas di Kota ini, makanya pindah kesini.” Jelas Miko. “Nih temen gue satu lagi,” Miko memukul pundak lelaki di sebelah kanannya.
“Nama aku Adit, sekelas sama Miko. Semoga ke depannya kita bisa berteman baik,” saut Adit.
“Ohoo, temen lo yang ini kalem banget Ko, like deh,” tutur Keke mengedipkan matanya. Adit menundukkan kepalanya, ia malu digoda oleh gadis cantik itu.
“Kumat nih anak,” saut Zia ia menyubit kecil tangan Keke. “Auww, sakit Zi,” Keke mendelik temannya itu.
“Hehe, temen gue yang satu ini memang auranya gelap, maksud gue kalem,” saut Miko merangkul temannya yang sedang tersipu malu ini.
“Hmm...Kenalin juga temen-temen gue,” Rani menatap kedua sahabatnya.
“Nama gue Zila Zilan, cewek termanis yang tinggal di daerah Purut, sekelas sama Rani,” ucap Zia.
“Nama gue Keke Puspita, anak bapak terganteng di sekolah ini, sahabat terbaik Rani,” Keke mengenalkan dirinya.
Mereka pun tertawa bersama, ntah kenapa Rani nyaman dengan Miko dan teman-temannya, menurut Rani baru kali ini dia bertemu lelaki yang tidak memiliki niat lain untuk mendekati dirinya dan kedua sahabatnya ini selain teman lelaki di kelas mereka.
“Mm..ngomong-ngomong kalian pulang pakai apa?” tanya Ari memecah suasana.
“Kita naik ojek ke rumah masing-masing,” singkat Zia.
“Oh, hat-hati ya,” saut Ari memberi perhatian.
“Tenang aja, nggak akan ada yang sanggup maling kita-kita,” ucap Keke.
“Haha, okedeh kalau gitu kita cabut duluan. Kita harus naik angkot terakhir ke daerah Layang, soalnya udah sore banget,” Tutur Miko.
“Oh kalian tinggal di daerah yang sama? Enak dong yah bisa bertiga terus,” tanya Keke. Membuat ketiganya mangut-mangut mengiyakan pertanyaan Keke.
“Sampai jumpa besok, dan kalau kita ketemu di luar waktu latihan jangan pura-pura nggak kenal gue yah,” ucap Ari terkekeh kecil.
“Tenang aja, kita nggak sombong kok kalau udah kenal. Kalian juga hati-hati pulangnya” saut Rani.
Mereka pun berpisah dan pulang ke rumah masing-masing.
Terima kasih udah meluangkan waktunya untuk membaca novel ini 😇😇😇