
Lihat kebunku
Penuh dengan buah....
Ada buah strawberry
Buah naga dan mangga.
Setiap minggu kuurus semua
Agar nantinya bisa makan buah
Lala....la lala...
Selain itu,
Juga ngurus bunga mama...
Supaya nggak kenak marah....
Oyeay...
Rani bersenandung kecil di halaman belakang rumah sambil merawat kebunnya. Kebun ini di rancang oleh papa Rani, agar anak gadis satu-satunya ini belajar bertanggung jawab. Rani akan merawat kebun dan tanaman di rumahnya setiap minggu pagi, karena pada hari lain, mama dan papanya lah yang menyiram tanaman tersebut. Rani akan membersihkan gulma disekitar tanaman, memotong daun yang mati, memangkas batang buah naga, dan terakhir menyiram tanaman-tanaman kesayangannya itu.
“Habillllll.....Isannnn...... bantuin gue, buang nih sampah !!!” teriak Rani.
Adapun dua orang anak lelaki yang masih nyaman di depan tv menyaksikan film doraemon pura-pura tidak mendengarkan teriakan itu.
“Papa......adek-adek nggak mau bantuin Raniii,” Rani kembali berteriak.
Mendengar aduan kakaknya itu, kedua anak lelaki tersebut berlarian menyusul kakaknya, sebelum Raja di rumah ini menjewer telinga mereka.
“Dasar pengadu lo kak,” delik isan pada kakaknya.
“Filmnya nanggung padahal, lagian sampahnya juga dikit masak lo nggak kuat ngangkatnya,” omel Habil.
Rani mendelik tajam kedua adiknya itu,”Bodo amat, itu kan tugas kalian bedua, welk 😜” Rani memeletkan lidahnya.
Kedua adiknya itu mengalah dan mengangkat sampah rerumputan itu untuk dibuang. Mereka tau berdebat dengan kakaknya akan menghabiskan waktu. Dan ujungnya film mereka akan habis.
“Gitu dong, abis ini gue mau ngajak si mbek dan si desi jalan-jalan. Kalian mau ikut?” tanya Rani pada adiknya sambil menepukkan tangannya karena masih banyak tanah yang menempel di tangannya.
“Lo aja yang pegi kak, kita mau nonton, lo udah gede juga, mandiri dikit napa.” Jawab Habil.
"Yaudah gue sendiri aja, bilang mama ya gue mau ngangon dilapangan rumput sebelah rumah Iwing,” Rani pun menuju kandang kambing kesayangannya mengajak mereka keluar.
“Uluulu tayang-tayangku, let’s go,” Rani memegang kedua tali kambingnya dan berjalan menuju lapangan rumput.
Dijalan ia bertemu banyak orang, mereka kagum dengan Rani karena tidak malu mengangon kambing dengan wajah cantiknya. Terutama ibu-ibu disekitar rumahnya, sudah tau bagaimana rutinitas anak gadis ini setiap minggunya. Mereka menginginkan Rani untuk dijadikan mantunya saat dewasa.
Rani memilih lapangan ini karena banyak rumput dan daun yang bisa dimakan oleh kambingnya. Selain itu tempat ini juga teduh.
“Mbek, gue mau curhat nih,” ucap Rani membuat kambingnya yang jantan melihat padanya.
“Lo tau, kemarin gue dijadiin barang taruhan sama si kucing garong. Ini semua gara-gara dua kutu kumpret itu, untung gue sayang sama mereka jadi nggak bisa marah lama-lama,” curhat Rani sambil mengelus kepala si mbek yang sedang makan.
“Mmbekkk,” suara kambing Rani. Kambingnya mendekatkan wajahnya ke Rani.
“Iya mbek, gue tau lo juga marah kan masak tuan lo dijadiin taruhan, lo yang paling ngerti gue. andaikan lo jadi manusia mbek, gue nggak bakal kesepian” kata Rani memeluk kambingnya.
Si mbek hanya diam saja membiarkan Rani memeluknya, “Serah lo deh Ran, gue laper. Mau gimana pun gue tetep kambing, nggak mungkin berevolusi jadi manusia. Heran gue punya tuan cantik tapi sedeng, curhat sama gue bukan sama manusia.Pakai acara peluk-peluk pula, untung bini gue nggak marah”. Rani melepas pelukannya dan memberikan dahan kayu muda pada kambing kesayangannya.
“Ehem...Temen gue memang sedeng curhat aja sama kambing,” seakan suara lelaki ini menjawab isi hati si mbek. “Kesepian banget nih anak di sekolahan. Yah, mau gimana lagi gue beda sekolah sama dia,” dengusan lelaki tersebut.
Rani mencari sumber suara itu, ia menemukan temannya Iwing. Sebenarnya teman Rani yang satu ini memiliki nama yang indah yaitu Firman Illahi. Tetapi karena ia merupakan lelaki bertulang lunak, ia lebih senang dipanggil Iwing, ntah apa alasannya. Iwing pun duduk disebelah Rani, dan memberi dahan kayu ke desi yang memang dibiarkan makan sendiri oleh Rani sedari tadi.
“Songong nih anak ngatain gue kesepian, padahal memang iyah. Sejak kapan lo disini?” tanya Rani pada temannya.
“Dari lo lewat rumah gue, Ran nanti kita main makeup-makeup an yah, kakak gue bawak alat make up yang baru,” Ucap Iwing semangat. Lelaki ini harus mengelus kepalanya karena dipukul oleh Rani.
“Ya Allah, berikanlah teman hamba ini hidayah-Mu. Lo itu lakik Wingggg, kalau main itu yah main bola kaki, bukan main makeup annnn.” Teriak Rani dengan suara memekakkan telinga.
“Ogah gue, ngapain juga ngerebutin satu bola, lari-lari pula, yang ada bau keringet,” Iwing memutar bola matanya.
“Ishh...kalian kenapa sihh suka banget menghakimi barbie,” jawab Iwing memasang wajah tanpa dosanya.
“Harus pokoknya! Wajib bagi lo, kalau nggak gue sidak lo ke rumah lo,” ancam Rani.
“Iya-iya,” Iwing pun menyerah dengan sifat pemaksa temannya ini. Apalagi ditambah dengan dua perempuan nanti, “Kelar dah hidup gue” batin Iwing.
Rani pun menyuruh Iwing untuk menemaninya pulang dengan memberikan tali Desi padanya. Sesampainya di rumah Rani setelah memasukkan kambing-kambingnya ke kandang, ia pun mengusir Iwing. “Sono lo pulang, makasih yah. Awas lo nggak pergi nanti sore,” Rani kembali mengancam temannya sambil mengarahkan telunjuknya di leher dengan peringatan di gorok. Iwing mengangguk dan kembali ke rumahnya.
***
Sore harinya Sari dan Wulan sudah menjemput Rani, mereka menggunakan baju kaus dan rambut panjangnya dibiarkan terurai. Rani yang keluar dari kamarnya tampak cantik dengan menggunakan kaus hitam yang lengannya digulung ke atas, celana hawai pendek putih, dan rambutnya ia kucir kuda.
“Sipp dah, mari bersenang-senang,” ucap Rani meraih kedua tangan temannya.
“Wah, ini anak-anak gadis pada mau kemana?” tanya papa Rani yang melihat teman anaknya.
”Pah, Rani izin mau main ya, mama mana pa?” ucap Rani pada papanya.
“Kemana sayang?” tanya ulang papa Rani pada anak gadisnya ini.
“Lapangan pah, bentar kok. Nanti jam 5 Rani udah pulang,” Rani meyakinkan papanya.
“Hmm, Mamamu tidur, yaudah hati-hati. Kalian juga ya, jagain anak om yang bandel ini,” gurau papa Rani.
“Siap om, kami pamit ya om,” jawab Sari dan Wulan menyalami papa Rani.
***
Rani dan temannya menuju lapangan, disana setiap sore memang ramai dengan anak-anak sampai remaja, meyalurkan hobi mereka dengan berbagai kegiatan.
“Lama banget sihh kalian, udah keringetan nih gue nunggu,” omel Iwing yang sudah lama menunggu para gadis ini.
“Yaudah ayok main,” Ucap Sari mengambil bola kaki yang ada di tangan Iwing.
“Eh, kalian mau main bola kaki?” tanya seorang lelaki pada Rani.
“Iya bang, kenapa bang” jawab Rani.
“Kita main bareng yah, lo berempat, gue sama anak-anak juga berempat,” jawab Randi yang kebetulan hari ini dilapangan.
“Oke sip bang, Wing lo jaga gawang!” jawab Sari.
Sari memang yang paling tomboy diantara Rani dan Wulan. Ia senang bertanding bola kaki, apalagi hari ini ia diajak oleh Randi yang notabennya adalah cowok yang disukai Sari.
Mereka pun bermain, gawang Rani dan kawan-kawan entah berapa kali kebobolan, karena Iwing yang selalu menghindari bola yang mengarah ke gawang bukan menangkapnya.
“Winggg....lo gimana sih, bola itu ditanggap geblek, bukan ngehindar!!!” marah Wulan pada teman lelakinya ini. Iwing pun mengerucutkan bibirnya.
“Iyahh...nantik gue tangkap, marah-marah aja kalian nanti cepet keriput yang ada,” Omel Iwing pada tiga temannya.
Orang yang melihat pun tertawa, bagaimana tidak. Lelaki bertulang lunak ini memiliki tiga perempuan yang berjiwa lelaki. Andaikan jiwa lelaki dari Rani, Sari, dan Wulan pindah ke diri Iwing, itu akan mengembalikan ke kodrat normalnya.
Mereka kembali bermain dan dihiasi oleh tawa karena tingkah Iwing yang sampai jingrak-jingrak dan jatuh untuk menangkap bola. Karena sudah lelah bermain, mereka pun duduk selonjor dilapangan tersebut.
Sari yang masih kesal karena kalah melempar ulang bola ke wajah Iwing. Wajah Iwing sebenarnya ganteng, karena ia berkulit eksotis, hidung yang sangat mancung, lesung pipit di kedua pipinya, dan bulu mata yang lentik.
“Sialan lo Sar, penyok nih hidung mancung gue,” Iwing menatap tajam pada temannya.
“Arghhh.. gara-gara lo markonah kita kalah, hilang sudah image gue di depan bang Randi,” omel Sari.
“Hahaha....udah-udah, ayok pulang, sebelum gue dimarahin papa,” ucap Rani yang bediri dan menjulurkan tangannya kepada kedua temannya untuk membantu mereka berdiri.
“Gue juga bantuin dong Ran, nggak adil banget sih” Iwing kembali mengomel.
“Ayok,” Rani menarik tangan Iwing kencang membuat lelaki itu hampir terjatuh ke depan.
“Hahah..rasain tuh markonah,” ucap wulan menertawakan temannya. Rani merangkul lengan temannya ini dan mereka berjalan bersama
Saat berjalan mereka masih menertawakan Iwing, El lewat dengan sepeda motornya. Ia melihat ke arah Rani sebentar, membentuk guratan di keningnya karena kedekatan antara Rani dengan Iwing. “Berapa banyak rahasia dirimu?” ucap El dalam hatinya.