Before I Found You

Before I Found You
BIFY 55



"Lo lama banget sih Ran....." keluh Wulan.


"Ini juga susah untuk kabur. Ngga liat nih gue bawa si embek biar bisa keluar." dumel Rani kepada temannya. Ia pun duduk di samping Iwing dan mengambil potongan tebu dari tangan lelaki bertulang lunak itu.


"Ya Allah, ampunilah dosa-dosa Rani, segerakanlah pengiriman otaknya yang belum lengkap saat pembagian otak di surga Ya Allah,"ujar Iwing menadah tangan dan menatap tajam pada Rani.


"Aamiin..Terima kasih untuk doanya sahabatku tersayang," cengir Rani yang dengan santainya memakan tebu tersebut dan tidak mengindahkan tatapan tajam dari Iwing.


"Aih udahlah Wing. Nih bukain yang baru untuk gue!" titah Sari.


"Huftt... kenapa sih gue harus berteman sama cewek-cewek seperti kalian? Dosa apa yah yang udah gue lakuin di kehidupan sebelumnya?" tanyanya pada diri sendiri sembari membuka tebu.


"Dosa lo itu dulu suka nindas cewek Wing. Makanya sekarang dibalik, lo yang tertindas! Hahaha," ujar Wulan.


Rani dan Sari pun mengangguk tanda setuju dan mentertawakan teman mereka tersebut.


"Nanti sore gimana jadinya Ran? Kan mau tanding...Kalau mengharapkan Iwing udah jelas kita kalah," ujar Sari menatap Rani.


"Wah... memang nggak ada harganya gue jadi laki di mari! Lo kira gue nggak mampu ngalahin curut-curut seberang itu?" ujar Iwing mendelik Sari.


"Emangnya mampu? Yakin?" ujar Wulan menoel pipi Iwing dengan ujung batang tebu.


"Gue sebagai seorang Firman Illahi, cowok terkeren, terbadai, ter-uwu disini ditantangin ngalahin anak seberang? Ya... ya... ya enggaklah mana bisa gue ngalahin mereka!" ujar Iwing dengan menepuk dadanya.


"Dasar temen set*n!" umpat ketiga gadis itu dan menjitak kepala Iwing dari kiri, kanan, dan depan.


"Auhh... sakit nih. Kalau gue temen set*an. Berarti kalian bertiga set*annya! Hahaha....." ujar Iwing dan berlari meninggalkan ketiga gadis.


"Kok kalian nggak ngejar sihh?" keluhnya yang sudah berada cukup jauh dari tiga gadis itu.


Rani, Sari, dan Wulan pun mengacuhkan Iwing. Mereka melanjutkan kegiatan makan tebu, karena tanpa dikejar pun dengan sendirinya dalam hitungan 1 2 3.


"Aih.. main sama kalian nggak asik!" ujar lelaki itu dan kembali duduk ke tempat semulanya.


Saat itulah kesempatan ketiga gadis tersebut mendekap Iwing menggunakan tali yang mengingat si embek. Mereka juga menyuruh si embek untuk menciumi pipi Iwing yang sedang duduk. Ia tidak bisa bergerak karena badannya terikat, bahunya ditekan dari atas oleh Wulan. Kedua kakinya diinjak oleh Sari agar tidak bisa kabur, dan Rani mengendalikan kambing kesayangannya.


"Haha.... cium terus si Iwing mbek! supaya wajahnya jadi glowing!" tukas Rani.


Ketiga gadis itu pun tertawa bahagia di atas penderitaan sahabat mereka tersebut. Iwing hanya menerima pasrah ciuman yang berupa endusan dari mulut si embek yang berbau parfum rerumputan basah.


"Apes bener dah hidup gue!" rengek Iwing mengelakkan wajahnya dari ciuman si embek yang semakin agresif.


Kambing Rani tersebut memang sangat suka dengan harum bedak bayi. Hal itulah yang membuat endusannya kepada wajah Iwing semakin menjadi-jadi ditambah dengan jilatan dari lidahnya. Kalau di tanya mengapa, jawabannya adalah bedak bayi yang dipakai Iwing adalah minyak bayi dengan harum telon yang dilengkapi bau sereh. Alhasil bau bedak tersebut sebelas dua belas dengan rumput berkualitas.


Lama mereka tertawa. Akhirnya, Rani pun menjauhkan si embek dari Iwing. Iwing pun segera membersihkan wajahnya menggunakan tisu basah. Kenapa bisa ada tisu basah, kalian pasti tau jawabannya karena jiwa perempuan sedikit merasuk ke dalam diri Iwing. Jadi adalah hal wajar apabila dirinya membawa tisu kemanapun dan kapanpun tisu tersebut akan sangat berguna bagi dirinya.


"Semoga dengan membuat kalian tertawa, gue jadi dapat pahala. Terus doa gue sebagai orang yang terzolimi segera dikabulkan oleh Allah SWT, aamiin..." ujar Iwing. Dirinya memang tidak bisa marah kepada tiga gadis yang ada di dekatnya saat ini. Karena hanya dengan mereka dirinya bisa berbicara dan mendapatkan kenyamanan.


"Memangnya lo doa apaan? Sampai harus dizolimin dulu makanya doa itu mudah terkabul?" heran Wulan.


"Gue berdoa agar bisa bertemu secara live dengan My Oppa Ji Chang Wook," ujar nya membayangkan aktor kesukaannya itu.


Mendengar jawaban dari sahabatnya itu, ketiga gadis tersebut hanya menepuk jidat singkat. Mereka memang salah mengira bahwa sahabatnya akan berdoa sesuatu yang bermanfaat, Iwing adalah sosok manusia dengan segala ciri khas dan keanehannya.


"Yah.... yaudahlah nggak apa-apa dibandingkan kalah.. Malu dong!" ujar Sari.


"Tapi gimana caranya ngabarin ke anak sebelah kalau kita nggak jadi main bola? " ujar Wulan.


Kemudian, ketiga gadis itu menatap Iwing secara bersamaan, "Kenapa lo pada natap gue kek gitu? Merinding gue!" ujar Iwing.


"Ayolah my sweet brothers. Lo kan cowok...Masak kita yang nemuin mereka?" rayu Sari.


"Iya Wing.. lo mau gue digangguin kek Rani kemarin?" ujar Wulan dengan wajah memelas.


"Masak lo tega sih Wing sama mereka berdua!" ujar Rani.


"Arghhhh....Nasib anakmu ini mak..... Ujung-ujungnya gue lagi yang apes. Okedeh. Demi kalian nanti gue yang nemuin mereka," pasrah Iwing.


"Terima kasih Firman Illahi, yang benar benar firman bagi kami bertiga," ujar Wulan mencubit pelan pipi Iwing.


"Nanti gue bikinin rujak deh Wing buat lo," ujar Sari.


"Pohon mangga lo udah berbuah lagi Sar?" tanya Rani antusias.


"Udah banyak buahnya, kalian tunggu disini bentar yah. Ayok Wing!" ajak Sari.


"Kenapa gue yang digeret kek kambing begini?" heran Iwing.


"Ya soalnya kan lo yang harus manjat pohonnya buat ngambil buah mangga. Nanti kita ngerujak disini aja!" tukas Sari menarik ujung lengan baju Iwing.


"Pasrah deh gue. Kena mulu, yang suka rujak entah siapa yang mesti usaha manjat pohon mangga dipenuhi semut merah entah siapa!" omel Iwing dengan mengkomat kamitkan bibirnya.


"Ikhlas dong Wing!" ujar Rani cekikikan.


"Ikhlas nggak ikhlas kalian bertiga tetep maksa!!" keluhnya dan berjalan mengikuti Sari sembari menendang bebatuan kecil yang ada disepanjang jalan.


"Ayok Ran, kita ngambil gula, cabe, sama asam di rumah Iwing aja!" ajak Wulan.


Kenapa mereka bisa seenaknya memasuki rumah Iwing. Karena saat libur seperti ini Iwing hanya sendirian dirumah. Sang mama pergi arisan dengan teman-temannya, sedangkan keluarga Iwing yang lain sudah tinggal di rumahnya masing-masing. Iwing adalah anak bungsu di keluarganya, sedikit. berbagi kisah tentang Iwing. Dirinya telah lama kehilangan sosok sang ayah, mungkin ketika dia berumur 4 tahun. Ayahnya mengalami serangan jantung karena usaha yang dia kelola dengan jerih payah sendiri mengalami kebangkrutan karena ditipu oleh temannya. Alhasil hingga saat ini, mamanya lah yang berusaha sendiri membesarkan anak-anaknya.


"Alhamdulillah kelar juga kuah rujaknya," ujar kedua gadis itu dan membawa ke teras rumah.


Kegiatan si embek yang masih memakan rumput masih dapat terpantay jelas dari teras rumah Iwing tersebut. Lagian tidak ada orang yang berani mengganggu kambing Rani saat sedang makan, karena tampang kambingnya yang sangar dan tanduknya yang sudah menggulung-gulung dan ujung tanduknya yang runcing.


Sesampainya Iwing dan Sari. Keempat anak remaja itu pun menikmati hidangan pagi mereka. Jangan khawatir, karena meskipun pagi hari udah ngerujak. Perut-perut karet keempat remaja ini sudah tahan banting, jadi aman memakan apapun.


.


.


.


Terima kasih udah mampir....Terima kasih banyak atas dukungannya.


Tinggalkan jejak like, vote, dan comment untuk author yaa readers 🥰🥰🥰