
"OMG....Seumur-umur baru kali ini gue tau kalau di tahun 2021 masih banyak masyarakat yang gunain sungai untuk semuanya," ujar Kia heboh.
"Gue kaga jadi mandi deh guys. Aurat kemana-mana kalau sampai ada cuwok nyempil di sungai bagian atas." ujar Rani tertunduk lesu.
"Tapi badan kita udah lengket semua guys. Kalau ngga mandi, nanti malam kota bakal jadi santapan nyamuk!" tukas Rani kembali mengingatkan.
"Haihhhh....Siapa sih yang milih lokasi ini? Masak mereka kaga mikir jangka panjang?" tukas Kia kesal.
"Tau tuh. Sekolah kaga mikir apa? Masak iya kita para gadis harus mandi di sungai. Airnya jernih sih pakai banget. Tapi ngga lucu aja pas lagi mando ternyata di balim semak-semak itu ada yang ngintip!" tukas Abil.
Saat ketiga gadis itu mengeluh. Para siswa wanita lain juga telah berkumpul ke mushola itu. Melihat hal itu, Rani menjelaskan bahwa mereka harus menggunakan sungai untuk mandi, mencuci, dan wudhu.
Mendengar hal itu banyak dari para siswa yang mengeluh. Mereka tidak bisa melakukan hal itu karena tak wajar bagi mereka yang biasanya mandi di tempat tertutup dan bisa dijadikan panggung dadakan karena hanya sendiri.
"Iuhhhh...Gue ngga mau mandi di sungai! Yakali nanti lagi mandi, ada tokai lewat. Huekkk," ujar salah seorang siswa wanita rempong.
Rani dan kedua sahabatnya menjadi jijik dengan ucapan teman seangkatan mereka itu. Kenapa ia harus mengatakan hal tersebut di saat-saat genting seperti ini.
Tidak ingin mendengarkan keluhan lainnya. Rani menarik kedua tangan sahabatnya untuk menghampiri Zikri. Ia butuh solusi dari permasalahan yang mereka hadapi saat ini.
"Ya kalau ngga mau mandi di sungai. Kalian mesti jalan satu kilo setengah untuk sampai di mesjid besar daerah sini," ujar Zikri santai.
"What???" ujar ketiga gadis itu serempak.
"Yakali satu setengah kilo kak. Setengah kilonya aja udah patah kaki gue!" tukas Abil memijit pelan pelipisnya karena ia pusing mendengar jawaban yang di sampaikan oleh Zikri.
Rani terdiam mendengar penjelasan Zikri. Bukannya mengeluh, ia justru bertanya kembali pada El KW tersebut. "Tempatnya di mana? Kita harus jalan kemana?" tanya Rani.
"Mesjid pertama saat kita masuk ke daerah ini. Dekat plang desa tadi." ujar Zikri.
"Okey, thanks." ujar Rani dan kembali menarik kedua sahabatnya.
"Ran...Seriusan ini kita jalan sejauh itu?" tanya Abil.
"Kalian mau mandi di sungai?" Rani bertanya balik.
"Enggaklah!" ujar kedua gadis itu serempak.
"Ya udah. Mau ngga mau mesti jalan jauh. Kalau kalian berdua ngga mau jalan...Yoweslah gue jalan sendiri." ujar Rani melangkahkan kakinya.
"Jangan Ran! Nanti yang ada lo hilang diculik orang sini." tukas Zia.
Abil dan Zia pun mengapit kedua lengan Rani. Ketiga gadis itu berjalan menyisiri jalan beton yang di sana. Di sebelah kanan mereka adalah sungai yang sangat berguna bagi masyarakat sekitar, dan disisi kiri mereka ada bukit yang menjulang tinggi.
"Naiki gunung, turuni lembah...." ujar Kia mengisi keheningan mereka di perjalanan.
Mereka tertawa bersama dan tidak.mersakan penat selama perjalanan. Akhirnya mereka sampai di tempat tujuan dengan selamat. Siapa sangka ternyata di sana sudah ada kakak-kakak pembina yang tadinya menggunakan motor.
"Bagaimana mereka bisa enak-enakan naik motor, sementara kita harus jauh dari sabang sampai merauke!" omel Kia.
"Ayo kita hampiri mereka!" ujar Rani.
"Kak, maaf sebelumnya. Kenapa kalian kesini bisa menggunakan kendaraan? Sementara kami harus berjalan kaki." ujar Rani pada salah satu senior.
"Ya ini kan masa kalian. Kalian harus kebal dengan segala ujian, kami dulu juga seperti kalian kok. Byee," ujar salah satu kakak pembina wanita itu.
"Njirr....Kita udah mau tamat kasih aja ngerasain dendam turunan senior!" delik Abil.
"Haihhhhh.....Udahlah, keknya percuma juga kita ngeluh. Mandi aja deh, gue gerah. Sekalian aja kita shalat magrib di mesjid ini," ajak Rani menarik tangan kedua sahabatnya ke kamar mandi mesjid.
***
Saat akan kembali ke lapangan kemah. Rani dan kedua sahabatnya telah menanti di tempat parkir motor para senior tadi.
"Kami kan selama disini jadi tanggung jawab kakak-kakak sekalian. Jadi demi keselamatan kami dan tidak memungkinkan untuk kembali ke tempat kemah berjalan kaki di malam hari. Kami izin menumpang kak," ujar Rani memasang tampang memelas namun dengan suara yang penuh penekanan.
"Baiklah. Kalian boleh naik, tapi hanya untuk kali ini!" ujar senior tersebut.
Rani dan kedua sahabatnya pun bertos ria. Ternyata senior yang mereka hadapi tidak terlalu sulit. Mereka pun kembali ke lapangan kemah yang saat ini telah dipenuhi dengan cahaya yang berasal dari obor minyak yang dibuat oleh para lelaki saat setelah menyelesaikan pembangunan kemah mereka.
"Waw....Indahnya," ujar Kia.
"Masyaallah Ki. Bukan waw!" titah Rani dan memukul keras lengan Kia.
"Auhhh...Iya mak, ampun!" ujar Kia memegangi lengannya yang terasa sakit karena mendapatkan stempel lima jari dari tangan Rani.
"Tenda kita tadi yang kanan ya guys?" tanya Abil.
"Itu yang di bagian depannya ada banyak bunga," tunjuk Rani.
Tenda mereka memang banyak dihiasi dengan bunga oleh para anggota lain. Rani dan kedua sahabatnya tadi bertugas untuk menata barang bukan bagian yang membuat tenda.
Rani dan kedua sahabatnya pun memasuki tenda dan mendapati rentetan pertanyaan dari teman mereka yang lain. Mereka mengira Rani dan kedua sahabatnya tidak jadi ikut serta dalam *** karena tidak ada kamar mandi di sana. Namun, setelah di jelaskan para teman Rani pun mengerti dan ingin mengikuti jejak Rani serta kedua sahabatnya agar bisa mandi.
Tadinya setelah Rani pergi para siswi hanya bersih-bersih sekilas. Tidak ada yang berani untuk mandi. Padahal tadi ibu-ibu di desa itu cukup banyak yang mandi di sana, bahkan mencuci baju di detik-detik menuju langit jingga.
Rani pun mengajak para teman sekelompoknya agar bangun lebih pagi esok hari karena mereka akan ke mesjid tadi sore. Pada malam hari dikarenakan badan yang sudah letih, mereka semua pun tidur dengan posisi tidur yang rapat bak ikan sarden dalam kaleng di tenda tersebut.
Rani mengeluarkan selimut hangat yang selalu ia bawa kemana-mana. Melihat hal itu teman-teman sekelompok Rani tertawa karena tidak ada yang mengira bahwa Rani memiliki keunikan tersendiri dan berbeda dari yang lain. Apabila gadis lain tasnya dipenuhi oleh peralatan kecantikan, isi tas Rani dipenuhi dengan cemilan dan peralatan tidurnya.
"Kamu kira kita kesini pergi piknik Ran? Sampai bawa selimut hangat segala," ujar Windi salah seorang anggota kelompok mereka.
"Ya anggap aja begitu. Satu hal yang jelas, pramuka itu melelahkan jadi kita butuh istirahat yang cukup untuk mempersiapkan diri esok harinya," ujar Rani tersenyum dan memejamkan matanya.