
Saat fajar Rani tersadar dari tidurnya, ia bingung bagaimana cara melaksanakan shalat tahajudnya sementara di sana harus menggunakan air sungai untuk berwudhu. Rani membangunkan Abil yang tidur di sampingnya agar sahabatnya itu mau menemaninya ke mushola.
"Bil, temenin ke mushola." ujar Rani menggoyangkan badan sahabatnya.
Bukannya bangun justru dengkuran halus yang Rani dengar dari mulut tipis sahabatnya itu. Rani pun bingung, ia mencoba membuka tenda dan ternyata banyak orang yang terjaga di suasana yang masih kelam itu. Rani pun memberanikan diri untuk pergi sendiri, tak lupa ia menyiapkan senter kecil sebagai penerangan jalannya.
Rani ikut serta dengan beberapa teman perempuan dari kelas lain yang juga ingin melaksanakan shalat tajahud sekalian menunggu waktu subuh. Mereka melaksanakan shalat tahajud di mushola dan sembari menunggu waktu subuh Rani memilih untuk membaca beberapa ayat Al-Qur'an.
Saat mentari sudah tampak jelas, Rani dan teman-temannya tadi berjalan menuju tenda masing-masing. Rani juga mengucapkan terima kasih pada teman barunya itu. Itulah gunanya berkenalan dengan banyak orang meskipun tidak terlalu dekat akan tetapi saat kita sendirian mereka akan berguna. Boleh memiliki teman dekat, tapi jangan menjauhi teman-teman yang tidak bisa di ajak menjadi sahabat. Berbaur dengan semua orang akan mempunyai manfaat tersendiri. Kira-kira begitulah petuah yang sering Rani dengar saat ke rumah neneknya.
Ketika sampai di tendanya, kedua sahabat Rani heboh melihat Rani mereka mengira bahwa Rani hilang di saat malam hari. Kia dengan gemas mencubit pipi Rani, ia gemas kenapa Rani tidak membangunkan dirinya dan Abil.
"Hihhhh...Sakit tau Ki....Gue udah bangunin Lo pada tadi. Tapi kalian tidur kek kebo!" tukas Rani memegangi pipinya yang sakit akibat cubitan Kia.
"Hehe, namanya juga capek Ran..." cengir Abil.
"Dahlah ayok mandi!" ajak Rani dan mengambil perlengkapan mandinya.
"Kita mesti jalan lagi???" tanya Kia.
"Engga usah. Tadi pas gue ke mushola ternyata udah dibuatin tempat khusus mandi sama panitia. Jadi aman, kaga akan ada tokei lewat atau cowok bintitan," ujar Rani tersenyum.
Ia tadi melihat itu ketika saat akan berwudhu. Ternyata, para panitia yang didatangkan cepat tanggap akan situasi dan kondisi. Mereka katanya sudah izin dengan penduduk setempat agar menggunakan sedikit pinggiran sungai untuk membuat kamar mandi alakadar yang ditutupi terpal rapat sehingga para siswi dapat menggunakannya dengan aman.
"Wahhhhh...Airnya jernih berkali-kali lipat dari kemarin," teriak Abil bahagia.
Rani pun menggelengkan kepala melihat kedua sahabatnya yang kemarin ya ogah-ogahan mandi di sungai sekarang justru berbanding terbalik. Keduanya malah langsung menceburkan diri tanpa melepas baju mereka.
Selesai dengan ritual mandi mereka yang lebih mirip anak TK bertemu kolom renang, ketiga gadis itu kembali ke tenda mereka. Pagi ini kegiatan permulaan dari *** akan dilakukan.
Saat sedang berada di lapangan, siapa sangka mereka mendapatkan hiburan dadakan dari sekumpulan lelaki yang berbeda umur dengan mereka. Baju yang digunakan itu lebih mirip dengan baju kerja untuk kuliah.
Rani menatap ke depan dan matanya bertemu dengan mata indah vokalis tersebut. Lagi dan lagi Lo selalu buat gue terpesona bang, batin Rani
~ Teddy swims: You're Still The One
Looks like we made it
Look how far we've come, my baby
We might've took the long way
We knew we'd get there someday
They said that I bet they'll never make it
But just look at us holdin' on
We're still together, still goin' strong
(You're still the one)
You're still the one I run to
The one that I belong to
You're still the one I want for life
(Still the one)
You're still the one I love
The only one I dream of
You're still the one I kiss goodnight
Ain't nothin' better
We beat the odds together
Look at what we would be missin'
They said "I bet they'll never make it"
But just look at us holdin' on
We're still together, still goin' strong
(Still the one)
You're still the one I run to
The one that I belong to
You're still the one I want for life
(Still the one)
You're still the one I love
The only one I dream of
You're still the one I kiss goodnight
Still the one
Still the one
Yeah (Still the one)
You're still the one I run to
The one that I belong to
You're still the one I want for life
(Still the one)
You're still the one I love
The only one I dream of
You're still the one I kiss goodnight
I'm so glad we made it
Look how far we've come, my baby
Para siswi menjadi heboh dan hiruk pikuk mendengar lantunan musik yang lebih tepatnya terpesona karena sang penyanyi dengan wajah tampan itu.
Ya siapa sangka, penyanyi itu adalah Immanuel alias El asli. Bagaimana dirinya bisa di sana, ya jawabannya karena tidak ingin sang pengisi hatinya diganggu oleh para lelaki ngenes yang tidak bisa mendapatkan hati sang Maharani.
El menyudahi lagunya dan diiringi oleh sorakan para penonton yang heboh bagaikan suporter pemain bola. Ya benar, karena El sering muncul dadakan di sekolahan Rani membuat beberapa di antara temannya menjadi pengagum El. Rata-rata pengagum tersebut adalah kumpulan para ciwi-ciwi hits badai kek bulu mata ehem.
"Baiklah adik-adik sekalian, karena pagi ini sudah diisi dengan asupan nutrisi. Kita mulai kegiatan *** hari ini dengan melakukan hal-hal yang sudah tertera di rundown acara." ujar MC wanita di depan.
Orang-orang sudah sibuk mendengarkan penjelasan yang di sampaikan oleh MC di depan. Sementara Rani masih mematung, ia mengingat-ingat bagaimana bisa lelaki itu tersesat sampai kesini. Padahal mereka beda pulau, dan lebih mengagetkan lagi saat ini El sedang duduk di samping kepala sekolah Rani. Lelaki tua yang menjabat sebagai kepala sekolahnya itu memukul-mukul punggung El sembari bercerita.
"Cih. Pasti itu kenalan ayahnya lagi. Dasar cowok posesif!!! Sedikit-sedikit ngintil, dia ngga sadar apa setiap kali dia muncul para cewek disini kek udah kehilangan batas waras semua. Lama-lama gue borgol aja tuh tangan sama tangan gue biar kaga perlu repot-repot pergi lagi. Eh," Rani tersadar bahwa ucapannya sama saja mengungkapkan bahwa dirinya juga posesif pada pangeran tampannya itu.
Kedua sahabat Rani pun menyenggol lengan Rani. Mereka tau bahwa sahabatnya itu tidak menyimak sama sekali apa yang di sampaikan di depan.
Rani tidak mengindahkan teguran dari kedua sahabatnya, ia justru sibuk menatap El tajam.
Rani membulatkan matanya saat mata mereka berdua bertemu El justru membuang wajahnya. Wah...wah...ngajak war nih orang! Pakai ngalihin tatapan segala! gerutu Rani dalam hatinya.