
Sepekan sudah keduanya tak bertemu dikarenakan kesibukan masing-masing. Kata rindu tak terucap, akan tetapi memenuhi kepala keduanya.
"Ya Allah...Kenapa yah isi kepala hamba-Mu ini tentang dia semua, arghhhh!!!" ucap Rani menenggelamkan kepalanya ke bantal. Gadis kecil itupun berguling bolak balik di atas kasur sehingga seluruhnya berantakan.
"Lo kenapa sih Ran??? Gue udah capek ngerapihin tadi pagi!" ujar Zia.
"Pusing kepala dedek," ujar Rani dan bangkit dari kasur, gadis itupun merapikan kembali tempat tidurnya yang saat ini bukan lagi miliknya seorang karena harus berbagi dengan sahabatnya yang masih berada di rumah Rani.
"Makanya cerita! Lo sih lebih suka ngatasin masalah sendiri! Kita mah apa atuh?!" tukas Zia dan membaringkan badannya di atas kasur.
"Baru juga gue rapihin gob*ok!" ujar Rani kesal melihat tingkah sahabatnya yang awalnya marah karena kasur itu berantakan.
Namun sekarang bisa dilihat ketika ia membereskan kekacauan itu justru sahabatnya menggantikan dirinya untuk membuat kekacauan.
"Hehe...Nanti tinggal dirapihin ulang kok!" ujar Zia.
Rani pun ikut berbaring di samping Zia. Keduanya pun terdiam sejenak.
"Ran, kalau lo suka sama dia. Saran gue sih yah terima aja kalau dia nembak!" ujar Zia.
"Mati yang ada kalau di tembak Zi..," ujar Rani tertawa.
"Gue serius! Lo mah gitu, gue serius dibecandain mulu!" rajuk Zia.
"Ulu ulu...Sahabatku sayang. Gue nggak yakin sama perasaan ini Zi. Lagian lo kan tau, kalau gue nggak mau pacaran atau apalah hal-hal yang mengikat dua hati." ujar Rani dengan nada serius.
"Lo mau sampai kapan sih kek gitu. Lagian nggak ada salahnya nyoba dari sekarang. Toh bulan depan kita udah jadi anak SMA," ucap Zia.
"Yakin amat lo bakal lulus!" ucap Rani menoel perut sahabatnya.
"Katanya sih kita bakal lulus 100 %. Makanya gue santai bak di pantai," ujar Zia.
"Iya deh iya...Yaudah kalau gitu, kita doain aja semoga memang lulus semua. Aamiin," ucap Rani.
"Inget ya Ran, kalau gue perhatiin sih bang El itu tulus ke lo. Makanya jangan disia-siakan!!!" ujar Zia menatap Rani serius.
"Hehe, jalani aja deh kek gini. Kalau jodoh nggak bakal kemana, tapi kalau nggak jodoh ya nggak masalah juga." ucap Rani.
"Wajah kalian rada mirip loh Ran kalau diperhatiin lama-lama. Kata orang kalau wajahnya mirip bakalan jodoh," tukas Zia.
"Mirip dari sudut pandang mana sih Zi. Kayaknya karena sakit lo kemarin, otak lo rada-rada geser!" ucap Rani mengecek kepala Zia.
Zia pun menepis tangan Rani yang menggoyangkan kepalanya ke kiri dan ke kanan. "Otak lo itu yang geser! Dikasih cowok sebaik itu masih aja mikir," ujar Zia.
"Iya dong! Harus itu mah! Kalau kata nenek gue. Perhatikan bibit, bobot, bebet, dan sejenisnya!" ucap Rani menirukan suara sang nenek.
"Ya nggak segitunya juga dong Ran. Memangnya lo mau nyari calon suami!" ujar Zia menyentil kening Rani.
"Iya lah. Ngapain buang-buang waktu mengenal lelaki kalau bukan untuk dimasukin ke daftar calon suami! Tapi untuk nanti, saat gue udah mau nikah. Ahahaha" ucap Rani.
"Berikanlah sahabat hamba ini hidayah Ya Allah," ucap Zia menadah tangannya.
"Aamiin," jawab Rani dengan tampang polos.
"Huffhhh... Terserah lo deh Ran. Oh iya, gue mau ngasih tau. Kalau hari ini gue mau balik pulang ke rumah," ucap Zia.
"Loh, kenapa memangnya?" tanya Rani mengambil posisi duduk.
"Gue udah kelamaan disini Markonah! Takutnya nambah nyusahin!" ujar Zia.
"Sok-sok an baek nih anak! Lo kan masih sering lemes Zi. Nanti kalau di rumah lo cuman berduaan doang sama bibi," ucap Rani yang khawatir dengan sahabatnya.
"Gue udah sehat wal'afiat Rani...Keputusan gue nggak bisa diganggu gugat!" ujar Zia.
"Lo udah bilang sama kanjeng Ratu?" tanya Rani.
Zia pun mengangguk, tadi saat dia ingin pamit ke Rita memang sang wanita paruh baya itu tak ingin memberikannya izin. Akan tetapi, karena Zia memohon. Hati Rita pun luluh dan memberikan izinnya. Asalkan kalau ada apa-apa Zia harus segera melapor padanya.
"Yaudah kalau gitu mah. Lo jangan lupa ngabarin nyokap lo! Walau gimana-gimana surga itu tetap berada di kaki emak!" titah Rani.
"Surga apaan! Dia aja nggak pernah peduli kalau gue mau mati atau hidup!" tukas Zia.
"Husss!!! Nih mulut perlu gue cabein ya?" ujar Rani berkata dengan penekanan.
"Lo anak anyut yang dipungut tante Eli di kali depan sono Zi!" ucap Rani kesal pada sahabatnya itu.
"Sembarangan aja. Gue secantik ini lo bilang hanyut di kali!!!" delik Zia.
Rani pun berlarian dan dikejar oleh Zia. Mereka berlari hingga keluar rumah. Saat akan menyeberangi jalan Rani tidak melihat kanan kiri.
"Raniii..... Awas!!!" teriak Zia.
Ckitttt.....
Sebuah sepeda motor berhenti tepat di samping Rani. Ban motor itupun terasa menyentuh kaki kanan Rani. Rani memejamkan matanya, ia berpikir bahwa dirinya telah sampai di alam lain.
"Lo!!! Kalau gue nggak bisa ngerem gimana? Kenapa lari-lari ke jalanan kek anak SD! Mana nggak pakai hijab! Ada yang luka???" suara cemas dari seseorang sembari mengecek badan Rani.
Rani pun membuka matanya. Ternyata yang hampir menabraknya adalah lelaki yang menghantui kepalanya. Rani pun tersenyum melihat kekhawatiran yang diekspresikan oleh El.
"Berisik amat sih bang," jawab Rani pelan.
El pun menatap Rani dengan tajam, ia pun menarik Rani ke arah rumah Rani. Kemudian mengambil motornya yang berada di tengah jalan itu.
Zia pun menarik sahabatnya agar duduk di kursi yang ada di teras rumah tersebut.
"Heh beg*k!!! Hampir kecelakaan malah buat lo jadi sedeng! Orang khawatir, nah dia malah senyum-senyum kek orang gila!" delik Zia kesal.
"Diem lu!" ujar Rani menutup mulut sahabatnya.
El pun datang menghampiri mereka menggunakan almamater OSIS sekolahnya. Pesona lelaki itu bertambah karena kesan formal yang tidak pernah Rani lihat. El menyerahkan air mineral pada Rani.
"Nih minum dulu!" ucap El.
"Lo aja yang minum. Gue nggak kenapa-napa kok!" ucap Rani mengarahkan botol itu pada El.
"Ehem... Nyamuk nih, anggap aja ia gue nyamuk. Permisi mengganggu kemesraan tuan dan nyonya, saya izin ke dalam dulu!" ucap Zia berlalu ke dalam rumah.
El dan Rani hanya menatap tajam pada Zia. Kemudian, El pun duduk di samping Rani.
"Lo kenapa lari ke jalan? Bosan hidup?" ujar El dengan dengusan.
"Gue sedang main kejar-kejaran sama Zia," jawab Rani kecil.
"Gue usir juga sahabat lo lama-lama! Hampir aja buat lo celaka! Untung tadi gue yang lewat, bayangkan kalau kendaraan lain. Udah tinggal nama lo Rani...." ujar El kesal.
"Iya maaf. Ini salah gue, bukan Zia" ujar Rani lirih.
Hah, kenapa gue jadi kek anak kucing ditunjukin lidi aja di depan nih orang, batin Rani.
"Ya udah kalau gitu gue mau pulang dulu!" ujar El ingin berdiri akan tetapi tangannya dicekal oleh Rani.
"Lo nggak mau masuk dulu? Ketemu mama mungkin," ucap Rani.
"Ketemu mama atau lo yang rindu sama gue?" ujar El tersenyum.
"Kegeeran amat lu bang!" dengus Rani.
"Ran, lo mau denger sesuatu?" tanya El.
"Apa?" ujar Rani sinis.
"Gue rindu suara lo..." ucap El menatap Rani.
"Hadeh gila gue lama-lama ketemu sama lo! Balik deh lo pulang bang," tukas Rani dengan wajah yang telah memerah.
"Satu lagi, gue kangen lihat pewarna alami di pipi lo!" ucap El mencubit pipi Rani kemudian bergegas meninggalkan Rani yang masih mematung di sana.
.
.
.
Terima kasih udah mampir 🥰🥰🥰🥰