
“Uhh gue bakal kangen kaliannn,” Zia memeluk kedua sahabatnya yang sedang mengganti pakaian sekolah mereka dengan pakaian untuk latihan.
“Ya Allah Zi, sakit nih,” Rani yang tidak berada dalam posisi seimbang terjatuh karena pelukan Zia yang tiba-tiba.
“Heheh, ayok gue bantu,” Zia pun membantu Rani dan kembali memeluk keduanya.
“Udah ahh.. kan bikin gue mewek nih,” Keke sudah terlihat mengeluarkan air mata disudut matanya.
“Walaupun kita berpisah, kalian jangan lupain gue ya. Best friend forever okey?” Air mata Zia juga sudah keluar.
Tak terasa sudah 5 bulan mereka menjadi siswi tingkat akhir dengan seragam putih dongker ini. Rani dan kedua sahabatnya menikmati detik-detiknya dengan membuat banyak kenangan manis. Sungguh mereka sedih karena nanti mereka tidak dapat bersekolah di tempat yang sama. Mengingat Zia akan ikut dengan kakaknya bersekolah di daerah seberang. Sedangkan Keke, akan bersekolah di tempat pamannya.
“Nggak mungkinlah gue bakal lupa sama tukang onar kayak kalian, huhh disini gue yang bakal ditinggalin 6 bulan lagi kenapa kalian yang nangis?” Rani pura-pura kesal pada dua sahabatnya.
“Huaa...Rani sayang gue, emak gue,” Keke memeluk Rani erat.
“Kita akan tetep jadi teman selamanya, udah mewek-mewek sekarang kita ukir banyak kenangan,” ucap Rani yang menghapus kilat air mata di matanya agar tidak dilihat oleh kedua sahabatnya ini.
“Setuju!” Kembali berpelukan.
“Ayok, nanti telat,” Rani mengurai pelukan tersebut dan berjalan duluan menuju tempat latihan.
***
Di tempat latihan
Setelah satu bulan latihan semua siswa siswi telah menunjukkan kemampuan mereka, terutama 6 orang ini yang ditunjuk langsung oleh pelatih untuk mengajarkan teman-temannya yang masih salah di beberapa gerakan. Rani, Zia, dan Keke untuk mengajarkan teman mereka yang perempuan. Sedangkan Miko, Adit, dan Ari bertugas untuk mengajarkan temannya yang lelaki.
Setiap akhir minggu akan diadakan pertandingan campuran, antara pasangan-pasangan yang sesuai dengan pembagian awal dulu.
“Hahah, cemen lo Dit, murah banget gue banting,” tawa Zia.
“Nggak yah, aku cuman ngalah sama cewek,” Adit memang sengaja meringankan badannya agar mudah dibanting oleh Zia, lelaki ini senang melihat gadis ini tertawa. Sejak 1 bulan menghabiskan waktu bersama dia terpesona dengan Zia. Tapi ia menutupi rasa sukanya itu, karena tidak ingin merusak pertemanan mereka.
“Ngeles lagi,” ujar Keke. Rani hanya geleng kepala melihat kedua sahabatnya sangat senang menindas Adit.
“Ran, nantik abis latihan jadikan kita makan bakso?” tanya Miko, memang saat latihan terakhir mereka berenam berencana untuk pergi makan bakso.
“Nggak tau juga Ko, coba pastiin dulu sama dua anak itu,” tunjuk Rani pada Keke dan Zia.
Zia dan Keke yang ditunjuk pun menganggukkan kepala, “ Jadi kok Ko, sebelum kita tampil minggu depan,” teriak Zia.
“Oke sip,” Miko mengacungkan kedua jempolnya untuk dua gadis itu.
Mereka akan tampil di sebuah festival yang akan diadakan di Kota Batus sebagai perwakilan sekolah. Pelatihnya sangat bangga pada anak didiknya ini, karena bisa mengikuti aturan dan menguasai gerakan-gerakan yang ia ajarkan, karena kemampuan mereka inilah yang membuat mereka lulus seleksi untuk pesta penyambutan di acara festival nanti.
***
“Ehemm, iler tolong kondisikan!” gurau Ari yang melihat wajah Rani saat semangkok bakso dihidangkan di depannya.
“Diem lu!!! gue lapar,” saut Rani yang tau kalau sindiran itu ditujukan pada dirinya. Ia pun segera menyantap bakso tersebut, karena sedari makanan di hadapannya ini sangat menggoda, para bakso seakan menginstruksi untuk segera memasukkan ke dalam mulut manisnya.
“Dia mah sa bodo ae, yang penting makan. Nggak bakal ada jaga-jaga image makan di depan cowok,” Keke menepuk bahu temannya tersebut.
Jawaban dari kedua sahabat Rani ini membuat ketiga lelaki disana tertawa, mereka tidak menyangka bahwa gadis cantik tersebut memiliki sisi lain yang tidak pernah mereka lihat selama latihan.
“Hahah, gue kira dia bakal makan pelan-pelan, ternyata gini produk aslinya di belakang layar lebar,” Miko terkekeh melihat tingkah Rani saat makan.
“Bodo!” Rani menghentikan suapannya dan menyipitkan matanya ke arah Ari dan Adit yang masih tertawa. Ia ingin bertindak masa bodoh seperti biasanya, tapi tawa ketiga lelaki ini cukup mengundang perhatian pengunjung lainnya.
Tatapan itu sukses menghentikan tawa ketiga lelaki tersebut, mereka melanjutkan makannya karena takut mendapatkan pelintiran dari Rani. Pelintiran tangan Rani yang notaben perempuan sangat keras, bahkan sulit untuk dilepaskan, bahkan bisa membuat siapapun yang mendapatkan pelintiran itu terkilir. Yah, salah satu korbannya adalah Miko sendiri, yang mendapatkan pelintiran di tangannya. Saat itu, ia melihat Rani yang melintasi kelasnya ia ingin menyapa Rani dan refleks menarik hijab Rani dari belakang. Rani yang tidak suka diganggu dari belakang segera menarik tangan orang tersebut dan memelintirnya, sungguh apes nasib Miko.
“Aww...aduh du Ran, ini gue, sakit-sakit, lepasin Rann” rengek Miko, ia tidak bisa bergerak karena tangan kirinya dipelintir Rani kebelakang.
“Ngapain lo narik-narik hijab gue? Rasain nih,” Rani semakin mengeraskan pelintiran tersebut.
“Ya allah Ran, gue Cuma mau manggil lo doang,” pelintiran tersebut baru di lepaskan, Miko segera mengibas-ngibaskan tangannya, tetapi sangat sakit di bagian telunjuknya. Jari telunjukknya seakan bergeser karena tarikan Rani tadi.
“Huhh, makanya jangan rese. Tanggung tuh pelintiran gue,” Rani sebenarnya tidak tega saat melihat temannya ini kesakitan karena ulahnya, tetapi apalah daya, dia memang tidak suka diganggu dari belakang, apalagi ditusuk dari belakang. Kemudian berlalu meninggalkan Miko sendiri.
“Sialan nih anak, sakit banget, heran gue dia cewek tapi tenaganya bisa ngalahin gue,” Miko kembali ke kelasnya dan menceritakan kepada dua temannya, mereka bergidik ngeri saat melihat telunjuk Miko yang membiru dan bengkak karena ulah seorang perempuan, yang tak lain adalah Rani.
Kembali ke tempat makan bakso, tidak ada yang spesial di hari pertama mereka berkumpul untuk makan di luar, selama makan mereka hanya membahas persiapan festival nanti. Setelah makan, Miko segera ke kasir berniat membayarkan makan teman-temannya itu. Namun, segera di cegat oleh Rani.
“Jangan sok-sok an bayarin lo! Kita masih duit orang tua, gue sama temen-temen gue bayar sendiri.” Ucap Rani dengan sedikit ketus dan penekanan di kata duit orang tua di depan mbak kasirnya.
“Ya nggak apa-apa kok Ran, kan ini duit jajan gue yang gue tabung, pakai ini aja mbak,” saut Miko mengarahkan lembaran merah ke kasir.
“Nggak mbak, dia bayar tiga porsi, saya bayar tiga porsi!!! Nih uangnya mbak,” Rani memberikan uang biru ke mbak kasir.
“Apa salahnya toh dek, kan sekali-sekali acarmu yang bayarin,” mbak kasir itu tersenyum melihat dua bocah SMP ini. Kata-kata mbak kasir ini membuat Miko tersenyum kecil dan menunduk malu.
“Dia bukan pacar saya kok mbak, jadi nggak perlu bayarin makan saya. Nanti yang boleh bayarin saya makan, cuman suami saya kelak! ” ujar Rani dengan tegas. Mendengar penuturan gadis ini membuat hati Miko tersentil.
“Ohh, bukan pacarnya yah, bagus-bagus masih kecil belum boleh pacaran!” saut mbak kasir itu dan mengambalikan uang lima ribu ke Rani, Rani pun pergi meninggalkan kasir anpa melihat Miko.
“Sabar yah dek, kalau udah mapan kejar dia lagi, kalian cocok,” ujar mbak kasir itu menyemangati Miko yang tampak lesu sembari memberikan kembalian dari uang Miko. Miko yang mendengar ucapan mbak kasir tadi sedikit membaik, dan menhampiri meja-meja temannya.
“Udah Ko?” tanya Adit, Miko pun mengangguk.
“Yaudah, makasih yaa sore ini gadis-gadis cantik udah nemanin kita makan,” ucap Ari.
“Sama-sama cowok tengil,” jawab Zia menahan tawanya.
“Udah ah, kita pulang duluan yah Ko, Ri, Dit,” Rani menggandeng tangan kedua sahabatnya meninggalkan tempat bakso tersebut.
Miko hanya melihat punggung gadis manisnya itu, ntah kapan ia dapat mengutarakan isi hatinya pada gadis tersebut. Selama ini, ia berusaha menekan perasaannya karena tidak ingin merusak pertemanan mereka. Ia berpikir dengan berteman saja sudah membuat ia tenang. Lamunan Miko pun buyar seketika karena jentikan jari di depan wajahnya.
“Sabar Bro, kita bakal dapetin hati mereka,” saut Ari merangkul sahabatnya ini.