Before I Found You

Before I Found You
BIFY 18



“Assalammualaikum,” suara wanita memasuki rumah dan di jawab oleh semua penghuni dalam rumah.


“Loh,kapan datang? Kok nggak ngabari mbak dulu? Kalau gitu kan mbak bisa masak dulu,” ujar Rita yang mengomeli adik lelakinya tersebut.


“Karena itu kami ngga mengabari mbak Rita, takut ngerepotin,” jawab Pipi yang keluar dari kamar Rani,


“Halah dalah, kamu masih aja masih nganggap ngerepotin mbak. Justru yang ngerepotin kamu itu mbak, karena kamu harus ngurus si bayi besar ini,” ucap Rita menjewer kecil telinga adiknya.


“Kok aku sih mbak yang ngerepotin. Nggak pernah kan sayang?” ucap Putra mengelus telinganya yang sedikit sakit.


“Hahahaha... iya ya ma. Om Putra kan ngerepotin banget, plus manja. Cocok itu gelar bayi besar dari nenek.” ujar Rani yang masih menikmati makanannya tadi.


“Ran, bawain nih belanjaan ke dapur,” titah sang ratu pada anak gadisnya, dan berjalan menuju dapur.


“Siap kanjeng ratu,” jawab Rani sembari hormat pada mamanya dan membawa belanjaan tersebut ke dapur.


“Ayok mbak, aku bantuin masak.” ucap Pipi yang juga mengikuti kakak iparnya tersebut ke dapur. Ketiga gadis ini pun memasak makanan untuk makan siang mereka nanti.


Usai memasak, semuanya pun berkumpul termasuk adik bungsu Rani yang memang dibangunkan oleh sang mama. Mereka menikmati makan siang yang sederhana ada sayur lodeh, cah kangkung, ayam goreng, ikan asin lado matah.


Setelah makan, mereka pun berbincang-bincang di ruang keluarga sembai yang ibu-ibu menonton televisi. Ingat ucapan Rani sebelumnya, kalau channel yang ada di tv Indonesia sangat mendidik terutama untuk ibuk-ibuk.


Pada sore harinya Nugraha pun kembali dari tempat kerjanya. Ia sangat bahagia melihat tawa istrinya ketika bersama adik dan adik iparnya itu.


“Ada apa ini, tumben rumah ramai nggak kayak biasanya. Dan ini, anak siapa sih gemes banget sini sama om. Uhh nambah berat nih ponakan om yang ganteng,” ujar Nugraha pada ponakannya yang tadi berlarian ke arahnya.


“Iya pa, nambah gendut dia. Tadi aja baru datang Dino udah nimpuk Rani pakai badan gedenya itu.” saut Rani, yang terkekeh melihat nasib sang papa sama dengan dirinya tadi.


“Ya bagus dong Ran, berarti adek kamu nambah sehat,” ujar sang mama membelai puncak kepala ponakannnya itu.


“Hmm...kalau gitu kalian lanjut aja dulu ya, mas mau ganti baju dulu,” Nugraha beralih menuju kamarnya.


Tak terasa sekarang sudah malam hari, keluarga itu pun menikmati makan malam mereka bersama.


“Mbak, besok kita ke tempat mama ya. Syukuran sebelum puasa.” Ujar sang adik kepada Rita.


“Iyah, mbak udah siapin semuanya. Nggak kerasa 2 hari lagi kita udah masuk bulan Ramadhan aja.” jawabnya sembari mengambilkan lauk untuk suaminya.


“Karena itu, kita kesini mbak. Mau minta maaf. Kita juga kangen sama mbak dan anak-anak makanya kesini,” ujar Pipi kepada kakak iparnya.


“Iya, mas sekeluarga juga ngucapin maaf kalau ada salah dikata, menyinggung perasaan baik disengaja ataupun nggak,” saut papa Rani.


Selesai makan malam, dan membersihkan peralatan di meja makan. Mereka pun beranjak untuk melaksanakan kewajiban kepada Allah SWT. Seperti biasa para lelaki akan pergi shalat berjamaah ke mesjid, dan yang wanita akan shalat di rumah.


***


Esoknya seluruh keluarga Rani telah berkumpul ke rumah nenek dan kakek Rani. Mereka melakukan syukuran dan sungkeman kepada orang tua. Begitulah kegiatan rutin yang akan dilakukan oleh keluarga Rani setiap akan memasuki Bulan Ramadhan.


“Nenekku sayang,” ucap Rani yang baru sampai langsung memeluk neneknya erat, dan mencium kening neneknya.


“Cucu gadis nenek udah tambah gede aja,” ucap sang nenek yang mengelus hijab cucunya itu.


“Hehe, iya dong nek. Nambah cantik juga kan,” ujar Rani dengan senyum termanisnya.


“Iya dong, cucu siapa dulu,” ucap sang kakek menyauti perkataan Rani. Rani pun menghampiri kakeknya dan menyalami tangan kakeknya.


“Anak ibu memang tambah cantik, gendutan juga,” ujar sang Ibu yang merupaka adik mama Rani. Rani pun menghampiri ibunya, dan bergelayut manja pada sang ibu.


“Kita pulang ajalah dek, kakak Rani aja kayaknya yang cucu disini. Kita mah pajangan,” saut Habil pada adiknya. Mereka berdua pun memasang tampang sedihnya.


“Hahah, samalah yah nasib kalian berdua kayak kita-kita,” ucap sang oom kepada ponakan laki-lakinya itu.


“Kalian ini ada-ada aja,” tutur Rita menengahi pembicaraan kecemburuan yang tak akan berhenti kalau tidak segera diatasi.


“Mereka pada cemburu nek,” ucap Rani yang masih memanas-manasi sang oom yang memang tak mau kalah dari dirinya merebut perhatian dari nenek Rani.


“Ohoo, itu belum tentu. Masih ada om yah, anak kessayangan nenek,” ujar seseorang yang baru saja datang bersama sang istri. Dia adalah oom bungsu Rani, namanya Om Agus.


“Udah-udah, ayok pada makan dulu. Nanti abis magrib ustadnya baru datang,” ucap sang ibu yang sedang sibuk menata meja bersama mama Rani dan tante Pipi. Istri dari oom bungsu Rani pun segera membantu kakak-kakaknya itu.


Usai makan, mereka pun melaksanakan shalat magrib berjamaah dan menunggu kedatangan ustad yang akan membantu dalam acara sungkeman malam ini. Setelah acar berakhir seluruh keluarga pun masuk ke kamar masing-masing. Kakek dan nenek Rani memang sudah menyiapkan lima kamar di rumahnya satu untuk mereka, dan empat lagi untuk putra dan putri mereka.


Esok harinya barulah para anak kembali ke rumah masing-masing. Om putra beserta istrinya kembali ke Kota P, om Agus dan istrinya kembali ke daerah A, Rani dan keluarga pulang ke rumahnya yang berjarak 15 menitan dari rumah sang nenek. Sedangkan sang ibu tetap di rumah utama bersama kakek dan nenek Rani.


Jangan lupa vote, like and commend yaa readers 😘