Before I Found You

Before I Found You
BIFY 103



"Hallo... Assalammualaikum bang," ujar Rani menerima sambungan telefon dari El.


"Waalaikumussalam, kamu kemana aja?" tanya El.


"Heh bang! Seharusnya Rani yang nanyain itu. Abang kemana aja? Jangan mentang-mentang kita berjarak makanya abang lupa sama janji." ujar Rani menggebu-gebu.


"Uluh-uluh. Seharusnya kita berterima kasih kepada jarak. Sebab tanpanya rinduku padamu tak akan menjejak, pertemuan tak akan semarak, dan aku tak akan pernah tau rasanya haru yang terisak, saat penantian telah sampai puncak nantinya." ucap El.


Blushhh


Semu merah mewarnai pipi Rani. Gadis itu seakan terlupa dengan rangkaian kata kemarahan yang akan dia sampaikan pada El.


"Ehem... Haih sayangku. Andaikan abang di sana pipi tomatmu akan abang lihat secara langsung." ujar El.


"Aaaaa... Siapa yang ngajarin abang menggombal?" ujar Rani setengah berteriak. Ia sangat malu karena El mengetahui pipinya saat ini sedang merona. Gadis kecil itu memegangi pipinya dan merasakan kehangatan di sana.


"Nggak ada yang ngajarin abang. Ini pure dari google, Haha." ujar El tertawa membahana.


"Dasar abang jelek!" delik Rani.


Ia seakan dihempaskan secara langsung ke bawah saat berada di atas awan-awan.


"Hahaha... Ya kan kamu tau Ran, abang nggak bisa romantis. Sekali romantis paling juga nyontek di google!" cengir El.


"Huhhftt.... Iya deh. Jadi abang kemana aja beberapa hari ini?" tanya Rani.


"Abang udah mulai menyiapkan banyak keperluan untuk kuliah nanti Ran... Maaf ya," ujar El.


"Kalau aku ngga mau maafin?" tanya Rani.


"Ya terpaksa abang ngambil penerbangan malam ini untuk pulang kampung." jawab El santai.


"Anak sultan bebas yah?" ejek Rani.


"Kamu baru tau? Baru merasa beruntung dikejar sama anak sultan?" tanya El membanggakan diri.


"Serah deh bang, serah...." ujar Rani.


"Makanya. Kamu maafin kan?" tanya El.


"Iyain aja biar cepet." ujar Rani.


"Kamu kapan mulai sekolahnya?" tanya El.


"Tiga hari lagi. Kalau abang?" jawab Rani.


"Abang kan nggak sekolah lagi." jawab El tanpa merasa bersalah dengan jawabannya.


"Ihhh...abang ngeselin!!! Maksud aku kapan mulai kuliahnya?" ujar Rani menepuk jidatnya sendiri.


"Hehe, makanya pertanyaannya yang jelas dong sayang. Abang mulai kuliah besok pagi," ujar El.


"Sayang sayang!!! Kenapa dari tadi manggil aku itu terus?" delik Rani.


"Lah kan emang sayang. Kamu nggak sayang ke abang?" ujar El menahan tawanya.


"Ihhh... Kok lama-lama ngomong sama abang buat perut Rani pusing yah!" tukas Rani jengkel.


"Mana ada perut yang pusing. Yang pusing itu kepala, bukan perut." ujar El menganggukkan kepalanya.


"Iya deh iya.. Apalah daya daku bukan anak sastra yang bisa merangkai kata." tukas Rani mendramatisir.


"Hahaha. Udah dong, pipinya jangan dibulatin lagi." ujar El.


"Abang kok tau semua sih? Abang masang cctv ya di kamarku?" ujar Rani penasaran karena lelaki di sambungan itu selalu tahu yang terjadi pada dirinya saat ini.


"Abang nggak masang cctv di kamar kamu. Tapi abang masangnya di hati kamu yang pemantauannya ada di hati abang. Eaak..." ujar El tertawa.


"Iya nggak apa mabuk. Apalagi mabuknya karena cinta abang," ujar El masih membumbui percakapan mereka dengan gombalan receh.


"Haha....Udah ah bang, Rani sakit perut lama-lamam dengerin kerecehan abang!" ujar Rani yang sudah tak sanggup menahan tawanya. Ia juga menghapus sisa-sisa air mata yang ada di sudut makanya karena menahan tawa.


"Ya supaya kamu nggak marah karena beberapa hari ini abang acuhin." ujar El.


"Ya ya ya... Yaudah sana tidur! Nanti abang telat bangun lagi pas pagi," titah Rani.


"Siap my future, kamu juga istirahat yah." ujar El.


"Iya..." jawab Rani.


"Ran," ujar El.


"Ya?" tanya Rani.


"Hanya dengan untaian kata-kata manis dan menyentuh hati lah yang mampu mengungkapkan rasa rindu. Komunikasi yang baik antar pasangan akan meminimalisir berbagai permasalahan yang muncul. Kamu paham?" tanya El.


"Iya abang. Semangat di sana! Jangan saling berjanji untuk tidak saling meninggalkan. Cukup berjanji untuk saling mempertahankan." ujar Rani.


"Iyaa... Anna uhibbu fillah. Semoga waktu kita berjalan cepat sehingga aku bjsa memilikimu seutuhnya." ujar El tersenyum.


"Berdoa saja. Gih sana tidur," ujar Rani.


"Iya... Assalammualaikum," ujar El.


"Waalaikumussalam." jawab Rani.


Beginilah rasa cinta. Datang tanpa diundang dan memberikan banyak warna dalam kehidupan yang merasakannya. Banyak orang yang bisa selalu bersama orang yang mereka cintai, dan tidak sedikit yang harus berjauhan dengan orang yang dicintainya.


Bagi mereka yang dekat tentu kehangatan akan terasa, berbagai tantangan akan menghampiri mereka dan mereka bisa menyelesaikan bersama-sama. Namun, bagi mereka yang berjauhan. Masalah pertama yang kerap menghampiri adalah rasa rindu. Belum lagi terpaan angin dan dunia luaran sana yang siap kapan saja menerjang hubungan mereka.


Di sanalah masing-masing cinta diuji. Apakah mereka mampu bertahan, atau mereka harus kandas sebelum mencapai tujuan keduanya. Komunikasi, harapan, dan saling mengerti adalah kunci dari pintu ujian itu.


***


"Hoam....." Rani mendudukkan dirinya dan melihat jam di nakas yang menunjukkan pukul 03.00 WIB.


"Aku coba deh. Ayo Rani semangat!!!" ujar Rani menyemangati dirinya.


Gadis kecil itu melangkahkan kakinya untuk mengambil wudhu dan melaksanakan shalat malam. Sebelumnya ia sudah membaca tata cara dan apa saja keuntungan dari melaksanakan shalat di sepertiga malam itu.


Allah akan melihat siapa dari hamba-Nya yang mengadu dan mengurai air mata saat meminta sesuatu kepada-Nya, di saat hamba-Nya yang lain bergumul di dalam selimut mereka. Doa hamba tersebut akan ia dengarkan dan diperhatikan oleh malaikat. Masih banyak lagi manfaat dari melaksanakan shalat malam. Salah satunya yaitu menyehatkan rohani seseorang.


Allah SWT telah berfirman:


“Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik. Dan orang yang melewati malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka.” (QS. Al-Furqan: 63-64).


Rani melaksanakan shalat malamnya sebanyak dua rakaat. Ia menyelesaikan shalatnya dan mencurahkan segala isi hatinya. Selama ini ia telah banyak melakukan kesalahan karena tidak menutup auratnya. Ia juga kerap membuat kesalahan lainnya yang kadang tidak ia sengaja.


Usai shalat gadis itu mengambil Al-quran dan mulai membacanya. Sungguh hati Rani sangat menghangat setelah melaksanakan itu semua. Kenapa ia baru merasakan ketenangan ini sekarang? Apakah ini memang sudah saatnya ia merubah diri?


Rani pun melanjutkan bacaannya sampai waktu subuh masuk. Gadis kecil itu pun melaksanakan shalat subuh ke mesjid. Awalnya dia takut keluar rumah di saat hari masih gelap. Akan tetapi, suara hatinya selalu mengajaknya untuk bersemangat menuju rumah Allah SWT tersebut.


.


.


.


.


Terima kasihh udah mampir dan selalu Setia.... 🥰🥰🥰🥰