Before I Found You

Before I Found You
BIFY 15



Akhirnya festival yang ditunggu-tunggu pun datang, semua siswa siswi perwakilan SMP Batus telah berkumpul di lapangan sekolah pagi itu.


“Aduh Ran, diem aja napa. Dikit doang kok,” Keke melerai tangan Rani yang terus berusaha menghapus polesan lipstik di bibirnya.


“Huaa, nggak mauuu ntar gue menor.” Lirih Rani, ia tak habis pikir oleh kedua sahabatnya ini yang terus memaksanya berdandan dari tadi.


“Udah nurut aja Ran, ntar make up kita yang luntur gara-gara lo. Lagian ini dikit doang kok, cuman dikasih sedikit blush on ama lipstik.” Tutur Zia yang mengipas wajahnya karena sudah mulai kepanasan.


“Akhirnya kelar juga, yuk keluar,” Keke menarik temannya ini keluar kelas.


Rani yang memang tidak pernah mencoba untuk memakai peralatan cewek ini menjadi malu, dan menutupi wajahnya dengan tangannya saat keluar dari kelas.


“Udah yah Lelaa, bentar lagi kita berangkat ke alun-alun kota. Lepasin tuh tangan!!!” Keke menarik tangan sahabatnya ini.


“Uwahh, gila! Bidadari mana nih nyasar?” Zia sangat kagum melihat wajah sahabatnya ini yang sangat cantik apalagi saat terkena sinar mentari. Rani tampak lebih cantik dari biasa, yah walaupun temannya ini tetap cantik alami pada hari biasa. Tambahan sedikit make up membuat wajah sahabatnya ini lebih fresh dan berkilau.


“Kannn,,, mangap deh kalian, pasti jelek kan gue? Kayak ondel-ondel pasti,” Rani menghentak-hentakkan kedua kakinya. Ia kesal dengan kedua sahabatnya ini.


“Mana ada, yang ada lo udah ngalahin cantiknya Ratu Aurora di film Malaficent.” Tutur Zia dan memutar badan Rani.


“Punya teman geblek yah gini, kita itu mau silat bukan ajang fashion show!” Kesal Rani mengerucutkan bibirnya.


“Udah ah, ribut mulu, ayok ke lapangan,” Keke menarik kedua sahabatnya ini ke lapangan sekolah.


Ketiga gadis ini menuju lapangan sekolah, mereka yang menggunakan baju silat dan pernak pernik di pinggangnya membuat semua orang yang melihat terkagum. Rani yang tidak percaya diri akan penampilannya hanya menunduk. Bahkan, sedari tadi dirinya tidak dibolehkan untuk bercermin oleh kedua sahabatnya. Mereka pun sampai dibarisan anak silat lainnya.


“Pasangan gue, makin cantik aja hari ini,” ucap Miko mengedipkan sebelah matanya pada Rani.


“Nggak usah ngetawain deh Ko, bilang aja jelek,” Rani makin tidak percaya diri sesampainya di barisan. Ia melihat semua teman perempuannya berdandan dan cantik. Sedangkan drinya, ntah bagaimana bentuknya.


“Lo tu tanpa make up aja udah cantik Ran, dan sekarang ditambah sedikit polesan aja wajah lo makin cantik,” Tutur Miko. Dan blushh, wajah Rani sedikit memerah mendapatkan pujian.


“Mana ada, gue aja nggak dibiarin lihat cermin sama nih curut bedua dari tadi.” Rani berbicara dengan pelan dan masih terdengar oleh kedua sahabatnya.


“Heh, gue tau yaa... akal lo. Ntar kalau gue kasih cermin yang ada mahakarya gue abis lo apusin.” Ucap Keke menjewer telinga temannya ini.


“Yaudah, kita foto aja yuk, daripada ribut. Kamu cantik kok Ran,” tutur Adit menhentikan keributan itu.


“Satu dua tiga, cekrek,” begitulah kira-kira saat berfoto. Adit melihat hasil jepretan kamera tersebut. “Yup bagus, oke sekali lagi. Cekrek,”


“Lo juga masuk dong Dit, masak jadi tukang foto doang,” Zia menarik lenngan Adit. Kemudian, meminta anak silat lainnya untuk memfoto mereka berenam.


“Thanks ya,” Ucap Ari kepada teman yang memfotokan mereka.


“Mana fotonya gue mau lihat wajah ondel-ondel gue,” Ucap Rani merebut kamera dari tangan Ari.


“Dasar nggak sabaran,” Ari geleng-geleng kepala melihat Rani.


“Ini beneran gue?” tanya Rani yang tidak yakin akan wajahnya sendiri.


“Kok cantik daripada biasanya,” Rani tersenyum dan menyentuh pipinya.


“Tadi aja ditutupin, sekarang malah mau pamer,” Omel Zia melihat tingkah temannya yang masih saja senyum-senyum sendiri.


“Dah kelar kan berarti, ayok sekarang kita bakal menuju alun-alun kota. Jalannya bareng pasangan masing-masing,” saut Miko. Semua temannya pun menuruti titah Miko.


Setelah sampai di alun-alun kota, mereka pun menyambut walikota dengan gerakan sambutan, semua orang terkagum dengan gerakan mereka. Selain itu, mungkin karena wajah mereka semua di atas rata-rata, cantik dan ganteng begitulah kira-kira pemikiran orang lain. Festival itu meriah karena banyak pertunjukan yang diadakan di alun-alun kota tersebut. Di sana juga telah ada sebuah pentas untuk pertunjukan. Nantinya akan ada hadiah dari Walikota Kota Batus untuk pertunjukan terbaik.


Pertunjukan demi pertunjukan ditampilkan. El dan kawan-kawan yang juga sedang berada di alun-alun kota menikmati festival tidak sengaja melihat Rani. Ia pun kaget melihat kalau gadis kecilnya ini mengikuti silat. El pun mengajak kedua temannya untuk melihat pertunjukan itu lebih dekat.


“Wihh, gila. Silatnya pakai pasang-pasangan. Baru kali ini gue lihat. Eh itu, bidadari waktu itu,” tunjuk Alan ke Arah Zia.


“Iya, itu gadis kecil yang tawanya masih menggema di telinga gue,” lirih Kevin melihat Keke.


“Kamu cantik, walaupun mengenakan baju silat yang seharusnya dilakukan oleh para lelaki,” ujar El dalam hatinya.


El dan teman-temannya mengambil beberapa foto yang menampakkan wajah sang gadis impian dengan jelas. Mereka melihat sisi lain di antara gadis-gadis tersebut. Cantik, tegas, serius, dan menarik perhatian. Fokus mereka hanya pada gerakan-gerakan ketiga gadis ini, mereka tidak peduli dengan pasangan mereka.


“Ayok Ran, kita pasti bisa,” ujar Miko mnyemangati Rani di sela-sela gerakan mereka.


Acaranya berlangsung dengan meriah, dan disaksikan langsung oleh warga Kota Batus. Selain itu, juga ada pameran serta aneka jajanan khas Kota Batus. Acara ini berlangsung sampai malam. Akan tetapi, untuk yang perwakilan sekolah sudah boleh pulang saat petang. Karena untuk pemenang pertunjukan terbaik dari masing-masing sekolah akan diberitahukan langsung sore itu juga.


Kelompok latihan silat Rani dan kawan-kawan tidak menyangka bahwa mereka adalah pemenang silat terbaik antar sekolah. Walikota memberikan salempang ke perwakilan kelompok dan hadiah untuk mereka semua. Miko dan Rani yang ditunjuk oleh pelatih untuk mewakili kelompok mereka.


“Kalian memang murid-murid kebanggaan saya,” ucap pelatih saat mereka sudah kembali ke sekolah. “Kelompok silat kita mendapatkan piagam pertama, dan uang tunai Rp 1.000.000. Karena keberhasilan kita hari ini, saya ingin kalian semua bersedia untuk pergi makan bersama. Agar ke depannya kita dapat meraih piagama-piagam lainnya. Apakah kalian setuju?” Semua anggota latihan silat pun bersorak bahagia atas kemenangan pertama mereka.


“Setuju pakk,” saut salah seorang anggota.


“Baiklah mari kita menuju tempat makan Bandengan,” tutur pelatih. Karena tempat makan ini dekat dari sekolah mereka, makanan yang ada di sana juga enak semua. Selain itu, harganya juga murah meriah.


Kebahagian mereka semua membuat pelatihnya senang. Tidak sia-sia ia meluangkan waktunya untuk mengajar siswa-siswi SMP Batus ini, mereka semua memang memiliki kompetensi dan keunikan tersendiri. Usai makan dan sepatah kata dari pelatih, mereka semua pun diizinkan pulang.


“Ran, kita nginap di rumah lo ya?” ucap Keke yang sudah mengantuk.


“Iya Ran, nggak ada tenaga kalau pulang, kejauhan.” Zia menguap.


“Huhh, alasan. Padahal yang dekat itu rumah kalian, bilang aja biar nyampek rumah ada yang nyambut, masakin makanan!” Rani menoyor kepala kedua temannya ini.


“Ihh Rani, sakit tau. Iya deh gue ngaku. Di rumah gue mah, udah capek-capek gini. Tetetp aja nggak ada yang nyemangatin. Gue kan juga mau punya emak kayak mama Rita,” Cerocos Zia kemudian menunduk sedih. Zia memang kesal dengan hidupnya. Apalagi setelah kedua orang tuanya bercerai.


“Ehh, bukan gitu maksud gue Zi, maafin gue. Oke Kalian bedua nginap di rumah gue aja.” Rani segera merangkul sahabatnya ini, ia tidak sadar bahwa perkataannya tadi dapat menyentil hati sahabatnya.


“Ayok!” Keke menarik keduanya dan memanggil tiga orang tukang ojek di pangkalan. Mereka pun menuju rumah Rani.


Maaf kalau ada typo dalam penulisan...


Terima kasih udah baca novel ini..,🤗🤗🤗