Before I Found You

Before I Found You
BIFY 06



Setelah kejadian beberapa hari yang lalu, El heran dengan kepalanya kenapa hanya tentang gadis kecil itu yang teringat olehnya. Senyumnya, tingkahnya, suaranya, kehidupannya seakan berputar-putar di kepala El. Apakah otaknya mulai mengalami permasalahan karena seakan kaset rusak yang hanya memutar ulang adegan-adenganna.


“Sial!!! Nih kepala kenapa nggak bisa diajak kompromi. Gue terlalu penasaran sama si gadis kecil itu,” tukas El memukul kepalanya. Ia menjadi sulit tidur karena rasa penasarannya itu.


***


Di keluarga Nugraha,


“Mama mau bilang sama kalian bertiga kalau sekrang perekonomian keluarga kita sedang menurun. Terpaksa mama dan papa mengurangi uang jajan kalian,” lirih Rita menatap putri dan kedua putranya.


“Gaji papa sekarang dipotong karena papa ngambil pinjaman ke bank untuk membangun kos-kosan disamping rumah kita.” Tambah Nugraha memberi penjelasan pada anak-anaknya.


“Nggak apa-apa kok pah mah, lagian kita juga jarang jajan kalau disekolah,” jelas Rani pada orang tuanya, ia tau orang tuanya hanya ingin yang terbaik untuk keluarga mereka ke depannya.


“Wah kita bakal gotong royong bangun rumah lagi dong pah,” semangat Ihsyan si bungsu di keluarga ini.


“Iya sayang besok kita gotong royong lagi,” ucap Rita yang bahagia karena memiliki anak-anak yang pengertian.


“Besok kita bakal bantu papa sama mama, ya kan kak?” senggol Habil melihat air yang menggenang di mata kakaknya.


“Tentu dek.” Jawab Rani.


Rani sangat menyayangi keluarganya, ia tau bagaimana perjuangan yang harus dilakukan oleh kedua orang tuanya untuk membangun rumah yang mereka tempati saat ini. Terutama papanya yang turun tangan langsung dalam pembangunan rumah ini dan hanya dibantu oleh dua orang tukang. Mama dan adik-adiknya yang kecil pun ikut serta bahkan untuk mengaduk semen dan memasang batu bata di rumahnya ini. Ia sedih melihat papanya yang sudah lelah pulang dari kantor harus bekerja lagi untuk membangun rumah mereka sampai malam hari, demi rumah impian keluarganya. Rita pun yang seorang wanita mengenyampingkan imagenya dan memilih untuk mebantu suaminya. Adik-adik lelakinya yang masih kecil, merasa senang setiap membantu orang tuanya. Semua ini, membuat Rani bertekad untuk sukses dan membalas jerih payah keluarganya ini. Ia sangat ingin kedua orang tua yang melimpahinya dengan kasih sayang.


***


Disekolah Rani fokus belajar, mengingat tekadnya yang besar itu.


“Ran, katanya nanti setiap pulang sekolah bakal ada pelatihan silat, ikut yok Ran,” ajak Zia pada Rani.


“Katanya gratis kok Ran,itung-itung belajar bela diri,” tambah Keke pada Rani.


“Serius gratis?” Rani bertanya dengan antusias. Ia memang sudah lama ingin belajar bela diri ini, karena ia tidak ingin menjadi cewek lemah saat dihadapkan dengan bahaya.


“Iya Lelaaa....budeg nih kuping gue,” ucap Zia mengusap kupingnya karena suara Rani.


“Gue tanya dulu sama papa dan mama nantik,” jawab Rani dengan semangat dan dibalas anggukan oleh teman-temannya.


***


Saat istirahat Rani mengeluarkan dagangannya, ia membawa kerupuk mie dan es menggunakan kotak yang cukup menahan es itu tetap dingin.


Tadi pagi memang ia sempat berdebat dengan sang Ratu


“Rani, kamu mau ngapain bungkusin dagangan mamah?” tanya Rita pada anak gadisnya ini yang setelah sarapan sibuk memasukkan dagangannya ke kotak dan plastik.


“Mau jualan disekolah mamaku sayang,” balas Rani sambil mencium kening mamanya.


“Nggak usah Ran, kamu belajar aja yang bener, nanti kalau jualan kamu nggak fokus belajar,” lirih Rita.


“Nanti kamu malu sayang, diketawain teman-temanmu,” Rita berucap dengan nada sedihnya.


“Ihh...mama kok mewek gini sih. Ngapain juga malu, Rani kan dagang bukan nyuri. Udah ya mamaku sayang, doain aja nih abis semua” ucap Rani memeluk mamanya.


“Rani berangkat sekarang yah pa ma, takut telat, assallammualaikum,” tambah Rani mencium punggung tangan papa dan mamanya.


Begitulah perdebatan kecil dengan kanjeng Ratu pagi tadi.


“Ayo-ayo yang mau jajan makanan lama sini. Ada kerupuk mie, aneka es buah cokelat,” teriak Rani mempromosikan dagangannya.


Teman-teman kelas Rani pun berlarian mengelilingi meja Rani. Mereka memang suka dengan dagangan mama Rani, karena kalau ke rumah Rani mereka akan mendapatkan makanan ini secara gratis. Selang beberapa menit es buah cokelat Rani ludes dibeli oleh teman-temannya, dan kerupuk mienya masih sisa 4 bungkus lagi.


“Alhamdulillah,” syukur Rani karena dagangannya laku.


“Tinggal berapa Ran?” Tanya Zia yang juga membantu Rani mengambilkan pesanan teman-temanya bersama Keke.


“Tinggal 4, nih buat kalian bedua aja,” Rani menyodorkan kepada keduanya.


“Hehe, rezeki anak sholehah,” cenges Keke.


Mereka pun mengemas plastik bekas dagangan Rani, dan berlalu menuju kantin. Mereka memesan mie rebus. Karena dikantin sekolahnya, mie rebus merupakan menu favorit anak-anak disana.


***


Di kelas XII IPA 3


“Ngelamun aja lo El,” ucap Alan mengangetkan El.


“Sialan nih anak,” El memites kepala Alan di ketiaknya.


“Sapa suruh lo ngelamun, kesambet kan nggak ada penawarnya di sekolah,” Alan berusaha melepaskan kepalanya dari El.


“Udah ah, jangan gelut,” lerai Kevin.


El pun melepaskan Alan, mereka pun pergi menuju perpustakaan untuk mencari buku-buku persiapan UN nanti.


“Gila, panas banget nih hari.. kebakar kulit putih gue,” keluh Kevin yang berjalan cepat untuk kembali ke kelasnya.


“Awan aja ngilang, saking panasnya nih hari,” Alan segera menyusul Kevin.


“Dasar curut, cowok kok takut panas,” teriak El pada dua temannya.


Bagi El panas-panasan adalah hal yang lumrah, karena dia sudah terlatih saat mengikuti paskibraka sekolahnya saat kelas 1 dan 2. Mengikuti paskibraka membuat dirinya semakin terkenal di kalangan gadis sekolahnya. Mungkin karena latihan kerasnya dua tahun belakanglah yang membuat badan El menjadi cool dan tegap. Mengingat kegiatannya dulu, El kembali teringat akan Sifa. Memang move on bukanlah hal yang mudah author juga merasakannya babang El, sabar yah.


“Huhh, udahlah El, lo itu cowok terganteng di sekolah ini, ngapain tetap mikiran dia, dia udah bahagia dengan yang laen.” El berusaha menyemangati dirinya. Ia pun mengejar kedua temannya yang telah jauh meninggalkannya di belakang.