Before I Found You

Before I Found You
BIFY 49



Saat di mesjid Rani melihat beberapa panitia yang sedang berkumpul di depan laptop. Rani pun menghampiri kakak-kakak tersebut. Ia menanyakan apakah ada yang bisa dia bantu. Tetapi semuanya menggeleng karena bagian konsumsi lancar seperti biasanya.


"Ehemm.... Rani ikut gue bentar!" ujar El.


Rani hanya menatap El, dan tidak mengindahkan yang diucapkan oleh laki-laki tersebut. Bodo amatlah, nanti gue jadi pusat perhatian lagi. Batin Rani.


"Kalau ngga mau gue seret Lo!" ujar El dengan suara pelan namun penuh penekanan.


Rani mendengus kesal dan mengikuti lelaki mengesalkan yang sedang berjalan di depannya. Huh, sadar Rani jangan sampai terpesona sama tuh es batu! Ingat rasa suka itu hanya akan menyakiti pihak wanita. Ucap Rani meyakinkan hatinya sambil mengepalkan tangan untuk menyemangati dirinya.


"Auhhh....!!! Kenapa lo berhenti mendadak sih bang!" ujar Rani mengelus kepalanya yang terbentur punggung El.


"Makanya jangan ngejek orang lain terus tuh isi kepala! Jalan aja ngga bener masih aja mengumpati orang lain dalam hati!" Ujar El menunjuk kening Rani dengan jari telunjuknya.


"Aihh, dasar cenayang!" tukas Rani.


El pun kembali berjalan hingga mereka sampai di teras mesjid bagian depan.


"Ambil ini! Baca nih surat! Jangan sampai hilang, jangan sampai rusak, jangan dicoret, jangan dibakar!" ujar El panjang lebar.


"Uhh udah kayak bang soleh di film upin ipin aja lo bang! Ogah ah surat apaan nih motif teddy bear" ujar Rani membolak balikkan amplop surat tersebut.


"Makanya buka! Baca semua poin disana" ujar El.


Pihak I


Nama : Immanuel Dirgantara


Agama : Islam


Alamat : xxxxx


No. Hp : 08xxxxxxxxx


Pihak II


Nama : Maharanisya Nugraha


Agama : Islam


Alamat : xxxxxxxxxxx


No. Hp : 08xxxxxxxxx


Melalui surat ini kami berjanji tidak akan berpacaran dengan orang lain selama 4 tahun ke depan. Pihak I berhak mengatur, mengawasi, dan memarahi Pihak II. Apabila ada yang melanggar akan menanam pohon apel di atap rumah pihak yang telah dikhianati. Begitulah surat ini dibuat dalam tempo sesingkat-singkatnya.


Matrai 6000 Matrai 6000


Pihak I Pihak II


"Wah wah udah kek nikah kontrak gue" tukas Rani menggelengkan kepalanya.


"Katanya mau nerima tantangan? Kalau gitu tanda tangan dong!" ujar El.


"Aih.... Kenapa pula hukumannya pake nanam apel diatap rumah? Mana bisa? Yang ada tuh biji apel bakal tetap jadi biji walaupun ribuan tahun!" oceh Rani.


"Makanya jangan ngelanggar! Udahlah tanda tangan aja disana! Gue udah tanda tangan kan?" paksa El, ia tidak ingin Rani merubah pikirannya.


"Lagian kenapa harus pohon apel kenapa ngga pohon lain sih bang? pohon kelapa kek" cengir Rani.


"Maharanisya!!! Lo kan suka makan apel, makanya nanam pohon apel aja!" ujar El penuh penekanan.


Sorotan tajam dari El membuat Rani menciut dan menandatangani surat tersebut. Setelah menanda tangan satu surat El menyodorkan satu surat lagi yang persis sama pada Rani.


"Nih ambil satu lagi, lo tulis ulang semua yang ada disurat itu kesana," ucap El.


"Malas Ah!!! Lo copy aja sih bang! Pelit amat paling cuman bayar lima ratusan," ujar Rani.


"Nggak!!! Tulis aja, nanti yang tulisan lo gue yang nyimpan. Surat yang gue tulis elo yang nyimpan!" ujar El dengan nada tegas, ia tersenyum tipis melihat kepolosan gadis yang sedang menyalin ulang isi surat tersebut.


Tampak jelas ketidaksetujuan dari wajah Rani. Akan tetapi, dia tidak mau menarik kata-katanya. Alhasil ia menulis dengan wajah kesalnya. Sesekali ia mendecak sebal.


Dasar gadis bod*h nurut aja sama yang gue bilang. Welcome to my life Maharanisya, gue bakal buat lo bahagia dan hati lo bakal terisi penuh dengan nama gue. batin El.


Ini gue yang terlalu polos atau gue gob*ok ya? Isi perjanjian ini jelas-jelas merugikan gue! Yakali gue ngga harus terima dimarahin sama si es batu ini ! batin Rani. Baru saja ia ingin komplain dengan surat tersebut. El sudah duluan berucap.


"Isi surat itu udah pas. Lo ngga mungkin marahin gue, soalnya gue ngga akan pernah buat salah. Beda banget sama lo yang pecicilan!" ujar El panjang lebar seakan tahu yang akan diucapkan oleh gadis tersebut.


Ucapan El tersebut membuat Rani melongo dengan mata terkedip. Wah memang cenayang profesional inih, tau aja gue mau komplain! batin Rani.


"Enak aja lo bang! Awas aja kalau lo yang mengkhianati isi surat ini! Gue belah badan lo jadi 3!!!" delik Rani. Ia pun mengarahkan jari telunjuknya ke leher seakan akan menggorok El.


El sedikit ciut melihat delikan Rani tersebut tapi dengan gaya datarnya ia menganggukkan kepala. "Ehemm....Gue lelaki sejati jadi ngga bakal kayak gitu" ujar El.


Rani menganggukkan kepalanya."Perlu lo inget yah bang! Rani bukanlah cewek pecicilan. Maharanisya nama gue artinya pujaan dari setiap orang karena kebaikannya!" ujar Rani.


"Ohh... Yaudah! Mana suratnya? Sekarang lo berdiri di samping gue!" titah El.


"Ogah!!! Modus mulu lo bang deket-deket sama gue, " ujar Rani menjauh dari El.


El manarik lengan baju panjang Rani, dan menyuruh temannya untuk memfoto mereka berdua sembari memegang surat perjanjian tersebut.


"Senyum!!! mulut lo yang manyun kek gitu udah sebelas dua belas mirip ikan lohan! " ujar El pelan.


"Hina aja terus! Yang ada itu wajah lo dikondisikan! Nanti gue dikira foto sama robot!" ujar Rani dan memeletkan lidahnya.


"Kalian memang serasi, baju kalian aja warnanya masih satu golongan, Hahaha sweet banget," ujar Alan yang menjadi fotografer dari tadi.


Rani dan El serempak memutar bola mata mereka mendengar ucapan dari Alan. Alan sudah mendapatkan beberapa foto mereka berdua. Hanya ada satu foto dengan senyuman paksaan dari keduanya.


"Nih udah kelar foto prewedding kalian," ujar Alan menyerahkan handphonenya kepada El.


"Yaudah makasih!" tukas El.


.


.


.


Terima kasiih banyak karena sudah berkunjung 🥰🥰🥰


Jangan lupa


Like


Vote


Comment