
Siapa yang menyangka bahwa kita akan berpisah saat hati ini mulai terpaut denganmu? Apakah ini hukuman untukku karena berusaha mengabaikan perasaanmu terhadapku selama ini?
~ Maharanisya
"Hah... Jadi lo beneran ngambil kuliah di luar bang?" tanya Rani.
Benar saja. Di hari terakhir ujian nasionalnya Rani harus mendapatkan kabar menggemparkan dari El. Saat ini keduanya sedang berada di salah satu tempat penjual es.
Teriknya mentari membuat mereka berhenti di salah satu stan es krim yang sangat favorite di kota Batus. El menghentikan motornya dan memesankan dua buah cup es krim untuk mereka berdua.
"Itu kan baru lewat jalur SNMPTN. Belum tentu juga lulus..." ujar El santai.
"Nggak boleh kalau ngga lulus. Lo harus lulus bang," ujar Rani.
"Dasar cewek plin plan. Tadi aja ekspresinya kecewa sekarang malah ngusir!" delik El.
"Itu kan keinginan lo. Jadi harus di gapai!" ujar Rani dengan wajah serius.
"Iya-iya doain aja. Tapi nanti jangan kangen ya," ujar El tersenyum.
"Dih pede amat. Yakin amat lo gue bakal kangen!" ujek Rani.
"Yakinlah. Pesona gue nggak ada yang bisa menandingi!" ujar El dengan nada sombong.
"Iyain aja biar cepat." tukas Rani menyuap es krim dengan cepat.
"Dasar anak sd. Makan ini aja masih belepotan!" ujar El membersihkan pinggir bibir Rani dengan tisu.
Rani membulatkan matanya karena tingkah berani El. Ia sungguh tidak ingin jatuh ke perangkap lelaki itu akan tetapi sifat manis yang ia berikan membuat iman Rani runtuh seketika.
"Gue bukan anak sd. Lagian gue juga bisa bersihin sendiri!" ujar Rani.
"Nih!" ujar El menyerahkan tisu tersebut ke tangan Rani.
Rani pun membersihkan bibirnya. Ia kembali menikmati es tersebut sampai ludes.
"Alhamdulillah... Memang benar kalau mood anda akan membaik seketika dengan memakan es krim." ujar Rani menyenderkan badannya ke kursi sembari memejamkan matanya.
"Ran... Kita muter-muter yuk?" ajak El.
"Kemana?" tanya Rani merubah posisinya menjadi duduk lagi.
"Keliling aja. hitung-hitung refreshing habis ujian." ujar El.
"Oke deh. Lagian di rumah juga lagi ngga ada orang, semuanya pergi ke tempat nenek." ujar Rani berkemas peralatannya yang ia cecerkan di meja. Gadis kecil itu memasukkan semuanya ke dalam tas sekolahnya.
"Ini nggak sekalian Ran?" ujar El menyodorkan mainan sebagai penghias meja di sana.
"Wah jangan ngadi-ngadi deh bang! Lo mau ngajak gue maling?" ujar Rani menyipitkan matanya pada El.
"Boleh juga tuh. Sekalian aja nanti kasirnya kita ancam pakai sendok garpu ini!" ujar El mengambil garpu es yang unyu-unyu itu.
"Serah lo deh bang! Gue baru tau kalau lo bisa jadi gila dalam seketika," ujar Rani menggelengkan kepalanya.
"Canda Ran... canda. Ah lo nggak asik!" ujar El merebahkan kepalanya ke meja.
"Hei...Sepertinya anda perlu obat. Rada-rada panas dingin soalnya!" ujar Rani menyentuh kening El.
"Dih... Curi-curi kesempatan untuk touch-touch gue. Iya kan?" ujar El mengejek Rani.
"Hah! Apaan? Sembarangan aja kalau ngomong!" ujar Rani menarik tangannya dan menjadi salah tingkah.
"Hayooo ngaku..." ujar El dengan manaik turunkan alisnya.
"Ayok deh kita cabut! Sebelum kewarasan lo bertambah hilang," ujar Rani merinding dan bergegas menuju kasir.
"Permisi bang, berapa totalnya ya bang?" tanya Rani.
"Kenapa lo yang bayar?" ujar El sinis.
"Gue habis dikasih uang sama nenek." ujar Rani.
"Totalnya Rp 40.000 dek..." ujar kasir.
El memberikan tatapan peperangan pada sang kasir. Lelaki itu tidak senang karena senyum gadisnya di dapatkan dengan cuma-cuma oleh abang-abang yang menjaga kasir itu. Apakah tidak ada wanita yang bisa dijadikan kasir, sehingga lelaki yang tak henti tersenyum pada gadis kecilnya ini menjadi kasir di stan es ini.
"Dih.. Lama-lama tuh mata bisa copot! Ayok ah," ujar Rani menatap El.
"Apa?" ujar El menatap Rani dengan wajah tak bersahabat.
Ya Allah... Apalagi salah hambaMu pada lelaki ini. Kenapa tiba-tiba jadi dingin lagi? batin Rani.
"Apa apa... Ya pulanglah! Ayok, katanya mau keliling dulu," ujar Rani mendorong bahu El.
Sebelum pergi, gadis kecil itu berbalik karena kasir itu berucap
"Sering-sering mampir kesini ya adek manis..." ujar kasir memasang senyum pepsodent.
Rani mengangguk dan mengucapkan terima kasih ada kasir tersebut disertai senyum.
El yang melihat itu kembali tersulut emosi. Dia memutar kepala Rani agar menatap dirinya. Lelaki itu mengapit kedua pipi Rani yang chubby itu sehingga saat ini wajahnya sangat lucu.
"Nggak bakal ada kita makan disini lagi. Satu lagi, jangan senyum ke dia!" delik El kesal.
"Ya tuhan...Posesif sekali anda!" ujar Rani dengan suara tidak terdengar jelas.
"Biarin!" ujar El dan melepaskan pipi Rani.
"Huh... Dasar es batu!" ujar Rani pelan akan tetapi masih terdengar oleh El.
"Jangan terlalu sering mengumpati orang lain nona!" ujar El menatap Rani dengan tatapan horor.
Rani merinding karena menerima tatapan dari El.
"Maaf," cicit Rani.
"Ayok naik. Kita habiskan waktu seharian penuh gadis kecil," ujar El dengan ekspresi yang sudah kembali berseri.
Dasar moody! Kek bunglon aja jadi orang. Tadi marah-marah, sekarang udah smiriwing. Cepat banget suasana hatinya berubah! umpat Rani dalam hatinya.
"Let's go!" ujar Rani yang sudah berada di atas motor besar itu.
"Kemana bagusnya Ran?" tanya El.
Lelaki itu menjalankan motornya dengan sangat pelan. Dia melirik gadis kecilnya dari spion motornya.
"Duhai tuan. Disini saya hanya sebagai penumpang! Jadi anda saja yang memutuskan," ujar Rani mendelik El.
"Gue bawa ke rumah mau?" tanya El.
"What? Wah jangan deh bang, masak lo tega... Yakali tampang gue lagi dekil begini di ajak ketemu bunda..." rengek Rani.
"Hahaha... Bunda bakal seneng kok. Dia kan ketemu calon menantunya," ujar El mentertawakan Rani.
"Isss... Lo mah! Gue lompat nih kalau lo masih bersikeras..." ancam Rani tapi masih merengek.
"Lompat aja nggak ada yang larang," ujar El tersenyum.
"Kok lo nyebelin banget sih!" delik Rani kesal. Rani pun menghadiahi cubitan kecil di pinggang lelaki yang ada di depannya itu.
"Auhh sakit Maharanisya!" desis El.
"Bodo amat! Siapa suruh lo nyebelin banget jadi orang!" tukas Rani.
"Gue kan bercanda... Kita ke texas aja yah?" tanya El.
"Ke bulan aja sekalian bang, Nanggung-nanggung kalau ngajak!" ujar Rani kesal.
"As you wish my lady..." ujar El memasang senyum lebarnya.
"Kejauhan bang! Jangan aneh-aneh deh!" delik Rani.
"Diem dan ikutin aja kemana angin melangkah!" titah El semakin mempercepat laju motornya.