
Para siswa kelas 3 SMP ini mendapatkan pengumuman bahwa mereka akan mengikuti Try Out pertama di bulan ini. Kehebohan terjadi di SMP ini, ada yang bertanya kenapa jadwal ujiannya di percepat, ada yang menyoraki guru, ada juga yang biasa-biasa saja.
"Terima nggak terima ya kalian harus tetap ujian! Ingat, kalau nilai Try Out kalian akan mengukur kemampuan kalian selama 3 tahun bersekolah disini!" ujar Bu Nuraini selaku wakil 3 kepala sekolah. Ia pun berlalu meninggalkan para siswa di lapangan.
"Wah... parah nih guys. Otak gue belum terisi penuh, eh udah di uji aja!" ujar Keke.
"Hooh, otak gue malahan baru ngisi kemarin setelah diajarin oleh bang El," ujar Zia.
Rani hanya diam saja melihat tingkah kedua sahabatnya yang kini lesehan di lapangan sekolah mereka. Dirinya sendiri sebenarnya juga takut akan menghadapi ujian, ia juga tidak yakin dengan kemampuannya saat ini.
Setelah hiruk piruk kehidupan di sekolah tersebut. Bel sekolah berbunyi, menandakan bahwa pelajaran pertama akan di mulai. Semua siswa pun memasuki kelas masing-masing dan mengikuti kegiatan proses belajar.
***
"Sstt Ran....Rani," bisik Zia yang bosan dengan pelajaran bahasa inggris.
"Apa?" tanya Rani.
Guru yang sedang mengajar menatap ke arah mereka, membuat Zia tidak bisa melanjutkan perkataannya. Zia menuliskan sesuatu di lembar kosong buku catatannya.
Ran, gimana kalau lo terima aja ajakan Bang El untuk jadi guru privat lo? Ujian kita udah deket loh Ran. Mau ya....? please.....
Rani yang membaca tulisan sahabatnya itu, menjadi kesal. Ia pun membalas dengan tulisan lagi di catatan Zia tersebut.
Ogah! Kalau mau lulus belajar makanya! Jangan bawa si es batu deh! Dengerin tuh Mr. Syam. Nanti gue lagi yang kena!
Rani pun fokus mendengarkan pelajaran, ia tidak mempedulikan sahabatnya yang sudah mencak-mencak karena ajakannya tidak di dengarkan oleh Rani.
Saat jam istirahat kedua sahabat Rani pun menarik Rani menuju kantin. Mereka ingin membujuk sahabatnya ini agar mengabulkan permintaannya.
"Ayolah Ran... Masak lo tega sih sama kita?" ujar Keke.
"Hufft... Gue aja si yang ngajarin kalian seperti biasa. Kenapa harus sama bang El?" Rani menghela nafas panjang akibat permintaan kedua sahabatnya.
"Dia kan udah berpengalaman Ran. Oke kita nggak bakal maksa, tapi nanti kalau misalnya bang El datang lagi kek kemarin. Kita belajar bareng dia!" ucap Zia.
"Dihh...Nyolot amat ya bun?" tukas Rani.
"Lagian orangnya yang ngajar gratis ngga masalah. Kok lo yang repot?" ucap Keke.
"What?? Duhai sahabatku yang ku cintai. Tidakkah kalian sadar bahwa kalian itu belajar di rumah gue! Otomatis itu mengganggu jadwal rebahan gue!" ujar Rani dan menyubit keras kedua pipi sahabatnya.
"Rani sahabatku sayang. Kalau lo lupa dengan apa yang emak lo ucapin kemarin, sini gue ingetin! Mama Rita cakap, dia senang kalau kita buat rumahnya ramai. Otomatis, kita udah dapet izin dari nyonya rumah!" ujar Keke tersenyum.
Rani yang mendengar itu kalah telak dari kedua sahabatnya. "Huhh... iya deh kalau gitu. Lagian gue juga ngga yakin si es batu bakal datang lagi seperti kemarin!" ujar Rani dan meninggalkan kedua sahabatnya.
"Kita lihat aja nanti deh Ran!" teriak Zia.
Rani hanya menggelengkan kepalanya atas permintaan kedua sahabatnya. Dirinya sebenarnya senang mendapatkan pelajaran tambahan dari El, akan tetapi karena tingkah El yang terkadang suka memerintah dan mengancam membuat gadis ini kesal. Rani sangat tidak suka ketika ada orang lain yang mencoba mengaturnya selain keluarganya sendiri.
***
"Nah kan, lo lihat itu Ran?" ujar Keke menepuk bahu Rani agar melihat ke arah lelaki yang sedang menyandar di pagar sekolah mereka.
"Ayok kita samperin!" ujar Zia dan menarik kedua sahabatnya.
"Bang. Lo kok disini?" ujar Keke basa-basi.
"Kita kan mau belajar lagi. Ayok! Kalian cari aja becaknya dulu," ucap El dan menuju motor besarnya.
"Ran lo bareng gue aja gimana?" tanya El. Dirinya takut ditolak seperti kemarin oleh Rani.
Belum jadi gadis itu menjawab. Kedua sahabatnya telah mendorong Rani agar mendekat ke arah motor El.
"Lo sama bang El aja Ran! Lumayan ngirit ongkos, dan bapak becaknya nggak kesusahan ngayuh karena keberatan beban kalau kita bertiga," ucap Keke.
Rani yang ingin melayangkan ucapan protes kepada kedua sahabatnya kembali terhenti saat Zia berbicara, "Heem Ran. Kita duluan yah bye. Hati-hati bawa sahabat gue bang!"
Kedua gadis itu pun menaiki becak dan meminta agar si bapak becak segera membawa mereka. Tinggallah Rani dan El.
"Kalau lo keberatan berangkat bareng gue. Lo naik ojol aja," ujar El menatap Rani.
El dikagetkan karena saat ini gadis kecilnya telah duduk di belakangnya, Ia merasa senang dan sedikit heran mengapa gadis kecilnya ini tidak memberontak. Baru saja ia ingin bertanya, Rani sudah menyautinya duluan.
"Buruan berangkat! Lo mau gue tinggal sendirian?" ucap Rani yang turun dari motor El.
El pun tersadar dan memakaikan helm kepada Rani. "Pakai helm dulu! Daripada gue di tilang lagi, ayok naik lagi!" ujar El.
Rani merasa kaget atas perlakuan El. Namun, gadis itu tidak ingin ambil pusing. Ia pun menaiki motor El dan berpegangan jaket yang dikenakan El.
"Kalau lo narik jaket gue, yang ada bakal buat kita jatuh berdua! Pegangan yang bener!" titah El.
Rani pun memberanikan dirinya untuk memegang pinggang El. Ia dapat merasakan tulang lelaki itu, membuat rona merah di wajah gadis itu. Ia tidak pernah membayangkan akan seperti ini, dan hei ada apa dengan jantungnya yang seakan habis lari maraton.
El hanya tersenyum menatap wajah gadis kecilnya yang sedang merona. Ia pun merasakan kupu-kupu mengitari area perut dan hatinya, membuat dia bahagia.
Dua sejoli itu pun menuju rumah Rani. El pun seperti biasanya, karena tidak ingin kehilangan momen berboncengan dengan gadis kecilnya itu menjalankan motornya dengan sangat pelan. Orang yang berlari saja lebih cepat dibandingkan laju motornya.
"Minyak bensin motor lo habis ya bang?" ujar Rani, karena motor yang seharusnya bisa dibawa balapan berjalan seperti kura-kura saat ini.
"Nggak kok, kan lo pakai rok. Jadi gue susah ngimbangin badan lo yang duduk menyamping!" ucap El.
"Ho gitu, apa perlu gue ganti posisi?" tanya Rani.
"Kalau lo ngga nyaman ngga usah. Kayak gini aja, kalau lo mau cepetan pegangan yang kuat makanya!" ucap El. Hehe, modus itu guys 😉
Rani pun mengeratkan pegangan tangan kanannya ke pinggang El. El pun menambah sedikit kecepatan motornya.
Ya Allah, gini amat nih orang ya. Besok-besok gue ganti deh nih nama motor ninja jadi motor kura-kura! Omel Rani dalam hatinya.
Akhirnya, mereka pun sampai di rumah Rani dan mulai belajar materi terkait biologi. Ketiga gadis itu memang sangat menyukai pelajaran biologi, tak terasa mereka menghabiskan waktu belajarnya hingga habis shalat isya.
Mereka pun diajak makan bersama oleh Rita, di meja makan pun Nugraha tiada henti melirik kilas dengan tatapan tajam pada El.
Ujianmu sungguh berat Ya Allah, batin El
.
.
.
.
Terima kasih udah mampir, author mohon like dari pembaca yaa 🥺🥺🥺
Setidaknya dengan meninggalkan like dan komen, author jadi tau letak kelemahan tulisan author 🥰🥰🥰