Before I Found You

Before I Found You
BIFY 83



Setelah menjalani rangkaian acara. Rani menelfon sang mama Dan mengatakan bahwa El saat ini ada bersamanya Dan meminta izin untuk mengantarkan Rani pulang.


Mendengar ucapan dari putrinya tersebut membuat Rita tersenyum. Ternyata anak lelaki tersebut bersungguh-sungguh dalam mendapatkan hati sang putri. Dia pun mengizinkan sang putri untuk diantarkan oleh lelaki itu.


"Gimana?" tanya El.


"Kata emak boleh. Tapi nggak boleh lama-lama!" ujar Rani.


"Okey kalau gitu. Mari kita foto pasangan..." ajak Keke.


Ketiga pasang muda-mudi tersebut pergi ke halaman depan gedung yang saat ini dihiasi oleh lampu-lampu indah. Sorotan lampu tersebut membuat bunga-bunga di sana semakin terlihat cantik.


"Lo sama bang El aja duluan!" ujar Zia mendorong keduanya. Alhasil posisi Rani saat ini sangat dekat dengan El.


Cekrek


Cekrek


Cekrek


"Uluh-uluh... Pasangannya sweet banget si..." ujar Habib memfoto Rani Dan El.


"Gue kan belum siap! Kenapa lo foto gobl*k!" ujar Rani memasang tampang sinisnya.


"Biarin aja. Untuk kenang-kenangan, jangan merajuk!" ledek El mengacak puncak kepala Rani.


"Aihh.... Iya deh, makanya ambil posisi yang bener!" ujar Habib.


"Ran lo geser kanan dikit! Kalian kan mau foto berdua, bukan foto satu-satu!" delik Keke.


"Ogah gue nempel-nempel kek perangko!" tukas Rani.


Akan tetapi, El justru menarik tangan Rani ke arahnya. Dan moment itu tidak disia-siakan oleh kameramen. Dia membidik sasaran yang saat ini saling bertatapan.


"Udah beb?" tanya Zia.


"Udah. Ini bakal jadi foto prewedding mereka nanti. Hahahaha," ujar Habib menunjukkan hasil fotonya pada semua orang yang ada disana.


Sementara pasangan yang sedang dibicarakan masih asik tatap-tatapan. Lamunan mereka buyar seketika saat mendengar tawa dari para sahabat Rani.


"Daritadi yaaa... Gue perhatiin ke uwuan kalian nggak ada habisnya!" delik Zia pada Rani.


"Ckk... Keuwuan apaan!" ujar Rani menjauhi El.


"Yaudah, sekarang giliran kita-kita!" ujar Keke menarik sang pacar Dan menyerahkan kamera pada Rani.


"Gue nggak tau caranya. Lo aja deh bang," ujar Rani menyerahkan kamera tersebut pada El.


El pun mengambil alih kamera dan mulai memfoto pasangan-pasangan alay tersebut. Ia sesekali melirik gadis kecilnya yang asik dengan kipas kertas di tangannya.


"Bang, objek foto lo itu kita bukan di sana!" delik Zia.


"Eh... Khilaf gue. Soalnya objek yang di sana kelihatan lebih menarik!" ujar El.


"Ceh... Ada ternyata khilaf yang begitu!" ujar Rani mencebikkan bibirnya. Padahal dalam hati ia tersipu malu karena ucapan El.


"Aaarghhh... Buruan deh bang fotoin gue! Nanti kita pulangnya kemalaman..." ujar Zia.


"Oke-oke, satu... dua.. tiga," ujar El


Cekrek


Cekrek


Cekrek


"Oke kenangan kita dengan pasangan udah. Sekarang tolong abadikan momen kami bertiga," ujar Keke mengedipkan matanya pada sang pacar dan merangkul Rani dan Zia.


"Kenapa yah gue bisa demen sama cewek beginian?" ujar Habib menggelengkan kepalanya. Begitu pun dengan El dan pacar Keke yang cengo karena tingkah gadis pujaan hati mereka.


"Kenapa? Kalian nggak suka?" delik Keke.


"Kalau kalian nggak suka. Ya udah kita tinggal cari cowok lain yang nerima kota apa adanya!" ujar Zia.


"Hahahaha.... Mampus lo berdua! Udah bangunin singa betina tidur," ledek Rani.


Ia tidak sadar bahwa El juga melongo karena tingkah Rani. Akan tetapi, ia segera mengubah ekspresi wajahnya saat mendengar suara Keke yang melengking.


"Diam!!!" ujar Keke dan Zia bersamaan.


Rani pun mengatupkan bibir manisnya agar tidak lagi mengeluarkan tawa. Di tepi mata gadis itu bahkan sampai mengeluarkan air mata akibat menahan tawanya. Bagaimana tidak tertawa, saat ini ia melihat kedua sahabatnya sedang memukuli pacarnya menggunakan heels mereka.


"Argh. Ampun sayang, maksud aku bukan gitu. Suer deh!" ujar Dion.


"Bener beb... Bukan gitu, aku kan tergila-gila sama kamu," ujar Habib menahan pukulan dari Keke.


"Yah lo pada cuman bohongin sahabat gue kan? Rasain tuh. Pukul aja terus Ke, kalau perlu lebih keras!!!" ujar Rani memanasi sahabatnya.


"Ya Allah Ran... Bahagia amat sih ngeliat temen lo diazab!!!" ujar Dion mendelik Rani.


"Kamu siapa? Aku di mana? Ahahahaha..." ujar Rani yang tawanya kembali pecah.


"Lo mah tadi nggak lihat aja gimana ekspresi illfeel bang El pas pose bobrok kalian bertiga! Jujur deh bang! Bener kan Yat?" ujar Habib membela diri.


"Heem... Nggak adil ini namanya mah. Kenapa cuman kita berdua yang digebuk sementara bang El enggak?" delik Dion.


"Kenapa jadi bawa-bawa gue segala?" ujar El tak terima.


"Jadi tadi lo juga sama kek mereka? Nggak terima dengan tingkah aneh gue? Begitu Immanuel Dirgantara? Hemm...?" ujar Rani memasang tampang menyeramkan.


"Iya... Eh bukan... Mereka cuman mau lihat gue digebuk doang!" ujar El mulai berjalan menjauhi Rani.


"Oo begitu... Ya udah, kenapa mesti jauh-jauh? Ayo kesini sayang... Upss.. maksud gue bukan gitu. Iisss... bodoklah kesini nggak lo bang!" delik Rani sambil membuka heelsnya dengan tangan kanan. Sementara tangan kananya memegangi kipas.


Akan tetapi El mengambil langkah seribu menjauhi Rani. Terjadilah aksi kejar-kejaran di sepanjang halaman depan gedung tersebut. Meskipun tidak menggunakan sepatu, Rani tetap mengejar El tanpa merasa sakit di kakinya. Bahkan gadis itu terlihat leluasa mengejar lelaki di depannya dengan kaki telanjang karena tidak adanya heels yang menyiksa tumitnya sedari pagi.


"Hahaha... Kejar terus Ran. Balaskan dendammu! Ya kan yank?" ujar Dion merangkul Keke.


"Yank yank yank! Nggak usah pegang-pegang. Cari aja tuh cewek yang kalem terus!" delik Keke.


"Udah Ke, kita cabut pulang aja. Pasti nanti juga bakal ada cowok ganteng yang nganterin kita. Jadi nggak usah berharap ke cowok-cowok modelan mereka!" ajak Zia menatap tajam pada sang pacar.


"Yah beb. Jangan gitu deh... Pulangnya sama kami yaa?" rayu Habib.


"Bodo amat! Yuk Ke!" ajak Zia menarik tangan Keke mendekati Rani yang sedang menarik nafas karena lelah mengejar El.


"Udahan aja yuk Ran. Gue udah cape!" ujar Keke.


"Hosh... Hosh... Hosh.. Gue.. juga.. udh capek. Dasar cowok sial*n! Awas lu besok!" ancam Rani.


Ketiga gadis itu pun berjalan meninggalkan pasangan mereka. Par gadis itu berlalu menuju gerbang gedung dengan nyeker. Heels mereka sudah ada di kedua tangan, hijab yang awut-awutan, dan lengan baju dress yang sudah naik sampai siku.


"Gimana nih bang? Kalau nggak kita anterin, bisa-bisa kena lampu merah sama calon mertua." ringis Habib.


"Hmm... Ya udah tinggal bilang kalau kita yang nganterin mereka sampai rumah. Dan ucapkan bahwa kita tak menerima penolakan!" ujar El santai dan menuju parkiran motornya tadi.


"Wuihhh.. Cara cowok lelehan sama cowok cool memang beda jauh!" ujar Dion ceplos.


"Asem bet dah lu! Temen sendiri dibilang cowok lelehan!" delim Habib dan memiting kepala Dion.


"Woi buruan. Keburu di ambil orang tuh pasangan kalian!" ledek El.


Ketiga lelaki itu pun menuju motor-motor eksklusif mereka. Motor itu pun di bawa untuk menjemput sang pujaan hati yang sedang ngemper di jalan.