
“Ckk, boneka sialan!” omel El dan segera menegakkan boneka itu.
Saat ia sedang menegakkan boneka itu. Ia tetap menundukkan wajahnya agar tidak terlihat oleh Rani. Sialnya tas yang ia gunakan menyenggol pakaian wanita yang ditumpuk di belakangnya. Ia melirik ke arah Rani, berharap agar gadis itu tidak melihatnya. Saat sedang mengumpulkan dalaman yang jatuh itu,
“Wah, wah jadi lo yang ngintilin kita dari tadi? Dasar penguntit!!!” ucap Rani sengaja membesarkan suaranya gar di dengar oleh yang lain.
El yang mendengar itupun membulatkan matanya pada Rani, ia tak habis pikir tatapan menyeramkan dari ibu-ibu yang di sana seakan membunuhnya.
“Kamu kok gitu sih dek? Kan tadi nyuruh abang kandungmu ini jemput ke toko ini?” ujar El membesarkan suara abang kandung.
“Heh, sejak kapan nyokap gue ngelahirin anak kek lo? Ayo ngaku lo nguntit kita dari gerbang sekolah tadi kan?” ucap Rani dengan keras.
“Kamu ngambek kan? Abang jemputnya telat?” ucap El menampilkan senyum terpaksanya karena saat ini semua orang memperhatikan mereka.
“Ada apa ribu-ribut? Jangan menganggu pengunjung yang lain,” tukas satpam pasar yang kebetulan lewat,
“Ini pak. Orang ini dari tadi mengikuti saya dan teman-teman saya. Bahkan ia juga masuk ke tempat perlengkapan wanita ini,” ujar Rani yang sulit untuk menahan tawanya.
“Kamu ya!!! Masih SMA kerjaannya gangguin anak-anak gadis yang cantik-cantik ini,” omel satpam pada El.
“Wah dek, lo jangan gini amat dong. Temen-temennya Rani, gue memang abang Rani kan?” ujar El memohon.
“Rani nggak punya abang. Wong dia anak sulung,” jawab Keke dengan polos.
“Nah denger kan pak? Saya nggak kenal juga sama dia,” tukas Rani.
“Tindak lanjuti saja pak. Anak lelaki ini memang mengendap-ngendap sejak masuk toko tadi,” ujar seorang ibu-ibu pengunjung.
“Iyah pak! Bocah tengik, tampang aja yang kasep pisan perilakunya nauzubillah,” tambah seorang ibu lainnya.
“Anda ikut dengan saya ke pos satpam depan!” ajak Satpam dan menarik tangan El pergi.
Rani yang sangat senang berhasil mengerjai lelaki es itupun tertawa kecil. Bagian pinggir mata gadis ini terlihat sedikit berair karena berusaha agar tawanya tidak lepas. Mereka bertiga pun segera keluar setelah El benar-benar jauh dari posisi mereka.
“Ya allah Ran, lo kok kejam amat sama abang itu?” ujar Zia yang memang sedari tadi hanya diam meliat temannya mengerjai lelaki itu habis-habisan.
“Ahahaha... Ya gue kan ngga tau kalau bakal ada satpam. Lagian juga salah dia, pake ngikutin-ngikutin gue ke sini,” jawab Rani tertawa.
Mereka kembali masuk ke dalam pasar dan hunting takjil yang diinginkan. Berbeda dengan wanita lain, kebahagian terpancar dari ketiga gadis ini ketika melihat makanan, belanja makanan adalah surga dunia bagi mereka. Setelah berbelanja mereka pun berpisah saat di pangkalan ojek.
Lelaki yang sempat terlupakan tadi, saat inimasih berada di post satpam pasar. Ia tidak ingin memberikan nomor kedua orang tuanya, alhasil satpam pun membiarkan lelaki dengan tubuh proposional ini disana.
“Yah pak, bapak juga pernah muda kan pak?” tanya El kepada satpam yang membuat para satpam di sana tertawa.
“Salah kamu toh le. Suka boleh tapi jangan ngintilin anak gadis orang segala. Itu termasuk pelanggaran!” ujar satpam menepuk bahu El.
“Ya, besok-besok ngga lagi deh pak. Saya cuman mau naklukin hatinya pak,” ujar El serius.
“Hahah, bener berarti ya? Kamu ngga ada niat jahat?” tanya satpam yang membawa El tadi.
“Nggak ada pak...percaya yah pak. Kalau orang tua saya tau, uang jajan saya sebulan ini bakal melayang pak.” ucap El memelas.
“Yowes, janji yo? Awas kalau diulang lagi!” ujar satpam itu dan mengembalikan tas El yang di tahan sedari tadi. Toh percuma nahan tas si El beserta hpnya. Karena tidak ada kontak yang ia simpan di sana.
“Siap boss! Saya pamit ya pak, terima kasih pak,” ujar El menyalami semua satpam disana.
“Perjuangin cinta kamu perlahan. Jangan jadi penguntit lagi!” saran satpam itu dan diangguki oleh El.
El pun keluar dari pos tersebut. Awas lo gadis kecil, gue pites kalau ketemu, ujarnya dalam hati.