
Selesai acara pernikahan, Zayn langsung memboyong Nancy menuju kediamannya, hatinya sungguh bahagia akhirnya setelah sekian lama Tuhan mempersatukan cinta mereka. Sesampainya di villa Zayn menggandeng masuk Nancy ke dalam, dan ternyata Ilham dan Hiashi bermalam di sana karena hari sudah malam, dan mereka akan pulang besok pagi.
"Aduh pengantin baru.... mau apa lo kak kesini?."tanya Zia dengan nada mengusir.
"Heh ya gue mau istirahat lah emang ngapain."kesalnya.
"Sudah kalian berdua tak usah berdebat, Zayn bukannya kakek sudah memberi hadiah rumah, yang letaknya tak jauh dari villa ini, kakek sengaja membuatnya di sana agar Zia tak sendiri di daerah ini." jelas Ilham, dia memang membangun sebuah rumah besar dua tahun yang lalu.
"Jadi rumah yang kakek bagun dua tahun lalu adalah hadiah untukku?." tanya Zayn sedikit terkejut, Zayn mengira jika rumah itu adalah rumah kakeknya yang ingin tinggal dekat dengan cucunya.
"Iya Zayn kakekmu hanya ingin membuat kejutan." Hiashi ikut bicara.
"Dan ayah hanya memberi hadiah mobil untukmu dan juga istrimu." tambahnya.
"Wah kakek, ayah terima kasih hadiahnya, Zayn dan Nancy akan menerimanya dengan senang hati." Zayn sangat bahagia karena keluarga nya masih perhatian kepadanya.
"Makasih kek... ayah... Nancy sangat bahagia." ucapnya dengan sedikit gugup, karena dia baru saja berbicara dengan keluarga suaminya.
"Semoga kalian berbahagia menjadi keluarga yang selalu melengkapi satu sama lain, dan juga cepat mendapat momongan." goda Ilham membuat pipi Nancy merona.Zayn hanya terkekeh melihat istrinya tersipu malu.
"Tenang saja kek akan ada kabar gembira sebentar lagi." Nancy semakin menunduk menahan malu.
"Sudah Zayn lihat dia malu-malu." Bela Hiashi melihat Nancy yang menunduk malu.
"Iya iya.... Zayn akan diam."
"Emang lo harus diem kak, kalau ngomong mulu bakal lari kemana aja tuh mulut." ejek Zia, membuat Zayn semakin kesal.
"Heh mulut lo tuh yang kema-mana.... bilang aja iri sama gue, udah makanya cepet buruan nikah." Zayn tak mau kalah.
"Iri...? hahahaha.... gak salah denger gue, gak usah buru-buru kalau mau nikah mah, nikah itu butuh proses." sergah Zia dengan tertawa mengejek.
"Kelamaan lo dasar gadis gak laku." Zayn tak kalah mengejarnya, membiat Zia geram.
"Sembarangan aja lo, gue tuh bukan gak laku, tapi gue itu jomblo terhormat." Ilham dan Hiashi hanya menggeleng melihat kelakuan adik dan kakak itu.
"Udah.... udah... kalian berdua malah berdebat, Zia udah sana kamu istirahat, dan Zayn bawa Nancy ke kamar dia pasti kelelahan." lerai Ilham, Zia pun beranjak.
"Hati-hati kak Nancy, tuh Zayn nanti mainnya kasar dia kan pria durjana." ucapnya dan langsung berlari ke kamarnya, karena tak mau mendengar jeritan Zayn yang sangat mengganggu telinganya. Zayn melotot seketika mendengar ejekan Zia.
"Heh adik laknat.... Zia awas lo nanti gue bales." Terima Zayn dengan keras, membuat semua orang di sana tutup telinga.
"Aduh sayang.... gak usah teriak napa." kesal Nancy sambil menutup telinganya.
"Zayn kau mau kakekmu ini jantungan hah?." ucap Ilham membuat Zayn menggaruk kepalanya yang tak gatal.
"Hehehe..... maaf soalnya kesel, itu semua karena Zia laknat." umpat Zayn.Nancy hanya tersenyum melihat betapa Zayn dan Zia sangatlah dekat, dia bahagia mendapat keluarga yang menyayangi nya.
"Zayn sudahlah bawa Nancy ke kamar, sementara kalian bermalam di sini, besok kami yang akan mengantar kepindahan kalian." ujar Hiashi, Zayn pun mengangguk, dia pun pergi meninggalkan Hiashi dan Ilham di ruang keluarga sambil menggandeng tangan Nancy. Malam ini akan menjadi malam indah untuk Zayn dan Nancy.
"Semoga mereka bahagia, aku sangat senang melihat mereka bahagia, dan yang aku ingin mereka menjadi keluarga yang bahagia setelah dulu aku mencampakanku mereka berdua." ucapnya berharap rumah tangga anaknya bahagia agar tak seperti dirinya yang tak tegas dalam menjadi kepala keluarga. Kini hanya sesal yang Hiashi rasakan.
Di kamar Zayn, Nancy melihat interior kamar yang klasik namun terlihat sangat elegan, dengan berbagai perlengkapan yang sudah tersedia, kamar Zayn sangat besar lebih dari milik Nancy. Zayn hanya tersenyum melihat Nancy sangat terpukau dengan keindahan dan ukuran kamarnya yang besar.
"Apa kau suka kamarku hemm?." tanya Zayn.
"Ini indah.... dan aku menyukainya. " Jawabnya dengan masih memandang setiap sudut kamar Zayn.
"Ya sudah mandilah.... aku akan bergantian denganmu."
"Tapi.... aku tak membawa pakaian ganti." ucapnya sedikit malu. Zayn terkekeh melihat tingkah Nancy yang malu-malu padanya, ingin rasanya Zayn mennerkamnya sekarang juga, namun dia urungkan pasti Nancy masih kelelahan, pikir Zayn.
"Kau tak perlu khawatir sayang, aku sudah menyiapkan semuanya dan bajumu sudah ada di ruang ganti." jelasnya.
"Apa kau lupa jika suamimu ini adalah ceo yang kaya? maka itu akan mudah untuk mu." Bangga Zayn.
"Ooh iya mungkin aku sedikit amnesia dengan kekuasaanmu." kekehnya.
"Kau melupakan kekuasaan ku sayang.... oh ya ampun nona muda Alfian sudah menjadi wanita pikun." decihnya sambil menggelengkan kepalanya, tak percaya dengan ucapan istrinya.
"Hei jangan katakan aku pikun... memangnya aku setua itu di matamu? maksudku itu aku melupakannya karena kekuasaanmu kini sudah ada di hatiku sweety.... " ucapnya dengan kata manja.
Zayn yang mendengar perkataan manja Nancy, membuat dirinya menegang seketika, ucapan manjanya mampu membuat kejantanannya berdiri tegak.Kini jantungnya berdebar sangat hebat seakan sedang terguncang akibat letusan gunung berapi. Zayn berjalan mendekati Nancy, dan kini jarak mereka hanya tinggal beberapa centi, seketika itu Nancy menjadi gugup dan salah tingkah.
"Wahh.... ternyata nona muda Alfian sudah pandai menggoda.... aku jadi tidak sabar ingin menerkammu sayang.... ucapan manjamu membuat gairah ku bangkit." bisiknya dengan suara yang sedikit serak, karena dia sedang berusaha untuk menahan hasratnya.
Nancy hanya menunduk malu, pipinya sudah memanas, di kala Zayn mengatakan kata 'gairah' Nancy hanya diam tak menyanggah ucapan Zayn. Zayn segera menengadahkan dagu milik Nancy sehingga kini mereka bertatapan dan mata mereka saling mengunci.
"Kenapa kau berhenti sayang.... ayo katakan lagi... aku sangat suka kau yang manja, karena itu terlihat menggemaskan."
"A...anu... maaf sayang bukan itu maksudku... ya sudah aku mau mandi dulu ok... " ucapnya gelagapan, Nancy pun beranjak, namun tangannya sudah lebih dulu di tarik oleh Zayn, membuat nya langsung mendarat di dada bidang Zayn. Nancy terkejut akan apa yang di lakukan Zayn, tanpa ba bi bu, Zayn menangkup pipi Nancy dengan kedua tangannya dan....
Cup.....
Zayn menyatukan bibirnya pada bibir Nancy, membuatnya sedikit kaget, Zayn mulai memainkan ciumannya dan semakin memperdalam, hingga akhirnya menjdi sebuah lumayan, Nancy mulai mengikuti permainan yang di buat oleh suaminya,tangan Zayn tak bisa diam bergerilya membuka pakaian Nancy tanpa melepas tautan di bibir indah Nancy.
Namun karena Nancy sulit bernafas dengan keras dia mendorong tubuh Zayn keras, hingga tautan mereka terlepas, Nancy langsung bernafas membuat Zayn tersenyum puas. Zayn sudah berhasil melepas pakaian Nancy.
"Ya ampun kenapa kau sangat ganas sayang? benar apa yang diucapkan Zia tadi... " kesalnya dengan nafas yang masih tersengal.
"Dan lihat apa yang kau lakukan." tambahnya lagi, melihat jika kaitan bra nya sudah sedikit terlepas dan hampir menampakan buah dadanya.
"Maaf... sayang itu kan semua karenamu membuat ku bergairah." ucapnya dengan tenang.
"Ah sudahlah aku mau mandi." Nancy pun beranjak pergi dengan kesal meninggalkan Zayn.
Zayn sangat gemas melihat kelakuan istrinya, padahal dia ingin meneruskan sampai tuntas, tapi semua gagal karena Nancy merajuk, dengan keganasan yang dia lakukan terhadapnya, Zayn hampir melahap Nancy malam ini.
"Oh ya ampun Zayn.... tahanlah... kasihan istrimu dia pasti masih sangat kelelahan.... " cicitnya, jika dia tak menahan hasratnya maka dia pasti akan menyakiti Nancy, dia pasti akan bermain kasar, sungguh jika dia sudah sangat bergairah tubuhnya tak akan bisa menahan nafsunya yang membuncah.