
Zia menatap dingin lawannya malah sambil memainkan pistol di tangannya tak menggubris apa yang dia bicarakan.Merasa tak dianggap gadis itu menembak kearah Zia, namun Zia berhasil menghindar dengan lincah.
"Wah ternyata lo ganas juga yah...." ucap Zia santai melihat kearah gadis itu sepertinya dia sudah tak sabar.
"Banyak omong lo ayo kita mulai permainannya gue udah gak sabar habisin lo keparat." Gadis itu berlari kearah Zia dan mulai menyerang Zia.
"Ok gue ladenin jalang." Zia bersiap untuk melawan serangan gadis bertopeng itu.
Terjadilah baku hantam Zia dan gadis itu mereka sama-sama lincah tentunya bertarung tanpa senjata. Zayn dkk sudah berhasil membawa keluar semua murid dan guru ke tempat yang aman, setelah memastikan semua aman Zayn dkk masuk ke aula untuk membantu Riska dan Arham.
Setelah beberpa menit terjadi baku hantam Riska dan Arham begitu juga Zayn dkk susah berhasil melumpuhkan bala bantuan gadis itu, kini Zia dan gadis itu yang belum menyelesaikan pertarungan epic mereka,jika dilihat mereka itu seperti Ino dan Sakura yang terus bertarung meski sudah kehabisan cakra.
Zia dan gadis itu sudah sama-sama terluka, Zayn ingin sekali membantu namun Zia mencegahnya dengan memberi isayrat, Zayn pun mengurungkan niatnya, mereka hanya bisa melihat pertarungan mereka dengan jarak yang sedikit jauh.
"Arham gue pinjem pistol lo." pinta Zayn karena takut nanti terjadi sesuatu pada Zia jadi dia ingin menyiapkannya dulu.
"Buat apa king?. " tanyanya.
"udah gue pinjem cepet.... " paksa Zayn karena Arham terlalu banyak bertanya. Karena Zayn memaksa Arham pun memberikan pistolnya.
Mereka terus menyaksikan hingga tanpa di sadari ada penembak jarak jauh yang menembak tepat kearah Zayn karena lelaki itu tahu jika Zidan nanti akan menembak atasannya, Zia yang tahu jika ada yang mengawasi dari jarak jauh dia bertarung tak fokus hingga berkali-kali di jatuhkan oleh musuh dan membuat wajahnya babak-belur.
Hingga suara tarikan pelatuk terdengar sangat jelas di telinga Zia dia pun menendang lawan dengan sangat keras hingga lawannya jatuh tersungkur dengan memuntahkan darah dari mulutnya, Zia tahu jika penembak itu akan melukai sang kakak dan Zia tak akan membiarkan itu.
"Pelurunya sudah lepas.... gue harus selamatin kakak brengsek kau..... " batinnya mengumpat Zia pun berlari kearah Zayn dengan sangat cepat karena Zia sudah melihat peluru itu sudah di lesatkan dari sarangnya dan sedang menuju Zayn.
Zayn bingung kenapa Zia tiba-tiba berlari dengan cepat padahal pertarungan belum berakhir, gadis itu sudah bangkit dan terduduk karena merasakan sakit di perutnya akibat tendangan Zia, dia menyeringai karena rencananya akan berhasil dia menyewa sniper handal untuk menembak dari jarak jauh.Gadis itu juga melihat peluru itu sudah keluar sarang.
"Aku tahu kelemahan mu adalah Zayn dengan begini kau pasti akan bersikeras menjadi penyelamat Zayn.... haha....aku tak perlu bersusah payah melenyapkanmu kau sendiri yang mengantar nyawamu." batinnya penuh kemenagan.
Tanpa aba-aba Zia mendorong tubuh Zayn keras hingga terjatuh, namun naasnya Zia telat menghindar hingga peluru itu mendarat......
Dor......
Satu tembakan mengenai sasaran, Zia diam mematung dengan mata sedikit membesar karena peluru itu mendarat tepat di dada sebelah kirinya, Zayn melihat jika Zia tertembak segera bangkit dari jatuhnya dan berlari kearah Zia. Zia merasakan sakit menjalar ke dadanya dan menyalur ke seluruh tubuhnya, dia tumbang namun sebelum tumbang Zayn sudah lebih dulu menangkap tubuh adiknya.
Semua yang melihat Zia terjatuh menjadi panik mereka mendekati Zia yang sudah terbaring tak sadarkan diri di pelukan Zayn.Gadis bertopeng itu tak menyia-nyiakan kesempatan untuk kabur, namun Riska melihat dan dia segera melayangkan tembakan.
Dor.......
"Aaaaaaaa." pekik gadis itu menahan sakit di kakinya.
"Mau mencoba kabur?....Kau tak akan selamat setelah apa yang kau perbuat dasar wanita iblis." Riska semakin mengencangkan cengkraman nya. Gadis itu tak bisa berkutik dia hanya diam.
"Kau akan terima akibatnya." tambahnya lagi dengan seringai membunuhnya membuat Arham begidik ngeri.
"Cepat bawa dia ke markas....!!.... " titah Riska kepada mafiosonya gadis itu akan mendapat ganjaran dari perbuatnya.
Sementara Zayn masih panik dai berusaha membangunkan Zia namun tak ada pergerakan sama sekali.Zayn menitikan air matanya karena tak mau kehilangan Zia,sudah cukup takdir merenggut orang yang di sayanginya, baru beberapa bulan lalu Tuhan mengambil nenek dan kakeknya, dan Zayn berharap agar Tuhan tak mengambil Zia dari kehidupannya.
"Zi.... bangun.... kenapa lo lakuin itu..." Zayn mencoba membangunkan Zia semua yang melihat itu menjadi iba karena ini pertama kalinya Zayn menangis.
"Zayn cepat bawa Zia kerumah sakit dia butuh pertolongan segera." Ucap Nancy dia menepuk pundak Zayn supaya sadar ini bukan waktunya menangisi karena yang di butuhkan Zia sekarang adalah pertolongan.
"Iya Zayn cepat...." Yumna ikut menyadarkan Zayn karena waktunya tak banyak karena sarah terus keluar dari dada Zia hingga mengotori pakaiannya.
Zayn pun tersadar dia mengusap air matanya kasar, dan menggendong Zia menuju mobil untuk membawanya kerumah sakit. Semua temannya pun mengikuti Zayn menggunakan mobil lain, Zia di mobil bersama Nancy yang memangku kepalanya serta Zayn yang menyetir, dia menyetir dengan kecepatan penuh dia tak mau jika Zia tak selamat.
Beberapa menit perjalanan akhirnya sampailah Zayn di rumah sakit, Zayn segera menggendong Zia dan memanggil perawat, tak lama perawat pun datang demganembawa brankar.
"Zi lo kuat.... bertahan lahh....." Zayn berlari mengikuti arah brankar, hingga sampai di ruang UGD Zayn tak di perbolehkan masuk, Zayn dan Nancy menunggu di luar dengan doa agar Zia baik-baik saja.
Teman-teman yang lain pun sudah sampai di sana, mereka juga sama-sama berdoa untuk keselamatan Zia.Namun din keheningan dan ketegangan ponsel Nancy berdering. Nancy pun buru-buru melihat di layar ponsel siapa yang menelpon ya dan ternyata itu adalah Dita ibu Alvaro.Nancay pun mengangkat telepon itu dengan perasaan berkecamuk.
"Nan.... kamu di mana sayang?." tanyanya dari seberang telpon.
"Tante.... ada apa menelpon Nancy? apakah semuanya baik-baik saja?." bukanya menjawab Nancy malah berbalik bertanya.
"Tante sedang di rumah sakit Alvaro kritis sayang." Suaranya sedikit bergetar.
"Apa?! Varo kritis."Pekik Nancy terkejut ternyata Varo sedang yak baik-baik saja padahal baru tadi siang menyanyi untuk salam perpisahan.
"Kamu harus kesini dan ajak temanmu semua karena Varo ingin bertemu kalian."jelas Dita.
"Baik tante, beri tahu alamatnya."ucap Nancy dan menutup sambungan telepon nya. Setelah mematikan telepon Dita mengirim alamat rumah sakitnya dan ternyata Varo ada di rumah sakit yang sama dengan Zia.
Teman-teman yang mendengar Nancy menjerit pun menatap kearahnya penuh dengan kekhawatiran karena mereka mendengar jika Varo sedang kritis.Nancy terduduk lesu di kursi tunggu, Zayn dan yang lainnya pun mendekat untuk menanyakan sebenarnya apa yang terjadi.
" Nan.... ada apa?."tanya Zayn karena melihat Nancy seperti sangat terpukul, air matanya sudah luruh di pipinya, dia langsung memeluk erat tubuh Zayn.
"Zayn..... hiks.... hiks..... " tangis Nancy pecah di pelukan Zayn, Zayn mengusap punggung Nancy dan membiarkan dia menumpahkan kesedihannya baru nanti setelah lega Zayn akan menanyakannya kembali.