
Malam harinya,Zia sudah merasa baikan dia pun di perbolehkan pulang, namun ingatannya kembali saat dimana dia dengan samar-samar melihat wajah Rayyan sebelum akhirnya dia tak sadarkan diri, dia ingin menanyakan itu pada kakaknya, namun mengingat bahwa Zayn telah membohonginya membuat dia kecewa dan tak mau berbicara padanya.
Sesampainya di villa Zia masih belum bicara pada Zayn, memang akhir-akhir ini Zia dan Zayn sedikit sibuk dengan urusan mereka masing-masing, Zia dengan perusahaannya sedangkan Zayn sibuk mempersiapkan pernikahannya dengan Nancy yang akan berlangsung satu bulan lagi.Zia melangkahkan kakinya menuju kamarnya, namun Zayn menghentikannya.
"Zi lo kenapa? dari tadi diem mulu? apa masih sakit?." tanya Zayn bertubi-tubi karena melihat tingkah aneh Zia.
"Gue gak papa." jawabnya datar,dia pun berlalu ke kamarnya meninggalkan Zayn tanpa bicara. Zayn hanya mendesah berat, semenjak meninggalnya Varo Zia berubah drastis bahkan pada kakaknya sekalipun. Zayn pun beranjak ke kamarnya setelah melihat punggung Zia menghilang di balik pintu kamarnya.
...----------------...
Di tempat lain seorang pria berumur sekitar empat puluh lima tahunan tampak sedang membicarakan hal penting dengan orang kepercayaan nya.
"Apakah dia sudah kembali kesini?." tanya pria itu pada asistennya.
"Sudah tuan, tuan muda sekarang sedang berada di apartemennya." jelas asistennya.
"Tetap pantau dia, jangan sampai terjadi sesuatu yang buruk padanya." titahnya, karena sampai saat ini Raka masih belum melihat pembalasan dendam dari orang yang pernah di bunuh nya, karena Putra sudah mencaritahu informasi tentang keluarga orang yang di bunuh nya, dan ternyata keluarganya sangatlah berbahaya.
"Baik tuan... kalau begitu saya permisi." ucapnya sembari membungkukkan diri dan berlalu pergi dari kediaman tuannya.
Raka hanya berharap keselamatan untuk putranya, karena kejadian beberapa tahun lalu membuat dia harus lebih lebih menjaga putranya, karena Raka tahu akan ada yang membalaskan dendam padanya dan juga keluarganya atas apa yang dia lakukan di masa lalu.
"Maafkan ayah nak.... karena belum bisa memberitahu yang sebenarnya terjadi.Tapi suatu saat kau pasti akan mengetahui segalanya. "lirihnya.
Raka pun melangkahkan kaki masuk ke dalam kamarnya karena hari sudah larut malam, dia memutuskan untuk beristirahat, melupakan sejenak masalah yang kini tengah melandanya.
Pagi hari sudah menyapa, terlihat seorang lelaki tampan sedang merapihkan pakaiannya, hari ini dia berencana menemui ayahnya yang empat tahun ini yang belum dia temui, ya dia adalah Rayyan, selama empat tahun dia tak pulang ke rumahnya karena sibuk dengan kuliahnya.
Rayyan keluar menggunakan mobilnya menuju kediaman keluarga Alexandra, dia sangat merindukan rumahnya, Rayyan sengaja tak sarapan karena dia akan sarapan bersama dengan ayahnya, Rayyan sungguh merindukan kebersamaan bersama keluarga kecilnya.Namun pada saat di mobil Rayyan mengingat sesuatu.
"Oh ya ampun.... aku belum membaca surat Varo." rutuknya pada dirinya sendiri.
"Hah ya sudah..... nanti saja membacanya selesai menemui ayah." Ucap Rayyan, dia melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.
Sampailah Rayyan di rumah ayahnya, dia sungguh rindu meski sang ayah selalu memaksakan kehendaknya terhadap dirinya, tapi Rayyan akan selalu menyayangi nya. Rayyan memarkirkan mobilnya dan berjalan ke rumahnya. Ternyata Raka sudah menyambutnya di depan pintu masuk.
"Ayah.... kau sudah menungguku?." tanya Rayyan yang melihat sang ayah ada di depan pintu menyambutnya, padahal Rayyan tak memberitahu jika dia sudah datang ke kota kelahirannya.
"Tentu saja, aku adalah ayahmu." singkat Raka, mereka pun memasuki rumah besar yang tak pernah berubah sedikitpun meski Rayyan sudah meninggalkan selama empat tahun.
"Apa kau sudah sarapan?." tanya Raka pada putranya. Rayyan hanya menggeleng sambil tersenyum lebar.
"Belum ayah.... aku ingin ikut sarapan bersamamu."ungkapnya sambil tersenyum menunjukkan gigi putihnya.
"Jadi kau sangat merindukan ayahmu ini?."
"Baiklah ayo kita sarapan." mereka pun menuju meja makan untuk sarapan. Ayah dan anak kini sedang menikmati sarapan mereka tanpa bicara, hanya suara dentingan sendok dan piring yang menghiasi meja makan itu.Selesai sarapan Raka mengajak Rayyan mengobrol di ruang tamu.
"Kau tak mau pulang ke rumahmu?." tanya Raka, dia melihat sepertinya Rayyan tak membawa barangnya.
"Aku akan pulang ayah,tapi nanti malam aku akan membawa semua barangku." jelas Rayyan.
"Karena masih ada yang harus Rayyan lakukan hari ini." tambahnya.
"Oh ya sudah, kita mengobrol di sini saja." mereka pun duduk di ruang tamu untuk sekedar melepas rindu.
"Bagaimana kabarmu? sudah lama sekali ayah tak melihat mu, meskipun kau sering menghubungi ayah, tapi tetap saja kita tak bertegur sapa." ucap Raka panjang lebar mengungkapkan kerinduannya meski hanya dengan sebatas kata.
"Aku sehat ayah, lalu bagaiamana kabarmu ayah? sepertinya sepeninggal ku ayah menjadi sangat sibuk." Rayyan melihat mata pandai milik ayahnya.
"Ayah baik, mungkin karena setelah kau pergi ayah harus mengurus perusahaan, karena perusahaan sedang banyak masalah." jelas Raka, karena akhir-akhir ini perusahaannya sedang dalam masalah dan Raka sangat sulit sekali untuk menstabilkan nya.
"Jadi begitu, memangnya ada masalah apa dalam perusahaan?." tanya Rayyan, dia ingin tahu masalah apa yang terjadi di perusahaan ayahnya. Karena dulu Rayyan selalu menggantikan ayahnya, jika Raka tak bisa datang,Rayyan dengan sigap akan meng-handle semuanya, dan selalu selesai dengan hasil yang sangat memuaskan.
"Ada seseorang yang ingin berusaha menghancurkan perusahaan Alexandra company, dan dia sudah berhasil membobol keamanan perusahaan kita." jelas Raka, karena musuh yang akan menghancurkan perusahaan nya sangatlah jenius, sehingga dapat membobol keamanan yang Raka buat, namun sebisa mungkin Raka berusaha untuk mempertahankan semuanya.
"Hah.... ternyata ada yang bisa membobol keamanan ayah, aku tak percaya itu." Rayyan masih tak percaya, yang dia tahu ayahnya akan membuat keamanan yang sangat kuat sehingga tak bisa di tembus oleh siapapun. Sebenarnya siapa yang mampu melakukan itu semua, pikir Rayyan.
"Oleh karenanya kau harus membantu ayahmu ini untuk menstabilkan keamanan perusahaan agar tetap aman."
"Baiklah ayah.... aku akan membantumu.... sepertinya sekarang aku yang akan membuat sistem keamanan." ucapnya, Rayyan memang sangat handal jika menyangkut tentang sistem keamanan, dia sudah banyak belajar pada saat kuliah menyangkut dengan sistem keamanan.
"Memang kau bisa?." tanya Raka tidak yakin.
"Ayah kau jangan meremehkan talenta ku,aku sangat berbakat dalam hal membuat keamanan yang tak mudah di tembus, ayah tenang saja pasti semuanya akan segera kembali seperti semula." ucap Rayyan pasti, meyakinkan sang ayah.
"Baiklah, jika berhasil maka ayah akan mengangkatmu menjadi CEO selanjutnya untuk perusahaan Alexandra.Ayah sudah lelah mengurus perusahaan, jadi kini saatnya kau menggantikanku." jelas Raka, dia sudah lelah untuk berkutat dalam dunia bisnis apalagi sekarang perusahaan nya sudah berada di no.05, yang sekarang dia inginkan hanyalah berehat dan melihat kemajuan anaknya untuk membangun dan membesarkan perusahaan.
"Ayah tak perlu khawatir, karena semuanya pasti akan baik-baik saja, dan aku bersedia menggantikan ayah." ucap Rayyan dengan pasti, karena sang ayah sudah terlihat jelas gurat lelah di wajahnya.
"Kau memang Rayyan putraku, semoga kau bisa menjalankan amanah ini dengan baik dan bijaksana."Raka yakin jika putranya akan mengurus perusahaan dengan baik.
"Iya ayah Rayyan akan berusaha."Mereka mengobrol melepas kerinduan, sesekali meraka menceritakan masa indah mereka, itu membuat Raka bahagia melihat putra satu-satunya tersenyum dan tertawa, walau dia tahu jika Rayyan membencinya, karena sifatnya yang selalu egois, namun itu adalah demi kebaikan putranya.
"Maafkan ayahmu ini.....Rayyan karena telah berbuat kesalahan di mana kau yang akan menjadi sasaran maaf." batinnya menatap Rayyan, Raka tak percaya takdir akan sekejam ini padanya dan juga keluarganya, mempermainkan alur hidupnya dengan sangat berliku dan bahkan bisa di katakan sangat tak beraturan.
Seketika itu, ingatannya menerobos dengan cepat dan memutar semua nya dengan jelas, dimana Raka terjerumus dalam hal yang membuat dirinya menjadi sangat bersalah pada putranya, karena dia telah membuat celaka Rayyan di masa depan, Hingga karena dia takut akan terjadi sesuatu yang buruk pada Rayyan, Raka sampai mengirimkannya kuliah dia luar negeri untuk berjaga-jaga, karena dia sudah menggubris ketenangan singa, oleh karenanya Raka sudah mempersiapkan dengan sangat matang.