Zia And Zayn Pair Of Mafia

Zia And Zayn Pair Of Mafia
bag-69 Masih Flashback



Sepulang sekolah sesuai dengan yang di katakan Varo, Raina sudah menunggunya di cafe rose yang berada tak jauh dari sekolah mereka.Selang beberapa menit yang di tunggu akhirnya menampakan barang hidungnya.


"Maaf membuatmu menunggu." ucap Varo yang sudah duduk bersebrangan dengan Raina.


"Bukan masalah aku juga baru sampai beberapa menit yang lalu." jelas Raina.Mereka memesan makanan sebelum melanjutkan perbincangan mereka.


Beberapa menit kemudian, pesanan mereka datang pelayanan menaruh makanan itu di meja, setelah kepergian pelayanan itu mereka mulai melahap makanan mereka.


"jadi apa yang bisa ku tolong?." tanya Raina di sela-sela acara makan mereka.


Varo masih berfikir dan belum menjawab pertanyaan Raina dan membuat Raina sedikit kesal.


"Pikirkanlah dulu Varo..... apakah kau benar-benar ingin menjauhi Zia? jika kau tak sanggup menjauh lebih baik jangan." jelas Raina karena melihat raut wajah Varo yang nampak sekali keraguannya.


"tidak.... keputusanku sedah bulat Rain, jadi biarkan semua rencana ini terjadi." tegas Varo keputusan untuk menjauhi Zia adalah pilihan tepat menurutnya.


"Baiklah katakan apa yang perlu ku tolong?." tanya Raina sekali lagi.Varo menghembuskan nafas kasar dan memandang wajah Raina serius.


"Kau hanya perlu selalu dekat denganku seakan-akan kau benar-benar menyukaiku." jelas Varo membuat Raina membelalakan matanya.


"Apa maksud kamu?." tanya Raina yang masih belum mengerti apa yang di ucapkan Varo.


"Iya itu adalah cara agar Zia benci sama gue."


"Kenapa kamu ingin Zia benci? katanakn padaku sebenarnya apa yang terjadi?." Tanya Raina dia sama sekali tak mengerti kenapa Varo ingin sahabat dekatnya membencinya.


"Baik gue mau cerita ke lo semuanya."


Varo menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan nya perlahan lalu beralih menatap Raina serius.


"Gue udah lama mengidap penyakit mematikan dan waktu gue gak akan lama lagi dan gue pengin jauh dari Zia agar nantinya ketika gue pergi Zia tidak terlalu terpukul." jelas Varo namun hanya di angguki oleh Raina.


"Lalu....?."


"Dan lo harus mau buat Zia jauh dari gue lo ngertikan sekarang."


Raina memandang Varo dengan tatapan yang sulit di artikan, namun yang ada di pikirannya Seharusnya Varo semakin dekat dengan Zia menghabiskan waktu bersama bukannya malah menjauhi nya dengan alasan yang tak jelas.


"Ternyata pikiranmu dangkal sekali Varo." itulah yang di katakan Raina pada Varo membuat Varo menautkan kedua alisnya heran.


"maksud lo?." pertanyaan itu yang lolos dari bibir Varo .


Raina hanya menggelang pelan sungguh dia ingin tertawa terbahak di situasi ini bagaimana tidak pikiran teman sekelasnya sangatlah dangkal.


"Baiklah akan ku jelaskan, seharusnya jika waktumu tak lama lagi yang harus kau lakukan adalah menghabiskan waktu bersamanya bukan malah menjauh darinya."Raina mengatakan dengan sangat detail.


" Tapi gua gak bisa Rain itu berat buat gue."keluh Varo memang dia sangat tak bisa jika harus membuat Zia bersedih.


"Kumohon bantulah aku Rain...... hanya itu yang ku ingin di akhir hidupku menjauh dari temanku dan membuat mereka tak terpukul atas kepergian gue apalagi Zia." pintanya lagi memohon agar Raina segera menyetujui.


"Hufttt.... merepotkan baiklah tapi jangan salahkan aku jika Zia dan semua temanmu marah." Akhirnya Raina menyetujui rencana konyol Varo.


"terima kasih Rain gue berhutang banyak ke lo maksih banyak sekali lagi Rain." ucap Varo berbinar Raina akhirnya menyetujui permintaan nya.


"Ya.... ya sama-sama." Ucapnya santai.Mereka pun menghabiskan makanan mereka sesekali mereka mengobrol sekedar mengisi acara makan mereka.


Flashback Off


Tiga bulan berlalu mereka semua sudah menyelesaikan ujian nasional dan sekarang tibalah hari pengumuman kelulusan semua sudah berkumpul di aula utama.


"Baiklah anak-anak bapak akan mengumumkan tentang kelulusan tahun ini, kalian sudah bersusah payah tiga tahun belajar di sekolah ini dan bapak sangat bangga pada kalian karena hasil dari kelulusan adalah seratus persen kalian lulus semua mari berikan tepuk tangan yang meriah atas kelulusan ini." jelas kepala sekolah.


Prok.... prok... prok......


Suara riuh menggema di gedung aula utama dengan sorakan dan teluk tangan yang membahagiakan, di hari ini menjadi saksi atas kelulusan kelas dua belas tahun ini.Tak lupa kepala sekolah mengumumkan nilai terbaik di sekolah ini juara pertama jatuh pada Zia dan yang kedua adalah Zayn yang ketiga Varo. Mereka adalah siswa dengan nilai terbaik tahun ini.


"Selamat Zi...... lo hebat jadi juara pertama nilai ujian nasional terbaik gue bangga sama lo." senang Mila dia memeluk Zia memberikan ucapan selamat.


"Selamat mbae aku seneng banget mendapat teman yang sehebat kamu." puji Siti dan memeluk Zia.Varo hanya diam tanpa mau mengucapkan selamat pada Zia.


"Wah Zayn lo hebat selamat ya....." Yumna dan Dika juga memberikan selamat.


"Bebeb gue hebat..... " puji Nancy dan memeluk Zayn.


"Ya dong bebeb kamu kan hebat." sombong Zayn.


Rayyan tak hadir dalam kelulusan karena dengan alasan ayahnya tak bisa di tinggalkan karena sakit. Mereka semua saling memberikan ucapan selamat di hari bahagaia ini hingga tiba dimana semua siswa-siswi mencoret baju mereka dengan warna sebagai kenang-kenangan.


Hingga siang menjelang seluruh siswa-siswi sudah bubar dari sekolah untuk menyiapkan acara malam ini yaitu acara pesta pelepasan kelas dua belas, para anggota OSIS di sekolah sedang menyiapkan segalanya untuk mempersiapkan promnight.


Zia dan Zayn dkk juga sudah berada di rumah masing-masing, acara tersebut akan di gelar dengan harus membawa pasangan dalam pesta pelepasan kelas dua belas.


*di kediaman Zia dan Zayn.


Zia dan Zayn masih tinggal di vila mereka dan belum berniat untuk serumah dengan sang ayah karena Zia masih belum mau satu rumah dengan Hiashi etah mengapa mungkin karena masih trauma atau masih benci mungkin.


Zia menghempaskan tubuhnya di ranjang empuk dan menatap langit-langit kamarnya.Sungguh hari ini sangat melelahkan di tambah nanti malam masih ada acara. Hingga waktu sudah senja ternyata nona cantik bermata indah itu ketiduran hingga sore.


Dor..... dor... dor.....


Zayn menggedor pintu kamar Zia karena Zia masih tidur sedari pulang dari sekolah hingga sore hari Zayn belum melihat adiknya keluar dari kamari.


"Zi..... Zia bangun udah sore..."teriaknya dari luar kamar Zia, namun sang pemilik kamar belum juga membukakan pintu.


" Aduhh ni anak susah banget di bangunin.... "decak nya kesal dengan masih menggendor pintu kamar Zia.


Karena kesabaran ada batasnya Zayn bertambah kesal hingga akhirnya di membuka pintu Zia yang memang tak terkunci. Zayn berdecak pinggang melihat bahwa Zia masih asik dalam dunia mimpinya sampai-sampai Zayn menggedor pintu pun Zia tak mendengarnya. Zayn melangkah mendekati Zia yang masih terbaring di atas ranjang dan menggoyangkan tubuh Zia agar bangun.


" Zi.... Bangun... udah sore .... "ucapnya sedikit berteriak.


Namun tak ada pergerakan sama sekali, Zia masih asyik dengan tidurnya. Zayn bertambah kesal dengan terpaksa dia mengeluarkan jurus andalannya dan Zayn yakin Zia pasti akan langsung terbangun.


" NIDA ZIANA ALFIAN.... BANGUN KAU ATAU KU SURUH MACAN ANDALAN KITA UNTUK MEMBANGUNKANMU."Teriak Zayn karena Zia sulit sekali di bangunkan, hingga Zayn memanggil nama Zia dengan lengkap.


Zia yang mendengar teriakan langsung mengerjap bangun dan terduduk di tempat tidur dengan rambut yang acak-acakan dan dlmata yang msih terpejam.


"Aduhh kak gak udah teriak-teriak napa congek ni kuping gue, tahu gak sihh gue itu lagi di Mugen Tsukuyomi mimpi tanpa batas lo ganggu aja." celoteh Zia yang masih memejamkan matanya.


"Heh cepet bangun siap-siap bentar lagi kan acara promnight." titah Zayn, Zia mengucek matanya setelah mendengar ucapan Zayn.


"Iya bawel banget lo kak, mau apa datang kesana gak ada patner nya juga gue udah ah kak males nihh.Mending hidup dalam mimpi karena kehidupan nyata sangatlah pahit." ujarnya dan hendak menlanjutkan tidur namun Zayn langsung memegang tangan Zia.


"eh... ehh apa-apaan lo bangun.....ini tuh bukan Mugen Tsukuyomi di mana lo bisa hidup dalam mimpi ini tuhh kehidupan nyata..... udah cepet bangun siap-siap, gak ada bantahan." tegas Zayn, Zia hanya mendesah berat, kenapa Zayn jadi pemaksa pikir Zia.


Dengan langkah gontai Zia memasuki kamar mandi untuk membersihkan diri, Zayn berlalu keluar dengan terkekeh melihat kelakuan Zia yang sangat kekanak-kanakan, tapi memang kenyataannya Zia masih berumur anak SMP tapi siapa sangka dia sudah lulus SMA, dan hari ini adalah hari kelulusan mereka.