Zia And Zayn Pair Of Mafia

Zia And Zayn Pair Of Mafia
bag-49



Zia sudah sampai di mobil dan menaruh semua belanjaan mereka di bagasi. Lalu Zia mendapat pesan notifikasi dari Zayn.


pesan notifikasi


🤞😑Patner lucknut: Dek gue udah nemu tempatnya di lantai 3 di cafe NAMEERA deket toko Dankindonat."


😎Gue: Iya bawel gue ke sana sekarang.


🤞😑Patner lucknut:Oke gue tunggu.


"Ih bikes dasar adek gak punya sopan santun, cuma di read aja." kesal Zayn karena pesannya hanya di read tanpa di balas oleh Zia.


Zia hanya membaca pesan dan tak membalasnya dan langsung memasukkan hpnya ke saku. Zia pun segera ke sana bergegas menemui kakaknya yang rese dan bawel.Dia melangkahkan kakinya sedikit cepat karena sekarang kakaknya ada di lantai 3.


Namun belum Zia sampainke lantai 3, tiba-tiba ada yang meminta tolong, dan ternyata ada seorang wanita kecopetan wanita itu berlari dan mengejar pencopet.


"Tolong.... Copet... copet... " teriak wanita itu,setelah mendengar teriakannya Security datang menghampiri wanita itu.


"kemana bu copetnya?."tanya nya.


" Ke sana."tunjuk wanita itu, dia menunjuk jika copet nya lari ke lantai bawah.Dan dibawah Zia sedang menunggu copet itu datang,Zia pun langsung berlari keluar dia menunggu copet itu di luar karena tak mau jika nanti di dalam ada yang terluka.


Security itu lari mengejar pencopet itu, hingga sampai luar mall dia masih mengejar, namun kejadiannya berhenti di parkiran dan sudah ada yang menangkap copet itu, dan itu adalah Zia. Zia memegang tangan copet itu dan menguncinya ke belakang agar copet tak bisa kabur, setelah itu dia mengambil tas yang di copet nya, security itu mendekati Zia yang sudah menangkap pencopet.


"Ini pak tasnya, tolong berikan pada ibu tadi yang kecopetan, jika ada uang yang hilang atau terambil, katakan saja padaku, nanti saya yang akan menggantinya." Zia


menyerahkan tas itu kepada security.


"Iya terima kasih nona, saya akan berikan tasnya, tapi saya harus membawa pencopetnya ke kantor polisi." ucap security itu, karena tak akan membiarkan dia kabur.


"Saya yang akan membawa dia ke kantor polisi, kau tak perlu khawatir dia tak akan kabur." yakin Zia padahal dia tak akan membawanya ke polisi karena dia merasa kasihan, pencopet itu adalah bapak bapak berumur 30-an sepertinya dia sangat membutuhkan uang jadi dia pasti terpaksa melakukannya.


"Baik nona saya percaya kan pada anda tapi jika anda membebaskannya saya akan tetap menuntut dia.Kalau begitu saya permisi." akhirnya dia mempercayakan copet itu pada Zia dan si pergi untuk memberikan tas itu pada pemiliknya.


Setelah security itu pergi Zia melepas tangan copet itu, dan tiba-tiba dia bersimpuh di kaki Zia dan memohon.


"Ampuni saya nona, tolong jangan bawa saya ke kantor polisi, saya terpaksa melakukannya karena saya tak punya uang, anak saya sakit jadi saya terpaksa mencopet." mohon bapak itu.


Zia yang melihat bapak itu menyentuh kakinya karena memohon,Zia langsung membantu bapak itu berdiri, Zia sangat tak suka jika ada orang baik sampai harus menyentuh kakinya.


"Bapak kau tak perlu menyentuh kakiku, saya tak pantas karena saya lebih muda dari anda." ucap Zia karena merasa tak enak di perlakukan seperti itu.


Bapak itu pun berdiri namun masih menundukkan kepalanya.


"Saya tak akan melaporkan bapak ke kantor polisi, saya akan membantu bapak, apakah bapak butuh pekerjaan?." tanya Zia yang ingin memberi bapak itu pekerjaan.


"Iya non saya sangat butuh pekerjaan." yakin bapak itu karena dia sangat membutuhkan pekerjaan agar dia tak mencopet lagi.


"Baik, bagaimana kalau bapak bekerja dengan saya, saya akan jadikan bapak penjaga Villa saya yang ada di perbukitan, bapak di sana hanya menjaga dan merawat Villa saya agar tetap terawat, apakah bapak mau." ujar Zia karena dia baru membeli sebuah Villa.


"Iya non, saya mau,tapi bagaimana dengan anak saya, saya tak bisa jauh dari dia." bapak itu mengiyakan.


"bapak tak perlu khawatir, di sana ada rumah di dekat Villa saya menyediakan untuk rumah itu untuk penjaga yang berjaga di sana." jelas Zia karena dia juga tak mau melihat bapak itu berpisah dari anaknya.


"Dan nanti sore bapak datang ke alamat ini bawa anak dan juga semua barang bapak, nanti akan ada yang mengantar bapak ke Villa saya." tambah Zia.Dan memberikan kartu alamat rumahnya.


"Iya sama sama pak, oh ya nama bapak siapa?." tanya Zia karena belum mengetahui nama bapak itu.


"Saya Salam, dan nona sendiri siapa namanya?." tanya Salam karena belum mengetahui orang yang menolongnya.


"Saya Zia." ucap nya singkat.


"Sekali lagi saya ucapkan terima kasih telah membantu saya." Salam masih mengucapkan tetima kasih.


"Iya Pak tak usah sungkan,jika pak salam perlu sesuatu katakan saja." Ucap Zia.


"Tidak ini sudah lebih dari cukup anda telah memberi saya pekerjaan, dan saya janji akan melakukan yang terbaik untuk nona." Salam sangat berhutang budi pada Zia dan dia akan melakukan yang terbaik untuk Zia.


Zia hanya mengangguk dia merasa prihatin akan keadaan pak Salam jadi dia memberikan pekerjaan agar pak Salam tak mencuri lagi.


"kalau begitu saya harus pergi pasti anak saya sedang menunggu saya, dia sedang sakit jadi saya tak bisa meninggalkan dia." pamit Salam dan membungkukkan setengah badannya.


"Tunggu pak, anak bapak sudah di bawa ke rumah sakit?." tanya Zia karena tadi Salam mengatakn bahwa dia tak punya uang untuk anaknya berobat.


"saya tak bisa membawanya ke rumah sakit Non, karena saya tak punya uang, jadi saya akan merawatnya sampai sembuh." jelasnya karena memang Salam tak punya umah untuk membawa putranya ke rumah sakit.


"Ya sudah ini bapak terima uang dari saya." ucap Zia sembari memberikan uang pada Salam.


"Tidak usah nona Zia, saya tak mau di kasihani." tolak nya.


"bapak harus terima,ini adalah uang kerja bapak, saya kasih sekarang uang gaji bapak untuk anak bapak berobat." jelas Zia agar Salam mau menerima uangnya.


"Oh kalau seperti itu saya akan menerimanya, jadi non bisa potong gaji saya tiap bulan.Terima kasih banyak karena non bersedia membantu saya." Salam menerima uang itu dan berterima kasih lagi pas Zia.


"Iya Pak tak berterima kasih, sekarang bapak cepet bawa anak bapak ke rumah sakit." ucap Zia dan Salam pun mengangguk dan dia berpamitan agar dia segera membawa putranya yang sakit.


Zia hanya mengangguk dan membiarkan Salam pergi untuk mengantar anaknya menangis rumah sakit. Zia sampai lupa kalau Zayn menunggunya pasti Zayn akan marah karena menunggu Zia terlalu lama.


"aduh gue lupa kakak pkan lagi nunggu gue pasti dia marah." gerutu Zia frustasi, dan dia langsung berlari ke dalam mall karena Zayn sudah menunggunya, Zia tak mau kena omelan bawel dari Zayn.


...----------------...


"Zia....!!! lo lama banget sihhh, gue kesel udah nunggu lo dari tadi, kasihan Opa sama Oma juga udah nunggu.... Dasar tuhh anak bikin emosi aja." gerutu Zayn dalam hati, dia sangat kesal karena hampir satu jam Zayn dan juga Opa Oma nya menunggu Zia.


Dimas dan Fitri juga sudah lama menunggu kedatangan Zia, namun yang di tunggu tak kunjung datang.


"Zayn mana Zia, kenapa dia belum juga datang?." Fitri bertanya karena sudah lama menunggu namun Zia tak kunjung muncul.


"Iya mana Zia, Zayn." tambah Dimas karena sudah sedikit lelah menunggu kedatangan Zia.


"Opa Oma agar ya Zia bentar lagi pasti dateng." ucap Zayn agar Fitri dan Dimas bisa lebih bersabar.


Beberapa saat kemudian benar saja Zia pun datang dan sedang mencari cafe, yang di katakan Zayn tadi lewat pesan.


Zia akhirnya menemukan cafe itu dia masih ngos ngosan karena tadi Zia berlari.


Dan dia melihat Zayn di meja no. 23 sedang bersama dua orang paruh baya dan itu membuatnya bingung, dengan siapakah Zayn, itulah pertanyaan yang ada. dalam pikirannya.