
"Mau apa lo?." tanya Zia datar tanpa menoleh ke Rayyan.
"Zi.... gue kangen sama lo, kenapa lo berubah kayak gini Zi? mana Zia yang gue kenal." ucap Rayyan dengan raut wajah sedih, melihat perubahan Zia membuatnya semakin merasa bersalah.
"Heh..... Zia yang dulu udah mati, bersamaan dengan kepergian orang yang tak pasti." ucapnya dengan penuh penekanan, membuat Rayyan tertohok, dan diam membisu
Semua teman yang mendengar perkataan Ziamerasa kasihan, pasalnya Zia sangat-sangat berubah drastis entah sejak kapan Zia berubah, yang pasti Zia berubah karena ulah Rayyan yang tiba-tiba pergi tanpa memberi alasan dan kabar yang jelas, mereka tahu jika Zia selalu menunggu Rayyan datang, berharap bisa menghiburnya,namun Rayyan tak kunjung datang, dan Zia mulai menyibukkan dirinya di perusahaan dan juga di markas mafianya, hanya sekedar untuk melupakan perasaannya pada Rayyan.
Zia seperti melupakan teman-temannya, terkadang dia tak ikut kumpul seperti dulu, bahkan ketika markas dalam masalah Zia selalu turun tangan sendiri dan menghabisi musuh dengan brutal, membuat sesiapa saja akan langsung begidik ngeri dengan perubahan ganas Zia.
"Dan lo gak usah dateng lagi kesini, karena gue gak butuh lo ada di sini." tegas Zia dengan dingin, dia pun pergi meninggalkan Rayyan dan juga semua temannya, seakan dia tak peduli pada mereka semua.Rayyan hanya mendesah berat, rasanya dadanya sangatlah sesak seperti tertimpa baru besar.
Zayn dan juga yang lain hanya bisa diam, mereka tak bisa membantu Rayyan. Rayyan memandang kepergian Zia dengan rasa sakit, karena perkataan Zia yang sudah tak membutuhkannya. Zayn menepuk pundak Rayyan mencoba menguatkan Rayyan.
"Lo harus sabar... Yan gue yakin Zia masih mengharapkan lo balik, tapi dia juga butuh waktu untuk membuka hatinya lagi." jelas Zayn.
"Ya Zayn gue bakal nunggu dia, ini juga kesalahan gue." lirihnya, dia sudah tak sanggup bicara lagi.
"Gue tahu lo pasti bisa membuka hati Zia lagi, lo harus berusaha, nanti kita bantu buat deketin lo sama Zia." Mila ikut menyemangati.
"Iya Rayyan.... lo harus jelasin semuanya sama Zia, biar dia gak salah paham, gue yakin jika Zia tahu apa alasannya pasti dia akan memaklumi." tambah Yumna yang ingin melihat Rayyan memperbaiki semuanya.
Rayyan tersenyum kepada semua temannya, dia sangat senang semua temannya mendukungnya dan mau membantu mendapatkan hati Zia lagi, Rayyan juga yakin jika Zia masih menyimpan namanya dalam hati.
"Makasih.... lo semua emang best friend, gue beruntung milikin lo semua."
"Iyalah kita semua kan akan tetap bersama suka dan duka." Ucap Siti. Karena hari sudah malam mereka pun menyudahi obrolan.
"Zayn gue duluan ya, soalnya ayah gue udah nunggu." ucap Rayyan.
"Gue bakal terus dateng ke sini untuk mengambil hati lo Zi.... gue janji sama lo."
"Oh ya udah."Rayyan pun beranjak dari duduk dan pergi meninggalkan mereka semua.
"Zayn udah malem ni.... gue sama Mila juga pamit ya." pamit Yumna.
"Iya nih gue juga mau pulang yang gak beb."Tambah Dika sambil bergelayut manja pada Siti.Zayn yang melihat itu hanya memutuar bola mata nya malas.
"Idih bucin.... udah sono pada balik, gercep biar dapet momongan, gue udah pengin lihat kalian jadi orang tua." ucap Zayn yang melihat kemesraan para sahabat nya.
"Iya siap itu mah, lo juga bentar lagi jadi suami jangan lupa bermainnya beberapa ronde pasti lo bakal melayang." bisik Dika di telinga Zayn.
plakkk....
"Aduh sakit ogeb, gak usah mukul kali.... santai aja nanti juga lo bakal ngerasain." ledek Dika, Zayn akan melayangkan pukulannya lagi namun Dika udah keburu lari.
"Heh awas ya lo, gue do'ain lo gak bakal dapet jatah dari istri lo." Teriak Zayn, namun Dika malah meledek nya dengan menjulurkan lidahnya. Merka semua hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah konyol Dika dan Zayn.
"Sejak kapan Dika jadi mesum Sit?." tanya Zayn yang melihat tingkah mesum Dika, yang sebelumnya tak pernah dia lihat.
"Lo gak usah samain gue sama keong sawah itu, gue sama dia tuh beda." kesal Zayn.Yumna hanya terkekeh.
"Ya udah Zayn aku mau nyusul Dika dulu. bye..... " Siti pun beranjak menyusul Dika yang sudah lebih dulu keluar.
"Zayn gue balik ok.... hibur Zia biar dia ceria lagi kaya dulu,lo kan paling tahu Zia." ucap Mila yang tak mau melihat Zia terus menerus dalam zona datar.
"Lo tenang aja gue bakal buat Zia kembali seperti Zia yang dulu."
"Ya udah kita balik ni."Yumna dan Mila pun beranjak pergi, dia mengantar sampai di depan gerbang melihat semua temannya pulang. Setelah melihat mereka semua sudah jauh dari pandangannya Zayn pun masuk ke rumahnya.
"Sepertinya Zia udah tidur, ya sudah besok aja gue ngomongnya sama dia."Ucap Zayn yang melewati kamar Zia, tadinya Zayn ingin bicara namun dia urungkan karena Zia mungkin butuh waktu sendiri. Zayn pun pergi ke kamarnya dia juga sudah sangat lelah.
Di mobil Yumna melihat sejak tadi Mila hanya diam memandang kosong ke arah jalan dari balik jendela. Yumna pun menyentuh tangan Mila lembut, membuat Mila tersadar dari lamunan nya.
"Sayang kamu kenapa?apa kamu sakit?." Tanya Yumna lembut, Mila pun menengok menatap Yumna lampu menggeleng.
"Em... aku baik sayang." ucapnya dengan tersenyum.
"Lalu kenapa melamun hemm?."
"Anu.... aku rindu Zia yang dulu, sekarang Zia semakin menjauh dari kita dia berubah, aku sangat merindukan senyumnya." ungkap Mila yang memang merindukan sosok Zia yang penyayang dan suka tersenyum, tapi sekarang mereka seperti orang asing di mata Zia. Yumna pun menggengam erat tangan Mila dia tahu apa yang sekarang istrinya rasakan.
"Zia pasti akan kembali seperti dulu lagi, kita do'akan saja yang terbaik untuk nya." Yumna mencoba menghibur Mila agar tak bersedih.
"Iya.... aku percaya Zia ku pasti akan kembali, tapi kenapa... "
Mila tak meneruskan ucapannya, air matanya sudah menetes membasahi pipinya. Mila pun menundukkan kepala nya. Yumna yang melihat Mila menangis, dia pun menepikan mobilnya.
"Hey.... sayang janganlah menangis... " Yumna memegang dagu Mila dan menegadahkannya sehingga wajah cantik Mila berhadapan langsung dengan wajah tampan suaminya.Yumna mengusap lembut pipi Mila yang sudah di penuhi air matanya.
"Sayang.... jangan bersedih ok, ingat sahabatmu sekarang membutuhkanmu, kita harus membantu Zia keluar dari masalah ini, jadi kau harus bisa terus ada di sampingnya, jika kau bersedih siapa lagi yang akan membantu Zia?." jelas Yumna. Mila pun mengangguk.
"Ya sudah jangan nangis lagi, senyum dong." Mila pun tersenyum dia memang tak bisa bersedih lama jika sedang dengan Yumna, dia pasti selalu bisa membuat Mila tersenyum.
"Nah.... itu baru manis, ya sudah sekarang kita pulang, aku sudah tak sabar ingin buat junior Yumna, ayo kita main sampe pagi." goda Yumna smbil mengedipkan matanya dan membuat Mila merona.
"Ih mesum." Mila mencubit pinggang Yumna dan berlari masuk ke dalam mobil.
"Sayang sakit tahu, aku tak akan mengampunimu malam ini." ancam Yumna, dia pun masuk kedalam mobilnya.
"Aku tak takut dengan hukumanmu."
"Oh benarkah baiklah akan ku buat puas kau malam ini." bisik Yumna di telinga Mila membuat Mila sedikit begidik. Mila pun hanya menanggapinya dengan tersenyum malu-malu. Mereka pun melanjutkan perjalanan pulang, menyusuri malam yang penuh dengan keindahan.
Maaf jika visualnya kurang sesuai๐๐ semoga kakak menyukai visual yang saya perlihatkan dalam bab ini.
Terima kasih๐๐