Zia And Zayn Pair Of Mafia

Zia And Zayn Pair Of Mafia
bag-125



Sesampainya di parkiran Zia masih menetralkan debar jantungnya, dia mengelus dadanya berharap detak jantungnya kembali normal. Dia tahu ini adalah perasaan apa karena dia pernah merasakan hal ini dengan orang lain, tapi ini lebih hebat getaran hatinya seakan meminta kenyaman dari Dian.


"Oh jantungku...kenapa setiap kali mataku dan matanya bertemu jantungku berpacu hebat? seakan ada cinta di antara aku dan dia....." Zia menyadari jika getaran itu adalah getaran perasaan cinta yang tanpa sengaja tercipta di hatinya.


"Sudahlah aku tak mau memikirkannya." Zia beranjak dari duduknya menuju kamar mandi. Zia berendam sejenak untuk menghilangkan pegal di tubuhnya. Setengah jam kemudian Zia membilas tubuhnya dia menyudahi kegiatannya, karena sudah gelap. Dia bersiap makan malam, pelayan sudah menyiapkan makan malam dengan tepat waktu seperti biasanya.


Selesai makan Zia bersantai sejenak sambil memeriksa pembangunan mall yang sudah berjalan sebulan lebih. Suara bel paviliun berbunyi Zia pun memanggil pelayan, namun mereka tidak ada yang mendengar dengan terpaksa Zia bangkit dan berjalan menuju pintu.


Pintu di buka oleh Zia, dan tampaklah Arif tangan kanan dari rekan bisnisnya yaitu Dian, yang membuat Zia heran adalah di tangannya terdapat sebuket bunga yang indah, tapi dia bertanya untuk siapa buket bunga tersebut.


"Selamat malam nona Zia..... maaf menganggu waktu istirahat anda." Sapa Arif dengan membungkukan badannya.


"Oh... iya tidak apa, memangnya ada keperluan apa? dan mengapa kau membawa buket bunga?." Zia langsung bertanya mengenai buket tersebut.


"Kedatangan saya kesini untuk mengantar buket ini untuk anda nona.... " ucap Arif membuat Zia semakin bingung.


"Hah untuk saya? tapi saya tidak pernah memesan buket ini." Zia tidak pernah memesan buket pada siapapun.


"Iya nona saya mengerti, tapi ini adalah titipan dari seseorang, jadi mohon diterima. " Arif tidak bisa menjelaskannya langsung, karena Zia akan mengetahui jika sudah membaca surat yang ada di buket tersebut. Dengan ragu dan tanpa bertanya lagi Zia mengangguk menyetujui dan dia tidak menyangka jika itu adalah bunga kesukaannya.


"Baiklah aku terima buket ini." Arif memberikannya pada Zia, hatinya bahagia karena Zia mau menerimanya.


"Terima kasih nona... kalau begitu saya permisi." Arif pamit Zia hanya mengangguk. Zia membawa buket itu ke dalam dan ingin tahu siapa yang memberi ini padanya, dan kenapa seseorang yang memberi buket tersebut tahu jika dia menyukai bunga Aster.



Buket indah dengan bunga Aster merah dan putih, meski Zia hanya menyukai aster putih tapi tidak masalah jika keduanya di masukan dalam sebuah buket. Zia adalah pecinta Aster karena warna bunganya beragam tapi dia sangat suka warna putih. Dia menyukainya karena bunga Aster putih melambangkan kesederhanaan dan kesucian. Karena Zia hanya ingin hidup sederhana meski pada kenyataannya dia sangatlah kaya.


"Siapa yang memberi bunga ini....? dan kenapa dia tahu jika aku suka bunga aster?."Zia bertanya-tanya siapa yang memberi dia bunga, Zia membuka surat yang ada di dalam nya.


Zia membuka surat itu hatinya tidak tenang karena dia takut jika ada yang sedang menyukainya, karena saat ini dia enggan memikirkan masalah hubungan atau masalh perasaan. Zia membaca isi surat tersebut isi surat nya adalah....


💕 Semoga kamu menyukai bunga ini .... maaf karena memberimu tanpa bertemu.... dan jika itu membuat mu tidak nyaman kamu bisa membuangnya, tapi pasti besok akan datang lagi dengan warna yang berbeda dan surat berbeda pula...... setiap malam aku akan mengirimkan bunga Aster untukmu, untuk menemani malammu..... semoga aku tidak mengusik ketenangan paviliun mu..... dan aku berharap kamu tidak membuangnya.....


from : Dian Adiguna


"Ternyata Dian..... kenapa harus membuangnya? inikan bunga yang kusukai... jika dibunag maka aku akan menghancurkan yang aku sukai... dasar lelaki ini.... bahkan untuk apa dia mengirimnya setiap malam." gumam Zia, dia tidak menyangka Dian melakukan hal ini, karena yang Zia tahu Dian adalah kelai cuek dan hampir sama dengannya datar dan dingin.


Zia membawa bunga tersebut ke ruang kerja, karena Zia akan melembur malam ini, dia harus segera menyelesaikan pekerjaannya di sini. Di temani sebuket bunga kesukaannya dengan keheningan malam yang semakin melarut, Dian sengaja mengirimkan buket bunga lewat asisten pribadinya, harapannya adalah semoga Zia sedikit demi sedikit bisa menerimanya.


Dia juga merasakan jika Dian menjauhinya, padahal pada saat makan malam bersama Dian mengajaknya menjadi teman dekatnya, Zia tidak mempermasalahkan sikap acuhnya selama sebulan padanya, karena dia juga tidak ingin tahu apa alasan Dian bersikap sedemikian rupa.


"Padahal dia bersikap cuek setelah makan malam sebulan yang lalu, dan sekarang dia memberiku buket.... dasar pria aneh. " Zia juga melihat kecuekan yang di tampakkan padanya.


"Huhh.... ya sudahlah mungkin ucapannya sebulan lalu baru dia lakukan sekarang... " Zia kembali melanjutkan pekerjaannya.


...----------------...


Arif kembali ke villa untuk memberitahu jika buket bunganya telah di terima, dia juga bahagia saat tadi Zia menerima buket pemberian tuannya. Sungguh Arif berharap mereka berjodoh, karena baru kali ini dia melihat perjuangan besar Dian demi orang yang sangat dia cintai.


"Tuan pasti bahagia..... semoga ini awal yang baik untuk hubungan anda dengan nona Zia, dan berharap akan menjadi akhir yang baik pula." harap Arif, dia juga sangat setuju tuannya berjodoh dengan Zia.


Arif masuk ke dlam villa dan menuju ruangan pribadi Dian, dia mengetuk pintu dan di persilahkan masuk ke dalam.


"Bagaimana? apa dia menerimanya?." tanya Dian langsung, karena ingin tahu apakah Zia menerimanya atau malah menolaknya.


"Nona Zia menerima nya dengan baik tuan, meski awalnya sedikit ragu." tuturnya. Dian yang mendengar hal tersebut sangat senang.


"Benarkah?.... syukurlah jika begitu, aku akan terus berusaha sampai Zia mau menerimaku."


"Ya sudah kembali, dan istirahatlah." Dian pun memperbolehkan Arif pergi karena misi awal sudah beres.


"Baik tuan kalau begitu saya permisi.... " pamitnya sambil membungkukkan badan, dan di angguki oleh Dian. Senyum terus mengembang di bibirnya, dia membayangkan Zia yang menerima buket pemberiannya.


"Akhirnya.... dia menerima buket yang aku berikan padanya." Dian senang setengah matur, baru saja Zia menerima bunga darinya, bagaimana jika Zia menerima peryataan cintanya, pasti akan membuat Dian terbang dia langit biru.


Dian sudah merangkai berbagai macam misi untuk bisa lebih dekat lagi dengan Zia, dia akan berusaha mengambil hati Zia bagaimanapun caranya, yang terpenting Dian tidak menggunakan cara kotor atau dengan cara yang salah, karena dia meyakini jika ingin mendapat hubungan baik, maka lakukanlah cara yang baik pula untuk bisa mendapatkannya, maka jika itu sudah di lakukan hasilnya akan mendapat hubungan baik pula, begitu juga sebaliknya.


Oleh karenanya sesulit apapun dia mendapatkan Zia, Dian akan terus berusaha hingga Zia benar-benar mau menerima perjuangan cintanya dengan hati lapang, tanpa mengingat masa lalu, karena akan sulit mendekati seseorang yang belum selesai dengan masa lalunya. Jadi Dian melakukan dengan perlahan, hingga luka Zia benar-benar pulih.