
Zia dan Rain langsung menuju rumah sakit dimana Nancy bersalin, dia sudah tidak sabar ingin melihat keponakannya yang sudah lahir.
"Gimana kabar kamu Rain?.... apa ujiannya sudah selesai?." tanya Zia, karena dia jarang memberi kabar pada Raina.
"Aku baik dan sehat, masalah ujian aku sudah selesai Zi.... tinggal menunggu hasil seleksi akhir agar aku bisa mendapatkan sertifikat kemandirian untuk menjadi desainer." jelas Raina, dia tinggal menunggu hasil seleksi akhir dan baru dia akan menjadi desainer.
Zia senang mendengar Raina yang sudah bisa melupakan masa lalunya, meski Zia tahu kalau semua itu tidaklah mudah, karena dia pernah di posisi nya. Ternyata benar tidak merasakan apa yang seseorang rasakan, tidak menjamin mereka akan memahami, terkadang merasakan dulu baru bisa memahami.
Dan Zia sudah bisa memahami perasaan Raina, dia juga pernah dalam posisi seperti Raina. Zia senang Raina mau berbaur lagi dengan orang lain, dan semoga itu akan terus berlanjut sampai Raina benar-benar melupakan kesedihannya.
Dia sudah memaafkan semua yang dulu Raina lakukan, atas kejadian yang tak terduga, mereka sudah melupakan hal itu, dan tidak akan mengulangi nya lagi, mereka akan jadikan kejadian lalu sebagai pelajaran.
"Akhirnya kamu sudah menjadi desainer, aku akan membantu mengembangkan butik mu dan juga jika kamu membutuhkan sesuatu beritahu aku saja." Jelasnya, Zia akan membantu Raina untuk bangkit dan mewujudkan impiannya menjadi desainer terkenal.
Raina tersenyum, dia bahagia mendapatkan sahabat sebaik Zia, jika bukan karena dia mungkin kini Raina masih mendekam di dalam penjara.
"Iya Zi..... makasih banget kamu udah bantu aku sampai sejauh ini." ucapnya dengan senyum tulusnya, dia terkadang menyesal karena dulu pernah berbuat buruk padanya, namun apa yang dibalas Zia padanya adalah sebuah kebaikan yang tidak bisa Raina bayar hanya dengan ucapan 'Terima kasih'.
"Sudahlah Rain..... aku senang bisa membantumu, bahkan kamu lebih dari sekedar sahabat, kamu sudah menjadi saudaraku." Zia tidak merasa keberatan dengan hal itu, malah dia senang bisa membantu sahabat nya. Dia tahu pasti berat ketika seorang anak kurang kasih sayang orang tua mereka.
Mereka tersenyum bersama, dan tanpa terasa mereka sudah sampai di depan rumah sakit megah, Raina memarkirkan mobilnya. Zia dan Raina langsung menuju ruang rawat Nancy, Zia tampak sudah tidak sabar ingin melihat baby boy milik Zayn dan Nancy.
"Kakek....." Teriak Zia pada Ilham, dan berlari memeluk sang kakek, dan bergantian memeluk Hiashi.
"Wah.... cucu kakek sudah pulang, apa pekerjaan mu sudah beres?." Tanya Ilham.
"Beres kek.. semuanya berjalan lancar. " Jelas Zia dengan penuh ceria, kini sifat dingin Zia mulai menghangat kembali, Hiashi senang melihat Zia tersenyum ceria lagi setelah sekian lama.
"Oh ya mana baby boy nya.... aku mau lihat." Zia mencari di sekitar jendela ruangan bayi.
Ya Zia langsung pergi ke tempat penyimpanan bayi, karena sudah tidak sabar, dan ternyata kakek dan ayahnya juga berada di sana.
"Lihat itu yang di selimuti kain biru tua." Hiashi menunjuk ke arah ranjang bayi yang di ujung kanan dengan selimut berwarna biru tua.
Zia menatap kesana dan dia menemukan box bayi milik keponakannya. Zia tersenyum bahagia melihat keponakannya yang baru lahir, dia tidak menyangka sudah menjadi bibi.
"Ihh gemes banget sih.... lihat ayah dia sangat tampan seperti kakak... " Zia memuji ketampanan keponakannya, meski belum terlihat jelas tapi dia yakin keponakannya akan menjadi lelaki yang tampan seperti Zayn.
"Benar Nak.... dia sangat mirip Zayn dan juga mirip ibunya jadi perpaduan keduanya ada padanya." Hiashi juga melihat ketampanan pada cucunya yang tercampur anatara ayah dan ibunya.
"Tapi ada perbedaan paman.... lihatlah bulu mata dan bibir indahnya itu, sangat persis Zia dan itu terlihat jelas sekali." jelas Raina, dia memang melihat sisi berbeda di bibir dan bulu matanya, sontak semua melihat ke arah baby boy.
"Yang benar saja Rain, dia kan cetakan Nancy dan kak Zayn mana mungkin ada yang mirip dengan aku." heran Zia, sambil meneliti bulu mata dan bibirnya.
"Memang mirip... kakek juga merasa ucapan Rain benar." Ilham juga membenarkan.
"Itu karena Nancy sangat menyukai Zia, dan mungkin Nancy senang berada di dekat Zia." Hiashi menjelaskan bisa saja karena Nancy senang dekat berada di dekat Zia, dan itu memicu kepiripan pada bulu mata dan juga bibirnya.
Mereka hanya manggut-manggut mendengar penjelasan Hiashi, dan menurutnya itu memang bisa terjadi dan itu lumrah di setiap keluarga, karena masih satu darah.
Mereka hanya tertawa mendengar celoteh Zia, setelah puas melihat sang keponakan, Zia dan Rain pergi untuk melihat keadaan Nancy, semantara Hiashi dan Ilham pulang karena ada hal penting di perusahaan yang harus mereka urus.
"Kakak ipar.... " panggil Zia, dia langsung memeluk Nancy, membuat dia terkejut.
"Zia kamu sudah kembali...... ohh syukurlah aku senang." ucap Nancy sambil masih memeluk Zia.
"Iya aku pulang, pekerjaan disana sudah selesai, dan mendengar kakak melahirkan aku langsung menuju kemari." Zia melepas pelukannya, dan duduk di samping brankar Nancy berbaring.
Raina juga ikut duduk di sofa tidak jauh dari keduanya, melihat keakraban mereka membuat Raina bahagia. Zia terus bercerita kisahnya selama di pekerjaan, hingga dia bisa sangat dekat dengan Dian.
"Wah..... ternyata benar Rain ada kabar bahagia lagi, lihat yang dulu mengatakan tidak akan terjerat cinta, eh malah sekarang dia semakin dekat dengan seseorang yang mencintai nya, bahkan aku yakin jika Zia sekarang pasti sedang jatuh hati pada Dian." ledek Nancy, membuat Zia malu-malu, Raina juga yakin jika Zia sekarang sedang di mabuk cinta.
"Sudahlah Nan..... biarkan mereka menuntasakan rasa hingga ke pelaminan, aku juga ingin sekali melihat putri dingin ini menikah." Raina juga tidak sabar melihat Dian dan Zia segera menikah, dan melanjutkan kisah cinta mereka.
Zia masih tidak berbicara apapun, dia bahkan sedang tersenyum sangat manis. Zia sudah yakin bahwa Dian adalah pilihan yang tepat, dia juga ingin segera menghalalkan hubungan mereka. Mereka berbincang dengan sangat bahagia, di hari ini kebahagiaan sudah bertambah double.
Nancy sudah tahu jika Zayn sedang ada urusan dengan Dian, Raina mengatakan nya disaat Zia pergi ke toilet. Pasti Dian ingin membicarakan hal yang sangat penting, mungkin meminta izin pada Zayn, karena bagaimanapun dia adalah kakak dari calonnya.
...----------------...
Sementara Dian dan Zayn mereka baru saja tiba di tempat tujuan, Zayn sudah menebak jika Dian pasti ingin membicarakan perihal hubungannya dengan Zia. Dian sudah memesan kursi untuk mereka berbincang, sekalian untuk membahas bisnis juga.
"Bagaimana proyeknya?." tanya Zayn untuk permulaan pertemuan mereka, karena Dian sedikit tegang, mungkin karena dia akan membicarakan masalah serius mengenai hubungan dia dengan Zia yang akan dia lanjutkan ke jenjang pernikahan.
"Proyeknya sudah selesai dengan hasil memuaskan, dan minggu depan sudah bisa beroperasi." jelasnya, namun tetap saja dia masih terlihat tegang.
Zayn tahu jika Dian sedang gugup, karena saat ini dia berhadapan langsung dengan kakak dari wanita yang dia cintai. Sampai pesanan mereka datang.
"Minumlah dulu Dian..... kamu terlihat gugup sekali sekarang, santai saja aku tahu kamu pasti ingin membicarakan nya sekarang kan?. " tebak Zayn di kala Dian masih dalam kegugupan.
Dian hanya tersenyum malu, dia meneguk minuman yang baru di pesannya. Dan mencoba menenangkan diri, berusaha santai seperti yang di ucapkan Zayn tadi.
"Benar.... memang hal itu yang ingin aku bicarakan denganmu, sebelum nanti aku menemui ayahmu, dan ini juga alasanku kenapa tidak langsung pulang." jelasnya dan itu membuat Zayn tersenyum, akhirnya adiknya dan juga Dian bisa saling mencintai, meski awalnya mereka hanyalah orang asing.
"Baguslah jika memang benar kamu berniat serius, maka aku akan mendukungmu, semoga kamu berhasil dan segera menikah dengan Zia." Zayn senang akhirnya adik kesayangannya akan menikah, dan dia yakin Zia akan aman bersamanya.
"Aku sudah meyakinkan diri Zayn, bahwa wanita pilihanku adalah Zia, dan aku akan menjaga dan selalu menyayangi nya, dan aku tidak akan membuat dia terluka lagi." terangnya, dia memang sudah yakin akan pilihan nya.
"Lalu kapan kamu akan melamarnya?." tanya Zayn langsung untuk memastikan bahwa Dian benar-benar serius dengan Zia.
"Aku akan mempersiapkan segalanya dulu, mungkin dua minggu ke depan aku akan datang melamar. Sementara itu besok aku akan menemui keluargamu." jelasnya dengan sangat tenang, tidak seperti tadi yang terlihat tegang. Dan terlihat keseriusan di sorot matanya.
Zayn sudah tenang, kini tinggal menunggu keduanya terikat menjadi suami dan istri, dan melihat kebahagiaan adiknya yang dari dulu selalu mendapatkan luka.
"Aku akan menunggu kamu datang melamar adikku, semoga kamu benar-benar jodoh yang tepat untuknya, dan jagalah dia jangan sampai kamu menyakitinya." Zayn hanya akan menunggu Dian datang ke rumah keluarganya untuk meminta restu.