
Raina masih bercerita tentang kisah hidupnya dan perasaannya yang ternyata berlabuh pada orang yang sudah memberikan cinta nya pada orang lain. Hatinya sakit dan telah di butakan oleh keirian di dalam hatinya, yang membuatnya nekat melakukan hal keji.
"Alasanku adalah aku sangat iri hati padanya, aku iri pada Zia yang selalu mendapatkan kasih sayang dari keluarga dan orang lain, dan juga di cintai oleh banyak orang, aku iri padanya.... " tangis Raina akhirnya luruh, pertahanan nya telah runtuh. Zayn dan Rayyan terkejut dengan alasan Raina, hanya di karenakan iri hati membuatnya menjadi wanita yang tega berbuat kotor.
Zayn yang tak terima dengan perkataan Raina yang tak tahu apapun tentang Zia, dia pun mencengkram leher Raina dengan keras membuat si empu terbatuk atas perlakukan kasar Zayn. Rayyan pun terkejut dengan perlakuan Zayn pada Raina.
"Brengsek lo....!!...lo gak tahu apapun tentang Zia, jadi gak usah berlagak kalau lo yang paling menderita hidupnya." bentak Zayn, Raina tak tahu apapun tentang masa lalu Zia dan dirinya yang menderita bahkan di lakukan oleh ayah kandungnya sendiri.
"Zayn lepasin lo bisa bunuh dia." cegah Rayyan agar Zayn melepaskannya, meski dia juga ingin membunuhnya, tapi masih banyak hal yang harus dia tanyakan pada Raina.
Namun Zayn tak mendengarkan apa yang di katakan Rayyan padanya, dia muak dengan wanita yang seperti Raina yang hanya karena iri bisa melakukan hal sejauh ini, dan ini telah membuktikan bahwa penyakit hati sangatlah berbahaya.
"Lo tahu Zia dan gue selalu berjuang mati-matian agar bisa mendapatkan kasih sayang dari ayah kami yang tega mengusir kami dari rumahnya, hidup dalam kesendirian adalah hal yang tak pernah kita inginkan, tapi terkadang situasi tak mendukung." Zayn semakin meninggikan suaranya. Rayyan pun tak bisa diam saja, dia segera melepaskan tangan Zayn agar berhenti mencengkram Raina yang sudah hampir mati.
"Gue bilang berhenti...!!." sentak Rayyan dengan keras membuat Zayn tersadar.
Zayn pun mengusap wajahnya kasar, dia terbawa emosi dengan ucapan Raina karena mengatakan jika Zia selalu mendapat kebahagiaan.
"Berhentilah bercerita, kami sudah mengetahui kebenarannya dari mulutmu, tapi gue mohon sama lo untuk tak membedakan penderitaanmu dengan penderitaan Zia, karena itu jelas berbeda." Rayyan juga muak dengan apa yang di katakan Raina tentang Zia.
"Lo tak tahu apapun jadi jangan berlagak jika lo tahu semuanya."
"Sekarang kita ke inti aja, gue mau nanya sama lo, buat apa lo bunuh ayah gue? dia tak bersalah sama lo tapi dengan tega lo malah bunuh." Rayyan langsung to the poin, dia ingin segera menyelesaikan semuanya.
"Gue pengin hubungan lo sama Zia hancur, karena gue udah terluka sakit hati sama dia. " ucapnya dengan santai tanpa rasa bersalah.
Zia membulatkan matanya sempurna, jadi Raina ingin menghancurkan hubungannya dengan Rayyan, tapi kini Zia benar-benar tidak bisa kembali pada Rayyan, karena ucapannya yang terlalu menusuk ke relung hatinya.
Rayyan tak habis pikir dengan jalan pikir Raina yang terlalu dangkal, Rayyan dengan tidak sabar melayangkan tamparan keras pada pipi Raina.
Plakkkkk.......
Suara tamparan menggema di ruangan tersebut, Rayyan dan Zayn sudah terbakar api amarah. Keduanya sudah muak dengan ocehan tak penting yang keluar dari mulut laknatnya. Raina tersenyum miring meremehkan keduanya, bahkan tak ada rasa takut yang hinggap pada dirinya.
"Hem.....gue gak takut sama semua yang mau lo lakuin." ucapnya dengan tersenyum mengejek.
"Itu baru pemanasan, dan kita baru akan memulai penyiksaan nya." seringai Rayyan dia mengambil sebilah belati dan mendekati tubuh Raina yang masih terikat, terlihatlah pipi nya yang merah akibat tamparan keras Raffa. Zayn tak bisa ikut menyiksa Raina, karena Nancy sedang hamil dia tak mau nantinya anaknya terlahir cacat.
"Lo urus dia.... gue mau ke kamar mandi ngademin kepala, dia udah buat gue terbakar amarah." Zayn pamit pergi, melihat Raina rasanya dia ingin ikut bermain bersama Rayyan tapi di berusaha untuk menahannya.
"Beres ini bisa gue urus." jawabnya dengan senang hati.
"Kita akan bermain Rain lo akan dapat balasan atas apa yang lo buat."
"Balasan? tentu saja, aku akan siap menerima itu." jawab Raina enteng dia memang sudah putus asa untuk hidup. Zayn telah kembali karena dia juga ingin menyaksikan hukuman Raina yang telah membuat Zia tersiksa. Rayyan menggores sedikit pipi mulus Raina dengan belati hingga mengeluarkan darah segar.
Raina hanya meringis sambil menahan sakit, kini dia sudah benar-benar pasrah, apapun yang di lakukan Rayyan dia akan menerimanya. Namun pada saat Rayyan akan menggores ke bagian yang lain, tiba-tiba mereka di kejutkan oleh dobrakan pintu yang keras.
Brakkk.....
Semua menoleh ke pintu yang di dobrak karena Zayn sudah mengatakan jangan ada yang mengganggu, semua terkejut mendapati ternyata Zia lah yang mendobrak pintu dengan keras, belati yang di pegang Rayyan seketika terlepas dari tangannya dan terjatuh ke lantai.
"Berhenti....!!." cegah Zia dengan tegas.
Zia berjalan santai mendekati ketiga nya, tatapannya langsung tertuju pada Raina, dia mengabaikan Rayyan dan Zayn. Banyak pertanyaan yang harus Zia tanyakan pada Raina.
Raina menatap Zia penuh dengan kebencian, di matanya Zia adalah wanita yang telah memberinya luka, Zia memandang sahabatnya dengan mata berkaca-kaca dia tidak tahu jika Raina menderita karenanya.
"Lihatlah akhirnya dia datang, aku berharap dia yang akan menjadi dewi kematianku, karena dia juga sudah menjadi dewi kematian bagi Varo. " Cercanya bahkan tanpa malu mengatakan jika Zia lah yang menjadi alasan Varo mati.
Rayyan dan Zayn mengepalkan tangannya tak terima dengan apa yang terucap dari bibir Raina, dia dengan teganya menyalahkan kematian Varo kepada Zia, yang bahkan Zia tak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada waktu itu.
"Tutup mulutmu lintah....caramu yang seperti itulah yang membuat Varo bersedih, jika saja dia masih hidup pasti dia sangat menyesal telah mengenalmu." hardik Rayyan, namun tak diidahkan oleh Raina.
Zia masih saja diam dengan cercaan dan hinaan yang Raina lontarkan, dia tak menanggapi pembelaan Rayyan padanya, Zia bahkan tak berniat membalas apa yang telah Raina lakukan.
Tanpa di sangka Zia tiba-tiba saja memeluk Raina erat, air matanya menetes bersamaan dengan tubuhnya yang memeluk tubuh Raina, Raina membulatkan matanya tak percaya dengan apa yang di lakukan Zia padanya. Rayyan dan Zayn pun sama, mereka terkejut dengan yang dilakukan Zia.
"Maafkan aku Rain.... " bisiknya di telinga Raina dengan suara lembutnya, membuat jantung Raina berdegup kencang hanya dengan bisikan lembut Zia. Raina masih diam tak membalas pelukan Zia atau menjawabnya.
Terasa nyaman itu yang di rasakan Raina saat ini, dia tan bisa menjelaskan rasa hangat pada pelukan yang di berikan Zia padanya. Hingga sedetik kemudian....
Tesss......
Air mata Raina luruh tak sanggup untuk berkata, hingga air matanya lah yang berbicara, bahwa kenapa Zia melakukan hal ini padahal Raina sudah berbuat jahat padanya dan juga yang lainnya. Zayn atau Rayyan hanya diam sambil melihat keharuan di antara keduanya, sehingga mereka tak berusaha melepaskan pelukan Zia pada Raina.
Zia melepas pelukannya dan menatap Raina dengan penuh kasih sayang seorang sahabat. Tangannya bergerak mengusap air mata Raina yang sudah membasahi pipinya, Zia tersenyum lembut padanya.
"Aku tahu kamu terluka, oleh karena itu hukumlah aku Rain, jika itu bisa membuat lukamu terobati. Tapi aku mohon padamu jangan putus asa, aku akan selalu ada untukmu. " ucapnya dengan serius namun sangat menghangatkan, Raina tak berani menatap Zia dia hanya menunduk malu, padahal ucapan dan perlakukannya sudah sangat keterlaluan pada Zia, tapi Zia masih saja menganggap dia sahabat.