
Sesampainya di kantor Zayn, semua yang melihat kedatangannya langsung menunduk hormat, Zia segara menuju ruangan Zayn, namun belum sampai di depan pintu ruangan Zayn, dia di cegat oleh Fian asisten pribadi Zayn.
"Maaf nona.... tuan Zayn sedang berbicara urusan penting dengan kliennya." cegah Fian, namun Zia tak menggubris ucapan Fian.
"Saya mohon nona ikuti aturan dalam perusahaan kami, atau nanti kami akan mengusir anda dari sini." ancam nya membuat Zia muak.
"Kebanyakan bacot lo ya.... ada hal yang lebih penting yang harus gue bicarain sama kakak." ucap Zia dengan kasar.
"Tapi nona sebentar lagi tuan Zayn akan selesai, jadi saya harap anda tunggu di sini." Fian tetap kekeuh tak membiarkan Zia masuk. Zia yang sudah jengah akhirnya memilih menunggu daripada membuang-buang waktu, dia pun memilih menunggu di kantin kantor karena perutnya sangat lapar belum terisi sejak pagi.
Zia pun melangkahkan kakinya ke kantin, sesampainya di sana kantin terlihat sepi karena para karyawan masih sibuk bekerja, dan ini juga masih jam kerja. Zia memesan makanan, Zia mendudukan dirinya sambil menunggu pesanannya datang. Pesanannya pun datang Zia menyantap dan menikmati makanannya dengan khidmat, sampai semua makanan dan minumannya sudah tandas.
Setelah selesai dengan kegiatannya, Zia pun kembali menuju ruangan kakaknya, dan benar saja Zayn baru saja menyelesaikan pertemuannya, Zia pun mendekat ke arah kakaknya yang sedang menjabat tangan rekan bisnisnya, Zia pun menunggu Zayn di depan pintu ruangan Fian, dia menyenderkan tubuhnya di tembok dengan bersedekap tangan.
"Huh ya ampun mereka lama sekali.... gue udah bosen banget nunggunya."gumamnya sedikit kesal melihat betapa lama sekali dua lelaki itu berbasa-basi, padahal mereka sudah selesai berbicara beberapa waktu lalu.
Lelaki itu pun berbalik dan tanpa sengaja melihat Zia, karena ruangan Zayn dan Fian itu berhadapan, jadi ketika berbalik maka akan langsung berhadapan dengan ruangan Fian, namun jaraknya sedikit jauh. Tanpa sengaja mata mereka saling bertemu, namun Zia segara memalingkan wajahnya.
"Maaf tuan Dian, dia adik saya... perkenalkan dia Zia." Zayn tak enak melihat kelakuan Zia yang sedikit kurang enak di pandang. Zayn mendekat dan memperkenalkan Zia, Zia pun hanya membalas dengan anggukan dia pun bangkit dari senderan nya.
"Oh ini adik anda... saya Dian senang bisa bertemu dengan anda nona." Dian tersenyum penuh arti, dia berpura-pura tak tahu, padahal Dian sangat mengetahui siapa sebenarnya Zia.
"Iya tuan.... " Singkatnya dengan wajah dingin.
"Kak gue tunggu di ruangan lo." tanpa permisi Zia berjalan meninggalkan Zayn dan Dian, karena dia sudah tak sabar ingin menanyakan perihal Raka, jadi dia tak memperdulikan siapa lelaki itu.
"Maafkan adik saya karena dia memang seperti itu kepada seseorang yang baru dia temui." Zayn sedikit tak enak hati.
"Oh santai saja tuan Zayn, ya sudah kalau begitu saya permisi karena masih banyak pekerjaan." pamit Dian, hatinya sudah bahagia melihat Zia.
"Silahkan tuan.... Fian antarkan tuan Dian sampai depan."Fian pun mengantar kepergian Dian dan juga Arif.
Dian dan Arif memasuki mobil, kini mood Dian sudah kembali fresh, seperti buah yang baru saja di petik dari pohonnya. Dian terus saja tersenyum membuat Arif menjadi bahagia.
"Tuan.... anda sangat bahagia hari ini." Dian pun mengubah modenya menjadi datar kembali.
"Diam kau Arif, menganggu moodku saja, kau tahu kan baru saja aku bertemu dengan berlian ku, sudah ayo kita kembali kau ini hanya bisa mengganggu moodku saja." kesal Dian, Arif hanya mengangguk sambil terkekeh melihat kelakuan dari tuannya.
Sementara Zia sudah menunggu Zayn sangat lama, membuatnya semakin kesal. Zayn memasuki ruangannya dan mendudukan diri di hadapan Zia, kini mereka berhadap-hadapan.
"Ada apa lo kesini? gue lagi banyak kerjaan Zi..... "
"Ada hal penting yang mau gue tanyain ke lo kak." Zia langsung to the poin.
"Mau nanya apa lo?."
"Lo udah nemu informasi tentang Raka? ada yang mengganjal hati gue, gue merasakan hal buruk akan terjadi." jelasnya, karena memang perasaan buruk selalu dia rasakan di saat dia mengingat Raka.
Zayn yang mendengar penuturan Zia, langsung terdiam seketika dia tahu jika Zia akan bertanya seperti itu, dan Zayn ingin sekali menghindarinya, karena dia sudah tahu semua mengenai Raka dan juga keluarganya.
"Kak are you ok? gue lagi nanya kenapa malah diem? answer brother.... gue butuh jawaban lo." paksa Zia. Zayn masih diam dan menatap Zia dengan tatapan yang sangat sulit Zia artikan.
"Kak.... gak usah liatin gue begitu, gue lagi serius. " Kesal Zia. Zayn bernafas berat, rasanya sekarang dia sangat sulit mengatakan semuanya pada Zia.
"Zi.... lo bener mau denger semuanya?." tanya Zayn memastikan, membuat Zia menjadi ragu.
"Maksud lo apa? ya.... gue emang mau dengar semuanya lah... itukan penting." ucapanya dengan keraguan yang tiba-tiba muncul. Zayn membuang nafas kasar, membuat Zia semakin penasaran.
"Udah deh... lo tuh gak usah bikin gue penasaran sama ragu, dengan gelagat lo yang kayak gitu buat gue makin merasa kalau ada sesuatu.Iyakan kak.... "
"Ok... ok... gue bakal ngomong sama lo, tapi lo jangan terkejut atau apalah itu, yang terpenting lo harus dengerin gue dulu tanpa motong pembicaraan gue, ngerti lo... " Zayn pun pasrah, dia sudah tak bisa mengatakan apapun jika Zia sudah merasa ada hal aneh dengan gelagatnya.
"Iya... udah cepet....." Zia pun mulai tak sabar karena Zayn telalu bertele-tele. Zayn bernafas dengan berat dan menghembuskan nya kasar, menatap Zia suasana tiba-tiba menjadi tegang.
"Zi..... lo tahu Raka Alexandra berasal dari keluarga yang bermarga Alexandra, dan pasti lo bertanya-tanya kenapa marganya sama dengan Rayyan? benarkan?."Pertanyaan itu membuat Zia tampak berfikir, memang benar belakangan ini dia memikirkan hal itu, tapi Zia selalu menepis nya. Zia mengangguk mengiyakan pertanyaan Zayn padanya.
"Jadi gue udah nyelidikin semuanya, dan pada saat lo kasih tahu bahwa pembunuhnya adalah Raka, gue sedikit curiga dengan nama belakangnya, akhirnya setelah gue selesai menyelidiki kecurigaan gue pun terbukti dan yang mengejutkan adalah bahwa Raka mempunyai putra tunggal bernama..... " Zayn tak meneruskan ucapannya, karena Zia seperti memahami apa yang akan Zayn ucapkan.
"Itu gak mungkin dia kak..... gue gak bisa percaya itu, ini pasti kebetulan, oh ya Tuhan apa lagi ini.... " Ternyata yang Zia pikirkan adalah kebenaran bahwa Raka adalah ayah dari Rayyan orang yang dia cintai, tak di sangka ini adalah sebuah kebetulan, masalah datang lagi, di saat Zia dan Rayyan berbaikan tapi kini situasi semakin sulit, dimana Zia dan Zayn bingung harus berbuat apa. Di satu sisi mereka tak Terima dengan kematian kakek neneknya yang mati secara tragis, bahkan oleh rekan bisnisnya, dan di sisi lain Rayyan adalah sahabat baik mereka.
"Gue juga awalnya gak percaya, tapi itu semua adalah fakta Zi.... kita tak bisa mengelaknya bahwa Raka adalah ayah dari Rayyan, dan gue tak tahu harus berbuat apa." Kini Zia dana Zayn di landa dilema, akankah mereka melupakan masa lalu dan memaafkan kesalahan Raka, atau akan membuat Raka menderita, karena memaafkan seseorang yang sudah berbuat kejahatan pada orang yang tersayang, bahkan sampai membuat nya meninggal itu akan sulit untuk di terima.
Zia hanya diam, sekali lagi kenyataan pahit harus dia terima, bahkan baru saja dia memulai dari awal dengan Rayyan untuk bisa saling mengerti satu sama lain, namun takdir begitu hebat, mengobrak-abrik jalan kehidupan hingga manusia terkadang sulit mengatasinya, apalagi pilihan yang harus di pilih sangatlah sulit, antara memaafkan dan dendam.