Zia And Zayn Pair Of Mafia

Zia And Zayn Pair Of Mafia
bag-56



Zia keluar dari kamarnya dan melihat Zayn sedang


menunggunya di ruang keluarga. Lalu Zia duduk di sebelah Zayn, karena Zayn akan mengobati luka lebam di wajah Zia akibat pukulan keras Fika.


"Sini gue obatin lukanya."Suruh Zayn, Zia akhirnya mengikuti apa yang di katakan Zayn.


" Iya."ucapnya singkat dan duduk di dekat Zayn.


Zayn mulai mengoleskan salep di wajah Zia yang lebam, dan beralih pada luka di leher Zia yang terkena pisau.


"Bagaimana lo bisa kaya gini? siapa yang melakukannya." Zayn bertanya penuh selidik.


"gue tuh udah cari lo kemana-mana tapi gak ketemu, terus tadi gue niat buat cari lo lagi tapi lo udah pulang, gue khawatir Zi.Apalagi sekarang lo pulang banyak lukanya gini." Cerocos Zayn karena menghawatirkan Zia.


"Iya gue di culik sama mak lampir, tapi salah minta bantuan."ucapnya sambil meringis menahan perih.


"Maksudnya?."Zayn belum mengerti apa yang di ucapkan Zia.


"Dia minta bantuan Kakek."


"Maksudnya mafia black tiger punya kakek."


"Iya."Singkat Zia.


"Tapi kenapa lo di lepasin kakek, bukannya dia gak percaya sama kita."Zayn sedikit heran kenapa dengan mudahnya Ilham membebaskan Zia.


" Dia udah percaya sama kita, tentang bukti yang kemarin kita kasih tau."ucap Zia sambil memasangkan perban di lehernya.


"Apa?! kakek percaya." kaget Zayn.


"Hmmm" Zia hanya berdehem.


"Lalu.... ?."


"Aduhhh kenapa kakakku tak mengerti." decahnya kesal karena Zayn terlalu banyak bertanya.


"Bagaimana gue mengerti lo kan cuma ngomong gitu aja, gak jelasin secara pasti." Zayn hanya memutar bola matanya malas.


"Baiklah, gue jelasin." Akhirnya Zia menjelaskan semua dari dia di culik sampai di pukuli oleh Fika dan Zia tak melawan karena dirinya diikat.Dan Zia juga bercerita kalau kakeknya akan membantunya.


Zayn mengangguk mengerti dan tak menyangka jika Ilham kan membantunya.


"Dasar brengsek!! Fika melakukan ini semua padamu, gue gak akan tinggal diam." Umpat Zayn karena Fika telah melukai Zia sampai babak belur. Zayn mengepalkan tangannya karena sudah tak tahan dengan melakukan Fika.


"Udah lah gak usah di pikirin dia besok dia akan datang ke tempat gue disekap katanya mau bunuh gue, tapi kakek bilang dia akan menangkap Fika, karena dia sudah muak dengan kelakukan mereka." Zia memperjelasnya.


"itu ide yang bagus, tapi apakah kakek akan membunuhnya, dia pasti sangat marah karena sudah memercayai video itu?. " ucapnya penasaran.


"Kakek tak akan membunuhnya dia hanya akan membantu kita, karena gue minta agar kita berdua yang habisin mereka berdua."ucap Zia.


"Dia juga menyetujuinya, dan akan menyerahkan Tiara dan Fika pada kita karena gue lebih gak Terima atas perlakukannya pada bunda dan juga keluarga kita, jadi karena itu kakek menyerahkannya pada kita berdua." jelas Zia dengan geram mengingat perlakuan ayah dan juga ibu tirinya.


"Oh baiklah itu juga yang gue inginkan menghabisi Tiara dan Fika karena perlakuan mereka tak akan bisa termaafkan." Zayn juga ikut geram, dan tak sabar menghabisi Tiara dan Fika.


"Lalu apa yang akan kita rencanakan selanjutnya?." Tanya Zayn karena ingin segera mengakhiri semuanya.


"Besok kakek akan bawa Fika ke markasnya dan menyekapnya di sana, dan kita akan hancurkan dulu perusahaan ayah dan setelah itu kita akan ambil alih rumah ayah dan kita baru menghabisi Tiara dan Fika." jelas Zia.


"Lalu bagaimana dengan ayah? dia adalah ayah kita, apa kita juga akan melakukan sesuatu padanya? apa kita tak akan memafkan dia?." Zayn bertanya tentang nasib ayahnya.


Zia hanya diam dan tak menanggapi Zayn yang berbicara tentang ayahnya Zia lalu beranjak dari duduknya.


"Besok gue ada rapat sama klien baru, jadi gue mau istirahat udah malem soalnya, makasih kak udah ngobatin lika gue." Zia lalu pergi meninggalkan Zayn dan masuk ke kamarnya.


Zayn menatap haru pada Zia karena bagaimanapun juga Hiashi sudah sangat menyakiti Zia di masa lalu.


"Pasti Zia akan sulit memaafkan Ayah, karena ayah selalu menyakiti hati Zia, bahkan dulu ayah tak menganggap Zia putrinya, itu sangatlah menyakitkan bagi Zia, tapi gue harap suatu saat Zia akan memaafkan kesalahan ayah, dan keluarga kita akan berkumpul lagi." batinnya. Zayn hanya berharap agar Zia mau memaafkan ayahnya.


Zayn membereskan kotak P3K bekas mengobati luka Zia dan beranjak masuk ke kamarnya karena dia juga sudah mengantuk.


...----------------...


Keesokkan harinya Zia sudah berangkat ke kantor lebih awal karena akan ada rapat dengan Alexander Company yang baru saja berkerja sama dengan perusahaannya. Zayn masih di rumah dan mencari keberadaan Zia karena akan sarapan bersama seperti biasa, namun Zayn tak menemukan Zia.


"Bi Zia kemana? apakah dia belum bangun." tanya Zayn pada salah satu pelayan nya.


"Oh tadi non Zia sudah pergi." ucap pelayan itu.


"Ya sudah bi terima kasih."


"apakah sepenting itu kliennya sampai-sampai dia berangkat sepagi itu." batin Zayn karena Zia tak pernah berangkat awal jika ada masalah kantor.


...----------------...


Zia sudah berada di kantor dan berada di ruangannya sekarang, sambil menunggu rapat di mulai. Beberapa menit kemudian.....


tok.... tok.... tokk.....


"Masuk." saut Zia dari dalam.


"Maaf nona, rapat akan segera di mulai, kita akan menunggu di ruang rapat." Jelas Fuad tangan kanannya dan sedikit membungkuk memberi hormat.


"Iya saya akan segera ke sana."Ucap Zia. Fuad pun pergi lebih dulu ke ruang rapat.


Zia sudah sampai di ruang rapat dan semua sudah menunggunya, dan berapa terkejutnya ternyata yang rapat dengannya adalah Rayyan. Zia berusaha untuk tidak gugup, Zia masih menggunakan topengnya agar tak ada yang tahu identitas aslinya. Zia lalu duduk dan akan memulai rapatnya.


"Perkenalkan ini CEO kami nona Nida." Fuad memperkenalkan Zia dan Zia hanya mengangguk, Zia menggunakan nama itu agar tak ada yang tahu, jadi Zia menggunakan nama Nida jika berada di kantornya.


"Dan ini adalah tuan muda Rayyan Alexandra, dia putra tunggal tuan Raka, karena tuan Raka tak bisa hadir jadi di gantikan oleh tuan Rayyan." jelas Sekretaris Rayyan.


"Senang bertemu dengan anda nona Nida, sebuah kehormatan bisa langsung rapat dengan CEO perusahaan no.1 ini." Rayyan lalu mengulurkan tangannya untuk tanda perkenalan.


"Senang bertemu anda tuan Rayyan." Zia membalas uluran tangan Rayyan dan tersenyum kikuk, karena sedikit gugup.


"Semoga saja kerja sama perusahaan ini berjalan lancar." tambah Rayyan dan berharap kerjasamanya berjalan baik dan di terima oleh perusahaan A'M Company.


"Iya semoga saja. Baiklah kita mulai rapat hari ini, silahkan di mulai Brian." Zia mencoba bersikap Formal meskipun keadaannya sangat gugup.


Brian memulai rapatnya dan hanya ada keheningan, tak ada yang berbicara di kala sekretaris Rayyan mempresentasikan bahan untuk kerja sama. Rayyan hanya memperhatikan Zia karena Rayyan merasa jika CEO itu adalah Zia, dan Zia hanya berusaha untuk tetap fokus pada presentasi, karena sedari tadi Rayyan tak berhenti memperhatikan nya.


"Apakah dia Zia? Firasat ku mengatakan jika dia Zia, tapi itu tidak mungkin, ah entahlah mungkin perasaan gue aja. " Batin Rayyan di tengah-tengah presentasi sambil memainkan bolpoinnya.


"aduh kenapa Rayyan perhatiin gue terus, apa dia curiga? gak gak dia gak akan tahu kalau gue Zia." batinnya dengan sedikit canggung karena Rayyan tak mengalihkan pandangannya dari Zia.


Setelah sedikit lama menatap Zia akhirnya Rayyan pun berhenti menatap Zia dan kembali fokus pada presentasi.


"Huft.... akhirnya dia berhenti juga, sesak dada gue dia tatap dia mulu." Batin Zia lega karena Rayyan sudah kembali fokus pada rapat.


Rapat pun selesai dan Zia menyetujui kerja sama bersama perusahaan Alexandra Company, Rayyan pun pergi dari perusahaan setelah Zia sudah menandatangani surat tanda kerja sama perusahaan.


"Fuad, Brian saya mau bicara penting dengan kalian." ucap Zia dia kala Fuad dan Brian akan keluar dari ruang rapat.


"Anda mau membicarakan apa presdir?." tanya Brian.Lalu mereka pun duduk karena Zia pasti akan membicarakan hal penting.


"cabut saham di perusahaan Alfian company tapi hanya milik Hiashi dan bukan milik tuan Ilham, kita akan membalasnya sekarang apa kalain mengerti." jelas Zia dan mempertegas kata terakhir nya.


"Baik kami mengerti presdir, kami akan mencabut saham itu besok." jelas Fuad dan Brian tanda mereka mengerti.


"Bagus, dan satu lagi tak boleh sampai ada yang membantu perusahaan Hiashi, dan kita akan jadikan perusahaannya menjadi milik kita." jelas Zia karena kehancuran Hiashi dan juga Tiara sudah ada di depan mata.


Fuad dan Brian mengangguk dan mereka juga sudah tak sabar melihat kehancuran orang yang telah menyakiti atasannya yaitu Rahil.


Zia pun pergi karena sudah selesai dengan urusan perusahaaan kini tinggal menunggu kabar jika Fuad dan Brian sudah menghancurkan perusahaan Hiashi.


...----------------...


Zayn juga sudah di pertahanan nya dan akan mencabut kerja sama dengan Hiashi.


"Fian.... Zoya... " Panggil Zayn dengan berteriak dari dalam ruangannya.


Fian dan Zoya yang mendengar Zayn memanggil langsung menuju ruangan Zayn.


"Iya ada apa presdir? anda tak usah berteriak." kesal Fian karena Zayn memanggilnya dengan berteriak.


"Aku ingin kalian batalkan kerja sama dengan perusahaan Alfian company karena aku tak mau berkerja sama dengan perusahaan itu, mereka banyak sekali yang korupsi." jelas Zayn dengan sedikit ada kebohongan agar Fian dan Zoya tak banyak bertanya.


"Apa korupsi?! Kenapa anda tak mengatakan nya sejak awal presdir jadi kita tak usah menyetujui kerja sama itu." Fian bertambah kesal dengan kelakuan Zayn.


"Aku pun baru mengetahuinya dan besok kalain berdua harus sudah membatalkan kerja samanya dan tarik saham kita kembali." Zayn bersandiwara agar Fian dan Zoya tak curiga karena dengan begini mereka pasti akan percaya.


"Apa besok?!tapi presdir bagaimana bisa?." teriak Zoya karena besok harus sudah membatalkan kerja sama.


"Kalian akan mendapat bonus jika berhasil, dan aku yakin kalian pasti mampu. Ok kalau begitu saya pamit karena masih ada urusan dan saya tunggu kabar kalian." ucap Zayn lalu keluar dari ruangannya karena tak mau mendengar ocehan dari Fian dan Zoya.


"Apa-apaan itu dia.... hehh.... kenapa dia selalu saja buat aku naik darah, untung kau atasanku presdir Zayn kalau bukan sudah ku robek mulutmu itu."Decihnya kesal dia hanya mengomel pasalnya Zayn selalu saja seperti itu menyuruh seenaknya.


" Sudah sudah lebih baik kita kerjakan saja apa yang di katakan nya ayo kita akan siapkan semuanya sekarang dan besok kita tinggal menemui sekretaris tuan Hiashi."Fian berusaha menenangkan Zoya karena dia pusing mendengar omelan Zoya yang tak penting hanya membuang-buang tenaga saja.


Zoya tak menggubris dan keluar dari ruangan Zayn sambil menghentakkan kakinya dengan keras lalu berjalan keluar kembali ke ruangannya dengan sangat kesal.Fian hanya menggeleng karena menurutnya tingkahnya seperti anak kecil.


Zayn memang belum memberitahukan bahwa Zayn dendam pada Hiashi, Zayn masih merahasiakannya karena belum waktunya Fian dan Zoya mengetahui. Fuad lalu mempersiapkan untuk besok,untuk pembatalan kerja sama dengan perusahaan Alfian company