Zia And Zayn Pair Of Mafia

Zia And Zayn Pair Of Mafia
bag-119



Zia beranjak dari duduknya karena harus sudah sore, dia sudah memikirkan semua yang di ucapkan Zayn, namun jika untuk kembali Zia tak akan bisa karena hatinya sudah tertutup rapat.


"Aku akan memaafkanmu Rayyan, tapi maafkan aku yang tak bisa mencintaimu sepertu dulu lagi, sekali lagi maafkan aku." gumamnya dan masuk ke dalam lift, nanti malam dia akan meminta Rayyan menemuinya agar semua beban di hatinya bisa terbebaskan, begitu juga dengan Rayyan.


Zia melamun hingga tak terasa dia sudah berada di lantai bawah, dan pintu lift sudah terbuka, Zia tersadar namun karena masih tak fokus dia tak sengaja menabrak tubuh kekar milik seorang lelaki.


Bruk....


Tubuhnya limbung tepat di atas tubuh lelaki itu, hingga mereka dalam posisi yang sangat dekat. Zia bisa merasakan nafas milik lelaki itu, begitu juga dengan dirinya. Hingga mata mereka tak sengaja bertemu dan mengunci, membuat suasana menjadi gugup di antara keduanya. Jantung lelaki itu berpacu sangat cepat bahkan suaranya bisa Zia dengar meski samar-samar.


Zia yang sadar jika mereka dalam posisi yang sangat dekat, dia pun langsung berdiri dstu tubuh lelaki itu. Dia merapihkan pakaiannya begitu juga dengan dia.


"M-maaf tuan saya tidak sengaja." ucap Zia yang mendadak terbata.


"Tidak apa, tapi anda baik-baik saja kan nona?." tanya lelaki itu dengan canggung, jantungnya masih berdetak hebat, namun dia berusaha untuk menetralkan getaran hebat itu.


"Aku baik, sekali lagi saya minta maaf." ucapnya lagi, Zia merasa tak enak dengan lekaki tersebut.


"Iya santai saja nona." ucapnya dengan tersenyum kikuk, hatinya berbunga-bunga wanita yang di cintainya ternyata masih ada di kantor nya. Lelaki itu adalah Dian, dia sengaja masuk ke kantor Zia karena tak melihatnya keluar padahal sudah jam pulang kerja, dan Dian memutuskan untuk memeriksanya.


Benar saja Zia masih ada di kantornya, dan tanpa di sengaja malah bertemu di sini bahkan kejadian itu tak pernah terpikirkan olehnya, namun dia sangat bahagia bisa melihat pujaan hatinya.


"Apa yang anda lakukan di kantor saya sore-aore seperti ini tuan?." tanya Zia, mambuat Dian gelagapan. Dian menggaruk tengkuknya yang tak gatal, habis sudah dia di tanya seperti itu.


"Anu.... maaf tadi saya hanya kebetulan lewat sini, karena tadi ada perlu dengan tuan Brian namun dia sudah tak ada di kantor." bohongnya, bisa ketahuan jika maksud dia ke sini karena Zia.


"Ohhh begitu, bukankah anda tuan Dian yang akan bekerja bersama pada pembanguan mall?." tanya Zia memastikan lagi jika memang benar dia adalah Dian.


"Benar nona, senang bisa bekerja sama dengan anda." Dian mulai bisa mengontrol detak jantungnya, dan berbicara seperti sesama rekam bisnis, tapi hati Dian bersorak kemengan, ini adalah pertama kalinya dia bisa merasakan getaran aneh dalam hidupnya.


"Iya semoga kerja sama ini berjalan lancar." mereka berbicara mengenai proyek yang akan berjalan sekitar sepekan lagi, mereka mengobrol sampai di lobi.


"Kalau begitu saya permisi, ini sudah sore." pamit Zia karena hari sudah semakin sore.


"Silahkan.... kita jadi mengobrol."


"Tak masalah karena itu adalah masalah proyek, saya tidak keberatan." ucapnya dengan wajah yang terbilang datar tapi dengan suara lembut.


Zia pun berlalu pergi meninggalkan Dian, yang masih diam di tempat sambil memperhatikan Zia yang pergi menjauh dari pandangannya.


"Dia memang cantik.... aku akan berusaha mengobati luka hatimu Zi.... akan aku buktikan jika cintaku tulus padamu. " lirih Dian, dia sudah tahu semua tentang Zia yang berubah menjadi semakin dingin dan tak tersentuh akibat dari kesalahan yang di lakukan Rayyan.


"Tak apa wajahmu dingin asalkan hatimu tak membeku, dan aku siap menjadi matahari mu, untuk mengembalikan kehangatan di wajahmu." tambahnya dan ikut pergi dari kantor, karena matahari akan tenggelam.


...----------------...


Namun berkat Zia dan dukungan dari teman-teman yang lain membuat Raina semangat kembali. Dan sekarang dia bisa menerima kehidupan nya dan akan mencoba lebih baik lagi kedepannya.


"Zi..... " panggilnya.


"Iya.... kau baru pulang?." jawab Zia dan berjalan santai mendekati Raina.


"Biasa sibuk..... " kekehnya, kini Raina lebih menyibukkan diri untuk melupakan masa lalu, agar dia tak terbelenggu oleh masa lalu kelamnya.


"Yok masuk udah petang nih.... " ajak Zia.


Mereka masuk kamar masing-masing, menunggu makan malam siap, setelah mandi dan menggantung pakaian, dia menghubungi seseorang, Zia ingin semuanya selesai dan hidup seperti biasanya.


"Datang ke cafe salsabila jam delapan nanti." ucapnya setelah sambungannya terhubung, dan tanpa basa-basi.


"...... " zia pun langsung mematikan telpon sepihak. Membuat yang di telponnya mendesah berat.


Zia turun untuk makan malam, dicafe di tak berencana makan bersama, dia hanya akan memaafkan dan melupakan masa lalu, dan hidup dengan baik tanpa ada beban.


Di meja makan, mereka makan tanpa bicara, hanya ada suara dentingan sendok dan piring. Selesai dengan acara makan, Zia menunggu jam delapan sambil bersantai sejenak.


"Rain aku mau keluar."


"Wah sama siapa? kenapa gak ngajak aku."


"Aku mau menyelesaikan masalah biar hatiku lega aja, sebentar kok gak lama jadi kamu gak ikut dulu ya." Zia hanya ingin berbicara saja, dan tak akan lama keluar.


Raina paham masalah apa yang sedang di alami sahabatnya, dia juga ingin Rayyan dan Zia bersahabat baik seperti dulu.


"Ok semoga berhasil, dan jadi teman baik lagi, meski tak seindah dulu. " ucap Raina dengan penuh harap. Zia tak menjawab perkataan Raina, dia sudah tak mau lagi membicarakan hal itu.


"Kalau begitu aku bersiap dulu, sampai jumpa." Zia pun pamit dan pergi ke kamarnya untuk bersiap.


"Baiklah." jawabnya dan memandang punggung Zia yang sudah hilang dari pandangannya.


"Semoga ada lelaki baik yang akan mengembalikan keceriaan sahabatku." gumamnya terdengar lirih, Raina ingin Zia ceria seperti dulu lagi, sudah terlalu lelah hati Zia merasakan kehilangan. Pertama adalah Varo dan kini Rayyan.


Kini Zia sudah akan berangkat menemui Rayyan, Zia hanya mengenakan pakaian kasual celana levis di atas lutut dan tidak terlalu ketat, serta kaos putih dengan kemeja yang tidak di kancing, membuat kesan sedikit tomboy, tapi itulah Zia dan dengan sepatu kets putih menambal kesan cocok.


"Rain..... aku berangkat." pamit Zia sambil melambaikan tangan.


"Hati-hati di jalan." teriaknya karena Zia sudah berada di ambang pintu.