
Beberapa hari setelah kejadian itu.....
Kondisi Dian sudah pulih sepenuhnya, dan kini dia sudah mulai pergi ke proyek untuk melihat pembangunan yang sudah sedikit terlihat. Mungkin sekitar beberapa bulan ke depan proyek ini sudah selesai.
"Bagaiamana sistem keamanannya?." tanya Dian pada asistennya.
"Sistem keamanan sudah sangat bagus dan itu sesuai usul dari nona Zia, keamanan yang tidak perlu di ragukan lagi, karena sistem nya sangat berbeda dari keamanan lainnya." Arif menjelaskan dengan detail, dia juga tidak menyangka jika sistem keamanan Zia sangat bagus tanpa ada kurang. Itu termasuk kelebihan Zia dalam menciptakan keamanan dalam wilayahnya, jangan lupakan jika dia pernahenjadi mafia.
"Baiklah .....jika sistem keamanan sudah beres, maka aku tidak perlu khawatir lagi." Ucapnya lega mendengar penjelasan Arif, apalagi dia jiga tahu jika usulan Zia tidak di ragukan.
Setelah selesai membahas tentang proyek dan juga memeriksa keadaan proyek yang sudah layak, Dian pergi untuk menemui Zia, karena dia tidak melihat Zia di proyek. Biasanya Zia akan ikut memeriksa dan memberikan usulan bagus kepada mereka dan juga ide pada para pekerja lain.
"Ya sudah aku ada perlu, kamu tetap disini untuk memantau keadaan, jika ada sesuatu kabari saja aku." titahnya.
"Baik tuan." Dian bergegas pergi tanpa mengatakan apapun lagi. Arif hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan atasannya yang sedang jatuh cinta.
...----------------...
Sementara Zia sedang menyiapkan barang untuk kepulangan kakak iparnya. Zayn sudah menjemput kesana, karena urusannya sudah selesai. Nancy juga ikut berkemas mengemasi barang bawaannya.
"Besok jika kamu udah jadian sama Dian, kabarin aku ok..." goda Nancy sambil berbisik, membuat pipi Zia merona seketika.
"Ihh....bawel banget, berisik udah gak usah bahas." kesal Zia, dia sedang tidak mau membahas hal itu, karena saat ini ada Zayn di panthousenya, dia tidak mau jika sang kakak mendengarnya.
"Udah gak usah malu-malu.....kakak tahu hatimu sangat bahagia, apalagi Dian sampai mengatakan hal itu, terima saja dia adalah lelaki baik, jika kamu menolaknya kakak yakin kamu akan menyesalinya." nasihat Nancy, dia tidak mau melihat Zia menyesal karena menolak Dian, Nancy tahu jika Dian adalah laki-laki yang baik.
"Aku tidak akan pernah menolaknya." bisik Zia dengan suara super pelan.
"Apa...? kamu bicara apa Zi, kakak tidak bisa mendengarmu." ucap Nancy karena suara Zia yang tidak terdengar olehnya.
"Ohh...bukan apa-apa, sudahlah ayo cepat selesaikan berkemasnya, setelah ini kita sarapan." Zia mengalihkan pembicaraannya, karena dia menjadi gugup jika Nancy terus membicarakan hubungannya dengan Dian.
"Iya baiklah."Mereka pun menyelesaikan berkemas dan sarapan bersama.
Setelah selesai sarapan Zayn dan Nancy akan kembali, mereka akan pulang karena urusan Zayn sudah selesai. Zayn sebenarnya sudah tahu perkembangan Zia dengan Dian, Zayn tidak akan menghalangi hubungan mereka, hanya saja jika Dian mempermainkan perasaan Zia maka Zayn tidak akan ragu untuk menghancurkannya.
"Kami akan pulang duluan, kamu jaga diri baik-baik disini, jika proyek sudah selesai segeralah pulang." Ucap Zayn.
"Iya cepatlah pulang sebelum calon keponakanmu lahir, dan juga kabar baik darimu." lagi-lagi Nancy menggoda Zia.
"Iya bawel udah sono pada pergi." Usir Zia dengan kesal. Zayn hanya menggelengkan kepalanya melihat kelakuan keduanya.
"Baiklah .....kami berangkat dulu." Zayn melajukkan mobilnya dan meninggalkan elataran panthouse Zia, bertepatan dengan keluarnya mobil Zayn, ada mobil lain yang memasuki pelataran.
Belum Zia masuk ke dalam, dia mendengar suara mobil yang sedang menuju pelatarannya, Zia menoleh memastikan siapa yang datang. Dia pikir sang kakak tapi ternyata bukan karena mobilnya berbeda. Mobil itu berhenti di halaman luas milik Zia, dia hanya menatap mobil itu tanpa berkedip. Keluarlah lelaki tampan bertubuh tinggi dan tegap dan dengan pakaian yang cocok di pakai olehnya, dan membiatnya semakin cool.
"Dian......" batin Zia sedikit terkejut dengan penampilan Dian yang berbeda. Lebih tampan dan membuat Zia yang melihatnya tanpa berkedip.
"Ekhem......Nona Zia apakah ada yang aneh dengan penampipanku." Dian membuyarkan lamunan Zia dan membuatnya tersadar.
"Ohh.....maaf aku hanya ......"
"Hanya menatapku begitu? bukankah kamu suka dengan penampilan ku?." Ucap Dian dengan penuh percaya diri.
"Berisik banget....udah gak usah ke pd-an tuan Dian." Ucap Zia sambil memalingkan wajahnya.
"Kamu semakin cantik jika sedang marah nona....rasanya aku ingin sekali segera menikahimu." Dian sudah tidak sabar ingin cepat-cepat menikahi Zia.
"Sudahlah....nanti saja bahas nya." ucap Zia dengan gugup, dan seketika itu juga jantungnya berdegup tak karuan seakan akan melompat keluar.
Dian semakin gemas dengan kelakuan Zia yang gugup karena ucapan Dian.
"Mau sampai kapan kamu mengizinkan aku masuk nona? apa kamu tidak kasihan melihat calon suamimu yang terus berdiri di ambang pintu?." ucap Dian dengan nada memelas.
Zia kesal dengan Dian yang lagi-lagi menggodanya dengan sebitan calon suami, Zia berusaha tenang. Dan dengan wajah tersenyum bercampur kesal Zia hanya berusaha tenang, memang tuan muda di hadapannya sedang sangat girang karena telah mendengar ucapan Zia yang tidak di sengaja waktu itu.
"Huft...baiklah tuan muda....silahkan masuk, aku akan buatkan cemilan dan juga minuman di dalam." ucap Zia dengan senyum paksanya.
"Terima kasih calon istriku."Dian langsung masuk dan dengan sengaja tangan Zia di tarik olehnya. Zia sempat terkejut dengan apa yang di lakukan Dian terhadapnya.
"Oh tuhan.....tuan muda ini sedang senang sekali sepertinya, dia selalu membuat jantungku berdetak dua kali lebih cepat, apa seharusnya ucapan itu tidak terlontar?." batin Zia karena Dian yang saat ini sungguh berbeda dari biasanya, tapi dia juga senang karena ternyata Dian masih mau menunggu nya membuka hati.
Zia tersenyum tipis di kala dia melihat Dian dengan senyum yang selalu merekah, setelah kecelakaan waktu itu Dian menjadi sedikit lebih ceria dari biasanya.
"D-dian....lepaskan aku, aku mau ke dapur untuk menyiapkan cemilan dan minuman untukmu."Zia sudah sangat gugup karena dia menggenggam tangan Zia erat.
"Ikut saja dulu....sudah jangan membantah."ucap Dian sambil tersenyum. Zia hanya bisa pasrah, dia tidak tahu apa yang mau di lakukan oleh Dian.
Dian yang sudah tahu letak kamar Zia langsung membawanya kesana, Zia yang tahu jika ini mengarah pada kamarnya dia menjadi heran dan juga sedikit berfikiran negatif. Zia takut Dian akan melakukan hal senonoh padanya.
"Dian kita mau kemana? kenapa kamu membawaku ke kamar? lepaskan tanganku."Zia berusaha melepaskan tangannya dari genggaman Dian.
"Ikut saja.....sebentar pasti selesai."ucap Dian yang masih belum Zia pahami. Zia tetap memaksa melepas tangannya.
Dian tahu jika Zia sudah berfikiran kotor, karena tiba-tiba saja Dian menarik tangan Zia tanpa tahu mau di bawa kemana, namun karena Zia sudah paham jalan menuju kamarnya maka yang ada di pikirannya pasti pikiran buruk.
Melihat Zia yang terlihat panik, membuat Dian ingin mengerjainya. Seringai terlukis di bibirnya, Dian semakin mengeratkan tangannya agar Zia tidak bisa melepaskan diri, karena dia tahu jika Zia pasti punya banyak trik untuk melepaskan diri dari bahaya.
"Apa yang mau di lakukannya......Dian awas saja kamu, jika kamu melakukan kekejian padaku jangan harap bisa selamat dari ancamanku." umpat Zia dalam hati, karena Dian malah mengeratkan genggamannya.
"Kamu makin cantik saja Zi.....apalagi kalau lagi panik.....ingin rasanya terus menjahilimu" Dian hanya meledek Zia dalam hati, dia sangat menyukai wajah lucu Zia.
Usaha Zia tidak membuahkan hasil, dia tidak bisa melepaskan diri dari Dian, akhirnya Zia hanya bisa mengikuti Dian dan masih sambil mengumpat di hati.