
Sebulan kemudian......
Masalah Raina sudah teratasi dengan baik, dan kini Raina tinggal bersama Zia, kini hubungan Raina dan Zia kian membaik. Rayyan masih berusaha meminta maaf pada Zia, namun Zia masih enggan bertemu dengannya, rasanya sakit jika melihat wajah Rayyan.
Raina sudah mencoba membujuk Zia, namun dia masih tetap pada pendiriannya, Raina hanya bisa pasrah dengan keputusan Zia. Kini mereka sedang menuju perjalanan ke rumah Siti sahabat lama mereka, karena sahabat nya sudah melahirkan jadi mereka memutuskan untuk melihatnya, apalagi mereka sudah lama tak bertemu.
"Wah sekarang Siti sama Dika udah jadi orangtua, jadi gak sabar pengin lihat baby keluar." ucap Nancy yang sangat senang mendengar jika Siti sudah melahirkan.
"Iya gak nyangka aja mereka udah punya anak." Tambah Raina, yang turut bahagia. Mereka satu mobil dengan Zayn dan Nancy.
"Yang belum nikah tinggal kalian bertiga, kapan mau jika Rain?." tanya Nancy, di antara sahabat mereka yang belum menikah adalah tiga orang yaitu Zia, Raina dan Rayyan.
Raina hanya tersenyum sedangkan Zia hanya memasang wajah datarnya.
"Nanti juga ada waktunya, ya kan Zi... " ucapnya.
"Iya... " jawabnya singkat tanpa ekspresi. Raina hanya menggeleng dengan sikap Zia yang sekarang tapi itu sudah biasa, berbeda dengan Nancy yang kesal dengan sikap adik iparnya, mungkin karena hormon kehamilannya.
"Huh.... kenapa anakku selalu ingin dekat dengan si frozen itu." kesal Nancy dengan mencebikkan bibirnya. Dia tak menyangka jika ingin terus berdekatan dengan Zia karena ngidamnya, tapi dia tak suka dengan wajah datar Zia.
"Itu karena permintaan anakmu Nan, jadi turuti saja walaupun kamu kesal sama adek iparmu." Tambah Raina yang tahu jika Nancy tak suka dengan Zia yang berwajah datar.
"Ish kau ini malah bela dia.... " Nancy semakin kesal di kala Raina membela Zia, Nancy pun memalingkan wajahnya ke luar jendela, dengan bersidekap dada.
Zayn senang melihat keakraban mereka, semoga ini adalah awal kebaikan dan tak ada lagi masalah yang akan terjadi ke depannya. Zia juga sudah memaafkan kesalahan Raina dan tak akan menyimpan dendam dan permusuhan dan hal itu membuatnya tak khawatir.
Dua jam berlalu mereka telah sampai di kediaman rumah keluarga Dika, di sana sudah ramai dengan keluarga besar Siti dan Dika, karena malam nanti akan ada acara doa bersama untuk mendoakan kelahiran anak pertama Siti dan Dika. Zayn dan yang lain turun dari mobil, Rayyan pun sudah berada di sana.
Mereka di sambut dengan hangat oleh keluarga Dika, hanya Yumna dan Mila yang tak datang karena sebentar lagi Mila akan melahirkan, jadi yang hadir di sana adalah orang kepercayaan Yumna.
"Selamat datang di kediaman kami." sambut ayah Dika.
"Salam om Juna." Zayn pun menjabat tangan ayah Dika, mereka sudah saling kenal karena sejak dulu Zayn selalu bermain di rumah Dika.
Zia dan yang lainnya menyalami tangan ibu Dika bergantian, dan mempersilahkan mereka masuk. Dika juga sedang menunggu kedatangan mereka.
"Hei kawan gimana kabar kalian?. " sambut Dika melihat sahabat lamanya datang, sudah lama mereka tak kumpul bersama.
"Sehat bro.... gimana kabar lo sama Siti?." Tanya Rayyan.
"Kita sehat.... ya udah lanjutin ngobrolnya, gue mau ke kamar dulu nemenin bebeb." pamit Dika, yang ingin terus di samping istrinya. Setelah menikmati hidangan Zia dan yang lainnya menemui Siti dan juga ingin melihat bayi mereka.
Mereka juga memberikan hadiah pada anak Siti dan Dika, sebagai tanda selamat dari para sahabat lama mereka. Terlihatlah Siti sehabis selesai menyusui bayinya, dan Dika yang sedang menyimpan bayinya ke dalam box bayi.
"Wah Zia..... kalian datang." senang Siti, kerinduan kepada sahabatnya terobati.
"Iya kami datang, kan kangen sama kamu.... " ucap Nancy dengan girang.
"Gimana kabarnya mbak Siti?." goda Zia pada Siti dengan tersenyum, wajah datarnya telah hilang.
Zia duduk di samping Siti dan Raina juga berada di sebelah Zia.
"Zi.... kangen aku.... " tanpa menjawab Siti malah memeluk Zia.
"Iya baper amat... nih gue dah dateng.... " goda Zia.
Mereka tertawa bersama sudah lama tak pernah berkumpul membuat suasana menjadi hangat, kerinduan mereka terobati, namun yang kurang adalah tak ada Yumna dan Mila. Sedangkan Zayn mengobrol dengan Dika dan juga Rayyan di luar, agar memberikan waktu lebih banyak pada para wanita.
"Anakmu laki-laki atau perempuan?." tanya Nancy penasaran.
"Ih kepo deh Nancy... " Siti malah tak menjawab.
"Heh gue tanya seriusan."
"Udah napa berisik, nanti babynya bangun." cegah Raina agar tak terjadi perdebatan antara para istri muda. Sontak Siti dan Nancy langsung menatap Raina dengan tatapan tajamnya.
"Diam....!!. " ucap mereka berbarengan, membuat Raina menciut, namun sedetik kemudian mereka tertawa bersama.
"Kau lucu sekali Raina... hahaha... lihat wajahmu itu." Siti tak bisa menahan tawanya melihat raut takut dari wajah Raina.
"Hahaha..... Rain.... kau memang lucu... " Nancy semanis keras melihat wajah Raina.
"Ishhh kalian malah meledekku." kesal Raina, mereka pun bercanda dan mengobrol bersama.
"Dia laki-laki." jawab Siti sambil tersenyum.
"Apakah namanya sudah di tentukan?." tanya Raina yang juga penasaran.
"Sudah nanti malam kalian akan tahu."jelas Siti mereka pun mengangguk.
Zia hanya memperhatikan ketiga sahabatnya tanpa ikut berbicara, kini dia lebih suka diam dan tak suka banyak bicara. Sikapnya telah berubah drastis akibat ulah Rayyan, namun Zia masih saja menutupi dari keluarga dan temannya.
Siti dan yang lain pun tak bisa mengubah Zia lagi, mungkin karena luka yang masih membekas, tapi mereka selalu mendoakan agar nantinya ada seseorang yang bisa merubahnya seperti dulu lagi, meski tak sama lagi.
Setelah berbincang mereka beristirahat di tempat yang sudah di sediakan, karena hari sudah petang jadi mereka akan ikut untuk doa bersama, serta pemberian nama pada bayi mereka.
Mereka semua telah menempati kamar masing-masing, hingga malam tiba acara pun di mulai mereka melakukan doa bersama untuk kesehatan serta kebaikan untuk anak Siti dan Dika, mereka tampak bahagia dengan senyum yang mengukir indah wajah mereka.
"Baik terima kasih atas doa kalian untuk cucu pertama kami, dan saya sebagai kakek darinya akan memberi nama Adrish Almar Rahadi, semoga dengan nama itu dia bisa menjadi kebanggan bagi keluarga kami." ucapnya dengan tersenyum.
"Nama yang indah... semoga dia menjadi anak yang baik, jangan seperti ayahnya." ledek Rayyan.
"Eh sembarangan kualitas ku terbaik lah." ucap Dika dengan bangga.
"Ck....." decih Zayn.
"Udah... udah.... sekarang kita makan bersama untuk merayakannya." cegah Fani ibu Dika agar perdebatan mereka berhenti.
Mereka pun menuju ruang makan untuk menyiapkan hidangan sebagai bentuk perayaan untuk Adrish. Sedangkan Siti pergi ke kamar bersama Adrish dan di temani Zia.
"Ganteng banget Adrish..... sekarang aku do'akan biar dia jadi anak yang baik dan berbakti pada orang tua." ucap Zia setelah Siti meletakkannya di box bayi, Adrish sangat tenang ketika sedang tertidur.
"Iya Amin.... kamu juga kapan nikahnya, kita udah gak sabar tau Zi liat kamu menikah." Siti ingin tahu kapan sahabat baiknya menikah. Zia duduk di dekat Siti.
"Kau ini aku pasti akan segera menikah, kau tenang saja, dan kelak kita akan berkumpul bersama dengan membawa akan kita." jelas Zia, dia juga pasti akan menikah jika sudah waktunya.
"Iya... iya aku percaya itu..... kau adalah sahabat terbaikku. " Mereka berbincang bersama Zia tak ikut makan bersama karena dia masih ingin berbicara berdua bersama Siti.