Zia And Zayn Pair Of Mafia

Zia And Zayn Pair Of Mafia
bag-104



Zia sudah di pindahkan ke ruang rawat VVIP, matanya masih terpejam seperti enggan terbuka, wajahnya pucat akibat dari dehidrasi, Zayn mengusap tangan Zia lembut, dia menemani Zia berharap agar Zia cepat sadar, tapi sudah dua jam lamanya Zia masih menutup matanya.


"Zi.... cepatlah sadar, kakak mohon jangan seperti ini." Ucapnya agar Zia segera membuka matanya, dia tak tega melihat Zia terbaring lemah di brankar.


Zayn dan Nancy memutuskan untuk menemani Zia sampai sadar, namun tanpa mereka sadari ada yang mengawasi mereka sejak lama di rumah sakit, karena serasa sudah mendapatkan sesutu dia pun berlalu dari rumah sakit untuk melapor.


...---------------...


Arif datang ke kediaman Adiguna untuk memberikan informasi tentang Zia pada tuannya, ya Arif sudah di perintah oleh Dian untuk selalu mengawasi Zia. Bahkan tak tanggung-tanggung, saat di rumah sakit Arif menanyakan langsung kabar Zia kepada dokter yang memeriksanya.


Tok.... tok....tok....


Suara ketuanan pintu, kini Arif sudah berada di ruangan pribadi milik Dian.


"Masuk." titahnya dari dalam ruangannya. Arif memasuki ruangan pribadi milik Dian yang bernuansa sangat mewah.


"Apa kau dapat informasi?." tanyanya langsung, dia sudah tak sabar mendengar kabar pujaan hatinya, semenjak dia melihat Zia dan Rayyan bersama membuatnya semakin tak rela jika Zia menjadi milik orang lain.


"Saya mendapatkan informasi penting, nona Zia kini berada di rumah sakit, dia demam dan dehidrasi, di tambah lagi nona Zia tertekan." jelasnya, Dian yang mendengar langsung berdiri dari duduknya dan menatap tajam Arif, matanya berkilat amarah.


"Di mana dia di rawat?."


"Nona di rawat di rumah sakit milik anda tuan, namun bukan dokter Angga yang menanganinya, dia sedang dinas di luar kota." jelasnya.


"Apa ruangannya sudah yang terbaik?."


"Sudah tuan, tuan Zayn yang mengurus semuanya, anda tak perlu khawatir, nona hanya akan di rawat beberapa hari saja sampai nona pulih." jelasnya, Arif tau jelas jika Dian sangat mencintai Zia.


"Baguslah, kau tetap pantau dia, sampai benar-benar pulih kondisinya. " titahnya. Dian kembali duduk di kursinya.


"Apakah ada lagi?."


"Ada tuan, nona Zia sakit akibat ulahnya, dia mengatakan jika nona adalah pembunuh ayahnya,dan kau tahu tuan nona Zia adalah queen mafia pair dragoon blood, dan Zayn adalah kingnya. " Mata Dian mambualat sempurna, pantas saja pada saat dia menolongnya, Zia tak terluka sedikitpun.


"Mafia?."


"Iya tuan, beberapa bulan lalu mereka mengawasi ayah Rayyan karena dia adalah penjahat yang membunuh nenek dan kakeknya dengan cara tragis, Zia dan Zayn menginterogasi mereka dan akan memberikannya ke pihak berwajib, namun sebelum mengatakan ayah dari Rayyan terkena tembakan dan Zia lah yang di tunjuk Rayyan seorang pembunuh."


"Dan yang lebih parah Rayyan melupkan amarahnya, dia menampar nona, dan mengatainya 'wanita pembunuh seperti mu bahkan lebih rendah dari jalang dan sampah' begitu yang dikatakan Rayyan pada nona." jelasnya panjang kali lebar.


Rahang Dian mengeras mendengar Zia di perlakukan seenaknya oleh Rayyan, kilatan amarah tergambar jelas di wajahnya, tak rela jika seorang yang di cintainya di perlakukan kasar, apalagi sampai mengatainya jalang.


"Brengsek, dia telah menyakiti wanitaku, aku tak akan tinggal diam akan ku balas kau lelaki bajingan." umat nya dengan kemarahan yang berapi-api.


"Kau pergilah, nanti jika ada rencana akan ku beritahu." titahnya, dia sedang bad mood.


"Baik tuan kalau begitu saya permisi." Dian segera berlalu dari hadapan Dian yang sedang emosi tingkat dewa.


Dia mencoba menenangkan diri agar tak terlalu terbawa emosi, kini yang dia pikirkan adalah bagaiamana caranya agar dia bisa mengalahkan Rayyan, dan dia juga akan memikirkan pembunuh dari ayah Rayyan, setelah mendengar penuturan Arif, dia yakin jika ayah Rayyan di bunuh oleh orang yang juga membenci Zia, mereka tak mau jika Rayyan dan Zia bersama.


"Aku akan pikirkan cara nya, yang pertama adalah mencari pembunuh ayah Rayyan dan setelah itu aku akan membalas semua perbuatan Rayyan pada Zia."


...----------------...


Zia mengerjap kepalanya merasakan sakit luar biasa, dia bangkit dari tidurnya dan terduduk di brankar sambil masih memegangi kepalanya, melihat sekelilingnya ternyata dia bukan di kamarnya melainkan di rumah sakit. Kebetulan Zayn mengantarkan pulang Nancy karena dia mengatakan jika sedang tidak enak badan. Zayn kembali lagi ke rumah sakit untuk memastikan keadaan adiknya, dan benar saja Zia sudah sadar, dia pun segera memberitahu dokter. Zayn datang bersama seorang dokter, dia pun memeriksa keadaan Zia.


"Bagaimana dok?." tanya Zayn, wajahnya berbinar melihat sang adik sudah sadarkan diri.


"Kondisinya sudah stabil, namun pasien masih harus di rawat sampai sembuh." tuturnya Zayn hanya manggut-manggut. Namun dokter belum menjelaskan lebih detail Zia sudah menyetop sang dokter.


"Gue mau pulang...!!. " tegasnya dengan nada penekanan, membuat Zayn dan dokter memandang ke arahnya.


"Zi.... lo belum boleh pulang... kondisi lo masih belum sembuh." ucap Zayn agar Zia menuruti kata dokter.


"Kalau lo larang gue, gue balik sendiri aja." tolak nya kasar, mebuat Zayn kehabisan cara.


Zayn menghembuskan nafas kasar, dia tahu jika Zia masih sakit hati pada Rayyan terlebih lagi ucapannya, dan bisa di pastikan jika Zia tak akan memaafkan Rayyan. Zia terus saja mendesak dengan paksaan, akhirnya Zayn pun pasrah begitu juga dengan dokter, mereka sudah tak bisa membujuk Zia, dan Zia pun di pulangkan malam ini.


Semua barang dan keperluan Zia sudah di rapih kan oleh asisten Zia, Zayn mengantarkan pulang karena dia tak mau terjadi sesuatu yang buruk lagi pada Zia. Di mobil Zia hanya diam membisu dia hanya memandang dengan pandangan kosong ke luar jendela, Zayn menatap sendu Zia lagi-lagi Zia kembali menjadi gadis dingin dan tak tersentuh, hatinya sakit melihat kondisi Zia.


Sampailah mereka di pelataran villa Zia, Zayn mengantar sampai ke kamar di ikuti asisten Zia membawakan barangnya. Zia langsung membaringakan dirinya di ranjang, kamarnya sudah rapih dan bersih sehingga Zia tak perlu repot untuk tidur di kamar lain. Zayn pun berpamitan pulang karena khawatir dengan keadaan Nancy.


"Saya harus kembali, pastikan Zia meminum obatnya dan makan teratur serta istrahat yang cukup." perintahnya pada kepala pelayan.


"Baik tuan saya akan pastikan nona baik-baik saja."


"Dan jika terjadi sesuatu pada Zia, segera hubungi saya."


"Baik tuan." Zayn pun beranjak pergi di antar oleh kepala pelayan sampai ke depan pintu, setalah Zayn pergi dia pun masuk untuk melihat keadaan nona nya.


Kepala pelayan membuka pintu perlahan agar Zia tak terganggu, dia melihat Zia sudah terlelap dengan wajah yang masih pucat, membuat kepala pelayan merasa kasihan.


"Kasihan non Zia, semoga suatu saat nanti ada yang menemani non Zia dan selalu menjaga non, non itu baik bibi yakin non akan dapat lelaki yang baik." lirihnya dan menutup pintu kamar Zia, karena Zia sudah tertidur pulas.