
Beberapa minggu kemudian......
Persiapan pernikahan Dian dan Zia sudah beres dan siap, semua sudah di atur dengan baik. Kini tinggal menunggu dua hari menuju hari pernikahan. Zia juga masih sibuk mengatur persiapan nya, untuk para tamu dan juga keluarga nya, dia ingin semua keluarganya menggunakan baju yang telah dia siapkan. Tidak lupa dekorasi yang megah dengan di hiasi banyak bunga lily putih dan juga bunga gardenia. Begitu juga dengan hidangan dan souvenir.
Dua hari berlalu......
Para media sudah berkumpul untuk mengabadikan momen pernikahan pemilik perusahaan ternama yang sangat terkenal hingga penjuru kota. Semuanya sudah di persiapkan dengan sebaik mungkin, banyak para tamu yang sudah hadir disana. Bahkan para sahabat dekat Zia sudah berada disana, karena acara akan di mulai beberapa menit lagi.
Zia sudah mengenakan gaun miliknya dengan sangat anggun, Raina sedang membantu merias wajah dan rambutnya. Zia sangat menyukai gaunnya rasanya seperti mimpi, dimana hari ini dia akan melepas masa lajang nya, dan akan membangun bahtera rumah tangga nya bersama orang yang dia sayangi.
"Akhirnya Zi.... hari ini aku melihat dimana sahabat ku akan menikah, lepaskanlah rasa sedihmu dan jemputlah kebahagiaan mu, disini aku akan selalu mendoakanmu." Raina senang bisa melihat sahabat nya akan segera menikah, Rain berharap kebahagiaan selalu bersemayam indah bersama Zia.
Zia tersenyum dan menatap Raina penuh dengan rasa haru bercampur bahagia.
"Terima kasih Rain... akhirnya semuanya akan terbayarkan, semua rasa sakit akan terbayar dengan kebahagiaan pada waktunya." ucap Zia dengan senyum manisnya.
"Iya Zi... semua akan ada waktunya, bahagia, sedih semua akan mendapatkan porsinya masing-masing, dan jalan hidup ini masih panjang selagi nafas masih berdera." Zia mengangguk, hidup memang penuh dengan cobaan, tapi suatu saat akan ada waktu dimana semuanya akan diganti dengan senyum tawa kebahagiaan.
Dalam waktu yang panjang dan berliku selalu ada jalan menuju cahaya kebahagiaan, entah itu kapan tapi pasti waktunya tepat, karena apapun itu sudah ada yang menentukan, dan yakin serta percaya adalah kuncinya.
Zia memperhatikan wajahnya yang sudah selesai di poles oleh make up, serta tidak lupa dengan rambutnya. Zia menggunakan mahkota kecil dengan rambut terurai rapih dengan pernak-pernik di kepala sebagai hiasan tambahan, ditambah dengan kerudung putih di belakang kepalanya, yang menambah kesan menawan.
Raina tersenyum melihat kecantikan Zia yang terpancar, meski dengan make up natural tetap saja Zia sangat menawan. Zia juga memperhatikan dirinya di balik cermin, sungguh dia tidak percaya kalau itu dirinya.
"Aduhh tuan putri.... cantik banget hari ini kamu Zia, pasti Dian tidak sudi kamu di lirik sama laki-laki lain." Goda Raina membuat Zia salah tingkah.
"Ishh udah Rain... awas yaa." kesal Zia dengan wajah meronanya.
"Ok sekarang kita akan berangkat ke aula, para tamu sudah menantikan mu, dan sebentar lagi kami akan menyaksikan pernikahan mu dengan Dian." Rain tidak sabar dengan berlangsung nya acara pernikahan Dian dan Zia.
Zia semakin malu-malu, ini adalah hari yang sakral dimana dia dan orang yang di cintanya menikah, acara pembukaan sudah di mulai, MC sudah berada di aula, para tamu sudah berkumpul disana. Debar jantung Zia semakin memacu dengan hebat, namun dia berusaha tenang, kini wajahnya pun berseri indah. Raina menggandeng tangan Zia membawanya keluar dari kamar.
Di luar sang ayah sudah menunggu, di lihatlah gurat sedih bercampur bahagia di wajahnya, menandakan bahwa dia belum rela melepaskan putrinya. Banyak yang ingin Hiashi berikan pada Zia, kasih sayang serta permintaan maaf karena telah membuat Zia menderita.
"Putri ayah sangat cantik hari ini.... ayah akan menemanimu sampai ke aula." ucap Hiashi menatap Zia dan menggandeng tangan sang putri.
"Iya ayah.... " jawabnya dengan tersenyum kepada sang ayah.
Hiashi menggandeng tangan Zia dan menuntunnya hingga ke aula. Sementara Dian sudah berada di meja penghulu, dia sudah berkeringat dingin, sedari tadi dia tidak bisa tenang, jantungnya bergemuruh tidak karuan, dia juga tak kalah tampan menggunakan jas berwarna putih, menambah kesan tampannya, membuat siapa saja yang melihat akan terpesona.
Angga menjadi wali pernikahannya, ini adalah pertama kalinya dia melakukan hal tersebut. Rasanya senang bisa melihat sahabatnya menikah dengan orang yang di cintai dan mencintainya.
MC sudah membacakan susunan acara, dan tiba saatnya Zia memasuki aula dengan di gandeng sang ayah, semua mata tertuju padanya, banyak yang terpesona akan kecantikan Zia, dia berjalan pelan dengan senyum manis yang masih melekat di bibirnya.
Begitu juga dengan Dian, dia tidak berkedip melihat calon istri nya, matanya tidak teralihkan daripada wajah Zia. Sampai tak terasa air matanya membasahi pipi nya, rasa harus bercampur bahagia melihat Zia seseorang yang sangat di cintainya.
"Nak Dian..... apakah benar anda bersedia menikah dengan nak Zia....?."kata penghulu sebelum memulai ijab.
"Saya bersedia, dan juga bertanggungjawab dalam rumah tangga serta menafkahi batin dan juga sandang pandang." jawabnya dengan tegas dan penuh dengan keseriusan. Zia tersenyum mendengar penuturan calon suaminya, meski dengan sedikit kaku.
Para tamu juga ikut tersenyum melihat tingkah Dian yang berbicara kaku.
"Dan nak Zia sudah bersedia menerima nak Dian dengan segenap hatimu?." tanya penghulu kepada Zia. Membuat Zia gugup seketika.
"Saya menerima calon suami saya dengan sepenuh hati saya, dan akan terus menemani dalam suka maupun duka." jawab Zia dengan malu-malu, Dian tersenyum melihat tingkah lucu Zia.
"Baiklah saya akan mulai."Penghulu bersiap mengucapkan kata sakral dalam sebuah pengikatan, dan awal dari sebuah pernikahan.
"Saya nikahkan nak Dian Adiguna dengan nak Nida Ziana Alfian binti bapak Hiashi dengan maskawin tersebut di bayar tunai." ucap sang penghulu dengan mengeratkan jabatan tangannya.
"Saya terima nikah nya Nida Ziana Alfian binti bapak Hiashi dengan maskawin tersebut di bayar tunai." ucaonya dengan sekali tarikan nafas.
"Bagaimana para saksi?..... sah.... "
"Sah." teriak para saksi, akhirnya semua berjalan lancar, semuanya tersenyum bahagia.
Zia dan Dian kini sudah sah menjadi suami istri, semua memberi tepuk tangan bahagia, melihat sepasang kekasih yang baru saja di sahkan oleh semesta. Dian memasangkan cincin pernikahan mereka, dan bergantian. Dian menatap Zia yang sudah berdiri di hadapannya, Zia mengecup tangan Dian yang kini sudah menjadi suaminya, dia mengecup dengan sangat lama, Zia melantunkan doa dalam hatinya. Setelah selesai berganti dengan Dian yang mengecup kening Zia yang sudah menjadi istrinya, dia juga melantunkan doa dalam hatinya. Mereka sama-sama membaca doa berharap ini adalah awal kebahagiaan, awal dari semua nya, membuka lembaran baru yang sudah lama ingin mereka lakukan.
"Kini kalian sudah sah menjadi sepasang suami istri, pesanku jaga baik-baik hubungan ini dan jangan pernah lupakan kewajiban kalian." ucap penghulu memberi wejangan.
"Nak Dian jagalah putriku dengan baik, sayangilah dia dan jangan pernah membuat luka di hatinya, jika ada masalah yang sedang melanda, maka laluilah dengan kesabaran dan selesaikan lah bersama." pesan Hiashi pada Dian. Acara ijab qabul sudah terlaksana, kini kedua mempelai sudah berada di pelaminan. Semua tamu memberikan ucapan selamat kepada keduanya, para keluarga turut mendoakan agar menaidi kekuatan yang sakinah mawadah wa rahmah, dan kini giliran para sahabatnya.
Zayn dan Nancy juga datang bersama putra mereka, Zia senang keponakannya datang. Mereka berharap Dian bisa menjadi suami yang baik untuk Zia, berharap kebahagiaan Zia dan Dian selalu terukir indah.
Siti, Dika, Mila dan juga Yumna mereka juga datang semua nya sudah memiliki anak, Siti dan Dika memiliki anak laki-laki bernama Adrish Alamar Rahadi, Mila dan Yumna memiliki anak perempuan yang cantik bernama Nabila Fatin Abraham. Mereka sudah memiliki kehidupan bahagia masing-masing.
"Akhirnya sahabat gue yang dingin dan datar nikah juga." goda Mila dengan senyum yang membuat Zia kesal.
"Awas malam pertama Zi, gue yakin si Dian bakal jadi brutal." sambung Siti membuat Zia semakin malu.
"Eh jangan gitu sayang biarin, nanti juga ketagihan." Dika ikut mengompori lagi.
"Heh berisik lo pada, udah biar nanti gue rasain sendiri." bisik Zia membuat semua sahabat nya tertawa renyah. Adrish dan Nabila juga ikut bergerak-gerak.
Suasana menjadi bahagia dan mereka bersyukur tidak terjadi hal buruk di acara pernikahan Zia dan Dian. Sementara Rayyan tidak bisa datang karena dia masih sibuk mengurus perusahaan, meski Zia dan yang lainnya sudah membantu untuk memulihkan lagi perusahaan milik keluarga nya, Rayyan masih harus tetap mengawasi.
Tapi dia juga tidak lupa hari pernikahan orang yang pernah dia cintai, Rayyan mengirim banyak bingkisan hadiah untuk ucapan selamat, dan permintaan maaf karena tidak bisa hadir langsung.
Acara berjalan dengan lancar dan selesai hingga malam hari, para awak media juga sudah menyiarkan secara live acara tersebut hingga selesai.