
Zayn sudah sampai di kediamannya dia begitu khawatir dengan keadaan istrinya, Nancy juga sudah beberapa hari ini sering lemas dan tak enak badan, sehingga Zayn harus selalu ada di samping nya agar tak terjadi sesutu yang buruk pada istri tercintanya.
Waktu sudah menunjukan pukul sembilan malam, Zayn memasuki kamarnya, cahayanya yang sudah redup menandakan jika Nancy sudah tidur. Zayn mendekat ke arah ranjang dan benar saja Nancy sedang terlelap, dia pun mengecup kening Nancy lembut, dan setelah itu dia masuk ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah selesai dia pergi ke ruang kerja ingin mengecek perusahaan yang beberapa hari ini dia tinggalkan.
"Aku harus mencaritahu siapa dalangnya....pembunuh Raka akan aku temukan secepat mungkin." ucapnya sambil menatap langit-langit ruangannya.
Zayn pun menghubungi Arham untuk menyelidiki lebih lanjut siapa yang telah membunuh Raka, Zayn tahu Zia pasti sudah tak akan mau lagi berurusan dengan mafia, akibat dari ucapan Rayyan, Zayn memang sudah melihat jika Zia ingin berhenti menjadi mafia, karena dia ingin menjadi wanita yang hidup tanpa memegang senjata.
Setelah selesai menghubungi Arham, dia pun mengecek perusahaan melalui laptopnya. Jam sudah menunjukkan pukul sebelas malam Zayn pun bangkit dan beranjak ke kamarnya, karena kantuk sudah melanda nya. Sesampainya di kamar Zayn membaringkan tubuhnya di dekat Nancy yang sudah menjelajah ke alam mimpinya.
"Kau memang cantik sayang.... aku mencintaimu." bisiknya dan memeluk Nancy lalu ikut menyusul ke alam mimpi.
Keesokkan paginya Nancy sudah bangun lebih awal karena rasa mual yang melandanya sudah beberapa hari ini dia sering merasakan mual, Zayn yang mendengar pun segera bangun dan berlari ke kamar mandi, Zayn pun membantu memijat tengkuk istrinya.
"Apa kau baik-baik saja sayang?." tanyanya khawatir melihat wajah pucat Nancy.
"Aku hanya mual saja sayang, kau tak usah khawatir."
"Bagaimana aku tak khawatir... lihatlah wajahmu pucat, kita ke rumah sakit saja ya." bujuk Zayn karena dari kemarin Nancy tak mau memeriksakan keadaannya ke rumah sakit.
"Ya sudah nanti kita kerumah sakit." Nancy pun hanya pasrah, dia sudah tak bisa menolak bujukan Zayn.
"Baiklah... itu baru istriku."
Mereka kini sudah bersiap berangkat ke rumah sakit untuk memeriksakan keadaan Nancy, Zayn sudah menyerahkan semua tugasnya biasa sekretaris dan juga tangan kanannya. Di mobil Nancy menanyakan keadaan Zia, dia sedikit tenang mendengar jika Zia sudah membaik keadaannya.
"Aku akan menemuinya setelah dari rumah sakit, bolehkan sayang?." Nancy berinisiatif ingin menjenguk Zia, dia khawatir sebelum melihat langsung keadaan adik iparnya itu.
"Boleh... nanti akan ku antarkan menemuinya, pasti dia senang." Ucapnya, mereka berbicara membicarakan hal kecil hingga tak terasa mereka terlah sampai di rumah sakit.
Mereka pun turun dan masuk ke rumah sakit, setelah beberapa aat menununggu kini giliran Nancy yang akan di periksa. Zayn ikut masuk ke rumahnya pemeriksaan,setelah selesai memeriksakan keadaan Nancy merek di persilahkan duduk.
"Bagaimana dok keadaan istri saya?." tanya Zayn yang ingin mendengar keadaan istrinya. Sang dokter hanya tersenyum membuat Nancy dan Zayn saling pandang.
"Tuan tak perlu khawatir, nyonya tidak apa-apa ini karena nyonya sedang mengandung." jelas dokter tersebut, Zayn dan Nancy terkejut dengan kabar kehamilan nya.
"Apa dok istri saya hamil?." tanya Zayn memastikan.
"Iya tuan Zayn, nyonya Nancy sedang hamil, dan umur kandungannya sudah lima minggu, jadi harus di jaga dengan baik, dan akan mengalami morning sickness."
Zayn dan Nancy sangat bahagia, akhirnya yang di tunggu telah tiba, mereka akan menjadi orang tua.
"Dan ini saya berikan resep dan vitamin untuk kandungan nyonya, jangan lupa di minum dan satu lagi untuk menjaga pola makan, serta cek kandungan satu bukan sekali." ucapnya memberikan resep serta vitaminnya.
"Terima kasih dok, kalau begitu kami permisi." Mereka pun pergi dan tak lupa Zayn menebus obatnya.
Di parkiran Zayn mengecup kening istrinya, tak di sangka akan secepat ini istrinya akan mengandung, dan Zayn akan selalu memprioritaskan keselamatan dan kesehatan Nancy.
"Terima kasih sayang, kau selalu memberiku kebahagiaan." ucapnya sambil mengelus perut datar istrinya.
"Kau juga sayang aku sungguh bahagia, sebentar lagi akan hadir tangis bayi di rumah kita." mereka pun berlalu dari rumah sakit, dan tujuan nya sekarang adalah villa Zia, tak lupa Zayn dan Nancy membeli buah dan makanan kesukaan Zia.
"Apa kau yakin ingin tetap menjenguk Zia? ."Tanya Zayn dia ingin Nancy istirahat karena wajahnya yang masih pucat.
"Hei suamiku aku akan tetap menjenguk nya dan kita akan beritahu kabar gembira ini padanya, dia akan menjadi aunty pasti dia sangat senang, dan sepertinya dia juga ingin bertemu dengan aunty nya sekarang."ucapnya dengan mengelus perut ratanya.
"Dan aku baik-baik saja, jadi kau tak perlu khawatir sayang."tambahnya untuk meyakinkan Zayn yang keras kepala, tiba-tiba saja suaminya menjadi posesif.
Mereka telah sampai di pelataran villa Zia, Nancy turun dari mobil dengan Zayn yang membawa makanan untuk Zia, villa terlihat sepi karena sudah masuk jam istirahat pagi para pelayan hanya ada penjaga dan tukang kebun. Zayn menekan bel, dan terbukalah pintunya yang di buka oleh kepala pelayan.
"Eh tuan dan nona, silahkan masuk." merek ampun masuk dan kepala pelayan membawa makanan nya ke dapur.
"Bi.... Zia mana?." tanya Zayn, karena tak melihat Zia.
"Non Zia ada di taman belakang tuan." Zayn dan Nancy pun menemui Zia yang berada di taman belakang villa nya.
Taman yang cukup luas di hiasi dengan berbagai macam bunga yang terawat dan rapih, apalagi yang paling banyak adalah mawar merah dan sedap malam karena Zia sangat menyukai keduanya. Di lihatnya Zia sedang mentok mawar dan bunga sedap malam untuk menghiasi kamarnya.
"Zia.... " panggil Nancy, yang di panggil Punde menoleh.
"Eh kakak ipar, tumben datang ke sini." ucapnya dan mendekat ke arah mereka, Zayn senang keadaan Zia sudah membaik.
"Iya nih kangen ama adek ipar."
Mereka pun duduk di kursi taman yang di desain oleh Zia, dia sengaja membuat tempat duduk lengkap dengan meja dan atapnya agar tak kepanasan, dia sering menghabiskan waktunya di taman sambil menikmati teh.
"Gimana keadaan nya?." tanya Nancy.
"Ya seperti yang kakak lihat, gue sehat... kakak sendiri gue lihat kakak pucat wajahnya." Zia melihat kalau Nancy wajahnya pucat.
"Kakak sehat Zi.... itu cuma sekarang kakak lagi hamil." jelasnya membuat Zia terkejut.
"Serius lo kak, lagi ngandung?." tanya Zia memastikan dengan wajah yang masih terkejut.
"Serius dan bentar lagi kamu bakal jadi aunty." Zia pun mendekat dan mengelus perut Nancy membuat Zayn terkekeh, melihat kebersamaan istri dan adiknya membuatnya bahagia.
"Nih... jangan nakal-nakal di perut mommy, nanti kalau udah lahir aunty aku jalan-jalan dan beli mainan yang banyak."ucapnya senyumnya terlukis indah di wajah Zia.
"Gak dong aunty. " jawab Nancy dengan nada anak kecilnya. Mereka pun mengobrol bersama menghabiskan waktu hingga tak terasa sudah waktu makan siang.
"Zi... kakak kayaknya ngidam pengin makan masakan kamu, boleh ya kakak di masakin?." pinta Nancy penuh harap.
"Ok gue yang masak hari ini, emangnya kakak mau di masakin apa?." tanya Zia, dia tak akan menolak karena dia tahu kakaknya sedang ngidam, dan itu harus di turuti.
"Sup ayam sama perkedel aja."
"Gampang itu mah, ya udah ayo masuk." mereka pun masuk dan menunggu Zia selesai membuat masakan yang di minta Nancy.
Zia sibuk berkutat di dapur dengan cekatan Zia cepat menyelesaikan masakannya, mereka pun makan bersama Nancy sangat menikmati masakan Zia, setelah selesai makan Zayn dan Nancy pamit karena Nancy harus beristirahat.
"Dek kakak pulang, makasih udah masakin kapan-kapan boleh dong di masakin lagi." canda Nancy.
"Tenang itu mah gampang, bilang aja kalaku mau di masakin nanti gue anter ke rumah." Zia pun sangat senang bisa membuatkan makanan untuk Nancy.
"Makasih ya dek, kakak pamit." Zayn berterima kasih.
"Udah gak usah berterima kasih, jaga kakak sama ponakan gue baik-baik awas kalau kakak gak bisa jaga gue kasih chidori." Nancy hanya terkekeh mendengar gurauan adik dan kakak yang sudah lama susah tak dia lihat.
"Beres itu mah, kaka bakal jaga dia dengan baik tanpa lo suruh. " ucapnya membanggakan diri, membuat Zia muak.
"Udah sono balik lo." usir Zia, Zayn hanya tersenyum penuh kemenangan. Zia menunggu hingga mobil sang kakak pergi tak menjauh dari villa nya.
"Semoga lo berdua bahagia terus, gue akan selalu bahagian lo kak... " ucapnya dan berlalu masik ke dalam. Zia berharap selalu ada kebahagiaan di dalam keluarganya.