Zia And Zayn Pair Of Mafia

Zia And Zayn Pair Of Mafia
bag-39



Teman temannya yang mendapat kabar kalau Zia sadar, mereka semua bergegas menuju rumah sakit. Rayyan dan Varo sangat bahagia sekali karena pujaan hati mereka sudah sadar dan baik baik saja sekarang.


Di ruang rawat, Nancy sedang menyuapi Zia makan, Zayn yang melihat itu menjadi senang karena masih banyak yang peduli dengannya dan juga Zia. Zayn beruntung memiliki teman yang sangat menyayangi nya dan juga Zia adiknya.


"Ternyata lo baik juga ya Nan, gue kira lo hanya cewek manja, tapi nyatanya lo penyayang dan peduli." batin Zayn yang mulai kagum akan sifat Nancy, namun Zayn masih belum tau perasaan apa itu, ataukah hanya sekedar kagum apa cinta, Zayn juga masih belum sadar kalau yang di kagumi juga mengaguminya.


"Ayolah Zi, lo harus makan biar cepet sembuh, ini dikit lagi selesai, habisin ya makannya." ucap Nancy yang memaksa Zia untuk makan yang banyak agar cepat sembuh.


"Udah...gue udah kenyang Nan, nanti lagi ya, gue tuh gak si luka bubur tau." tolak Zia karena dia sudah makan banyak, itupun terpaksa karena Nancy terus saja memaksanya, padahal Zia tak suka dengan bubur.


"Zia sedikit lagi setelah ini kamu harus meminum obatnya." ucap Nancy yang masih memakai Zia menghabiskan buburnya.


"Aduh.....udah lahh, gue bakal minum obatnya sekarang, lo tenaga aja pasti di minum kok." mohon Zia,memasang wajah sedihnya, karena Nancy terus memaksanya, akhirnya dengan terpaksa dia harus menggunakan mode andalannya.


Mendengar keluhan Zia, Nancy menjadi tak tega akhirnya dia mengalah dan berhenti menyuapi,karena melihat Zia yang terpaksa memakan makanan yang Zia tak sukai.


"baik sekarang kau minum obatnya." ucap Nancy, memberikan obat dan minumnya ke Zia.


Zia langsung meminum obatnya, karena tak mau mendengar ocehan Nancy lagi, dia begitu cerewet, karena Zia tak suka berdebat, apalagi yang di lawannya sangat cerewet itu sungguh merepotkan.


Beberapa saat teman teman Zia dan Zayn datang, mereka datang untuk melihat keadaan Zia dan Zayn.


"Zia lo udah sadar, syukurlah gue khawatir sama lo." ucap Mika dan memeluk Zia karena senang Zia sudah sadar.


"gue udah gak papa, lo gak usah khawatirin gue." ucap Zia sambil melepas pelukan Mila.


Rayyan dan Varo masih berdiri di dekat brankar Zayn,mereka berdua memperhatikan Zia, sekarang orang yang mereka berdua sukai sudah sadar dan baik baik saja, dan itu membuat mereka bahagia.


"Heh lo berdua ngapain di sini, kalian gak mau ketemu sama Zia?." tanya Zayn dan membuat Rayyan dan Varo langsung melihat ke arah Zayn.


" gue kan kesini memang untuk Zia, jadi nanti gantian sama yang lain." jawab Rayyan datar.


"mau lah, gue kesini kan memang mau bertemu dan melihat keadaan Zia."


"Oh jadi cuma mau jenguk Zia, gue gak di jenguk nih?." ucap Zayn untuk menggoda keduanya karena Rayyan dan Varo kesini hanya untuk Zia.


"Oh.....makasudku juga jenguk lo Zayn." ucap Rayyan sedikit gugup karena sepertinya Zayn tahu kalau dirinya ingin bertemu Zia, apalagi Zia sudah sadar, dan itu membuatnya tambah bersemangat.


"Iya gue kesini juga mau jenguk lo." tambah Varo karena Zayn menyadari kalau Varo kesini untuk Zia.


"Ooh... benarkah????." ucap Zayn pura pura tak percaya.


"iya Zayn." ucap Varo malas.


"iya iyaa.... gue cuma bercanda." ucap Zayn yang berhasil mengerjai Rayyan dan Varo.


Setelah Mila selesai mengobrol dengan Zia. Rayyan dan Varo mendekat ke brankar Zia yang sedang berbaring.Rayyan dan Varo memberanikan diri berbicara pada Zia.


"Zi, syukur deh gue seneng lo udah baikan." ucapan Rayyan yang sedikit ragu.


"Iya gue udah lebih baik sekarang, makasih ya udah mau jenguk gue." ucap Zia berterima kasih.


"Iya sama sama Zi,yang penting sekarang lo gak papa." ucap Rayyan bahagia karena Zia sudah tak apa apa.


"Varo lo gak terluka kan kemarin?." tanya Zia dan membuat Varo menengok ke arah Zia.


"gue gak papa, tapi kenapa lo nolong gue? liat kan lo yang terluka bahkan lo hampir kehilangan nyawa, dan buat kita semua khawatir." jelas Varo, karena Zia menolongnya dan membuat Zia terkena tembakan.


"Udah lah Ro, lo kan sahabat gue, jadi gue akan lakuin apapun yang penting lo bisa selamat."ucap Zia karena memang Varo adalah sahabat yang sangat ia sayangi meski bukan perasaan sayang antara perempuan dan laki-laki.


" tapi gak kayak gini Zi, kamu jadi bahayain diri kamu sendiri.Ini semua kan karena gue lo jadi gini."tambah Varo.


"Gak usah di pikirin Ro, yang pentingkan sekarang gue udah gak papa,lo jangan salahin diri lo ini bukan salah lo,yang udah terjadi biarlah terjadi."jelas Zia karena tak mau Varo terus menyalahkan dirinya sendiri.


" Ya udah sekarang senyum."ucap Zia karena tak mau Varo terus bersedih.


"Ya ini gue udah senyum." ucap Varo bahagia, karena Zia benar-benar masih menyayangi Varo dan itu membuat Varo semakin mencintai Zia.


Melihat kedekatan Zia dan Varo ada sedikit rasa cemburu di hati Rayyan, namun dia masih bisa menutupi, karena tak mau membuat kebahagiaan Zia hilang saat ini, apalagi Zia baru saja pulih. Rayyan bersikap biasa saja di depan semuanya, karena tak mau membuat suasana bahagia ini berubah.


Zayn menyadari kalau Rayyan cemburu, namun dia juga tak mau membuat suasana hati adiknya memburuk, karena Zia baru saja pulih, mungkin Zayn akan berbicara pada Zia setelah Zia sudah sembuh total, karena jika Zayn berbicara sekarang dia takut akan membuat kesehatan Zia menurun.


"ternyata ada yang cemburu, gue harus bicara pada Zia,agar nantinya tak terjadi sesuatu yang akan membuat salah satunya terluka,juga agar tak terjadi kesalahpahaman diantara Rayyan dan Varo.Di sisi lain Zia mencintai Varo sebagai sahabatnya, namun di sisi lain Zia mencintai Rayyan sebagai pengisi hatinya."Gumam Zayn karena tak mau nantinya ada kesalahpahaman yang di akibatkan oleh sebuah perasaan, yang nantinya akan membuat pertemanan mereka hancur.


Beberapa hari kemudian Zia dan Zayn sudah di perbolehkan pulang, karena keadaan Zia dan Zayn sudah sangat baik. Riska dan Arham yang mengantar Zia dan Zayn pulang, karena teman temannya masih di sekolah, jadi Zayn menghubungi Arham agar menjemputnya ke rumah sakit.


Sesampainya di rumah Zia dan Zayn di sambut oleh para Art, karena majikan mereka telah kembali ke rumah dan itu membuat mereka bahagia karena majikannya baik baik saja.


Riska dan Arham tak langsung pulang, karena masih ada masalah yang ingin di bicarakan, mereka membicarakan di ruang rahasia yang Zia buat di rumahnya, agar tak ada yang mendengar pembicaraan mereka.Meraka semua duduk dan mulai membicarakan permasalahan.


"Apa yang ingin kalian bicarakan." tanya Zia to the poin.


"Mata mata yang kita kirim untuk mengawasi markas Black Tiger mereka mengatakan mafia Black Tiger akan bergerak, karena mereka telah mengetahui kalau mafia milik Rizky dan David sudah di kalahkan, mereka sedang mencari tahu siapa leader Pair Dragon Blood." jelas Arham, karena mafia Black Tiger sedang memata matai mafia Pair Dragon Blood.


"Itu bagus biarkan mereka mencari tahu tentang mafia Pair Dragon Blood, itu akan lebih memudahkannya rencana kita,katakan pada mata mata kita untuk tetap mengintai pergerakannya." ucap Zayn karena sebentar lagi rencananya akan berhasil. Dan dia akan buktikan kepada kakeknya bahwa yang dia lihat adalah hanya kesalahpahaman pada Zia adiknya.


"kita akan melakukan semua yang kalian perintahkan, dan kami akan melakukannya dengan sangat teliti."ucap Arham karena bagaimanapun Ilham tak boleh di sepelakan.


" Bagus lakukanlah dengan benar."tambah Zayn karena Riska dan Arham melakukan dengan baik.


"Baik King kami mengerti." ucap Arham dan Riska mengerti.


Setelah selesai membicarakan itu Arham dan Riska pun pamit pulang karena masih banyak urusan yang harus mereka lakukan.


Zia dan Zayn ingin sekali segera menyelesaikan semua ini, karena mereka sudah lelah dengan semua kesalahpahaman keluarga mereka, namun Zia dan Zayn akan sulit untuk memaafkan ayahnya, karena atas apa yang telah dia perbuat, pada bundanya dan juga mereka.


"kak gue ke kamar dulu yah, mau istirahat." pamit Zia ke kamarnya.Dan singgah dari tempat duduknya.


"Iya ya udah sono, istirahat biar besok bisa masuk sekolah." ucap Zayn.


"Iya besok gue sekolah kok, tenang aja." ucap Zia santai.


"Ok, gue juga mau ke kamar."


Mereka akhirnya masuk ke dalam kamar mereka, sudah lama mereka pergi karena harus di rawat di rumah sakit dan itu membuat Zia dan Zayn merindukan rumah mereka.