Zia And Zayn Pair Of Mafia

Zia And Zayn Pair Of Mafia
bag-51



Pagi harinya Zia dan Zayn seperti biasa mereka akan berangkat sekolah, karena hari ini adalah pembagian rapor dan juga perpisahan kelas 12,namun yang berbeda sekarang mereka berada di rumah Opa dan Oma nya.


"Pagi Oma, Opa." sapa Zayn, Dimas dan Fitri sudah menunggu di meja makan untuk sarapan.


"Pagi cucu Oma yang cantik dan tampan,ayo sarapan."puji Fitri, Zia dan Zayn sangat tampan dan cantik pagi ini, Fitri lalu mengoleskan selai di roti untuk sarapan Zia dan Zayn.


" Oma bisa aja."Zayn sedikit malu karena pujian Fitri padanya.


"Gitu aja malu, bilang aja seneng karena pujian Oma iya kan." Zia mengatakannya karena Zayn sangat suka sekali jika di puji, apalagi jika pujian itu menyangkut ketampanannya.


"Lo.... awas ya." kesal Zayn karena Zia meledek nya.


"Tapi emang kan kakak lo ini bener tampan."Bangga Zayn yang memiliki paras ganteng, dan membuat Zia malas untuk mengakuinya.


"Ih ogah, jelek gitu gak sesuai selera mata gue." sergah Zia dan Zayn bertambah kesal


"Eh mata lo ya mata lo tapi kalau pandangan wanita lain ke gue pasti bakal bilang gue paling tampan di sekolah." Zayn tak mau kalah karena memang satu sekolah mengakui kalau Zayn paling tampan dia antara most wanted di sekolah.


"Ya mungkin mata mereka telah terkena ajian mu kak." Zia terus saja meledek.


Dimas dan Fitri hanya menyimak perdebatan kedua cucunya sesekali mereka tertawa melihat tingkah lucu Zia dan Zayn, namun karena hari sudah semakin siang dan Dimas harus berangkat ke kantor Fitri akhirnya menghentikan perdebatan Zia dan Zayn.


"Sudah sudah, cepat sarapan kalian kan harus sekolah, bukannya sekarang adalah kenaikan kelas dan perpisahan kelas 12,berhentilah berdebat. " Fitri menghentikan perdebatan Zia dan Zayn seketika mereka diam dan langsung mengahabiskan sarapan mereka.


"Zia jangan goda kakakmu terus kasihan dia." bela Dimas.


"Oh lihat Oma Opa selalu saja membela Kakak, laki-laki memang sama tak mau kalah." adu Zia pada Fitri karena Dimas selalu membela kakaknya.


"Iya kau benar Zia, laki-laki memang seperti itu, ya sudah kalian sekarang berangkat." kali ini Fitri ada di pihak Zia.


"Ya sudah Oma, Opa kami berangkat dulu ya." izin Zia dan Zayn dan menyalami tangan Fitri dan Dimas.Akhirnya mereka bisa merasakan kehangatan setelah sekian lama.Zia dan Zayn pun berangkat.


Mereka tak harus pulang karena semalam pelayan rumahnya tah mengantarkan baju dan keperluan sekolah lainnya, jadi Zia dan Zayn tak perlu repot repot pulang.


Sesampainya di sekolah mereka langsung menuju kelas mencari teman-teman mereka ternyata semua sudah pergi ke aula karena acara sudah di mulai. Zia dan Zayn pun menyusul ke sana, dan benar saja, semua temannya ada di sana. Zia dan Zayn ikut duduk di teman mereka, Zia di sebelah kiri Rayyan sedangkan Zayn di sebelah kanan Varo.


Awal acara mereka sangat antusias namun lama kelamaan Zia mulai gusar dia tampak bosan dengan acaranya, dan akan beranjak dari kursi nya namun tangannya di pegang oleh Rayyan.


"Mau kemana? acaranya baru saja mulai kenapa lo malah pergi. " Rayyan menarik tangan Zia agar tak meninggalkan aula, tanpa sengaja mata mereka bertemu dan tiba-tiba saja situasi menjadi canggung


"Aduh jantung gue, kenapa sih setiap kali natap dia gue suka jadi canggung mungkin efek udah jatuh cinta sama Zia." batin Rayyan yang mendadak jadi canggung.


"Udah batinnya,lepasin gue mau keluar dari Aula bosen." Zia melepas tangan Rayyan paksa karena dia juga merasa canggung.


Tanpa menoleh Zia langsung pergi dari aula karena dia tak mau kalau Rayyan melihat jika pipinya merah karena tiba-tiba tangan Zia di tarik Rayyan.


"Ngapain sih pake pegang tangan gue, kan gue jadi gugup, udah pipi gue merah lagi, kan malu kalau ada yang lihat, menyebalkan sekali." gerutu Zia sembari keluar aula dia sangat kesal.


Rayyan tak ikut dengan Zia, karena dia masih menikmati acara ini.


Varo yang melihat Zia sangat begitu dekat dengan Rayyan membuat hatinya sakit, dia pun ikut keluar dari aula karena hari ini adalah hari yang tempat untuk berbicara dengan Zia.


"Ro lo mau kemana?." tanya Zayn yang melihat Varo berdiri akan meninggalkan aula.


"Gue mau ke luar sebentar, mau ke toilet." bohongnya karena sebenarnya dia ingin berbicara pada Zia.


"Oh." Zayn hanya ber"oh"saja.


Varo pun pergi keluar aula dan mencari Zia, dia mencari di kelasnya namun tak ada sosok Zia di sana, akhirnya dia tahu Zia jika sedang bosan di sekolah pasti dia akan pergi ke rooftop, karena sekarang semua sedang sibuk dengan kegiatan perpisahan yang sedang berlangsung. Varo pun segera pergi kesana menyusul Zia.


Dan benar saja ternyata Zia sedang di sana dan duduk di sana memang tampak hening, karena rooftop itu jauh dari aula, Zia sangat menyukai ketenangan.


"ehemmm." Dehem Varo dan membuat Zia sedikit terkejut.


"Varo bikin kaget aja, ngapain lo ke sini? bukanya acaranya belum selesai." ujar Zia karena untuk apa Varo kesini.


"Lo sendiri ngapain di sini? gue kesini cuma mau ngomong penting sama lo." Varo pun ikut duduk di dekat Zia.


Zia pun mengerutkan keningnya menatap heran lelaki yang duduk di sampingnya.


"Mau ngomong apa? udah katanya saja gue bakal dengerin kok." Zia juga mulai serius karena tatapan Varo sangat serius padanya.


"gue mau jujur sama lo, tapi sebelum itu lo juga harus jujur sama gue." ucapnya serius dan menatap Zia agar menyetujui apa yang di katakan Varo.


Zia pun hanya mengangguk,Zia juga harus jujur mungkin ini saatnya Varo harus tahu kalau Zia menyukai Rayyan agar nantinya Varo tak terlalu dalam perasannya pada Zia. Karena Varo juga menyukainya sama seperti Rayyan Zia melihat di mata Varo kalau dia memang sangat menyukainua


"Jujur gue sebenernya udah suka sama lo, perasaan ingin bukan hanya perasaan karena kita sahabatan, tapi karena perasaan ini adalah perasaan suka pada lawan jenis." jelas Varo dia mengatakan perasaannya pada Zia.


"gue udah tau Ro, lo memang udah suka gue dari awal."Zia pun menunduk karena Varo menatapnya terus.


" lo udah tau, tapi lo gak suka juga kan ke gue? tanya Varo selidik karena tak melihat ada cinta di mata Zia untuknya.


"Gue juga tau Zi kalau perasaan lo hanya untuk Rayyan kan, lo hanya nganggep gue sahabat lo aja gak lebih iya kan." mata Varo mulai berkaca kaca dia sudah tak sanggup mengatakan hal itu pada Zia.


Zia hanya diam, dia tak tahu lagi harus berkata apa, semua yang di katakan Varo memang benar Zia hanya menganggapnya sebagai sahabat tak lebih.


"Jawab Zi...?!!" suaranya sedikit meninggi karena Zia hanya diam menunduk.


"Maafkan aku...... "hanya itu yang bisa keluar dari mulutnya.


"Semua yang di katakan lo bener Ro, gue suka sama Rayyan dan gue juga tahu Ro dia suka sama gue tapi gue gak bisa ngungkapinnya karena gue gak mau ada yang tersakiti." ucapnya lirih.


"Tapi gue udah tersakiti Zi, ternyata cinta gue bertepuk sebelah tangan tadinya gue berharap lo bakal terima cinta gue, tapi sekarang gue udah mengetahui semuanya, itu hanyalah kepalsuan dalam cinta"


Deg!!


Ucapan Varo membuatnya bertambah sakit saja, Zia tak menyangka kalau perasaan Varo sudah terlalu dalam padanya, Zia pun hanya menunduk tak mau menatap Varo, karena merasa tak pantas karena Zia telah menyakiti perasaannya.


"tapi tak apa Zia,gue ikut seneng kalau emang lo suka sama Rayyan gue gak akan larang lo suka sama siapapun, dan gue bersyukur kalau lo masih nganggap gue sahabat baik lo, dan itupun buat gue bahagia Zi." ucapnya dan suaranya sedikit tercekat karena menahan tangisnya, Varo pun menunduk tubuhnya bergetar Varo menangis tanpa suara.


Hening.... mereka hanya diam tak ada yang bicara. Zia pun membuka suara.


"Maaf Ro bukan gue mau nyakitin lo tapi.....gue juga sayang sama Rayyan maaf jika jawaban gue nyakitin perasaan lo gue gak bermaksud...... " Zia tak bisa melanjutkan perkataannya karena dia juga sudah tak tahan Zia pun menangis air matanya sudah membanjiri pipinya.


Setelah puas menangis Varo lalu berdiri menatap Zia dengan sedih karena perasannya di tolak Zia, namun dia berusaha untuk bisa menerima karena dia tak mau membuat Zia merasa bersalah karena memang perasaan tak bisa di paksa.


"Zi, gue akan terima semuanya, semoga lo bahagia sama Rayyan jangan bersedih lagi ya setelah nantinya lo bersama Rayyan, gue akan selalu jadi sahabat lo gue akan lakuin apapun asal lo bisa bahagia." Varo bisa menerimanya asalkan Zia bahagia dia tak bisa membuat Zia bersedih karena itu juga akan membuat hatinya bertambah sakit


Lalu Varo memeluk Zia yang sedang menunduk menangis, Zia hanya diam dia tak sanggup untuk memeluk Varo, dia sudah sangat menyakiti nya.


"Zi lo gak usah nangis gue udah ikhlas kok, jangan merasa bersalah ya aku gak marah sama lo, gue gak bisa marah Zi ke lo." lalu Varo memegang dagu Zia dengan tangannya karena sedari tadi Zia menunduk.


Namun Zia masih saja diam hatinya merasa sakit kala Varo mengatakan dia sakit hati padanya, pikirannya berkecamuk.


"Zi lo gak boleh nangis gue akan selalu ada buat lo sebagai sahabat lo." Varo mengusap air mata Zia yang sudah membasahi pipi mulusnya.


"Varo maaf.... " lagi lagi Zia mengatakan hal itu hatinya masih belum tenang.


"Sudah Zia gue gak tahan melihat lo kaya gini, gue udah maafin lo Zi.Udah ya jangan nangis lagi, kita lupain aja kejadian tadi." Dia sudah tak tahan melihat Zia menangis.


Zia hanya mengangguk dan langsung memeluk Varo karena dia sudah tak bisa membendung kesedihannya. Varo membalas pelukan Zia.


"Gue gak bermaksud buat lo sakit Ro, tapi.... gue bener minta maaf." ucapnya di sela tangisnya.


"Ya gue ngerti kok, sekarang kita sahabatan aja itu semua juga udah buat gue seneng, tetaplah menjadi Zia ku yang seperti ini jangan pernah lo rubah sikap lo gue akan selalu sayang sama lo." Zia makin mengeratkan pelukannya, Varo mengusap rambut Zia, Zia masih menangis.


Zia hanya mengangguk tanpa melepas pelukannya, dia masih ingin menikmati ketenangan di dada bidang Varo. Setelah puas memeluk dan menangis di pelukan Varo, Zia mulai melepas pelukannya wajahnya sudah sembab akibat terlalu lama menangis, Varo merapihkan rambut Zia dan mulai tersenyum seakan tak terjadi apapun diantara mereka.


"Terima kasih lo udah mau jadi sahabat terindah, terbaik dan sejati gue, gue cuma mau bilang semoga lo selalu bahagia, walaupun bukan gue yang menemani lo." ucap Zia dan tersenyum tulus pada Varo.


"Iya Zi, gue juga mau berterima kasih karena lo yang udah buat gue jadi kuat melawan semua rintangan dalam hidup gue, dan menjadi penyemangat buat gue." tatap Varo sendu karena mungkin tak lama lagi dia taka akan melihat Zia selamanya, di akhir hidupnya dia ingin melihat wajah Zia yang selalu tersenyum bahagia.


Zia hanya mengangguk perasaan takut tiba-tiba saja menyelimuti hatinya setelah mendengar ucapan Varo, dia menatap lekat lekat wajah sahabatnya, kata kata yang di ucapkan Varo seakan-akan bahwa waktunya tak akan lama Zia merasa kalau Varo akan pergi selamanya dari dirinya, namun Zia langsung menepis pikiran buruk itu, karena Zia masih ingin bersama Varo meski hanya sebatas sahabat.


๐Ÿ˜Š๐Ÿ™‚Jangan lupa like dan coment kakak๐Ÿ™๐Ÿ™