Zia And Zayn Pair Of Mafia

Zia And Zayn Pair Of Mafia
bag-77



Tring..... tring.... tring......


Dering suara ponsel membuyarkan ketegangan semua orang yang berada disana, ternyata itu dering ponsel Zayn, dia segera mengangkat telepon dan sedikit menjauh dari ruangan Varo.Dia melihat layar ponselnya dan tertera jika yang menelpon adalah kakeknya dia segera mengangkat nya.


"Halo kek... ada apa?." tanya Zayn langsung.


"Zayn kau dimana?cepat kemari..... Zia keadaannya memburuk." ucap Ilham dari sebrang telepon, membuat Zayn terkejut.


"Apa?!.... iya kek Zayn akan segera kesana." Zayn segera memutuskan sambungan teleponnya sepihak sebelum Ilham menjawab. Ilham memang sudah ada di rumah sakit bersama dengan Hiashi, mereka datang setelah beberapa menit Zayn dan Nancy pergi karena Varo tiba-tiba drop.


Zayn segera pergi, namun sebelum itu dia meminta izin pada semua temannya yang berada di sana, Zayn pergi dengan tergesa-gesa karena mendengar keadaan Zia yang memburuk. Sesampainya di depan ruang Zia, Zayn segera mendekat kepada kakek dan ayahnya.


"Kakek apa yang terjadi.... hosh.... hosh.... " ucap Zayn dengan suara yang masih ngos-ngosan.


"Tenangkan dirimu dulu dan aturlah nafsu dulu nak." Hiashi berusaha menenangkan Zayn.Hiashi mendekat dan memberikan minum pada Zayn. Dia meneguknya hingga tersisa setengah.


"Zia harus segera mendapat donor sekarang, dan kakek masih belum menemukan pendonor, bagaiamana ini Zayn?." Tanya Ilham karena dia belum menemukan donor untuk Zia, di sisi lain Zia sangat membutuhkannya sekarang jika tidak makan Zia tak akan selamat.


"Aku pun juga tak tahu kakek, bagaimana ini? Tuhanku aku mohon pada mau sembuhkan Zia aku tak sanggup jika dia pergi." Zayn pun tak tahu apa yang harus dia lakukan, mendengar jika belum ada pendonor membuat Zayn putus asa, dunianya seakan runtuh, hatinya seakan di timpa bebatuan besar.


Mereka semua tak tahu apa yang harus dilakukan saat ini, yang bisa mereka lakukan hanyalah berdoa agar ada keajaiban untuk Zia.Mereka hanya bisa pasrah saat ini, entah keajaiban Tuhan akan muncul atau tidak mereka tak tahu. Namun tiba-tiba ada panggilan masuk ke ponsel Zayn, dia melihat ternyata yang menelponnya adalah Nancy, dia pun pergi untuk mengangkat telepon.


"Halo... ada apa Nan?." Zayn mencoba tenang ketika berbicara pada Nancy dia tak mau jika Nancy khawatir.


"Zayn..... Varo sudah sadar, dan dia ingin sekali bertemu denganmu, cepat datanglah.... " ucap Nancy, suaranya seperti menahan tangis sebenarnya apa yang terjadi, bukannya jika Varo sadar Nancy harusnya senang tapi kenapa Nancy seperti menahan tangisnya. pikir Zayn.


"Iya aku akan segera kesana."


"Baiklah kalau begitu aku tutup." Nancy pun menutup telepon nya. Zayn kembali ke ruangan Zia setelah menelpon, dia meminta izin pada ayah dan kakeknya untuk menemui Varo, mereka pun mengizinkan.


Zayn bergegas ke ruangan Zayn, karena mendengar Nancy menelpon dengan suara tangga yang tertahan membuatnya sedikit khawatir. Beberpa saat sampailah Zayn di depan ruangan Varo, terlihat kesedihan di wajah teman dan juga orang tua Varo.


"Sebenarnya ada apa? kenapa mereka terlihat sangat sedih?." batin Zayn bertanya-tanya. Dia mendekat kearah Nancy.


"Ada apa Nan? kenapa kalian semua ada di luar ruangannya siapa yang menunggu Varo?. " tanya Zayn dan menatap Nancy meminta penjelasan, kenapa mereka di luar sedangkan Varo sudah sadar, hatinya bertanya-tanya. Dita tahu jika Zayn sedang bingung dia pun mendekat dan menepuk bahu Zayn.


"Nak kau di tunggu Varo di dalam, dia ingin bicara denganmu, masuklah kami akan menunggu di luar." jelas Dita mereka tadi sudah menemui dan melihat keadaan Varo, namun Varo meminta Zayn untuk datang karena ada hal penting yang ingin di sampaikan pada Zayn, dan meminta mereka untuk tunggu di luar.


Zayn hanya mengangguk, dia beranjak dan masuk ke ruangan Varo dengan jantung yang berdebar hebat, sebenarnya ada apa hingga Varo hanya ingin membicarakan hal penting padanya , perasaan tak enak menjalar di hatinya mengatakan jika akan ada hal buruk terjadi, namubZayn menggeleng menepis pikiran buruknya.


"Zayn.... " Lirih Varo suaranya sangat lemah. Zayn ya g sedang sibuk dengan pikirannya,tersadar dengan panggilan Varo. Zayn mendekat ke brankar dimana Varo berbaring, dan mendudukan dirinya di kursi dekat dengan tempat tidur Varo.


"Varo.... ada apa?apakah ada hal penting yang mau kau sampaikan?. " tanya Zayn dia menatap sendu Varo.


"Zayn.... maafkan aku jika selama ini aku pernah bersalah pada mu." Air matanya mulai meluruh di pelupuk mata nya.


"Terima kasih Zayn telah memaafkanku. Maaf jika selama ini pula aku menyakiti perasaan adikmu. Aku tak sanggup melihatnya berbaring lemah di brankar, itu membuat hatiku tersiksa." ucapnya dengan mengingat kenangan bersama sahabatnya dan juga cinta pertamanya, namun melihat Zia terbaring lemah membuatnya semakin merasa bersalah karena pernah mengabaikannya beberpa bukan terakhir ini.


"Zia pasti akan sembuh Varo, lo gak usah khawatir Ro, sekarang yang harus lo pikirin adalah kesehatan lo."Zayn memegang pundak Varo agar tak mengkhawatirkan Zia.


"Zayn..... gue ada satu permintaan, lo mau kan ngabulin permintaan terakhir gue?." ucap Varo, dia sudah tak sanggup hidup lagi. Zayn yang mendengar permintaan terakhir mengerutkan dahinya.


"Apa maksud lo? lo gak boleh bilang kaya gitu Ro, lo pasti sembuh, Zia pasti sedih jika lo pergi." Zayn tak mau jika Varo pergi, Zia pasti akan tersiksa akan kepergiannya.


"Gak Zayn... gue udah gak kuat lagi.... gue mohon lo mau kan ngabulin permintaan gue?." pinta Varo memohon pada Zayn.


Zayn sudah tak bisa mengatakan apapun lagi, dia tak menjawab pertanyaan Varo, karena ini menyangkut hidup orang, apalagi Varo adalah sahabatnya.


"Jika lo diem berarti lo setuju, Zayn izinin gue donorin jantung gue buat Zia." ucapnya lolos dari bibirnya membuat mata Zayn membuat sempurna.


"Lo apa-apaan sih Ro? lo pasti sembuh bertahanlah Ro jangan seperti ini, permintaan lo itu membuat gue gak bisa ngabulin, Zia pasti dapat donor jantung nya tapi itu bukan lo, lo harus sembuh demi orang yang lo sayang." Zayn tak akan bisa mengabulkan permintaan Varo, apalagi Varo akan memberikan jantungnya untuk Zia.


"Gue gak ada pilihan lain Zayn, ini satu-satunya cara agar Zia hidup, lo gak bakal bisa dapetin donor jantung buat dia itu akan membutuhkan waktu lama,sekarang pasti dia lebih membutuhkan dibanding gue.... Zayn gue mohon sama lo... gue mohon.... " Varo terus memohon tak ada cara lain untuk menebus kesalahannya pada Zia kecuali ini.


Zayn tak kuasa menhan air matanya, sungguh mulianya hati Varo sehingga dia mau memberikan jantungnya pada Zia, sungguh dia tak bisa berkata lagi, Varo terus saja memohon agar Zayn mengizinkan untuk mendonorkan jantungnya pada adiknya.


"Ro gue gak bisa izinin lo." lirih Zayn.


"Zayn gue mohon gue sayang Zia.... izinin gue agar gue bisa terus bareng dia.... meski gue gak bisa kasih kebahagiaan buat dia, tapi setidaknya gue bisa buat dia hidup untuk bahagia. " Varo terus menaksa, hingga akhirnya Zayn pun mengalah.Zayn mengehela nafas berat dan menghempaskan nya kasar, dia sudah tak bisa menghentikan keinginan Varo.


"Baik Varo.... kalau itu mau lo, gue akan izinin lo, tapi apakah orang tua lo udah izinin lo?." tanya Zayn dia takut jika Varo hanya menyetujui keinginannya tanpa memberitahukan orang tuanya.


"Udah lo tenang aja."


"Tapi gue mohon Zayn.... lo jangan ngomong Zia kalau gue yang donorin jantung buat dia, dia hanya akan tahu kalau gue cuma meninggal karena sakit parah. Dan ini tolong kasih Zia dan Rayyan." Varo memberikan dua amplop berwarna biru pada Zayn,dan tertera di amplop itu nama Zia dan Rayyan.


"Maaf gue gak bisa nemenin lo sama Zia dan juga sama teman yang lain, tapi percayalah gue bahagia Zayn, gue mohon jaga Zia, jangan sampai dia terluka lagi. " pintanya lagi dia tak mau jika Zia akan terluka lagi.


"Lo tenang aja Varo gue akan selalu jaga dia tanpa lo suruh, dia adalah kesayangan gue, makasih banyak Ro, lo mau berkorban buat adek gue, gue berhutang budi sama lo gue janji sama lo buat jaga Nancy buat lo, gue akan selalu bahagiain dia, sama seperti lo yang selalu bahagiain adek gue.... gue janji." Zayn juga berjanji akan selalu menjaga Nancy yang kini sudah menjadi kekasihnya.


"Dan lo tenang aja gue akan jagain kelurga lo dan tak akan biarin keluarga lo dalam bahaya, jadi lo gak usah khawatir."Zayn juga akan menjaga orang tua Varo.


Varo hanya tersenyum tulus pada Zayn, dia pun memeluk Varo erat, ini mungkin akan jadi hari terakhir hiat Zayn bertemu dengan Varo.


"Makasih untuk semuanya sahabatku." Zayn memeluk erat Varo, air matanya sudah membasahi pipinya.


"Iya Zayn...." lirihnya.