
Sementara di tempat lain Rayyan dan Zayn sesuai dengan rencana mereka, kini keduanya sedang berada jauh dari rumah sahabat lama mereka.
"Apa ini rumahnya?." tanya Zayn yang dia tahu rumahnya bukan di sini, namun beberapa tahun berlalu dan dia sudah pindah dari rumah lamanya.
"Ya iya Zayn, lihat alamatnya menuju kesini." Rayyan meyakinkan mereka memang benar ke tempat yang di tunjukkan pada alamat.
Mereka berdua turun dari mobil dan memeriksa keadaan, mereka perlahan memasuki wilayah rumah yang cukup besar dan elegan. Dengan perlahan keduanya berhasil menembus pagar besi yang cukup tinggi, mereka memanjat dan beruntung penjaga sedang tidak ada di sana.
"Ok kita akan menangkap dia, ingat kau tak boleh melukainya." Zayn mengingatkan karena dia tahu Rayyan pasti tak terima.
"Iya gue inget kok, beres itu mah."mereka mencari jendela yang tak terkunci, dan keberuntungan lagi-lagi berpihak pada mereka.
Mereka memasuki rumah besar dengan sangat hati-hati agar tak menimbulkan suara derap kaki. Mereka mencari kamarnya dengan seksama tania terlewat, hingga di lantai dua mereka menemukan kamarnya.
"Lihat dia ada di dalam, sepertinya habis lembur." ucap Zayn yang melihat sahabat lamanya yang tertidur di kursi dan terdapat laptop di mejanya, wajahnya tak salah karena lampu kamarnya belum di padamkan.
"Benar, dia sungguh sibuk hingga menyuruh orang untuk membunuh ayahku." Geram Rayyan, dia sudah tak bisa menahan diri untuk membalas perlakuannya.
"Sabarkanlah dirimu.... sudah cepat kita harus bawa di ke markas, jangan sampai Zia tahu jika kita sudah menangkap nya." Rayyan mengangguk mengerti.
Rayyan sudah mempersiapkan kain yang sudah di baluri obat bius agar dia tak sadar. Rayyan mendekati tubuh sahabat lamanya dengan kerlahan tangannya membekap mulutnya, dia hanya mengerjap dan akhirnya pingsan akibat pengaruh obatnya.
Mereka segera membawa tubuh itu ke mobil dan segera meluncur ke markas untuk menyekapnya. Sampailah mereka di markas Zayn, Zayn menyuruh bawahannya untuk membawa sahabat lamanya ke tampat penyekapan untuk sementara waktu.
"Apa kita akan menghukumnya sekarang?." tanya Rayyan tak sabar ingin segera memberi pelajaran kepadanya.
"Tidak ini sudah malam, kita akan melakukannya besok, aku tak bisa meninggalkan istriku." jelasnya dia memang tidak bisa meninggalkan Nancy.
"Huh... baiklah aku turuti perintahmu, aku juga ingin istirahat lelah."
"Ya sudah, Arham dan Riska jaga bedebah itu, jangan sampai dia melarikan diri, aku percayakan kepada kalian." titah Zayn tegas.
"Baik King kami akan selalu waspada agar dia tak melarikan diri."jawab Arham.
"Jangan sampai lepas." ulang Rayyan, namun hanya di tanggapi dengan lirikan oleh Riska, dia masih kesal dengan kejadian Zia di hina di depan matanya oleh Rayyan.
"Ya sudah aku akan pergi, kalian harus tetap bersiaga, dia adalah orang licik jangan sampai terpedaya olehnya." tambahnya, dia tahu bagaimana pintarnya sahabat lamanya meski mereka tak kenal lama.
"Laksanakan King." Zayn da Rayyan pun pergi kembali ke rumah mereka.
Di mobil mereka hanya saling diam tak berbicara, ingin rasanya Rayyan menemui Zia untuk meminta maaf, tapi dia tahu jika Zia pasti tak ingin bertemu dengannya.
"Gak papa gue cuma pengin minta maaf sama adek lo." terangnya, Zayn hanya mengangguk.
"Oh lo mau minta maaf sama Zia, datanglah ke villa minta maaflah padanya aku yakin dia pasti memaafkan mu." tutur Zayn, dia tahu apa yang di pikirkan oleh Rayyan saat ini.
"Tapi apakah dia mau menerimaku kembali untuk meneruskan hubungan kita, yang sudah terputus di tengah jalan?." Pertanyaan Rayyan membuat Zayn menghela nafas.
"Jika itu mungkin akan sulit baginya menerima kau kembali, karena setelah apa yang kau lakukan padanya, hatinya sangat terluka karena kau melukai nya untuk yang kedua kali setelah dia memberikan kesempatan untukmu."
Rayyan menunduk lesu, dia memang salah dan tak mungkin akan mendapatkan maaf darinya, terlebih perkataannya, Rayyan yakin hubungan mereka akan terhenti.
"Jika kau masih mencintainya, maka biarkan dia bahagia, lepaskanlah adikku jangan biarkan dia terluka lagi karenamu." jelasnya Zayn juga tak mau jika Zia harus terluka oleh orang yang sama.
Tak ada jawaban dari Rayyan, pikirannya kalut dia tak mau kehilangan Zia, tapi di sisi lain dia juga tak mau membuat Zia terluka lagi karenanya.
"Pikirkanlah dengan baik Yan, akan ku tunggu kau datang menemui adikku setelah masalah ini selesai, minta maaflah setidaknya itu bisa membuatmu lega, meskipun nantinya Zia tak kembali padamu, tapi percayalah suatu saat nanti pasti akan terganti dengan yang lebih baik." tutur Zayn panjang lebar memberi nasehat agar Rayyan bisa mengerti.
"Terima kasih Zayn kau memang sahabatku, akan aku pikirkan dengan baik." Tak terasaereka sudah sampai di depan gerbang rumah Zayn, kebetulan mereka berangkat bersama menggunakan mobil Rayyan.
"Besok kau harus datang tepat waktu, kita akan menghukumnya. " Zayn mengingatkan kembali.
"Iya.... kau cerewet sekali, aku pasti tidak akan terlambat."
"Ya sudah hati-hati di jalan, sampai besok." Zayn pun langsung masuk rumah karena memastikan Nancy baik-baik saja.
Sementara Rayyan masih memikirkan ucapan Zayn, dia tak mau kehilangan Zia, tapi dirinya telah membuat Zia terluka, Rayyan menghela nafas panjang dan menghembuskannya kasar. Dia memang egois sudah membuat Zia sakit, tapi dia ingin terus menggenggamnya kuat.
"Apa aku lepaskan Zia saja? tapi aku masih sangat mencintainya, aku bahkan tak rela jika Zia bersama orang lain." gumamnya.
"Akhhh..... memikirkannya membuatku bertambah bersalah atas semua lontaran kata yang sangat merendahkannya." Rayyan mengingat kembali ucapannya yang sangat menusuk hati Zia, dia juga merasakan sakit yang lebih menyayat jika mengingat semua itu.
"Aku harus bagaimana?..... " kini dia di landa kebingungan anatara mempertahankan tapi malah membuat Zia semakin sakit, atau mengikhlaskan agar Zia bisa mencari kebahagiaan barunya.
Rayyan terus memikirkan hal itu, hingga dia sudah sampai di depan gerbang rumahnya dia memasuki pelataran rumah dan memarkirkan mobilnya sembarang dan menyuruh penjaga untuk memasukkan mobilnya ke garasi.
Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam, masalahnya akan terselesaikan sebentar lagi, dan tinggal memikirkan masalahnya dengan Zia. Bahkan Rayyan tak memikirkan perusahaan ayahnya yang sudah menumpuk pekerjaannya, dia memberikan semuanya pada tangan kanannya untuk sementara, setelah semua nya beres Rayyan akan mengurus perusahaan dengan baik.
"Baiklah akan aku putuskan besok jika aku meminta maaf padanya, aku akan membuat keputusan agar tak ada yang tersakiti lagi." Setelah lama berfikir Rayyan pun akan memutuskan yang terbaik, di mana tak akan ada luka lagi dan tak akan ada permusuhan.