Zia And Zayn Pair Of Mafia

Zia And Zayn Pair Of Mafia
bag-133



Zia masih nyaman dalam dekapan Dian, tapi beberapa saat kemudian Zia tersadar dan segera melepaskan pelukan Dian. Wajahnya sudah memerah karena malu, perlakuan Dian yang secara tiba-tiba memeluknya membuat dia terkejut, tapi hatinya sangat bahagia.


"Maaf membuatmu terkejut atas perlakuanku tadi....sungguh karena aku sangat merindukanmu." ucapnya dengan wajah bersemu merah, tapi memang itulah kenyataannya.


"Tidak apa Dian....maafkan aku yang tidak menemuimu selama seminggu ini....tapi ketahuilah aku juga sama merindukanmu."ucapnya dengan sedikit gugup dan malu-malu.


Dian tersenyum mendengar apa yang baru saja diucapkan Zia, ucapan yang sangat dia tunggu dari orang yang dia cintai. Zia tertunduk malu karena setelah sekian lama akhirnya kini dia baru bisa membuka hatinya untuk orang baru. Dian berharap setelah ini Zia mau menjadi pasangan hidupnya, dan menjadi pelengkap kehidupannya.


"Benarkah.....? sang ratu dingin kini mulai merindukanku....dan juga mungkin dia sudah jatuh hati padaku." ledek Dian, membuat wajah Zia semakin memerah.


"Tidak....maksudku....anu......" Zia gelagapan, dia malu tak karuan, memang saat ini dia baru saja menyadari perasaannya terhadap Dian, dan benar dia juga sedang sangat merindukan Dian.


Dian tergelak melihat tingkah lucu Ziq yang sedang menahan malu, apalagi wajah cantik naturalnya bersemu merah membuat Dian semakin gemas. Akhirnya Zia yang dingin kini menunujukkan sisi manisnya, dan juga mulai bisa merasakan perasaannya lagi.


"Kamu manis sekali ......aku jadi tidak sabar ingin menikahimu." ucap Dian sambil mengelus pipi Zia lembut, membuat Zia semakin gugup, perkataan Dian membuat hatinya semakin tidak karuan.


"D-dian.....apa yang kamu katakan?." tanyanya dengan terbata, tapi tidak berani menatap Dian langsung.


"J-jangan bercanda dengan hal yang seperti itu Dian." Zia masih saja mengatakan hal yang Dian tidak suka. Dian menatap intens Zia, membuat yang di tatap semakin menunduk, Dian semakin terus mendekatkan wajah tampannya tepat ke depan wajah Zia. Deru nafas Dian bisa Zia rasakan menerpa wajah cantiknya, membuat Zia menutup matanya, detak jantungnya sudah tidak terkontrol. Zia juga mendengar jantung Dian yang berdebar hebat.


Semakin dekat dan dekat, Dian memojokkan Zia ke dinding sehingga jarak mereka amatlah dekat. Dian semakin mendekatkan wajahnya, dan benar Zia merasakan sesuatu di keningnya, sesuatu yang menempel hangat disana. Perlahan Zia membuka matanya untuk melihat apa yang Dian lakukan padanya.


"Dian........" batinnya matanya menatap jelas apa yang sedang Dian lakukan padanya. Wajah Dian terlihat jelas di depan wajahnya.


Ternyata Dian melakukan hal di luar dugaan Zia, karena Dian tipe lelaki yang cuek dan kadang juga tidak peduli. Tapi apa yang di lakukan Dian membuat Zia sangat terkejut, Dian mengecup kening Zia, membuat degup jantungnya semakin memburu. Dian melepas kecupan nya dan menatap Zia dengan penuh bahagia, terlihat sekali di matanya.


"Aku sangat mencintaimu Zia.....aku serius ingin menikahimu." ucapnya penuh dengan keseriusan sambil memengang kedua tangan Zia.


Deg.......


Zia semakin menunduk membuat Dian semakin gemas, seorang Zia yang terkenal dingin kini di hadapannya Zia terlihat malu-malu. Dian menyentuh dagu Zia lalu mendongakkan wajah cantiknya, Zia tersipu malu wajahnya juga sudah bersemu merah.


"Jangan mendunduk Zi.....tataplah aku, aku tidak bercanda dengan ucapanku, aku sungguh ingin menikah denganmu dan menjadi bagian dari hidupmu." Dian sudah sangat bersungguh-sungguh, dia tidak mau Zia menjadi milik orang lain.


"Anu......D-dian kamu terlalu dekat." Zia sudah terlalu gugup, jadi dia tidak bisa berbicara dengan baik.


"Aku hanya ingin mengatakan satu hal Zi.....setelah proyek ini selesai aku ingin segera membicarakan hal ini pada keluargamu dan juga keluargaku."


Zia masih mencerna apa yang baru saja di katakan Dian padanya, meminangnya? sungguh dia masih belum siap untuk hal semacam itu, dia masih dalam proses memantapkan hatinya untuk Dian, tapi mendengar ucapan Dian yang penuh keseriusan juga membuat Zia harus memikirkannya dengan serius.


"Dian......apa kamu masih mau menungguku?." Ucap Zia yang kini sudah dalam mode seriusnya, hilang sudah wajah gugupnya.


"Kenapa bertanya seperti itu? aku pasti akan selalu menunggumu sampai kamu benar-benar siap." Dian tahu jika Zia sedang memantapkan hatinya untuk dirinya.


"Terima kasih Dian......maaf karena saat ini aku sedang menata dan memantapkan hatiku, jika aku sudah benar dalam keduanya aku akan menjawabnya." ungkap Zia, dia hanya butuh waktu, nanti jika waktunya sudah tiba Zia akan benar-benar menerima Dian dengan sepenuh hatinya.


"Baiklah.....jika itu yang sedang kamu lakukan, aku tidak bisa memaksa, tapi ingatlah Zi...aku akan selalu menunggumu." Dian tidak bisa memaksa Zia agar mau menikah dengannya, tapi Dian akan tetap menunggu Zia sampai dia siap.


Lagi-lagi ucapan Dian membuat hati Zia tak karuan, dia tahu jika Dian tulus dengan apa yang di katakannya, oleh karenanya Zia akan benar-benar memikirkan hal ini, agar nantinya tidak ada yang terbebani atau tersakiti.


"Maafkan aku....." bisiknya, suaranya seakan tercekat, Zia tak bisa mengabaikan perasaan seseorang yang tulus kepadanya.


Mendengar Zia meminta maaf, Dian langsung menangkup kedua pipi Zia dan menatapnya hingga pandangan mata mereka bertemu.


"Jangan meminta maaf Zi.....aku hanya sedang belajar memahamimu, aku tahu keputusanmu saat ini adalah yang terbaik dan itu tidaklah salah." Dian tidak bisa melihat Zia merasa bersalah dengan keputusannya.


"Tapi Dian___ " belum Zia melanjutkan perkataannya Dian sudah menghentikan dengan jari telunjuknya.


"Jangan katakan apapun lagi Zi.....aku sudah menerima keputusanmu." Ucapnya dengan penuh ketegasan.


Zia pun langsung bungkam mendengar penuturan Dian. Dian melepaskan jarinya dari bibir Zia, kini suasana berubah menjadi hening tidak ada yang berbicara, mereka hanya saling diam tanpa ada pembicaraan lagi.


"Kalau begitu aku pamit.....aku lega sudah melihat keadaanmu, masih banyak pekerjaan yang harus ku selesaikan.....sampai jumpa di tempat kerja." Karena suasana semakin canggung akhirnya Zia izin pamit, yang tadinya berniat menjenguk malah berakhir dengan pengungkapan rasa.


"Baiklah....sampai bertemu di tempat kerja, aku akan mengantarmu sampai ke depan."Dian juga merasa untuk menyudahi pertemuan ini, karena sudah membahas masalah perasaan. Zia hanya mengangguk, mereka pun turun bersama.


"Kalau begitu aku pergi dulu ....." Zia pergi meninggalkan pelataran panthouse Dian. Setelah kepergiaan Zia, Dian masih berfikir dengan keputusan yang di buatnya.


"Huft.....baiklah aku harus lebih bersabar dalam menunggu, aku yakin dia akan memberi keputusan yang tepat." gumamnya, Dian harus lebih ekstra sabar dalam menghadapi ini, perasaannya tidak akan pernah berubah terhadap Zia.


Sementara Zia masih dalam mode tidak karuannya, pernyataan Dian terus berputar di otaknya, jantungnya juga sama masih berdegup dengan tidak teratur.


"Dia benar-benar mengatakan hal yang ingin sekali ku dengar......apa dia memang menyukaiku? tapi ini terlalu cepat, namun kenyataannya aku juga sudah memiliki perasaannya terhadapnya." Zia akan memikirkan ini dengan baik, agar keputusan nya tidak menyakiti Dian.