Zia And Zayn Pair Of Mafia

Zia And Zayn Pair Of Mafia
bab-106



Arham sudah mendapatkan informasi mengenai tragedi penembakan Raka di markas mafia milik Zia, yang paling tak menyangka adalah bahwa dalangnya adalah sahabat lama Zia yang sudah lama belum bertemu, dan terakhir bertemu pada waktu beberapa bulan lalu.


"What? lo gak usah bohong Ham... " teriak Riska terkejut mengetahui jika dalangnya adalah sahabat Zia.


"Aduh gak usah kaya karin deh... terkejut nya over.. " kesal Arham.


"Maaf reflek, gue gak nyangka aja sahabat sendiri yang ngelakuin semua itu."


"Heh bisa aja kawan jadi musuh, bisa karena iri hati, kau tahu jika seseorang sudah mempunyai sifat iri yang berlebih maka dia akan melakukan apapun meski dengan cara kotor."ucapnya puitis.


"Eleh.... gak usah sok puitis lo... gak cocok buat lo." ejek Riska.


"Tak apa sok puitis nanti kalau udah lancar mau buat nembak lo buat jadiin bini gue."ucap Arham keceplosan membuat Riska merona.


Blusss.....


"Haduhhh.... keceplosan gue, niat pengin buat kejutan malah kebablasan." rutuknya, sebenarnya Arham sudah memiliki rasa pada Riska sudah sejak lama.


"Udah cepet bilang sama king, biar masalah cepet selesai, gue pengin cuti." ucapnya mengalihkan pembicaraan. Arham menarik senyum tipis di bibirnya melihat jika Riska salah tingkah.


"Iya miss bawel, ya udah gue mau bilang dulu sama king." Arham pun berlalu pergi.


"Huft.... aduh nih jantung gue gak bisa di kondisiin, kan malu kalua tadi Arham denger." gerutunya karena jantungan terus memompa keras.


Arham segera menghubungi Zayn melalui telepon, dengan cepat Zayn langsung menuju markas. Kali ini dia yang akan menyelesaikan masalah dan tidak membawa Zia ikut serta karena Zayn yakin Zia akan menolak, Zayn mengerti akan hal itu, Zia masih membutuhkan waktu untuk ketenangan pikirannya.


Sesampainya di sana Zayn tergesa-gesa memasuki markasnya, sesampainya di sana Arham dan Riska sedang duduk, namun mereka seperti terlihat canggung. Arham yang melihat kedatangan Zayn segera menyambutnya, begitu juga Riska.


"King...." sapa mereka bersamaan. Bukannya membalas sapaan Zayn malah menggoda keduanya, Zayn tahu jika mereka saling mencintai tapi mereka masih enggan untuk menyatakan perasaan mereka.


"Ada apa dengan wajah kalian? kalian terlihat sedang gugup." goda Zayn sambil menatap mereka menahan tawa, karena Zayn melihat rona merah di wajah Arham dan Riska.


"Tidak tuan, kami tidak apa-apa. " jawab Arham sedikit terbata.


"Baiklah.... kita sudah tak punya banyak waktu, aku hanya ingin segera menyelesaikan masalah ini, dan semoga ini adalah masalah yang terakhir." Harap Zayn, karena Zayn ingin selalu berada di samping istrinya, apalagi Nancy sedang mengandung anak pertama mereka, jadi Zayn tak bisa jauh dan harus ekstra menjaga kesehatan serta keselamatan Nancy.


Arham dan Riska juga berharap begitu, ingin sekali mereka berlibur menghabiskan waktu mereka dengan santai tanpa memikirkan masalah markas.


"Kami juga berharap begitu king, dan saya yakin jika memang ini masalah terakhir."


"Ini semua adalah dalang dari penembakan Raka beberapa hari lalu." Arham menyerahkan bukti tentang penembakan Raka.


"Itu rekaman cctv cafe di mana di sana dia menyuruh seseorang untuk menembak Raka, dengan maksud untuk membuat Rayyan dan queen berseteru, karena dia memiliki rasa iri yang besar kepada queen."


"Tapi saya tak tahu alasan yang jelas kenapa dia melakukan hal tersebut selain dari dia iri kepada queen." jelas Arham, dia hanya mengetahui jika dia iri kepada Zia, tapi pasti ada alasan tertentu sampai dia melakukan hal keji, sampai membunuh orang, hanya demi membuat Rayyan dan Zia berseteru kembali.


Zayn hanya manggut-manggut mendengar penjelasan Arham, dia membuka rekaman cctv, terlihatlah jelas wajah yang tak asing di mata Zayn.


"Aku mengenal wajah ini.... kenapa dia tega melakukan itu pada Zia, dia menusuk Zia dari belakang hanya karena iri hati, tapi aku yakin jika ada alasan lain sampai-samapi dia tega membunuh orang, dan lebih parahnya membunuh di depan anaknya." batin Zayn, dia tak menyangka seseorang yang terlihat baik ternyata berhati busuk.


"Kerja bagus, kalian tak usah mencari dia, biar aku dan Rayyan yang akan menangkap nya."


"Kalian tunggu di sini saja, dalam dua hari aku dan Rayyan pasti akan membawa dia kesini, dan siapkan semuanya, akan ada hukuman besar untuknya." titah Zayn, mereka pun mengerti.


"Aku akan pergi, kalian tetap di markas, nanti setelah dua hari aku akan memberikan cuti satu bulan pada kalian." tambahnya lagi, Zayn tahu jika mereka berdua pasti ingin sekali berlibur, dan Zayn memberikannya.


"Hmmm, dan akan aku transfer gaji kalian setelah semuanya beres." Zayn pun berlalu pergi tanpa pamit.


Arham dan Riska sangat girang, akhirnya yang di tunggu akan segera mereka dapatkan mereka bisa berlibur satu bulan penuh, dan mengistirahatkan tubuh dan pikiran mereka.


"Akhirnya libur juga...." ucap Riska bahagia.


"Kesempatan ku untuk melamar Riska, Riska kau akan ku jadikan pendamping hidupku dan aku berjanji akan membahagiakan mu." gumamnya dalam hati akhirnya setelah sekian lama Arham bisa melamar dan akan menjadikan Riska istrinya. Dia menatap penuh arti pada pujaan hatinya.


...----------------...


Sementara Zayn melajukan mobilnya menuju kediaman Rayyan untuk memberitahukan kebenarannya, dan akan menangkap dalangnya bersama-sama, Zayn yakin Rayyan akan sangat marah mengetahui pembunuh Raka yang sebenarnya.


"Semoga kau dan Zia bisa memperbaiki hubungan kalian meski nantinya hanya sekedar teman, aku tahu Zia tak akan mudah memaafkanmu karena kau telah membuat masalah yang kedua kalinya, dimana Zia sangat kecewa dengan sikapmu yang tak tegas." Zayn hanya berharap hubungan Zia dan Rayyan menjadi baik, meski nantinya mereka tak hidup bersama sebagai suami dan istri.


Lima belas kemudian Zayn sudah sampai di depan gerbang kediaman keluarga Alexandra, dia membunyikan klakson dan terbukalah gerbang. Zayn memarkirkan mobilnya di halaman luas milik Rayyan, karena sekarang dia yang menjadi pewaris dari ayahnya.


"Ada yang bisa saya bantu tuan Zayn?." tanya kepala penjaga.


"Apakah Rayyan ada? saya ingin segera bertemu dengannya karena ada hal penting yang harus saya beritahu." jelas Zayn.


"Sebentar saya akan bicara pada tua Rayyan." kepala penjaga itu pun menemui Rayyan, untuk memberitahukan kedatangan Zayn.


Beberapa menit kepala penjaga datang dan mempersilahkan Zayn masuk, dia pengantar Zayn ke tempat di mana Rayyan berada. Zayn melihat tempat asing yang belum pernah dia masuki selama berteman dengan Rayyan.


"Silahkan tuan.... tuan Rayyan menunggu anda di dalam, kalau begitu saya permisi." pamit kepala penjaga dan berlalu pergi.


Zayn memasuki ruangan seperti ruangan pribadi keluarga Alexandra, dia melihat Rayyan yang sedang melamun dan mengabaikan buku bacaannya. Zayn tahu pasti Rayyan sedang memikirkan kesalahannya pada Zia.


Dia mendudukan dirinya di depan Rayyan, kamu Rayyan masih sibuk dengan lamunannya, Zayn mencoba menyadarkan lamunan Rayyan dengan memanggil namanya berkali-kali, namun tetap saja Rayyan belum sadar.


"Rayyan...!!. " sentaknya dan meninggikan suaranya karena muak melihat Rayyan hanya melamun. Rayyan terlonjak kaget dan menatap siapa yang telah memanggil namanya dengan sentakan.


"Z-zayn.... maaf aku tak tahu kau sudah datang."


"Kau lemah sekali Rayyan, kanapa kau malah melamun? bukannya itu hanya membuang-buang waktumu saja? lebih baik kita selesaikan masalah penembakan ayahmu." ucap Zayn dengan penuh penegasan, agar Rayyan tak selalu membuang-buang waktu.


"Apa kau sudah menemukan pelakunya?." tanya Rayyan langsung dia sudah ingin membalas.


"Iya.... lihatlah video ini. " Zayn melempar ponsel yang berisi video pembunuh sebenarnya, dan ternyata ini sudah di rencanakan oleh seseorang.


Rayyan mengambil dan membuka rekaman videonya, rahangnya mengeras di kala dia tahu bahwa pelakunya adalah teman lama mereka, wajahnya sudah penuh amarah, dia pun meletakkan ponsel tersebut dengan kasar.


"Sialan...!!... sebenarnya apa yang dia mau?." marahnya Rayyan tak menyangka jika dia pelakunya.


"Dia hanya iri pada Zia dan aku yakin dia tak suka jika hubungan kalian baik." ucapnya memastikan.


"Sepertinya ucapan mu ada benarnya, dia ingin aku dan Zia tak bersatu.... dasar brengsek aku tak akan mengampunimu."umpat nya.


"Apa rencanamu? aku akan ikut menangkap dia, dia harus membayar apa yang dia perbuat." Rayyan ingin membawakan kematian ayahnya, dan membalas rencana busuknya yang membuat dia dan Zia berseteru.


Zayn menyeringai padahal dia ingin mengajak Rayyan, tapi justru Rayyan lah yang meminta sendiri tanpa Zayn minta.


"Baik kita yang akan menangkap dan bermain dengannya." seringai nya dengan menyeramkan, entah apa yang di pikirkan Zayn saat ini. Rayyan pun semakin bersemangat dia tahu arti seringai di bibir Zayn.