
Zia sudah menapakkan kakinya di villa, setelah perkataan dan perlakuan Rayyan yang kasar kepadanya dia memilih diam dan tak bicara, mungkin dia akan kembali pada mode Zia yang berdarah dingin, padahal Zia sudah berusaha merubah sikap dinginnya menjadi hangat seperti dulu, namun baru saja dia kembali menjadi Zia yang dulu, tapi tak di sangka itu hanya bertahan beberapa bulan saja, dan nyatanya kini dia kembali menjadi Zia yang dingin dan datar, itu semua terjadi sama seperti dulu yaitu akibat dari orang yang dia cintai.
Sungguh Zia tak berharap akan mendapat kisah cinta seperti ini, yang dia harapkan adalah bahagia karena di cintai, tapi kenyataannya itu semua hanyalah mimpi, cinta adalah berdasarkan atas kejujuran dan kepercayaan dan jika landas utama itu hilang maka semuanya akan hancur. Dan kini hubungan Zia dan Rayyan sama seperti itu tak berlandaskan atas keduanya.
Rayyan yang tak pernah jujur terhadapnya pada saat dia pergi meninggalkannya, dan sekarang dia tak mempercayainya bahkan di anggap sebagai pembunuh ayahnya. Jika memang ada cinta tulus pada Rayyan untuknya mungkin dia akan terbuka pada Zia, dan dia juga pasti akan menunggu Zia menjelaskan segalanya pada saat ayahnya terbunuh, namun dengan mudah nya Rayyan menampar bahkan mecercanya dengan lidah tajamnya.
Zia memasuki kamarnya dengan langkah gontai, pandangannya kosong lalu mengunci pintunya agar tak ada yang menggangu nya, Zia menutup semua gorden kamarnya dengan sangat rapat tanpa celah agar nanti ketika pagi cahaya tak akan bisa menelusup masuk. Kini dia butuh ketenangan, terkadang kesendirian di butuhkan untuk menenangkan semua permasalahan dan semua luka.
Langkahnya berlanjut hingga ke kamar mandi, Zia berkaca dan terlihatlah dengan jelas bekas tamparan Rayyan berwarna merah, serta sudut bibirnya yang bengkak, dia merasakan perih dan panas yang belum menghilang dari pipinya. Zia mengusapnya kasar walau sakit dia tak peduli, bahkan kini hatinya lah yang sangat terluka.
"Aaaaaaaa." teriaknya dan membuang kasar semua peralatan mandi. Tubuhnya merosot ke lantai dan luruh lah pertahanannya, Zia menangis di tambah dengan jeritan pilunya tangannya tak berhenti menjambak rambutnya.
"Brengsek lo..... brengsek.... gue gak bakal maafin lo, meski nantinya kakak gue maksa, gue gak akan maafin lo." kemarahan Zia sudah tak bisa di tahan, kini dia sudah sangat membenci Rayyan.
Zia terus menjerit keras sambil mengumpati Rayyan dengan berbagai sumpah serapahnya, hingga dia kelelahan dan berhenti setelah puas mengumpat nama Rayyan. Zia pun membersihkan tubuhnya dan mengganti pakaiannya, setelah selesai Zia segera membaringkan tubuhnya, dia sudah tak berselera makan.
Keesokan paginya Zia enggan membuka matanya, dia masih betah berada di kasur empuknya, padahal pintu berkali-kali di ketuk oleh kepala pelayan karena dia khawatir sejak semalam Zia belum menyentuh makanannya.
"Non.... buka pintunya, non harus makan kalau tidak nanti non sakit." ucapnya sambil mengetuk pintu. Namun Zia masih tak menjawab, membuatnya khawatir.
"Aduh non Zia kenpa gak buka pintunya, apa telepon tuan Zayn saja biar nanti dia yang bujuk." Karena Zia tak mau membuka pintunya akhirnya pelayan itu memberitahukan pada Zayn.
"Halo ada apa bi?." tanya Zayn karena tak biasanya kepala pelayan menghubunginya.
"Maaf tuan, saya mengganggu waktu anda."
"Tidak.... bibi tak mengganggu, memangnya ada apa?."
"Itu... anu.... tuan, nona Zia sejak semalam tak keluar dari kamarnya dan tak makan malam, di tambah kamarnya non Zia di kunci dari dalem." jelasnya dengan nada khawatir.
"Apa bibi udah coba periksa lagi?." tanya Zayn dengan khawatir.
"Sudah tuan... tapi nona tetap mengurung dirinya, bibi cuma takut terjadi sesuatu pada nona."
"Baik bi sebentar lagi saya kesana." Zayn pun mematikan sambungannya secara sepihak.
Nancy yang sedang memasak di dapur sedikit terusik dengan pembicaraan suaminya dengan kepala pelayan di villa. Nancy mendekat ke meja makan melihat wajah khawatir Zayn, dia pun duduk di sebelah Zayn.
"Ada apa sayang?." tanya nya dan menatap suaminya penuh selidik.
"Itu Zia mengurung diri di kamar, dan tak mau keluar, aku hanya takut jika dia nekat melakukan sesuatu yang berbahaya. "
"Ya sudah nanti kita kesana melihat keadaannya, sekarang kita sarapan dulu, aku juga tadi berniat ke sana, karena aku yakin kini Zia membutuhkan seseorang untuk bersandar." ucapnya, Nancy pun menghidangkan sarapan pagi, mereka sarapan bersama sebelum pergi melihat keadaan Zia.
Selesai sarapan mereka pun bergegas ke villa, karena jarak villa dan rumah Zayn tak begitu jauh, hanya membutuhkan beberpa menit untuk sampai di sana. Kini mereka telah sampai di villa Zia, Zayn dan Nancy langsung memasuki villa dan menuju ke kamar Zia.
"Zi.....ini kakak dateng, buka pintunya ok, kita bicara dulu." ucapnya dari balik pintu kamar Zia.
"Iya Zi, kamu gak boleh kaya gini, nanti bisa sakit." tambah Nancy, mereka mencoba agar Zia tak mengurung dirinya. Namun Zia tak menjawabnya membuat Nancy dan Zayn semakin khawatir, takut terjadi sesuatu yang buruk pada Zia.
"Sayang coba dobrak saja pintunya, aku khawatir padanya." Nancy pun menyuruh Zayn mendobrak pintunya.
"Iya, ya udah aku akan dobrak." Zayn pun mendobrak pintu Zia dengan keras.
Brakk....
Suara dobrakkan terakhir berhasil membuka pintu kamar Zia, mata mereka membulat melihat kamar Zia yang gelap gulita akibat gorden yang masih tertutup, namun ini sangat gelap seperti di beri tambahan agar suasananya bertambah gelap seperti malam apalagi Zia mematikan lampu kamar nya. Nancy dan Zayn berlari ke dalam mencari Zia, dan ternyata Zia masih tertidur di atas ranjangnya sambil meringkuk.
"Zi... Zi lo gak papa kan? Zi bangun ..... " Zayn menggoyang kan tubuh Zia. Nancy pun ikut membantu untuk menbangunkan Zia.
"Oh ya ampun sayang dia demam." ucap Nancy, merasakan panas pada tubuh Zia yang tersentuh nya.
"Benarkah?." Zayn pun ikut memegang kening Zia, dan benar ternyata Zia demam tinggi.
"Iya sekarang kita bawa dia ke rumah sakit." Zayn pun mengangkat tubuh Zia dan membawa nya ke rumah sakit.
Zayn mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, antara panik dan khawatir, karena Zia belum pernah seperti ini, mungkin karena dia sudah terlalu lelah dengan semua yang terjadi. Setelah mereka pergi pelayan membersihkan kamar Zia yang berantakan agar nanti ketika selesai di periksakan Zia bisa beristirahat dengan nyaman.
Zayn segera membawa Zia masuk ke rumah sakit, dan di bantu para perawat Zia pun di masukkan ke ruang pemeriksaan. Zayn dan Nancy menunggu di luar ruangan dengan cemas, Nancy yang tahu jika Zayn sedang khawatir dia pun menenangkan suaminya.
"Tenanglah sayang, Zia adalah wanita kuat, kita do'akan saja dia baik-baik saja." Nancy menggenggam erat tangan Zayn.
"Iya sayang semoga saja. " Zayn pun memeluk Nancy erat, kini rasa khawatir Zayn sedikit berkurang.
"Terima kasih sayang kau selalu menguatkan aku, semoga hubungan kita selalu harmonis sampai akhir hayat." Zayn sangat bersyukur karena Nancy selalu menemani dan menguatkan dirinya.
"Kita akan bersama selamanya, dan hidup bahagia." Nancy mengeratkan peluakkannya seakan tak mau melepasnya. Namun karena ini di tempat umum akhirnya mereka pun melepas pelukan mereka, dan menunggu kabar baik dari dokter dan berharap Zia tak apa-apa.
Beberapa menit kemudian dokter keluar dari ruangan Zia, Zayn dan Nancy segera menanyakan kondisinya.
"Dok bagaimana keadaan adik saya?." tanya Zayn.
"Pasien hanya demam dan dehidrasi, dan harus di rawat selama beberapa hari agar kondisinya pulih kembali." terangnya Zayn dan Nancy hanya manggut-manggut.
"Dan kondisinya sekarang, dia sedang tertekan jadi saya harap tak ada yang membuatnya tertekan yang nantinya akan membuat kondisinya semakin parah." tambahnya.
"Baik dok, terima kasih, bolehkan saya melihat kondisinya?." Zayn ingin sekali melihat Zia.
"Boleh, tapi setalah pasien di pindahkan ke ruang rawat, kalau begitu saya permisi." Dokter itu pun undur diri dan pergi meninggalkan Zayn dan Nancy.