Zia And Zayn Pair Of Mafia

Zia And Zayn Pair Of Mafia
bag-89



Zia mendekati pria itu, dia melihat luka tembak pada bagian kaki lelaki itu. Pria itu hanya memandang Zia dengan tatapan kagumnya, kagum akan kehebatan berkelahi nya, kagum akan wajah cantiknya dan kagum akan keindahan matanya, apalagi dia mau membantu orang, lengkaplah sudah kesempurnaan makhluk Tuhan satu ini.


"Nona kau tak apa kan." tanya lelaki itu dan menatap Zia penuh khawatir.


"Aku ok... seharusnya kau khawatir kan saja dirimu." ucapnya datar dan dingin tanpa ekspresi di wajahnya, seketika itu wajah cantik nya menghilang.


"Aku akan mengantar anda ke rumah sakit."


"Tak usah nona... karena saya tadi sudah menghubungi asisten saya, jadi tak perlu repot-repot." jelasnya.


"Baiklah kalau begitu saya pergi, lain kali berhati-hati lah jika sedang di tempat sepi." Zia pun berlalu pergi tanpa bicara lagi.


"Ya nona terima kasih atas bantuanmu... "teriaknya karena Zia sudah berlalu jauh darinya.


"Ya ampun dia dingin sekali, ini pertama kalinya aku bertemu cewek dingin sepertinya. Padahal aku adalah lelaki dingin, tapi levelnya ada di atasku."lirih lelaki itu dengan menatap kepergian Zia. Zia pun kembali ke mobil dan melajukannya menuju kantor, karena ada rapat yang tak bisa dia wakilkan.


Beberapa menit kemudian asisten pribadi lelaki itu datang dengan sangat khawatir, dia turun dari mobil dan berlari ke arah tuannya.


"Tuan.... apa kau baik-baik saja?." tanyanya sembari membantu lelaki itu berdiri.


"Aku baik-baik saja ini hanya luka tembak." jawabnya.


"Ayo kita pergi, aku ingin segera membersihkan badanku yang sudah berlumur darah, dan kau telfonlah dokter Angga untuk ke rumah mengobatiku." titahnya dia pun berjalan masuk ke dalam mobilnya dengan diikitu asistennya.


"Baik tuan." Mereka pun pulang ke rumah utama.


Lelaki itu adalah Dian Adiguna pengusaha sukses dengan kekayaan yang hampir sama dengan Zia, dia juga seorang yang sangat di segani oleh semua orang, karena berkat kecerdasan otaknya dia mampu membangun usahanya sendiri dengan sukses dan maju. Kini kekayaannya sudah hampir sama dengan kekayaan Zia dan Zayn.


Sesampainya di rumah, asistennya membantu Dian masuk dalam kamarnya dan setelah itu dia menghubungi dokter Angga sekaligus sahabat baik dari Dian untuk mengobatinya, dia memang tak suka di bawa ke rumah sakit jadi apapun yang terjadi pada Dian maka dokter lah yang harus datang ke rumahnya. Dian membersihkan dirinya dan mengganti pakaiannya, setelah selesai dia menunggu kedatangan Angga di sofa sambil memeriksa berkas perusahaan.


Tok.... tok.... tok....


"Masuk." sahutnya.


"Tuan dokter Angga sudah datang."


"Baik suruh dia masuk.... Arif kau tunggulah aku di ruang kerja, ada yang ingin aku bicarakan dengan kau."


"Baik tuan kalau begitu saya permisi." pamitnya dan hanya di angguki oleh Dian. Angga pun masuk ke kamar Dian dengan membawa peralatan dokter tentunya, karena Arif tadi memberitahukan jika Dian terkena luka tembak.


"Hei kawan ada apa ini? kenapa bisa sampai terkena tembakan." ucapnya.


"Sudah nanti aku beritahu, tapi sekarang obati dulu luka ku ini. " kesal Dian, karena Angga selalu saja bertanya.


"Iya baiklah santai saja.... " Angga pun mulai mengobati luka Dian dan berhasil mengambil peluru yang menancap dia kakinya intinya tak ada luka serius, karena peluru itu tak sampai mengenai tulangnya.


Selesai mengobati luka Dian, Angga menuliskan resep obat yang harus di tebus di apotek. Setelah itu barulah Angga bertanya apa yang terjadi pada sahabatnya itu.


"Ayo katakan?." tanyanya penuh selidik, akhirnya Dian menceritakan semuanya dengan detail karena dia tahu jika Angga banyak sekali bertanya, oleh karenanya Dian menceritakan semuanya. Angga hanya manggut-manggut.


"Oh jadi kau di tolong seorang gadis?." tanya Angga di saat tahu jika Dian si tolong oleh seorang gadis, Dian mengangguk.


"Siapa nama gadis itu kawan?."


"Oh sial...!! aku lupa tak menanyakan namanya." rutuknya disaat dirinya lupa menanyakan nama gadis yang menolongnya.


"Ya karena sepertinya dia sedang terburu-buru, jadi aku tak sempat bertanya."


"Dan kau tahu dia berkelahi tanpa tersentuh sedikitpun dan itu membuatku sangat mengaguminya." Dian memuji kehebatan bela diri Zia.


"Apakah dia sangat cantik kawan sehingga kau sangat kagum padanya?." tanya Angga lagi, karena Dian adalah lelaki yang sulit sekali mengagumi wanita, dan ini membuat Angga tak menyangka.


"Sangat cantik... apalagi matanya dia membuatku bergetar hebat ketika tadi aku menatapnya." jelasnya dengan wajah yang berbinar.


"Wah... wah... ternyata sudah ada wanita yang menggetarkanmu, hebat sekali dia bisa menggetarkan antartika yang dingin sepertimu. "ejek Angga, karena selama ini tak ada yang bisa mencairkan antartika dalam diri Dian.


"Heh diamlah kau, bahkan dia adalah dewi antartika yang baru aku temui, bahkan bicaranya sangatlah dingin melebihi diriku." jelas Dian karena dia melihat wajah datar dan dingin milik Zia yang bahkan melebihi sifat dingin miliknya.


"Benarkah begitu kawan?." tanya Angga tak percaya, dia melihat banyak wanita tapi mendengar yang di ucapkan oleh Dian dia tak percaya.


"Iya... wajah cantiknya hilang seketika, ketika dia berbicara." tambahnya lagi.


"Tapi itulah yang membuatnya menarik, dan aku yakin dia tak memiliki kekasih." Dian berharap jika Zia masih sendiri.


"Memang jika dia tak punya kekasih kau mau apa?."


"Ya aku akan berusaha mendapatkan cintanya, karena apapun yang membuat hatiku tergetar aku akan mengejarnya."


"Cih...kenapa tiba-tiba kau jadi bucin kawan? memangnya kau bisa mendapatkan nya? bahkan sampai sekarang saja kau masih jadi jomblo lapuk." ejek Angga.


"Kita lihat saja, pasti aku akan mendapatkannya." tekad Dian, dia sudah jatuh hati pada pandangan pertama pada Zia.


"Ya terserah kau saja, aku tak peduli.... aku harus pergi karena masih banyak pasien. Kau jangan lupa meminum obatnya, kalau begitu aku pamit." Angga pun pamit, dia bosan mendengar Dian yang tiba-tiba bucin dalam sekejap.


"Pergilah... " usir nya tanka berterima kasih, membuat Angga geram.


"Dasar bekicot..... akan ku pastikan tak ada yang mau dengan pria seperti mu." umpat Angga berlalu keluar dan menutup pintu dengan sangat keras, membuat Dian terkekeh.


"Aku akan mendapatkanmu..... karena kau adalah cinta pertama ku dan akan ku jadikan juga kau sebagai cinta terakhirku." batinnya, dia sudah sangat yakin jika Zia akan menjadi miliknya yang pertama dan terakhir.


Dian pun pergi ke ruang kerja dimana Arif sudah menunggunya, Dian mendudukan dirinya di kursi kerjanya.


"Arif aku mau kau mencaritahu, wanita yang menolongku, cari tahu semua informasi tentangnya dengan detail." titahnya membuat Arif sedikit heran, wanita mana yang menolong tuannya. pikir Arif.


"Tapi tuan saya tak melihat ada wanita di sana." jelas Arif, dia datang setelah Zia pergi, namun Arif tak sengaja berpapasan dengan mobil yang melintas di sana.


"Aku tak mau tahu... kau harus cari dia, jika tidak akan ku pastikan kau tak akan mendapat pekerjaan setelah aku pecat kau dari perusahaan ku." ancam Dian.


"Baik tuan... saya akan berusaha mencari informasi tentang wanita itu, kalau begitu saya permisi."ucapnya, mau tak mau dia harus menuruti semua perintah tuannya.


"Pergilah dan jangan pulang sebelum kau dapatkan semua yang aku inginkan.Dan satu bagi ada rapat penting lagi ini jadi katakan pada Fera untuk menggantikan rapat ku. "


"Ya tuan... " Arif pun keluar dari ruang kerja dengan pasrah, dan berlalu pergi.


"Tuan..... bagaimana aku akan mencarinya, sementara tak ada petunjuk sedikitpun.... kau memang menyebalkan dan juga merepotkan.... " cerca nya dalam hati, Arif sangat kesal dengan tuannya yang selalu menyuruhnya mencari informasi tanpa adanya petunjuk.


Namun ada kelegaan di kala Arif mengingat nomor plat mobil milik Zia, di kala dia berpapasan dengan sebuah mobil dan dia yakin jika mobil itu adalah milik wanita yang telah menolong tuannya itu, Arif pun bergegas mencari mobil itu, dan itu adalah satu-satunya petunjuk yang ia punya saat ini.


Jangan lupa like, comment dan votenya kakak.. ๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜Š๐Ÿ˜ŠTerima kasih sudah mampir ke karyaku๐Ÿ™๐Ÿ™