Zia And Zayn Pair Of Mafia

Zia And Zayn Pair Of Mafia
bag-93



*kediaman Alexandra


Terlihatlah seseorang yang sedang duduk termenung di ruang santai, dia mengabaikan koran di tangannya dan lebih memilih untuk melamun. Dia kembali mengingat masa lalu yang membuatnya terus terbayang sampai sekarang, dan bahkan jika pihak keluarga nya mengetahui jika kematian mereka adalah sebuah kesengajaan yang telah terencana, maka di pastikan dia tak akan di lepaskan.


Apalagi dia mengetahui keluarga dari korbannya bukanlah orang biasa, sungguh memikirkannya hanya akan membuat kepalanya berdenyut nyeri. Ada rasa sesal di hatinya, mengingat bukan dia saja yang nantinya dalam bahaya, bahkan anaknya juga pasti akan terkena imbasnya.


"Bagaimana ini.... aku tak mau jika nantinya putraku akan mendapat imbasnya, aku tak mau itu terjadi." lirihnya.


"Apa aku mengakui saja pada keluarganya? agar anaku terjamin keselamatannya." dia terus berbicara, ingin rasanya dia mengakui semuanya bahwa dalangnya adalah dirinya, dia ingin sekali mengatakan pada keluarganya, dia benar-benar menyesal.


Tiba-tiba otaknya memutar kejadian beberapa tahun silam, diamana dia benar-benar di butakan oleh rasa iri, dan berakhir dengan sebuah pembunuhan, memang jika seseorang sudah di hinggapi penyakit hati, mereka akan melakukan apapun untuk menuntaskan nya entah itu iri ataupun dendam.


Flashback On


Beberapa tahun silam.....


Dimas dan Raka adalah seorang rekan bisnis, mereka selalu bersaing di dunia perusahaan, namun karena perusahaan Dimas di bantu oleh kedua perusahaan tersukses dan terbesar siapa lagi kalau bukan perusahaan cucu mereka Zia dan Zayn, membuat perusahaan Raka kalah saing, karena setiap Raka mengajukan kerja sama mereka selalu menolak, dan itu membuat Raka menjadi selalu iri hati pada Dimas.


"Sial.... kenapa perusahaan dia lebih maju dari milikku?!.... " umpat nya kesal.


"Lalu kau dapatkan kabar apalagi?." tanya Raka pada Putra tangan kanannya.


"Begini tuan.... ternyata perusahaan maju dan terbesar itu adalah milik dari kedua cucunya, dan itu sangatlah memudahkan bagi tuan Dimas untuk melakukan kerja sama tanpa kesulitan." terang Putra, dia susah menyelidiki semuanya tanpa terlewat. Meski sedikit sulit menerobos informasi mengenai ceo kedua perusahaan terbesar itu, tapi nyatanya Putra telah berhasil mendapat sedikit informasi.


"Apa?!...... " marah Raka, dia menggebarak meja dengan sangat keras, kini hatinya sudah tertutupi dengan rasa iri.


"Pantas saja.... dia begitu mudah untuk melakukan kerjasama itu, aku akan membalasnu Dimas, tak akan ku biarkan perusahaan maju sebelum milikku."


"Lalu apa yang akan anda lakukan tuan, sekarang jika kita ingin menghancurkan perusahaannya itu akan sangat sulit, dan pasti kedua cucunya akan melindungi perusahaan tuan Dimas." Raka membenarkan ucapan Putra, jika dia menghancurkan perusahaan Dimas, maka nantinya perusahaan miliknya lah yang akan hancur, Dia dan Satu pasti tak akan tinggal diam melihat perusahaan milik kakeknya di hancur kan.


"Kita tak akan menghancurkan perusahaannya, yang perlu di lakukan adalah menyingkirkannya dari kehidupan karena jika Dimas tewas pasti akan menjadi keuntungan bagiku." Entah pikiran iblis dari mana, sampai-sampai Raka berfikiran ingin melenyapkan Dimas, tanpa dia ketahui jika Zia dan Zayn akan berbuat lebih kejam padanya.


"Apa itu tidak akan bermasalah tuan? Bukankah mereka akan curiga jika kita melakukan sebuah pembunuhan terencana?." tanya Putra, dia nampak ragu dengan pikiran Raka, yang menurutnya sangat dangkal.


"Kau tak perlu khawatir, kita kan membuat pembunuhan itu seakan mereka kecelakaan dan aku yakin itu tak akan mencurigakan." yakin Raka, Putra pun hanya bisa mengikuti kemauan dari tuannya itu.


"Kau adalah ahlinya pemasang bom kan?aku yakin jika kau yang memsangnya pasti tak akan terlacak polisi."


"Pasanglah bom yang ledakannya senyap di rumah Dimas, dengan begitu mereka akan mengira bahwa Dimas dan istrinya mati dalam kebakaran. " rencana gilanya sudah berputar di otaknya.


"Baik tuan saya akan laksanakan semua yang anda arahkan, kalau begitu saya pamit." Putra pun pergi untuk melaksanakan semua titah Raka.


Raka tak memikirkan kedepannya tentang keselamatan dari putranya, yang dia pikirkan adalah bagaimana ambisinya untuk memajukan perusahaannya berjalan dengan lancar tanpa pesaing, tapi pada kenyataannya dunia bisnis adalah dunia yang begitu banyak pesaing.


Malam pun tiba Putra sudah memasang bom dengan ledakan senyap, karena rencana Raka adalah membuat seakan-akan itu sebuah kecelakaan dan bukan kesengajaan. Dan benar saja keesokan harinya kabar tentang kebakaran di kediaman Dimas pun menyebar dengan sangat cepat, di media masa. Mereka semua percaya bahwa itu adalah sebuah kecelakaan, polisi sudah menemukan jasad Dimas dan Fitri dengan keadaan sangat mengenaskan.


Polisi sudah melacak, bagaimana kebakaran itu terjadi, namun tak ada bukti satupun yang mereka temukan, karena Putra meletakkan bomnya dengan sangat bagus agar tak terlacak oleh polisi. Jika masalah bom itu termasuk keahliannya, karena sebelum di angkat menjadi tangan kanan Raka, dia sudah bekerja dengan mafia dan bertugas dengan berbagai macam bom dan peledak.


Raka sangat puas dengan kerja keras dari Putra, terlebih lagi saingannya sudah tewas, kini kemenangan ada di depannya.Setelah kematian Dimas dan Fitri, perusahaannya maju dengan pesat, dan berkembang hingga saat ini. Kematian Dimas sekan sudah hilang, namun kesalahan tetaplah kesalahan dia akan selalu mengingatnya meski dia sudah berusaha menghapusnya dalam pikiran.


Flashback Off


"Oh Tuhan tolonglah aku.... apa yang harus ku lakukan, mereka pasti akan tetap mencari keberadaan ku dan juga keluargaku." Cicitnya ketakutan sekarang telah menjalar luas di hatinya.


Raka sangatlah yakin jika keluarga dari Dimas ada yang menyadari jika kematian dari Dimas dan Fitri adalah kesengajaan. Dengan berjalan gontai Raka memasuki ruang kerjanya, memikirkan masa lalu yang belum tuntas memang akan sangat menusuk apalagi masa lalu yang di buatnya adalah kejahatan, itu hanya akan membuatnya semakin merasa menyesal.


Sementara di tempat lain Zia sedang sibuk dengan jadwalnya di kantor, belum lagi urusannya dengan penyelidikan kematian nenek dan kakek nya, membuatnya menjadi seorang yang super sibuk. Belum lagi persiapan pernikahan kakaknya yang akan berlangsung satu minggu lagi.


"Bagaiamana apa perusahan Alexandra company sudah menyetujui kerja samanya?." tanya Zia, dia sudah tak sabar ingin membuat perusahaan itu bangkrut sampai ke akarnya, ya Zia susah mengetahui motif pembunuhan yang pernah di lakukan oleh teman bisnis kakek nya.


"Sudah di terima presdir, semuanya sudah sesuai rencana." jelas Brian.


"Kerja bagus, sekarang kembali lah bekerja."


"Baik presdir... kalau begitu saya permisi." Brian pun keluar ruangan, setalah kepergiannya, Zia tersenyum iblis seakan baru mendapatkan tumbal.


"Ini baru permulaan, aku akan menangkapmu setelah pernikahan kakakku, tunggulah hari mainnya tuan Alexandra."Ucapnya dengan seringai seram di wajahnya.


Zia memang belum tahu jika sebenarnya, Raka adalah ayah dari Rayyan, bahkan dia juga tak tahu jika perusahaan Alexandra sudah berpindah alih ke tangan Rayyan, karena Raka masih menutup rapat identitas keluarganya, serta pengalihan perusahaannya. Jadi Arham tak bisa menggali lebih dalam tentang infomasi perusahaan Raka, dan yang Arham dapatkan adalah motif pembunuhan yang di lakukan Raka, meski hanya itu yang dia dapatkan sudah membuat Zia merasa puas dengan bukti yang di dapatkan Arham, dan itu bisa membuat Raka tak akan bisa mengelak.