
Keesokan paginya seperti biasa Zia sudah selesai bersiap, di rumahnya juga sudah ada yang mengerjakan pekerjaan rumah, dan itu membuat Zia tenang. Pagi ini Zia berangkat sendiri tidak bersama asistennya, karena akan ada urusan penting di luar.
Sementara Dian sudah berada di ruangannya, ruangan mereka bersebelahan karena pembangunan ini adalah sebuah kerja sama mereka jadi agar lebih mudah Arif dan Brian menempatkan ruang kerja mereka bersebelahan.
"Selamat pagi tuan..... maaf mengganggu, pukul sepuluh nanti akan ada meeting dengan perusahaan makanan yang akan mengisi mall baru ini." jelas Arif, mall baru Zia dan Dian yang masih belum berdiri dengan jelas sudah di banjiri banyak kontrak karena wilayah yang sangat bagus dan strategis.
"Baiklah sekarang siapkan semuanya, kita akan berangkat nanti sesuai jadwal." jawabnya pandangannya tidak teralihkan dari laptopnya. Dian yakin mall yang dia buat dengan bekerjasama dengan perusahaan Zia akan untung besar, apalagi sistem yang di lakukan Zia adalah sistem yang belum dimiliki banyak perusahaan.
Tepat pukul sepuluh Dian keluar dari ruangan nya, bersamaan dengan itu Zia juga keluar dari ruangan, Dian di hinggapi rasa gugup, Zia pasti tahu siapa pengiriman buket bunga semalam, karena isi suratnya tertera nama nya. Dian berdehem untuk menetralkan rasa gugupnya, dia akan berusaha biasa saja meski getaran jantungnya sangat hebat.
"Tuan Dian.... " panggil Zia disaat Dian hanya menoleh saja, tanpa berniat menyapa Zia padahal Zia ingin berterima kasih atas buket yang sel malam asistennya kirimkan ke paviliun nya.
Dian berhenti karena Zia memanggilnya, dan ini tidak seperti Zia yang biasanya. Dian menoleh ke sumber suara hatinya girang saat Zia yang memanggil dirinya dahulu, karena biasanya Dian yang berinisiatif menyapa atau memanggil Zia.
"Oh... nona Zia, maaf kukira bukan anda yang keluar ruangan."ucapnya sedikit tersenyum gugup, Zia berjalan mendekati Dian.
"Iya tidak apa tuan Dian..... " singkatnya, kali ini Zia lebih memasang wajah sedikit berseri dan itu adalah keberuntungan bagi Dian bisa melihat wajah Zia yang seindah itu, biasanya Zia selalu menampakkan wajah dingin dan datar bahkan melebihi dirinya.
Detak jantung Dian semakin menggila di kala Zia sudah berdiri tidak jauh di depan tubuhnya, tinggi dari Zia kini bisa diukur olehnya, sekitar pundak Dian, Zia juga harus sedikit mendongak saat memandang dan berbicara dengan Dian.
"Terima kasih buket nya sudah saya terima.... tapi lebih baik tidak usah dikirimkan setiap malam karena jika layu saya bisa bersedih, karena itu adalah bunga kesayangan saya." ucap Zia dengan senyuman tipisnya, tidak masalah jika Dian mengiriminya bunga, tapi Zia tidak mau melihat bunga kesukaannya layu, dan malah berakhir di tempat sampah.
"Jadi begitu.... baiklah saya tidak akan mengiriminya setiap malam.... tapi terima kasih sudah mau menerima bunga dari saya... itu sebagai tanda pertemanan yang sebulan lalu kita bicarakan." ungkap Dian, dia akan mengajak Zia berteman dulu, jika waktunya sudah tepat makan Dian akan mengungkapkan semuanya dan mencurahkan isi hatinya pada Zia.
"Saya senang mendengarnya.... karena kita sudah menjadi teman jadi tidak udah berbicara terlalu formal... panggil nama saja bagaimana?." Zia tidak suka jika sudah berteman tapi sikap mereka formal, mungkin jika sedang bekerja tidak apa.
"Baiklah kalau begitu saya setuju." Dian juga setuju dengan usul Zia, berbicara formal membuat moment mereka tidak hangat.
"Baik kita mulai... perkenalkan namaku Nida Ziana Alfian.... siapa namamu?." Mereka berkenalan seperti baru pertama bertemu, karena mereka sekarang sudah sepakat menjadi teman.
"Aku Dian Adiguna.....Senang berkenalan denganmu Zia" Jawabnya mereka menjabat tangan sambil tersenyum. Pipi Dian bersemu merah namun dia sedikit menyembunyikan nya karena malu jika nanti Zia melihatnya.
"Nah jika seperti ini akan lebih enak.... ya sudah aku harus pergi karena ada meeting penting.... aku duluan Dian.... " meski merasa aneh tapi mereka akan membiasakan nya. Zia pamit karena dia juga akan ada meeting penting dengan kolega.
"Ok... di lanjut nanti lagi... Hati-hati di jalan Zi...." Dian melihat kepergian Zia, dia sekarang senang sekali bagai mendapat hadiah besar. Jantungnya kini sudah tidak bisa di kontrol Dian memegangi dadanya rasanya seperti mimpi Zia mau berbicara hangat seperti tadi.
"Akhirnya dia berbicara sambil tersenyum padaku... aku akan menjadi teman baikmu Zi.... " gumamnya, ini adalah momen yang tidak akan dia lupakan, karena ini adalah pertama kalinya Zia berbicara hangat padanya.
Mereka pergi meeting masing-masing karena banyak sekali yang ingin bekerjasama untuk memenuhi mall baru mereka. Zia tidak menyia-nyiakan kesempatan ini begitu juga dengan Dian, apalagi sekarang Dian sangat bersemangat. Selesai dari meeting Zia secara kembali karena sore ini Zayn dan Nancy akan datang ke paviliun karena Nancy mengidam ingin berada di dekat Zia terus.
Zia menelpon Brian untuk menggantikan Zia sementara waktu di proyek, setelah selesai mengabari Zia mampir ke pusat perbelanjaan dia akan memasak sendiri untuk kakak dan juga kakak iparnya. Sesampainya di sana Zia masuk ke supermarket untuk membeli beberapa bahan.
Setelah membayar semuanya Zia bergegas pulang dia sudah tidak sabar ingin membuat semuanya. Zia tidak tahu pasti kapan kakaknya berada di sini, dia berharap Nancy akan lebih lama berada di paviliun nya karena Zia bosan berada di paviliun seorang diri.
Sesampainya di rumah Zia menyuruh para pelayan untuk membantu mengangkat semua barang yang dia beli, Zia ke kamar untuk mengganti pakaian karena Dian tidak terbiasa memasak menggunakan pakaian kerja.
"Bi nanti tolong bereskan kamar yang berada di lantai bawah, kakak akan datang sore nanti." titahnya dia juga harus menyiapkan kamar untuk kakaknya, Zia sengaja tidak menyiapkan kamar di lantai atas karena Nancy sedang mengandung.
"Baik non... kalau begitu saya permisi." ucapnya berpamitan, setelah selesai mengganti pakaian Zia menuju dapur dan mulai berkutat, Zia begitu lihai dalam memasak sudah lama dia tidak memasak sendiri karena terlalu sibuk bekerja.
Para pelayan juga membantu yang di butuhkan Zia seperti menyiapkan piring dan yang lainnya. Butuh waktu dua jam Zia menyelesaikan masakannya, setelah selesai dia menyuruh pelayan menata makanan di meja makan. Sementara Zia bersiap untuk menyambut kedatangan mereka berdua.
Zia membersihkan dirinya dan menggunakan pakaian kasual yang simple dengan rambut yang di kuncir kuda. Suara mobil berseru di halaman paviliunnya pertanda sang kakak telah sampai, Zia segera turun untuk menyambut mereka. Zayn menekan bel pintu, Zia segera membukanya dia sangat senang karena Zayn dan juga Nancy sudah tiba.
"Kakak..... " di lihatnya mereka sudah berada di depan pintu, tanpa bicara Zia langsung berhambur memeluk Zayn. Nancy tersenyum melihat kasih sayang yang begitu besar dari kakak beradik ini. Zia melepas pelukannya dan beralih memeluk Nancy.
Setelah sesi temu mereka Zia mempersilahkan mereka masuk, Nancy langsung mendudukkan dirinya di sofa, karena dia merasa lelah. Kehamilannya sudah memasuki bukan ketiga dan Nancy cepat lelah oleh karenanya Zayn selalu siap siaga.
"Gimana kabar kakak sama bayinya?." tanya Zia sambil meletakan teh dan juga cemilan di meja.
"Aku sehat.... kalau gimana kabarmu?."
"Seperti yang kalian lihat.... aku baik." Zia ikut duduk di sebelah Nancy.
"Bagaimana pekerjaan mu disini?." Zayn ikut bertanya, dia ingin tahu proyek Zia saat ini.
"Berjalan dengan baik.... bahkan banyak yang ingin segera bekerjasama dengan ku dan juga Dian." jelasnya, Zayn ikut senang karena adiknya bisa menyelesaikan dengan baik, apalagi bekerja bersama dengan orang yang belum lama di kenalnya.
"Syukurlah kalau begitu.... kakak senang." Tiba-tiba saja Nancy menyentuh lengan Zia, dia sangat ingin berdekatan dengan Zia.
"Wah.... ini kebiasaan dede bayinya kan? selalu ingin dekat denganku.... " Zia tersenyum geli melihat tingkah lucu kakak iparnya, Zayn hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil terkekeh.
"Ya itu memang kelakuannya akhir-akhir ini, semenjak kamu pergi kakak iparku selalu merengek ingin bertemu denganmu." jelas Zayn saat mengingat beberapa waktu lalu Nancy merengek karena ingin berada di dekat Zia.
"Biar saja.... inikan yang anaku ingin... jadi kamu tidak usah mempermasalahkan nya.... " kesal Nancy, dia memanyunkan bibirnya karena Zayn terus mengungkitnya.
"Ya sudah sekarang kakak sudah ada di sini... jadi sepuasnya boleh dekat denganku." Zia juga senang bisa terus dekat dengan kakaknya dan juga calon keponakannya.
"Kita makan malam dulu.... aku sudah buat masakan yang lezat untuk kalian.... ayo... " ajak Zia kepada mereka untuk makan malam, Nancy langsung bersemangat sudah lama dia tidak makan makanan buatan adik iparnya, tanpa menunggu Nancy segera ke meja makan. Mereka makan bersama sambil membicarakan hal kecil dan sambil tersenyum bersama.
Zayn senang dengan keadaan Zia saat ini, sudah lama dia tidak melihat senyum dan tawanya, Zayn yakin adiknya akan sembuh dari kesedihan dan rasa sakitnya dia juga yakin akan ada lelaki baik yang mau mengobati luka batinnya.